
Setelah merebahkan dirinya di UKS dan pada akhirnya Lani merasa bosan karena di UKS ia hanya berduaan dengan dokter Ana yang merupakan tantennya, Lani memilih kembali ke kelas, kini ia melangkah memasuki kelas dengan penampilan kusut, rambut acak-acakan dan wajah terlihat masih pucat.
Tiga orang yang anteng duduk lesehan di lantai depan kelas memperhatikan Lani. bukan hanya tiga orang itu sih, sebagian siswa dan siswi yang sudah berada di kelas memperhatikan Lani.
Lani melangkah gontai, ia langsung menghampiri tiga sahabatnya, tanpa banyak bicara Lani langsung merebahkan tubuhnya dilantai, dengan paha Tedia sebagai bantal. kebetulan kedua kaki Tedia selonjoran, hal itu membuat Lani lebih mudah menjadikan kaki Tedia bantalnya.
Tedia memincingkan matanya, gak heran sih sebenarnya dia. Lani udah sering kaya gini, begitu pula sebaliknya. Tapi, Tedia mau pura-pura kaget, Tedia pun sudah memasang wajah siap berakting.
" heh heh heh heh. Apa-apaan lu, maen nyungsep aja " kata Tedia.
Lani menggeram, satu matanya terpejam, satu tangannya bergerak menyentuh perut. " udah diem, berisik banget deh, YOGAAA .. " Lani malah berteriak memanggil Yoga, padahal Yoga ada di samping Tedia.
" hemm " sahut Yoga matanya fokus pada ponsel.
" pijitin pala gue, sakit banget sumpah " kata Lani minta tolong tapi maksa.
Yoga mengerutkah dahi sembari mantap Lani, kemudian ia mendongkak menatap Tedia. Tedia dan Yoga saling tatap, hingga decakan dari mulut Yoga terdengar ketika Lani kembali bersuara.
" Yoga buruan elah, kebanyakan mikir " katanya dengan mata terpejam dan kepala yang menggeleng pelan.
" manja bener sih lu, baru sakit gini aja " kata Yoga kemudian beringsut mendekati Lani, lalu dengan telaten ia memijat dahi Lani.
Semua menggeleng heran, mau aja di kerjain tukang rusuh di kelas mereka, apa lagi umur Lani yang terbilang di bawah mereka.
" terus gue ngapain, Lan. " tanya Zaki karena hanya dia yang tidak direpotkan Lani, dan mau mau saja menawarkan diri.
" lu pijitin kaki gue " celetuk Lani tanpa beban.
Zaki menatap sinis Lani kemudian ia menendang pelan kaki Lani.
" anjing, aset gue jangan ditendang " umpat Lani.
" bacyooott " sahut Zaki memilih kembali bermain dengan ponselnya dan membiarkan Lani mengerjai dua kakaknya.
Tak lama suara tawa yang sangat Zaki kenal terdengar dan semakin mendekat. Dan kini Jennie bersama tiga gadis yang selalu bersama di sekolah melangkah masuk ke dalam kelas.
Mereka sempat melongo melihat pemandangan yang mereka lihat ketika masuk ke dalam kelas.
" elu kenapa, Arlan. ? " kata Jennie mendekat menghampiri empat siswa berada di depan kelas.
" gak tau, jen. " sahut Lani, meski mata terpejam, Lani tau yang baru saja berbicara Jennie.
" lemes banget badan gue, pala pusing, berasa mau mati, kayanya ayah lagi lambai'in tangan mau jemput gue " kata Lani ngaco, semua memincing menatap Lani.
tak lama tendangan di kakinya lagi-lagi Lani rasakan, pelakunya Irene. Ia menendang pelan kaki Lani dengan mulut menggerutu, " sembarangan lu kalau ngomong, emang lu udah siap mati. "
Lani menggeram pelan, matanya masih terpejam. Yoga juga masih memijat dahinya.
" ya mau gimana lagi, kalau udah waktunya harus siap " celetuk Lani, membuat semua mata tertuju padanya, termasuk Jiasa yang menatap Lani dengan tatapan sulit diartikan.
Ada rasa tak tega melihat Lani terkapar dengan wajah terlihat sedikit pucat.
" pea, gue yang belum siap ngeliat elu dikubur. " kata Irene kembali menendang pelan kaki Lani.
Lani terkekeh, ia membuka matanya, hal yang pertama Lani lihat saat matanya terbuka adalah Jiasa yang berdiri di sebelah Rosa.
