
Memarkirkan mobilnya di garasi, Lani keluar dan kemudian melangkah masuk lewat pintu yang berada di dalam garasi.
Pintu yang Lani lewati terhubung dengan dapur, Maka ketika ia masuk ke dalam rumahnya, hal yang pertama kali lihat, adalah dapur rumahnya.
" Assallamuallaikum, Bi. " Lani memberi salam kepada Bi Minah yang tengah berkutat di dapur.
" walaikumsallam " Bi Minah menoleh, ia tersenyum menyambut kepulangan anak majikannya itu.
Lani menghampiri, mengulurkan tangan kemudian ia mencium punggung tangan Bi Minah.
Meskipun status Bi Minah adalah ART di rumahnya. Tapi, Lani selalu bersikap sopan kepada wanita paruh baya itu.
" Ibu udah pulang, Bi.? "
" udah, Ibu ada di ruang tamu kayanya " sahut Bi Minah.
Lani mengangguk pelan.
Kemudian ia melangkahkan kaki keluar dari area dapur.
Lani melangkah pelan, matanya bergerak mencari keberadaan wanita yang tak lain adalah Ibunya.
" Bu ... " Teriak Lani tidak terlalu keras.
" di sini .. " sahut Raya. Bergegas Lani menghampiri.
yang dia cari sudah terlihat, Lani menghampiri dan kemudian mengulurkan tangan mencium punggung tangan sang Ibu.
" kok baru pulang ? Dari mana ? " tanya Raya
Lani duduk di samping Ibunya, tas sekolahnya ia letakan di sisi kosong soffa yang ia duduki.
" tadi mampir kerumah Ayah " sahut Lani, Raya tersenyum ia tahu rumah Ayah yang di maksud putranya.
" oh iya Tedia gimana kabarnya ? " tanya Raya Lani
" tadi sih masih izin. Tapi, katanya udah mendingan, mungkin besok udah masuk sekolah " kata Lani, Raya mengangguk.
Tak ada lagi percakapan, Lani memperhatikan apa yang tengah dilakukan ibunya. Sebuah buku gambar dan pensil, kemudian tangan Raya bergerak menggoreskan pensil itu ke atas kertas berwarna putih.
Lani tersenyum tipis, semenjak Ayahnya tiada, ia sadar jika sang Ibu jauh lebih sibuk. Perkerjaan yang dulu ditangani oleh Ayahnya kini dipegang oleh sang Ibu.
dalam diam Lani menatap sendu Raya. Ingin sekali ia mengambil alih semuanya, agar Ibunya bisa bersantai di rumah. Sayang, statusnya yang masih pelajar kelas 11, membuat Lani tak mampu berbuat apa-apa.
Lani menghela nafas, dalam tatapannya ke arah sang Ibu. Lani tersenyum tipis, ia bertekad ingin membahagiakan sang Ibu. Oleh sebab itu, ia belajar dengan giat agar mudah memahami dunia yang nanti akan ia geluti.
" kok masih di sini, sana ganti baju " kata Raya sadar jika putranya masih duduk disampingnya.
" males, Bu. " kata Lani nadanya tak bersemangat, bahkan kini ia malah merebahkan tubuhnya di soffa.
Raya menggelengkan kepala. " jangan gitu, jangan bikin susah Bi Minah, nanti baju kamu kena noda susah di cucinya " peringatan dari Raya.
Lani terkekeh. Kemudian ia menegakkan tubuhnya." ya udah kalau gitu bajunya buang beli yang baru " celetuk Lani tak menghentikan tawanya.
Raya menghentikan gerakan tangannya, kemudian ia menatap datar putranya. Hal itu membuat Lani meneguk kasar ludahnya, pasalnya Raya terlihat menyeramkan dengan tatapan datarnya.
" udah punya usaha apa kamu sampe bilang bajunya buang terus beli lagi, uang jajan aja masih minta sama Ibu, so-so'an bergaya kaya sultan " cibir Raya.
Lani tertawa terbahak, Raya mendengus kemudian kembali melanjutkan sketsa baju yang akan ia rancang nanti.
Lani kembali memperhatikan apa yang dilakukan Raya. " buat siapa lagi itu, Bu. ? " tanya Lani ketika melihat sketsa gambar yang terlihat baru.
Tak menghentikan gerakan tangannya, Raya menjawab. " temen Ibu, anaknya mau nikah, dia pengen gaun pengantin rancangan Ibu."
Lani mengangguk-anggukkan kepala, lalu kembali memperhatikan sang Ibu. Tak lama Lani ingat akan satu hal, ia pun bersiap membuka mulutnya untuk berbicara.
