LABIRIN

LABIRIN
48


__ADS_3

Lani berjalan keluar rumah, tujuan utamanya adalah garasi.


Sore ini ia akan pergi menggunakan motornya.


Dengan mobil ?, oh tidak. Lani agak kapok untuk hari ini.


Ketika berada diambang pintu dan hendak keluar, Lani tak sengaja berpapasan dengan Raya.


Lani sedikit terperanjat, Ia menghembuskan nafas kasar.


Lalu bagaimana dengan Raya ?, sama seperti Lani, ia pun terkejut karena nyaris bertabrakan dengan Lani. Tapi, tak lama Raya menyipitkan matanya, ia menatap Lani penuh selidik.


penampilan Lani yang begitu rapih sore ini membuat Raya bertanya-tanya. " mau kemana ? " pada akhirnya satu pertanyaan dilontarkan Raya.


Lani tersenyum lebar. " mau ke depan cari cemilan. " sahut Lani.


Alis Raya naik, Lani menunjukan wajah waspadanya.


" rapih amat, nyari cemilannya di Bandung ya " sindiran Raya keluarkan dan hal itu membuat Lani memeriksa penampilannya.


dahi Lani menyerengit tatkala ia selesai memeriksa penampilannya. Tak ada yang terlihat istimewa, ini penampilan sehari-harinya jika ia hendak keluar rumah.


" perasaan biasa aja deh " kata Lani.


Raya menggeleng. " jangan pulang malem-malem, nanti di culik kelong wewe tau rasa kamu "


Lani terkekeh, peringatan dari Ibunya lebih terdengar seperti lelucon baginya.


" Arlan gak akan pulang malem, Bu. Paling pulang pagi. hahaha " sahut Lani disertai tawa.


Raya membulatkan mata, ia menatap tajam Lani. " mau Ibu gadein kamu hah. "


Lani menelan ludahnya kasar, sepertinya Ibunya ini sedang tidak bisa diajak bercanda. Pasti karena kelelahan. Lani kembali tersenyum. " enggak. Bu, mana berani Arlan kaya gitu, Arlan pergi dulu ya, assallamualaikum " pamitnya kemudian mencium punggung tangan Raya.


" waallaikumsalam " Raya menjawab salam putranya.


Raya tak bergegas masuk, ia terus memperhatikan Lani yang tengah berjalan menuju garasi. kemudia Raya juga melihat Lani yang mengeluarkan motornya dari dalam garasi, Lalu Lani pergi meninggalkan rumah dengan mengendarai motornya.


Ketika putranya sudah tak terlihat, Raya menghela nafas kasar. Kemudian ia melangkah masuk ke dalam rumahnya.


..


Menempuh waktu yang hanya 20 menit, Lani kini sudah berada di tempat favoritnya. Pedagang cemilan yang berada di pinggir jalan.


Setelah memarkirkan motornya, Lani melangkah mendekati pedagang itu. " sore mang, apa kabar ? " sapa Lani basa-basi.


Pedagang itu merespon, ia tersenyum sebelum membalas sapaan Lani. " sore juga, kemana aja nih. ? " katanya bertanya balik.


Lani terkekeh," biasa sibuk sekolah " sahut Lani.


" mau disini apa dibawa pulang ? " tanya pedagang itu karena ia sudah hapal betul apa yang Lani inginkan.


" disini aja deh " kata Lani, kemudian duduk di bangku yang tersedia.


" ok " katanya, kemudian mulai membuat batagor yang Lani pesan.


Sambil menunggu Lani bermain dengan ponselnya.


Langit yang gelap, mulai bersuara, Lani mengadahkan kepalanya, dan terlihat olehnya kini jika sebentar lagi sepertinya akan turun hujan.


Membiarkan, Lani kembali bermain dengan ponselnya. Tak lama terdengar suara seorang wanita yang Lani kenal.


" mas, mau batagornya ya satu porsi "


Dahi Lani menyerengit.

__ADS_1


wajahnya yang fokus kearah ponsel kini mulai dialihkan.


" Jiasa " kata Lani ketika melihat siapa yang tengah memesan batagor.


" Lani " Jiasa bersuara, ia sama terkejutnya seperti Lani.


Lani terkekeh, Jiasa sendiri tersenyum kikuk, keduanya tak menyangka akan bertemu ditempat ini.


