LABIRIN

LABIRIN
52


__ADS_3

Masih ditempat yang sama, dan juga dalam posisi yang sama. Yaitu, bersandar nyaman ditubuh bagian kiri milik Yoga. Tiba-tiba Lani yang terpejam dikejutkan dengan suara seorang gadis yang bertanya kepadanya.


" Kak Arlan "


Lani membuka mata tapi tetap tak menegakan tubuhnya, sedangkan gadis itu kini mendapat tatapan penuh tanya dari ke tujuh manusia yang ada disekeliling Lani.


" ada apa ? " bukan suara Lani, tapi itu suara ketus dari Irene, ia memandang tak suka kepada gadis yang sudah memanggil Lani.


gadis itu nampak tersenyum tipis, kemudian fokusnya kini diarahkan kepala Lani, " Kak, Arlan liat jam tangan aku gak, pas tadi di UKS ? " tanyanya to the point.


Semua melongo, atensi kini beralih pada Lani, mereka menatap Lani penuh tanya. Terutama Jiasa.


mengerti dengan tatapan para sahabatnya, Lani memutar bola matanya malas, kemudian ia menegakkan tubuhnya dan menatap sinis gadis bernama citra yang tadi pagi ia usir dari UKS.


" Lu pikir gue punya waktu buat fokus sama jam tangan lu yang gak penting itu, Gue gak liat dan gak tau. dan satu lagi, gue gak suka sama cara lu ngasih pertanyaan sama gue, kesannya kaya kita abis berduaan di dalam UKS, padahal sama sekali enggak, jadi cari aja jam tangan elu itu, dan gak usah caper sama gue, PAHAM. " kata Lani anggkuh, sangat anggkuh.


Ayolah, saat ini ia tengah kacau, jangan menambah beban Lani, ia ingin menenangkan diri.


apa yang Lani ucapkan benar, ke tujuh orang yang berada bersama Lani berpikir jika Lani bersama seorang wanita di dalam UKS. Tapi, semua pikiran itu sirna ketika Lani dengan lantang mengatakan kalimat itu.


Setelah membuat Citra mati kutu, Lani beranjak dari duduknya dan kemudian melangkah pergi meninggalkan area kantin.


" Dajjalnya lagi keluar, setannya terlepas dari belenggu " celetuk Zaki, Tedia dan Yoga menggeleng.


Citra sendiri masih berdiri di tempat dengan kedua temannya yang kini menatap prihatin kearah Citra.


Tatapan sinis kita Citra dapatkan dari Jennie, Citra dan kedua temannya menatap dengan gugup.


" dek, dek. Kalau mau caper sama kakak kelas jangan sama Lani deh, bukannya malah baper yang ada elu malah di bikin malu, dan satu lagi yang harus elu tau, Lani tuh gak suka kalau ada orang yang gak deket sama dia, manggil dia pake nama Arlan. panggilan Arlan cuma dibuat khusus untuk para orang terdekat "


Citra menunduk, kata-kata Jennie membuat ia tak enak hati dan merasa rendah.


" bener kata Lani, dengan lu nanyain jam tangan milik lu sama dia, kesannya jadi kaya lu abis ngabisin waktu berduaan sama dia di UKS, dan itu bisa bikin orang salah paham, so. Nanti kalau mau nanya apa-apa itu di pikir dulu ya, apa lagi kalau mau caper. " Jennie kembali bersuara dan semakin membuat Citra menunduk, ia tak mampu menyahuti kalimat-kalimat yang Jennie katakan.


Kriiiingggg ..


Bertepatan dengan itu, bel pertanda pelajaran akan segera di mulai berbunyi, ke tujuh orang itu beranjak dari tempat duduknya, kemudian berlalu pergi meninggalkan Citra dan kedua temannya begitu saja.


Sebelum benar-benar melangkah pergi, Jiasa menyempatkan diri untuk melirik Citra.


Setelah ditinggal begitu saja, Citra dan kedua temannya menghela nafas, kemudian Citra menggeram kesal. Telapak tangannya bahkan ia kepalkan.


" gue bilang apa, Cit. Lu salah orang kalau mau caper sama Kak Lani. circlelannya serem, apalagi Kak Jennie. " Sisil nama gadis yang baru saja bersuara sembari bergidik ngeri.


Citra mendengus, kemudian ia menghentakkan kaki dan melangkah pergi meninggalkan Sisil dan Maya, temannya.


Sisil dan Maya menggeleng.


" emang sih, gak ada yang bisa nolak pesona Kak Lani, cuma gara-gara pagi diusir aja dia langsung baper, padahal mah diusir lho, bukan digombalin. " celetuk Maya dan mendapat anggukkan setuju dari Sisil.