" oh iya, Bu. Ibu ingat sama Om Fadil enggak ? "
__ADS_1
Raya mengerutkan dahiny, kemudian ia menoleh menatap Lani.
" itu lho, Bu. Rekan bisnis Ayah, yang dulu tinggal di Bandung .. " Lani menjelaskan lebih detail lagi.
Raya nampak berpikir, namun tak lama ekspresi Raya berubah. Kini ia terlihat seperti mengingat sesuatu.
" kenapa emangnya ? " tanya Raya.
" ternyata Om Fadil udah pindah ke Jakarta, udah gitu anaknya sekelas sama aku " kata Lani semangat. Raya mengangguk-anggukkan kepala.
" Ibu kenal gak sama anaknya ..? "
" belum pernah ketemu sih, emang kenapa ? " Raya balik bertanya.
" anaknya cewek, Bu. Namanya Jiasa, cantik "
" Terus ? " tanya Raya, raut wajahnya sudah berubah, matanya menatap Lani dengan tatapan yang sulit di artikan.
Lani tersenyum hingga gigi putihnya terlihat. Melihat senyum Lani, Raya menyipitkan matanya.
" lamarin, Bu. Buat Arlan .. " celetuk Lani dengan tawa menggelagar.
Sontak Raya menganga dengan sempurna, bahkan matanya nyaris keluar. Ia terkejut dengan pernyataan putranya.
Raya menggeram, Lani berdeham, ia memasang wajah waspada. Sepertinya sebentar lagi serangan badai akan menerpa dirinya, dan benar saja saat ini Raya tengah menarik telinga Lani hingga Lani mengaduh kesakitan.
" anak kecil, kencing aja masih di pegangin gayaan mau lamar cewek, sekolah yang bener, terus kerja, baru nyari pacar "
" aaaaaaa ...aduh . sakit... Iya iya ampun, Arlan gak jadi lamar Jiasa, nanti langsung bawa ke penghulu aja .. " kata Lani sembari merintih kesakitan, tangannya berusaha melepas tangan Raya.
" ini lagi mau langsung bawa ke penghulu, emang kamu kira penghulu gratis .. " kata Raya sembari mengencangkan jewerannya di telinga Lani.
Lani kembali berteriak kesakitan, " Iya iya ampun dah "
Raya melepas tangannya, kemudian ia memberi Lani dengusan. Lani sendiri memberengut, tangannya mengusap-usap telinganya yang terasa panas.
" lapor aja, Ibu gak takut, bilang aja kalau anaknya bandel ... " kata Raya menyerang balik Lani.
Lani mencibir, Raya terkekeh.
. .
" Lani ... " suara Zaki memanggil Lani.
Lani yang tengah berada di kamarnya menghela nafas kasar. pura-pura tuli, Lani memilih mengabaikan dan kembali fokus pada gamenya.
" Lani .. "
Suaranya semakin dekat, Lani memutar bola matanya malas, kembali berpura-pura tuli, Lani lanjut dengan gamenya.
" Arlan.. Maen yuk .. "
Bertepatan dengan suara itu pintu kamar Lani terbuka, Lani sontak menoleh, ia pun mengumpat kasar.
" BACOT, BERISIK .. "
Zaki dan Yoga melongo dibuatnya, keduanya bahkan mematung diambang pintu. tapi keduanya mematung hanya dalam hitungan detik, karena di detik selanjutnya, Yoga menunjukkan senyuman evilnya. " IBUUUUUUU ... ARLAN NGOMONG KASAR .. " teriakan Yoga menggema.
Lani membulatkan mata, sedangkan Zaki tertawa.
" ANJ .. "
" IBUUUU .. ARLAN MAU NGOMONG ANJING " lagi Yoga bersikap cepu malam ini.
Zaki semakin terpingkal mendengarnya.
Yoga menaik turunkan alisnya menggoda Lani, sedangkan Lani mendengus kesal kepada keduanya.
__ADS_1
Tak perduli dengan dengusan Lani, keduanya melangkah masuk kemudian mendekati Lani yang kini kembali beralih pada layar komputernya.
" dih, gue kira belajar, nyatanya ngegame .. Gimana mau nyalip gue kalau kerjaannya ngegame mulu " kata Zaki menyombongkan diri.
Lani memutar bola matanya malas. " lu pikir gue valentino rossi jago nyalip. "
Zaki tersenyum lebar, Lani mendengus. Sedangkan Yoga mengabaikan, ia memilih merebahkan tubuhnya di atas kasur milik Lani.
" Lan, tadi pulang sekolah elu kemana dulu ? " tanya Yoga dalam baringannya. Matanya fokus menatap layar ponsel yang baru saja ia keluarkan dari saku celana jeans hitamnya.
