LABIRIN

LABIRIN
58


__ADS_3

" Ji. Anter Mama yuk "


Seru Farah seraya masuk ke dalam kamar putrinya yang tidak tertutup itu.


Farah melangkah lebih dalam, mendekati putrinya yang terbaring di atas kasur empuk milik putrinya.


Farah mengerutkan dahinya, ketika melihat putrinya yang tertidur dengan posisi miring. Tapi, yang jadi perhatian Farah bukan posisi tidur Jiasa, melainkan wajah Jiasa yang terlihat lebih putih dari biasanya.


" Ji, kamu sakit ? " tanya Farah, tangannya terulur ke dapan kemudian menempelkan punggung tangannya di atas dahi Jiasa. Sontak Jiasa membuka matanya, ia pun segera bangkit dan kini Jiasa dalam posisi duduk.


" kamu sakit ? " Farah kembali memastikan, Jiasa menggelengkan kepala. Bohong sih sebenarnya, Jiasa saat ini tengah merasa sakit dikepalanya meskipun hanya sedikit.


" yakin kamu gak sakit ? " Farah masih penarasan, ia khawatir dengan keadaan putri sematawayangnya ini.


" enggak, Ma. Aku baik-baik aja, Mama mau aku anter kemana ? " tanya Jiasa yang memang mendengar ajakan Ibunya, namun Jiasa mata Jiasa terasa berat, itu sebabnya ia terus memejamkan matanya sebelum Ibunya menyentuh dahinya.


" anter Mama ke butik, Mama mau ngambil Baju Mama sama Tante Fina. " kata Farah menyebut nama Ibu Jennie diakhir kalimat.


Jiasa terdiam, dia ingin menolak karena rasa pusing yang menyerangnya. Tapi, ia merasa tak enak. " gak jauh kan, Ma.? " pada akhirnya Jiasa pun bertanya ingin memastikan jarak lokasi butik yang akan mereka kunjungi.


" enggak kok, 20 menit juga sampe "


Jiasa menganggukkan kepala, " ya udah ayok "


Farah mengerutkan dahinya, " kamu gak mau ganti baju ? " tanyanya melihat penampilan Jiasa saat ini, Hoddy kebesaran dengan celana pendek lima senti diatas lutut.


Jiasa mendesah pelan, begitu malas dirinya untuk mengganti bajunya, " gini aja gak apa-apa kan, Ma. ? lagian kata Mama gak jauh "


Farah terkekeh, kemudian mengangguk, " ya udah gak apa-apa, yuk " katanya mengajak Jiasa untuk pergi bersamanya. Jiasa menuruti, ia turun dari kasurnya kemudian melangkah keluar kamar bersama sang ibu.


Benar kata Farah, 20 menit mereka tiba. apalagi mereka didukung oleh jalanan yang lancar tanpa hambatan.


Jiasa dan Farah keluar dari mobil. Yang pertama kali Jiasa rasakan ketika menginjakkan kakinya di aspal adalah rasa nyeri di kepalanya yang semakin menyerah, belum lagi kini ia harus merasa perutnya memberontak seolah ingin mengeluarkan sesuatu. Tapi dihadapan sang Ibu, Jiasa berusaha menahannya.


" ayo, Ji. " kata Farah mengajak Jiasa masuk ke dalam butik itu. Jiasa pun mengangguk kemudian mengikuti langkah Farah.


Pintu kaca itu Farah dorong, hingga kini ia dan Jiasa bisa masuk ke dalam butik itu.


Farah tersenyum samar, kemudian matanya bergerak mencari seseorang.


Jiasa sendiri berdiri dibelakang sang Ibu, sebentar ia mengedarkan pandangannya pada sekeliling butik, baju yang menggantung tentu terlihat oleh Jiasa. Tapi, Jiasa seolah tak perduli, rasa penat di kepalanya kini menjadi fokus utamanya, bahkan rasa tak enak di perut pun semakin Jiasa rasakan.


Demi menghilangkan rasa penat di kepalanya itu, Jiasa memijat pelan pangkal hidungnya. Lalu suara seseorang mengalihkan atensi Jiasa.


" Farah, maaf aku gak tau kalau kamu udah datang, pasti nunggu lama. " katanya memeluk Farah kemudian menempelkan pipi kanan dan kirinya ke pipi kanan dan kiri Farah.