Lani terdiam, beberpa detik kemudian Lani membuang pandangannya dan melihat Irene dan Jennie yang tangah menatapnya sembari berkacak pinggang.
Lani menekuk satu kakinya yang lurus, kemudian Lani tertawa, " cieee yang belum siap kehilangan gue, jadi makin sayang sama Irene. "
Irene mendengus, kemudian melangkah sembari menghentakan kaki.
Jennie menggeleng pelan, tapi tak lama ia tersenyum tipis.
" kenapa Bu Lurah .. ? " goda Zaki.
Jennie melirik Zaki, kemudian menatap tajam Zaki. " gue Jennie bukan Bu Lurah. " katanya kemudian menarik Jiasa agar pergi meninggalkan ke empat manusia yang menurut Jennie tidak berguna. Rosa melangkah mengikuti.
Melihat bagaimana reaksi Jennie membuat ke empat Siswa itu tertawa.
Jennie yang sudah berada di tempat duduknya mendengus, sedangkan Jiasa dan Irene menggelengkan kepala.
__ADS_1
Tiba-tiba ekspresi Irene berubah. Ia berbalik menjadi menghadap belakang, menatap Rosa dan Jennie.
" seneng deh liatnya, mereka balik gila lagi setelah cukup lama hiatus " celetuk Irene.
Jennie dan Rosa mengangguk sembari tersenyum.
Jiasa sendiri ikut tersenyum tipis, sangat tipis.
" Lan, Lan .. Laniiiiii .. " Robi yang baru memasuki kelas berlari menghampiri Lani.
" apaan sih lu ? " tanya Lani, yang kini sudah merubah posisi tubuhnya, duduk bersandar di tembok di samping Tedia dengan kepala bersandar di bahu Tedia.
Robi ikut duduk di lantai, kini ia berhadapan dengan Lani. " balik nebeng ya, bawa motor kan, gue mau jenguk Ibu. "
" masih inget lu kalau masih punya Ibu. " sindir Tedia.
Robi mencebikan bibirnya, " baru 5 hari gue kaga jenguk Ibu. " kata Robi wajahnya memelas.
" 5 hari lu bilang baru, entar seminggu lu anggap biasa .. Bocah gendeng .. " kali ini Yoga.
" iss, gue kemaren sibuk, lu tanya aja Pak Lurah. " Robi kembali membela diri.
Zaki melongo. " lah kok gue " katanya bingung sembari nenunjuk dirinya sendiri.
" berisik banget sih, udah diem, iya lu boleh nebeng, tapi lu yang bawa motor ya. " kata Lani, seketika Robi langsung tersenyum senang.
" siap, elu emang bestie gue, Lan. " kata Robi antusias.
Lani mencibir, " dih ogah, bestie gue mah Yoga sama Tedia. " kata Lani, Tedia dan Yoga menggeleng pelan.
" kok cuma mereka berdua, terus gue lu anggap apa ? " Zaki dengan wajah memelas. bibirnya mengerucut. Benar-benar menggemaskan. Apa lagi visual Zaki memang mendukung.
" kamu kan ayang aku, ngapain jadi bestie " kata Lani.
Tedia, Yoga, dan Robi memutar bola matanya malas.
" oh iya lupa, bahkan kita berdua sudah menikah diam-diam, aaaaaaa jadi tambah sayang " kata Zaki dengan suara manja, bergerak mendekati Lani dengan kedua tangan direntangkan. Lani menyambut, keduanya siap untuk berpelukan. Tapi gagal, karena Yoga menarik Zaki. alhasil Zaki terjengkang kebelakang, beruntung ia tidak terjatuh dengan kasar.
" lu berdua bikin gue geli. " kata Yoga gemas.
" Lani noh yang mulai. "
" lah kok gue " Lani tak terima disalahkan.
" lah terus siapa. " Zaki kembali bersuara.
" BERISIK " itu teriakan Tedia.
Nyali Lani dan Zaki langsung menciut seketika.
..
Tin
Tin
Tin
Suara klason motor Lani yang dibunyikan oleh Robi.
Pak Asep mendengus, sudah hapal bengat, dan gak perlu tanya lagi siapa pelakunya.
Yang pasti Muhamaad Robi Aldama, bagus kan namanya, seimbang sama visualnya. Hanya saja Robi tidak seberuntung Lani dan kawan-kawan yang bisa hidup mewah.