" kerumah Ayah " sahut Lani yang kembali serius pada gamenya.
" Sama Jiasa ? " kali ini suara Zaki, sontak Lani kembali berpaling dari layar komputernya.
tapi, tak lama Lani kembali mengalihkan perhatiannya pada layar komputer, kemudian ia menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Zaki.
dan kali ini gantian, yang terkejut kini Zaki dan Yoga, bahkan Yoga sampai menegakkan tubuhnya.
" elu yang ngajak ? " tanya Yoga
Lani menggeleng. " enggak, dia yang mau ikut " katanya.
Zaki dan Yoga kembali melongo, keheningan melanda untuk beberapa detik, hingga akhirnya Zaki menggerakan kepalanya menatap Yoga, yang di tatap ternyata menatap pula ke arah Zaki, keduanya saling tatap, seolah berkomunikasi lewat hatinya.
tak lama Yoga memutus kontak matanya, kini ia beralih pada Lani.
" Lan. " panggilnya
yang di panggil berdeham. " hemmm "
Yoga mendesah pelan kemudian menatap Zaki sebentar. Lalu Yoga kembali menatap Lani.
" Lan, gue tau lu suka sama Jiasa, dan gue juga tau hal apa yang bikin elu dari kemarin uring-uringan, please, Lan. Jangan kaya bocah, siapapun nanti yang di pilih Jiasa, jangan sampai persahabatan kita ancur . "
Seketika Lani menghentikan dengan kasar gerakan jarinya, Zaki memasang wajah waspada, sedangkan Yoga menghela nafas, sepertinya ia sudah harus mulai mengumpulkan rasa sabarnya yang sebentar lagi akan di uji oleh seorang pria bernama Lani.
Lani menoleh menatap Yoga, Seolah tak takut Yoga menatap balik Lani, sedangkan di samping Lani, Zaki semakin waspada.
Tak ada yang bersuara baik Lani maupun Yoga hanya saling tatap. Hingga tatapan itu terhenti ketika Lani yang lebih dulu berpaling.
Lani menghela nafas pelan. Melihat kondisi Lani yang sepertinya baik, membuat Yoga semakin berani untuk bersuara.
" gue tau, lu cinta sama Jia, dan selama Jiasa belum nentuin hatinya sama siapa bakal di titipin, elu gak ada hak buat ngelarang itu. Semua ada di tangan Jiasa, Gue yakin Tedia juga gak mau ada di posisi ini "
Lani diam menundukkan wajah.
" sorry, bukannya gue mihak Tedia, tapi selama ini apa dia berusaha ngehalangin elu buat deketin Jiasa, enggak, kan? Justru dia ngasih lu jalan. Please Lan, jangan sampai persahabatan kita ancur cuma gara-gara cewek, ingat juga kita itu harus kerja keras buat seleksi timnas, jangan sampai gara-gara ini kita jadi patah semangat. Biarin aja semuanya ngalir kaya air, kalau emang Jiasa jodoh elu pasti dia bakal jadi milik elu, tapi kalau bukan, tolong terima dengan hati lapang. Itu aja yang gue minta. "
Zaki menatap takjub pada Yoga, jika suasana dengan baik ingin sekali Zaki bertepuk tangan untuk Yoga yang selalu bisa bersikap dewasa dalam situasi yang begitu genting. Zaki tersenyum memang selama ini ia tidak salah dalam memilih sahabat. Selain pintar ternyata Yoga bisa bersikap bijaksana.
Kalau menurut Zaki sih, Bisa lah Yoga di masa depan jadi seorang pemimpin.
Lain Zaki, lain pula dengan Lani.
Lani terdiam dengan wajah tertunduk, kalimat-kalimat yang Yoga ucapkan begitu menusuk hatinya. Semua yang dikatakan Yoga benar.
Egonya yang tinggi membuat dirinya egois. dalam diam Lani mendongkak kemudian ia mengangguk pelan.
Zaki dan Yoga tersenyum.
" nah gitu donk, itu baru ade gue .. " celetuk Zaki
Ya, di antara ketiganya, Lani lah yang memiliki usia paling muda, mereka berbeda satu tahun, dan hal itu pula yang membuat Lani selalu bersikap kekanakan jika tengah bersama mereka.
Meski Lani selalu bersikap kekanakan, tapi tidak membuat Tedia, Zaki, dan Yoga enggan untuk bersahabat dengan Lani. ketiga selalu memberi nasehat untuk Lani meski Lani memilik tingkah emosi yang tinggi.
Apa lagi status Lani yang sudah di tinggal Sang Ayah membuat mereka sadar jika Lani butuh pigur seseorang yang bisa menasehatinya.
__ADS_1