Farah terkekeh, keduanya kini saling menggenggam satu sama lain. Terlihat seperti dua orang yang sudah lama tidak bertemu dan saling melepas rindu.


" enggak kok, aku baru datang. Oh iya ini anak aku. "

__ADS_1


Wanita itu kini menatap Jiasa, ia bahkan menyipitkan matanya, di tatap seperti itu membuat Jiasa sedikit canggung.


" ini Jiasa, cantik. Pantes aja Arlan pernah minta lamarin. " katanya disertai kekehan.


Jiasa mengerutkan dahi ketika mendengar wanita yang terlihat begitu anggun itu menyebut nama orang yang ia kenal. Tapi, Jiasa buru-buru tersenyum samar, mungkin hanya nama yang sama. Katanya dalam hati.


" ayo ke dalam, aku udah siapin pesanan kamu, kalian gak buru-buru, kan.? Kita minum teh dulu ya, aku udah siapin jamuan buat kalian. " serunya kemudian menarik Farah untuk masuk lebih dalam, tak lupa ia mengajak Jiasa untuk ikut.


" Raya, kamu itu kebiasan banget, selalu aja ngerepotin diri sendiri, gak usah repot-repot " kata Farah merasa tak enak hati.


" gak apa-apa, cuma teh kok. " sahut Raya.


Jiasa mengikuti langkah keduanya, sesekali ia memijat pelipisnya guna mengurangi rasa penatnya, setelah itu Jiasa mengusap-ngusap perutnya, berharap rasa aneh di perutnya segera hilang.


Ketiganya kini sudah berada di ruang kerja Raya, Farah dan Jiasa duduk di sofa yang tersedia.


" kalian tunggu sini ya, aku ambilin teh dulu " kata Raya, Farah mengangguk.


Jiasa sendiri hanya diam melihat sekeliling.


setelah mengatakan itu, Raya melangkah keluar dari ruang kerjanya. Bertepat dengan itu pintu ruang kerja Raya terbuka, sosok remeja laki-laki muncul dari balik pintu.


Semua mata tertuju padanya, dan seketika Jiasa membuka mata, Ia terkejut, tak ingin kehadirannya di sadari oleh pria yang baru saja datang, Jiasa buru-buru menunduk.


" dari mana kamu ? " tanya Raya, ada nada jengah di sana.


Raya mendengus, ingin sekali menjitak kepala putranya ini. " kebiasaan, ditanya malah ngeledek. "


Lagi, ia menunjukan cengirannya.


" ya udah kamu di sini dulu, temenin tamu Ibu. "


Lani, pria itu mengerutkan dahi. Kemudian mengalihkan pandangannya pada dua orang tamu Ibunya.


" Jiasa " kaget Lani ketika ia melihat sosok Jiasa duduk di sofa.


Jiasa yang di panggil mendongkak, menatap Lani sekilas kemudian kembali membuang pandangannya.


Raya senyum-senyum melihat bagaimana Lani memanggil Jiasa. Tiba-tiba satu ide terlintas di benaknya. " oh iya, Far. Kamu ikut aku sebentar yuk, ada yang mau aku tunjukin. Arlan kamu di sini ya, temenin Jiasa dulu. "


Mata Lani dan Jiasa melebar. Keduanya terkejut.


Apa-apaan ini, sudah 1 bulan berlalu semenjak Jiasa menampar Lani, keduanya tidak lagi bertegur sapa.


Jiasa akan pergi jika Lani ada.


" yuk " Farah tak menolak, ia bangkit dan melangkah menghampiri Raya.


Keduanya kini berjalan keluar dari ruang kerja Raya.

__ADS_1


Di tinggal berdua Lani mendesah pelan. Kemudian ia menatap Jiasa yang kini sibuk dengan ponselnya. Jiasa sendiri melakukan itu untuk mengabaikan Lani, sekalian menghilangkan rasa penat dan mual di perutnya. Teori yang tidak masuk akal, mana ada bermain ponsel menghilangkan pusing dan mual. Jiasa seperti orang bodoh, katakan saja jika dia malas berhadapan dengan laki-laki itu.


