LABIRIN

LABIRIN
3


__ADS_3

Yogyakarta, 21 Agustus 2003


Kemarin simbah sudah mendaftarkan ku ke salah satu sekolah yang ada di Yogyakarta, sekarang waktunya pulang sekolah, aku berjalan keluar dari gerbang. Ku langkahkan kakiku menyusuri jalanan yang lumayan sepi dan terdapat beberapa daun kering yang berguguran, sampai akhirnya aku melihat seorang laki-laki mengenakan seragam putih abu-abu berdiri di depan rumah kosong yang berada di seberang jalan. Dari kejauhan ku amati laki-laki tersebut dan aku ingat bahwa dia teman sekelasku, tapi aku tidak tahu siapa namanya. Setelah beberapa saat, laki-laki tersebut limbung dan hampir jatuh sebelum ia berpegangan pada pagar. Spontan aku berlari ke arahnya dan membantu laki-laki tersebut agar bisa berdiri tegak. Saat ku pandang wajahnya, terlihat mata sipit dengan pandangan sayu tersebut memerhatikanku. Ku palingkan wajahku dan mundur sedikit darinya. Belum sempat aku membalikkan badan untuk pergi, dia langsung memegang lenganku karena hampir limbung lagi.


“Antar aku pergi dari sini.” Ucapnya pelan dan aku hanya menganggukinya.


Sekarang kami berada di taman bermain yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah tadi. Beberapa anak kecil sedang bermain perosotan maupun jungkat jungkit. Aku berjalan mendekati ayunan dan berencana untuk mendudukinya, tapi belum sempat terjadi laki-laki tersebut melarangku.


“Jangan duduk di situ.” Ucapnya sambil duduk di kursi taman.


“Kenapa?” Aku mengernyit heran.


“Itu tidak lihat papan atasnya? Hanya anak berumur enam sampai sepuluh tahun yang diperbolehkan."


"Umurmu berapa? Delapan tahun?” Pandangan ku langsung mengarah ke papan tersebut. Aku hanya bergumam sambil merutuki kebodohanku karena tidak melihat papan tersebut. Lalu aku duduk di samping laki-laki tersebut dan memperhatikannya.


“Kulit kamu itu kuning langsat ditambah sekarang pucat, jadi seperti manusia kekurangan pigmen.” Ucapku asal. Laki-laki tersebut tidak menanggapi ucapanku, malah memerhatikan ayunan yang tadi hampir aku naiki.


“Terimakasih.” Ucapnya tanpa mengalihkan perhatiannya dari ayunan.


Aku mengernyitkan dahi karena tidak tahu dia berterima kasih untuk apa, “Terimakasih sudah membantuku.” Ucapnya lagi dan sekarang aku mengerti lalu menganggukkan kepala.


"Nama kamu siapa?" Tanyaku kepadanya.


"Wayan." Jawabnya singkat dan aku mengangguk kecil.


"Kalau namaku Kinan." Ucapku sambil tersenyum.


"Tidak ada yang bertanya." Aku menatapnya sinis setelah mendengar jawaban dari Wayan, 'manusia menyebalkan.' Batinku.


"Kamu tadi kenapa?" Bukannya menjawab, Wayan malah berjalan meninggalkan ku.


"Mau kemana?" Tanyaku sedikit berteriak.

__ADS_1


"Bukan urusanmu." Jawabnya ketus.


Sekarang tinggallah aku bersama beberapa anak yang masih bermain. Setelah beberapa saat hanya diam memperhatikan anak-anak yang bermain, aku memutuskan berjalan ke arah rumah kosong tadi.


Sekarang aku sudah sampai di rumah kosong tersebut, rumah tua yang cukup besar namun masih berdiri kokoh dengan halaman yang cukup luas. Dengan teras penuh debu dan halaman yang ditumbuhi rumput belukar membuatku menyimpulkan jika rumah tersebut sudah tidak ditinggali sejak lama.


"Tadi Wayan kenapa ya? Kan tidak mungkin hanya menatap rumah bisa membuatnya akan jatuh." Ucapku pelan.


"Apa coba lihat ke dalam saja ya?" Tanyaku pada diri sendiri.


Aku pun memutuskan untuk melihat ke dalam, saat tanganku akan mendorong pagar besi yang mulai berkarat tersebut, tiba-tiba puk.. puk..


Ada seseorang yang menepuk bahuku. Aku pun langsung menoleh dan melihat siapa orang tersebut. Ternyata si manusia kekurangan pigmen, dia menatapku dengan sangat sengit.


"Mau ngapain?" Tanya Wayan.


"Beli batagor, ya mau masuk lah." Jawabku sinis.


"Pergi." Ucapnya datar.