..


Lagi-lagi jam kosong. Tentu saja hal itu menjadi sebuah kebahagian tersendiri bagi siswa kelas 11 IPA C.


Contohnya ketiga siswa yang selalu masuk jajaran 5 besar di kelas, Mereka kini tengah tertawa bersama. Entah apa yang mereka tertawakan.


Lani yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya, diam-diam mencuri pandang pada sosok Jiasa yang tengah menulis, Lani menatap sendu kearah Jiasa, begitu jelas di mata Lani, Jika raut wajah yang Jiasa tunjukkan sejak pagi adalah raut wajah yang berbeda.

__ADS_1


Kesedihan dan kehancuran nampak jelas di wajah Jiasa yang hanya mampu dibaca oleh Lani.


Lani menghela nafas pelan, dalam hati ia kembali berpikir, haruskah ia berbicara dan meminta maaf kepada Jiasa. Atau ia biarkan saja, sampai ia dan Jiasa sama-sama melupakan kejadian buruk yang mereka alami.


Tapi, ungkapan hati Lani yang kedua merupakan kerugian bagi Jiasa. Lagi, Lani menghela nafas, ia benar-benar bingung harus apa dan harus bagaimana.


Lani kembali melirik Jiasa, bertepatan dengan itu, Jiasa bergerak hendak menoleh kebelakang. Tapi, tak sengaja ia melihat Lani yang tengah menatapnya.


Tertangkap basah memperhatikan Jiasa, Lani buru-buru membuang pandangannya, ia berpura-pura kembali fokus dengan ponselnya.


Berbeda dengan Lani, Jiasa justru tersenyum miris, pikiran buruk kini sedang berseliweran di kepalanya.


Melihat bagaimana sikap Lani padanya, membuat Jiasa ingin menangis, menurut Jiasa, Lani laki-laki jahat.


..


Pulang sekolah. Jiasa melangkah di koridor bersama ketiga temannya. Jennie, Irene, dan Rosa melangkah di depan sembari bersenda gurau, sedangkan Jiasa memilih melangkah di belakang ketiganya dengan langkah pelan dan raut wajah yang terlihat jelas begitu sendu.


Dalam langkah pelannya, Jiasa tak sadar ada seseorang yang menyamakan langkahnya.


" ehemm " Tedia, siswa yang melangkah cepat guna menyamakan langkahnya dengan Jiasa, kini mengeluarkan dehamannya. Tujuan Tedia satu, agar Jiasa menyadari kehadirannya.


Sontak Jiasa pun menoleh, tapi karena tinggi Tedia melebihi dirinya, Jiasa tak bisa melihat siapa gerangan yang sudah berdeham.


Alhasi Jiasa pun mendongkak, dan Kini ia melihat Tedia yang tengah tersenyum padanya.


Jiasa tak membalas senyuman Tedia, ia malah memalingkan wajah dan kembali menatap lurus dengan wajah datar, sembari melangkah dengan pelan.


Tedia mengerutkan dahinya, Jiasa tidak terlihat seperti biasanya. Ada yang aneh, kata Tedia dalam hatinya.


" Ji " panggil Tedia,


Tedia semakin bingung. Kini ia memberanikan diri untuk bertanya, " kamu kenapa Ji.? "


Jiasa memejamkan sejenak matanya, " gak kenapa-napa " sahutnya pelan, kemudian melangkahkan kakinya lebih cepat untuk menghindari Tedia, bahkan Jiasa sampai menabrak pungung Rosa, sontak Rosa pun terkejut dan menghentikan langkahnya. bukan hanya Rosa, Jennie dan Irene pun nampak terkejut dan kini menatap bingung kearah Jiasa yang kini sudah semakin menjauh.


melihat tingkah aneh sepupuhnya, Jennie mengerutkan dahinya, kemudian ia menoleh dan melihat Tedia yang tengah menatap bingung kearah Jiasa yang sudah nyaris tak terlihat.


Jennie menggeleng, kemudian ia memukul lengan Tedia agar pria itu sadar.


buggg.


Berhasil, Tedia mengaduh dan mengumpat kasar. " Anjing, sakit. "


Jennie mencibir, " lebay lu " katanya.


Tedia memberi Jennie dengusan. Tapi kemudian ia menatap Jenni dengan tatapan penuh arti, " Jia kenapa sih, dari pagi ampe sekarang tuh bocah diam aja, kaya gak ada semangat idup. " tanya Tedia.


" heh, mulut sembarangan kalau ngomong " kata Jennie, gemas ingin memukul kepala Tedia.


Tedia menunjukkan cengiran bodohnya, " maaf atuh sayang. "


" najiss " sahut Jennie, Tedia tertawa terbahak. Tapi tak lama, Tedia kembali menatap Jennie dengan tatapan penuh arti.