" sini duduk " kata Lani, Jiasa mengangguk. Kemudian ia mendekati Lani dan duduk disamping Lani.


Hening untuk beberapa detik. Tapi, detik berikutnya Lani mengeluarkan suara.


" sendirian, Ji.? " tanya Lani, dalam hati ia merutuki dirinya sendiri, menurut Lani pertanyaan yang ia ajukan merupakan pertanyaan bodoh, sudah tahu Jiasa sendiri tapi dia masih saja bertanya.


Jiasa tersenyum kemudian mengangguk pelan.


" udah sering kesini ? " tanya Lani lagi, bertepatan dengan itu batagor pesanannya datang.


" tambahin saos sendiri ya den, mamang banyak pesanan soalnya " kata pedagang batagor, Lani mengacungkan ibu jarinya tanda setuju.


" oh iya, belum jawab, kamu sering kesini ? " Lani kembali bersuara sembari menuangkan saos dan kecap ke atas batagor miliknya yang tersaji di piring.


" ya, semenjak pindah ke jakarta aja sih, udah gitu jarak dari komplek juga gak jauh " kali ini Jiasa menjawab dengan kalimat yang cukup. Panjang.


Mendengar hal itu Lani melihat kesekeliling, dan kini ia sadar jika komplek perumahan Jiasa dekat dengan tempat yang kini ia kunjungi.


setelah menyadari hal itu, Lani tersenyum dan ia mulai menikmati batagor miliknya.


" mau Ji " katanya menawarkan batagor miliknya.


Jiasa menolak dengan gelengan, tak lupa ia tersenyum. Tak lama pesanan Jiasa sudah siap. Ketika pedagang batagor itu menghampir Jiasa, Jiasa lekas berdiri.


" ini neng " kata pedagang, Jiasa menerima kemudian ia memberikan uang kepada pedagang batagor itu.


Lani mendongkak, dilihatnya Jiasa yang tengah tersenyum padanya. Bukannya mengangguk Lani malah mengadahkan wajahnya dan menatap langit yang sejak tadi gelap.


" bentar aku anter, mau ujan soalnya, bentar lagi abis kok, ini satu suap lagi. " kata Lani, ia menunjukkan batagor miliknya yang hanya tersisa sedikit.


Mendengar kata hujan, sontak Jiasa mengadah, Lani benar langit semakin gelap, tanda jika air hujan hanya tinggal ditumpahkan untuk turun ke bumi.


Tak menolak, Jiasa pun tetap berdiri ditempat, tak lama Lani selesai, kemudian ia bergegas beranjak dari duduknya.


Setelah menyelesaikan urusan membayar, Lani kembali pada Jiasa. " yuk " kata Lani, Jiasa mengangguk.


Lani dan Jiasa berjalan bersama menuju motor Lani. Keduanya naik dan duduk di atas jok motor milik Lani.


setelah itu Lani melajukan motornya menuju rumah Jiasa yang letaknya tak jauh dari tempat yang mereka kunjungi.


Tak membutuhkan waktu yang lama, Lani yang sudah tahu rumah Jiasa tak perlu lagi bertanya.


Kini keduanya sudah tiba di depan rumah Jiasa.


" makasih ya, mampir dulu gak ? " kata Jiasa, Lani diam ia nampak berpikir, tapi tak lama Lani bersuara.


" ada siapa di rumah ? " Lani bertanya balik.


" ga ada siapa-siapa, papa sama mama baru aja pergi, tapi gak lama kok, bentar lagi juga pulang "


" kamu sendirian di rumah ? " Lani menatap Jiasa dengan tatapan penuh arti.


Jiasa mengangguk.


" astaga Jiasa kalau ada yang jahat gimana. ya udah aku temenin sampai papa kamu pulang, tapi di luar rumah aja ya " kata Lani cukup terkejut ternyata saat ini Jiasa sedang sendirian di rumah.


Lani yang khawatir berinisiatif untuk menemani Jiasa.

__ADS_1


Tapi, bagaimana pun Lani laki-laki normal yang sudah paham. Oleh sebab itu Lani memilih menemani Jiasa di luar rumah.


Jiasa seolah paham jika Lani mengkhawatirkannya, oleh karena itu Jiasa tersenyum kemudian ia membuka pagar dan mempersilahkan Lani untuk memasuki area rumahnya.