"Pergi dari sini Kinan!" Ucap Wayan dengan nada tinggi.


"Tapi aku ingin masuk!" Ucapku tak kalah tinggi.


"KALAU AKU BILANG PERGI YA PERGI! TELINGA KAMU BEDEK?" Bentak Wayan dengan sangat keras.


Aku terdiam beberapa saat, setelah itu langsung berlari menjauhi Wayan. Belum pernah ada yang membentakku  sekeras itu, bahkan simbah sendiri tidak pernah walau aku senakal apapun. Tidak terasa air mata ku turun dengan sendirinya, aku terus berlari tanpa memedulikan beberapa mata yang menatapku heran.


Akhirnya aku sampai di depan rumah, dengan nafas yang masih tersengal-sengal ku hapus air mataku kasar lalu langsung berlari masuk rumah menuju kamar dan merebahkan tubuh di kasur. 'Kamu kenapa sih Kinan? Kok jadi cengeng! Tidak boleh seperti itu!' Batinku.


Tok.. tok.. tok..


"Kinan? Ini ibu, buka pintunya ya." Ucap ibu setelah mengetuk pintu. Aku langsung berlari untuk membukakan pintu.

__ADS_1


Ckelek.. Terlihat ibu yang berdiri dengan bantuan kruk. Aku lalu membantu ibu masuk ke dalam kamar dan kututup kembali pintunya. Kami pun duduk di pinggir ranjang, tangan ibu terulur mengelus pipiku pelan. 'Sudah lama tidak merasakan kehangatan seperti ini.' Batinku.


"Tadi Rukmi melihat kamu menangis sambil berlari, ada kenapa?" Tanya ibu kepadaku.


"Tidak apa-apa kok bu." Ucapku sambil tersenyum.


"Kinan, kamu bukan tipe anak yang mudah menangis. Kalau ada sesuatu lebih baik cerita, ibu ingin tahu apa yang anak ibu rasakan." Ucap ibu dengan lembut.


"Emm.. tadi itu sebenarnya aku hanya sedang bertengkar saja bu dengan temanku." Jawabku.


"Memangnya ada masalah apa? Kan kamu baru pertama kali masuk sekolah, kenapa bisa bertengkar?" Tanya ibu heran. Aku hanya diam, bingung apakah harus menjelaskan atau tidak. Ya bagaimana, kan masalahnya itu hanya karena Wayan membentakku saja. Bukankah terdengar aneh jika aku bilang kepada ibu.


"Ya sudah kalau tidak ingin bercerita, yang terpenting kamu harus berbaikan dengan temanmu itu. Tidak baik saling bertengkar." Nasihat ibu kepadaku.


"Iya bu." Jawabku sambil mengangguk kecil. Ibu pun mengelus kepalaku setelah itu pergi keluar kamar.


Aku kembali membaringkan tubuhku, "Kok tadi di jalan aku tidak melihat Mbak Rukmi ya? Astaga sekarang aku menjadi malu sudah menangis dan dilihat banyak orang." Ucapku sambil menutup wajah dengan bantal.


Karena sudah sore, aku memutuskan untuk mandi. Selesainya mandi aku berencana untuk berjalan-jalan di sekitar rumah untuk menikmati sorenya Jogja. Saat aku berada di depan pintu yang menghubungkan teras dan ruang tamu, aku melihat hal yang sudah lama tidak tertangkap oleh mataku. Simbah yang sedang memangkas rumput, Mbak Rukmi yang sedang menyirami tanaman, dan Ibu duduk di kursi halaman dan disela-sela aktivitas tersebut diiringi canda tawa. Sungguh menyenangkan bukan.


"Kamu kenapa Kinan?" Tanya ibu yang membuyarkan lamunanku. Mereka semua menatapku dan menghentikan aktivitasnya.


"Tidak apa-apa kok bu, Kinan mau jalan-jalan di sekitar rumah dulu ya." Ucapku sambil berjalan ke luar rumah.


"Oh ya sudah, jangan malam-malam ya." Ucap ibu yang kuangguki.


"Yahmene kok dolan." Ucap simbah, tanpa memedulikan perkataannya aku langsung berlari ke luar rumah.


Sekarang di sinilah aku, di gubuk pinggir jalan yang menampakkan luasnya lahan pertanian. Langit jingga dan kicauan burung menemani sore ini.


'*Bagaimana semuanya terlihat biasa saja?'


'Mereka berkumpul seolah-olah tidak terjadi apa-apa.'

__ADS_1


'Kenapa hanya aku yang tidak mengerti*?'


Semua itu bersarang dibenakku, sampai akhirnya mentari mulai tenggelam dan digantikan gelapnya malam.


__ADS_2