" serius, itu Jiasa kenapa, padahal pengen gue baperin. Tapi, sikapnya dari pagi bikin gue mengurungkan diri untuk mengganggu Jiasa. ? "


Jennie menghela nafas, " gue gak tau, emang sih aneh banget sikapnya dari pagi, iya gak ? " Jennie malah bertanya kepada Irene dan Rosa akan sikap aneh Jiasa, dan pertanyaan Jennie mendapat anggukkan dari keduanya. Irene dan Rosa pun berpikir jika sikap Jiasa hari ini tidak seperti biasanya.

__ADS_1


" mau gue tanya-tanya, takut ganggu privasi orang, meskipun dia sepupuh gue, gue gak mau ganggu privasi orang lain. "


Tedia mengangguk paham. Benar kata Jennie.


" lah, kalian masih disini ? " kata Yoga, dia datang bersama Zaki dan Lani.


" ghibahin orang ya kalian " ledek Zaki dengan ekspresi wajah tengilnya, jangan lupakan telunjuknya yang bergerak menunjuk Tedia, Jennie, Irene, dan Rosa secara bergantian.


Tedia mendengus, Jennie bedecih, Irene menggelengkan kepala, sedangkah Rosa mengumpat dengan suara pelan.


" pala lu ghibah, kalau ghibah gue pasti ngajak elu, biar elu ke cipratan dosanya. " kata Tedia.


Zaki mencibir, " dih, giliran dosa aja elu sumbangin. giliran yang enak, gue gak diajak. "


" ya kali, ***-*** bawa temen. " kata Tedia terdengar ambigu.


Tiga gadis di dekatnya meringis geli.


" Dia ih, ngomongnya gak bismilah " Irene gemas ingin mencakar Tedia.


Tak merasa bersalah, Tedia malah cengengesan. " dih masih mending gue, noh si Zaki yang gak pernah bismilah kalau ngomong, tadi aja dia nanya sama Bu Rika kaya begini, bagaimana cara mereka masuk agar bisa membuahi sel telur. "


" asu lu " umpat Zaki dikambing hitamkan.


Tedia kembali cengengesan, sedangkan ketiga gadis disampingnya meringis geli.


Yoga yang berdiri disamping Lani geleng-geleng kepala. Sedangkan Lani menundukkan kepala, Kata-kata ambigu yang diucapkan Tedia sudah mengusik hatinya.


" udah-udah, balik buruan " Yoga mulai bersuara.


Jennie memberi dengusan kemudian melangkah pergi dengan kaki yang dihentakkan. Irene dan Rosa menyusul Jennie.


Tedia dan Zaki masih cengengesan tak jelas, Berbeda dengan Yoga yang kini melirik Lani yang tengah menundukkan kepala.


Yoga menyerengit, kemudian ia berpaling pada Tedia.


" Dia " panggil Yoga, Tedia merespon, ia menghentikan candaannya dengan Zaki dan kini menoleh menatap Yoga dengan dahi berkerut.


Yoga menatap Tedia, kemudian ia melirik Lani yang masih menundukkan kepalanya. Setelah itu Yoga kembali menatap Tedia.


Mengerti dengan kode Yoga, Tedia mendesah pelan. Ia kembali menatap Yoga, saling tatap diantara keduanya terjadi, seolah tengah bicara lewat mata, Tedia kemudian menganggukkan kepala.


Yoga yang paham pun mendesah pelan, lengannya bergerak merangkul bahu Lani. " ayo balik, gue anterin " kata Yoga menarik Lani untuk melangkah bersamanya.


Pasrah, Lani hanya menuruti, ia mengikuti setiap langkah Yoga.


Lani dan Yoga sudah menjauh, Tedia menatap penuh arti, kemudian Tedia menghela nafas pelan.


Zaki mengerutkan dahinya bingung, " gak ngerti ih " kata Zaki.


..


Tiba di rumah setelah dijemput oleh Fadil, Jiasa langsung naik ke lantai atas menuju kamar pribadinya.


Pikiran kalut dan hati yang kacau membuat Jiasa ingin mengurung diri di kamar.


sampai di ruangan pribadinya, Jiasa langsung mengunci diri di kamar, ketika pintu tertutup dengan sempurna, Jiasa langsung menjatuhkan tubuhnya duduk dengan kedua lutut ditekut dibalik pintu.

__ADS_1


Bahu Jiasa bergetar, isakan mulai terdengar, kelopak matanya pun mulai basah, ia menangis.


Sikap Lani padanya hari ini membuat Jiasa kecewa pada Lani untuk kesekian kalinya.


__ADS_2