Langit semakin gelap, Lani dan Jiasa bergegas menuju teras setelah Lani memakirkan asal motornya.


Pagar rumah pun sudah Jiasa kunci.


Tak lama hujan turun dengan begitu deras. Teras rumah Jiasa yang tidak lebar membuat tubuhnya dan tubuh Lani terkena air hujan.


" Lan, di luar kena air hujan, di dalem aja nunggunya, gapapa yuk " kata Jiasa, ya mau bagaimana lagi dari pada mereka basah kena air hujan, akan lebih baik jika mereka menunggu di dalam.


Lani mendesah pelan, yang dikatakan Jiasa benar, ia akhirnya mengangguk pelan.


Setelah membuka pintu yang terkunci, Jiasa dan Lani masuk ke dalam rumah.


Jiasa mempersilahkan Lani untuk duduk.


" aku bikinin minum dulu ya " kata Jiasa, Lani mengangguk pelan.


Jiasa bergegas melangkah menuju dapur, Lani sendiri duduk di ruang tamu sembari merotasikan matanya melihat sekeliling rumah Jiasa yang baru pertama ia masuki.


Tak lama Jiasa datang dengan segelas teh hangat, ia meletakkan gelas itu di atas meja dihadapan Lani.


Lani tersenyum, " makasih Ji. "


Jiasa mengangguk, kemudian ia duduk di samping Lani. baru saja bokong Jiasa mendarat, lampu tiba-tiba padam, semua menjadi gelap.


Terkejut, Jiasa sedikit merapatkan tubuhnya dengan tubuh Lani, apalagi ketika suara petir terdengar, Jiasa semakin takut.


" maaf, aku tadi kaget " kata Jiasa merasa tidak enak.


" iya aku ngerti kok " kata Lani mencoba tenang, padahal jantungnya tengah berpacu dengan cepat.


Hening, tak ada percakapan. Lani mencoba mengalihkan perhatian, " aku minum ya Ji "


Dalam gelap Jiasa mengangguk.


Suara gelas yang diletakan Lani terdengar, Lani kini kembali pada posisinya.


Canggung itu yang mereka rasakan untuk saat ini, kedua insan berbeda jenis itu kini tengah salah tingkah dengan kondisi yang ada.


Mencoba bersikap sebagaimana meskinya, Lani bergerak, tangan Lani bergerak. Tapi, tangan Lani malah mengenai telapak tangan Jiasa, Begegas Lani menarik tangannya. " sorry gak sengaja " kata Lani, ia tahu Jiasa terkejut.


Jiasa menggeleng, Tak lama suara menggelegar dari langit kembali terdengar, Jiasa yang terkejut kini memeluk Lani. Sontak Lani membeku akan perlakuan Jiasa yang tidak terduga.


Jiasa salah tingkah, apa lagi ketika Lani menatapnya dalam kegelapan. Jiasa mencoba menjauhkan tubuhnya, tapi Lani menahannya.


Keduanya kembali saling tatap tak ada yang bersuara.


Entah dapat bisikan dari mana, wajah Lani perlahan mendekati Jiasa.


Jiasa sendiri hanya diam, tak mundur. Dan hal itu semakin membuat wajah Lani dekat dengan wajahnya.


Semakin dekat, hanya beberapa senti lagi, kini kedua benda kenyal itu sudah menyatu.


Lagi, entah setan dari mana Lani mulai menggerakan bibirnya, dan lagi Jiasa tak menolak, keduanya kini semakin tak terkendali. Dan yang terjadi selanjutnya adalah perbuatan dosa yang tengah Lani dan Jiasa lakukan, hujan menjadi saksi, dan suasana yang gelap begitu mendukung, keduanya begitu larut, seolat tak ingin melepas satu sama lain.


Di lain tempat, Raya menatap gelisah keluar rumah melalu kaca jendela rumahnya, sesekali Raya mendesah pelan, wajah paniknya terlihat jelas.


" Bu, ada apa ? " tanya Bi Minah.


helaan nafas pelan kembali terdengar. " Arlan kok belum pulang ya, Bi. Aku khawatir "


kata Raya kembali menatap keluar melalui kaca jendela.

__ADS_1


__ADS_2