Dengan banyak pertimbangan layaknya hakim yang akan memvonis terdakwanya, akhirnya Lani memutuskan untuk menghampiri Jiasa. Tapi tidak duduk disampingnya, Lani duduk di meja kerja Ibunya yang memang letaknya tak jauh dari sofa yang Jiasa duduki.


Keduanya saling diam, Jiasa fokus dengan ponselnya sesekali ia memijat pelipisnya dan mengusap perutnya, Rasa itu semakin menyerangnya.


Lani tentu melihat apa yang Jiasa lakukan, bahkan kini Lani sadar jika wajah Jiasa terlihat pucat. " kenapa lu ? " tanyanya, tentu saja Jiasa merespon dengan mendongkakkan wajahnya. Tapi, Jiasa tak menjawab, ia malah kembali mengusap-ngusap perutnya kemudian beralih lagi pada ponselnya.


Lagi-lagi Lani memperhatikan, ia terus memperhatikan Jiasa, Lani melihat Jiasa yang terus menghembuskan nafas seperti merasa tak nyaman dengan sesuatu.


" lu sakit ? " Lani kembali bertanya, Jiasa menggeleng pelan.


" terus lu kenapa ? "


Jiasa mendecakan lidah, ia mendongkak lagi dan kini menatap tajam Lani. Jujur melihat Lani membuat kepala Jiasa makin sakit dan ingin mengusir Lani. Jiasa muak.


" kamu bisa pergi gak sih, tambah pusing aku liat kamu, tambak neg juga perut aku " gerutu Jiasa.


Mata Lani melebar, Jiasa baru saja mengusirnya. " Lah, lu ngusir ? "


" iya, udah sana keluar " kata Jiasa mengibaskan telapak tangannya, memberi kode agar Lani keluar.


Tak menuruti, Lani memilih diam di tempat.


Tak lama suara pintu terbuka, terdengar. Jiasa menoleh dan melihat Ibunya dan Ibu Lani melangkah masuk ke dalam ruang kerja sembari bersenda gurau.


Setelah memperhatikan dua wanita itu, Jiasa mengalihkan atensinya ke arah meja, dan Jiasa menghela nafas kasar. Ternyata Lani masih duduk di atas meja.


" gak sopan ih duduk di atas meja. " cibir Raya.


Lani tertawa bodoh, Jiasa yang mendengar suara tawa Lani mendengus tak suka. Ia benar-benar benci melihat Lani hari ini. Rasa bencinya bahkan melebihi rasa benci ketika Lani sudah merenggut masa depannya.


Seketika Jiasa mematung, perasaan apa ini ? Tanyanya dalam hati. Perlahan tangan Jiasa bergerak menyentuh perutnya yang rata. kemudian Jiasa menggeleng cepat. Beruntung tak ada satu orang pun yang menyadari.


Mengabaikan interaksi tiga orang yang bersamanya, Jiasa mulai kembali membuka ponselnya. Kalender di ponselnya ia buka, kemudian Jiasa mulai memeriksa dan seketika matanya melebar ketika ingat satu hal.


Jiasa mendongkak menatap Lani, yang ditatap menyadari, ia pun menatap balik Jiasa sembari menggerakan mulutnya, " apa ? " itu yang Lani ucapkan.


Mengabaikan, Jiasa membuang pandangannya. memejamkan sejenak matanya, Jiasa mencengkram kuat ponselnya.


" Ma, bisa pulang sekarang gak, aku gak enak bada Ma. " kata Jiasa, semua mata tertuju padanya.


Farah mengerutkan dahinya, ia menatap Jiasa lekat, terlihat wajah Jiasa semakin pucat. percaya jika Jiasa sedang sakit, akhirnya Farah mengangguk, " ya udah ayo, Ray, kita pulang dulu ya. " pamit Farah.


Sebenarnya Raya masih ingin berlama-lama dengan Farah. Tapi ia bisa memaksa, Raya mengangguk pasrah.


Jiasa bangkit dari duduknya tak perduli dengan kondisi tubuhnya yang lemah, " ayo Ma. " katanya ingin segera pergi.


Farah mengangguk, setelah sesi berpamitan Jiasa dan Farah pergi meninggalkan butik milih Raya.

__ADS_1


__ADS_2