Robi hidup dari kerja keras kedua orang tuanya yang kerja di rumah Lani. Bi Minah dan Pak Asep adalah orang tuanya.
meski begitu Robi tak pernah malu akan statusnya yang hanya anak seorang pembantu. Ia malah bangga karena meskipun begitu kedua orang tuanya menafkahinya dengan uang halal.
Selain itu Raya tidak pernah memandang Robi sebagai anak Art nya. jika Robi datang berkunjung, Raya selalu memberi perhatian kepada Robi.
" kebiasaan .. " kata Pak Asep yang sekarang sudah membuka pintu pagar yang kecil.
__ADS_1
Jadi pagar rumah Lani itu ada dua pintu, yang utama itu, yang lebar. Jalan masuk ketika tuan rumah membawa mobil. Tapi, jika tuan rumah membawa motor, maka Pak Asep akan membukakan pintu pagar yang kecil.
Robi nyengir kuda, Pak Asep memberi dengusan.
Motor Lani yang Robi kendarai berhenti di depan teras rumah Lani.
Robi males menaruh motor itu di garasi, biar nanti yang punyanya aja.
Robi dan Lani sudah turun dari kuda besi itu, ketika Robi hendak melangkah masuk ke dalam rumah Lani, Lani menarik seragam Robi, hingga langkah Robi terhenti.
" Asu .. Apaan sih lu, gue mau ketemu ibu. "
Lagi mendengus, " sebelum ketemu ibu, salim dulu sama yang buat "
Wajah Robi menekuk, dahinya saja sampai berkerut. Bingung aja sama ucapan Lani.
" yang buat, siapa ? " tanya Robi begitu polos.
Lani menepuk dahinya, " bapak lu, pea "
Dahi Robi kembali berkerut, dia mikir lagi. Tapi tak lama ekspresi Robi berubah.
Matanya menatap tajam Lani, kemudian dengan sengaja menyentil dahi Lani. " jangan kotorin otak suci gue sama ucapan kotor elu, ya. "
" dih, " decih Lani. " sok suci " katanya lagi.
" heh elu ya " tantang Robi. asli, meskipun statusnya anak seorang Art, Robi tidak pernah takut sama Lani.
" ribut terus " suara Raya terdengar.
Robi tersenyum lebar, kemudian melangkah menghampiri Raya yang berdiri diambang pintu.
" Assalamualaikum Ibu. " mengucap salam, Kemudian Robi mengulurkan tangan, guna mencium punggung tangan Raya. Raya menyambut, ia pun menerima uluran tangan Robi.
" dari mana aja ? " tanya Raya sudah lima hari ia baru melihat Robi, meski Raya sering bertanya pada Lani dan Lani bilang kalau Robi baik-baik saja, tapi jika belum melihat Robi rasanya belum puas.
" sibuk, Bu. " sahut Robi nyengir kuda.
Raya menggeleng, kemudian matanya dialihkan pada Lani.
Raya mengerutkan dahi ketika melihat penampilan Lani, " kamu kenapa, kok kusut amat ? "
" tadi dia tepar, Bu. " yang jawab Robi, Raya mendesah pelan.
" buruan masuk " kata Raya, Lani dan Robi mengikuti.
" ck !, masih inget kamu kalau masih punya Ibu. " kata Bi Minah, ketika melihat putranya berjalan bersama Raya dan Lani.
Kebetulan Bi Minah sedang membersihkan lemari kaca milik Raya yang ada di ruang tamu, itu sebabnya Bi Minah bisa melihat putranya datang.
" Astagfirallah, gak Tedia, gak Umi, sama aja ngomongnya. " kata Robi, gemas. sebab ia katai jika ia sudah melupakan Ibunya. " Robi kan sibuk sama sekolah Umi, udah gitu toko juga lagi rame akhir-akhir ini. " katanya lagi yang sekarang sudah duduk anteng di sofa ruang tamu.
Disampingnya, ada Lani. Lalu menyusul, Raya.
" terus sekarang mau ngapain ke sini ? " tanya Bi Minah.
" paling minta duit, Bi. " celetuk Lani.
Robi melongo, " anjir mana ada, yang ada gue mau ngasih duit sama Umi gue. "
Mata Lani memincing, " duit dari mana, nyelot ya lu .. " tuduh Lani. Alisnya naik turun.
Robi kembali melebarkan matanya, " sialan, kalau ngomong tuh di kontrol dulu "
" ih .. Ibu, Robi ngomong jorok " kata Lani, Raya dan Bi Minah sudah geleng kepala melihat tingkah keduanya.
" heh, gue bilang kontrol, pake R. Bukan kon .... "
" ROBIIII " teriak Raya dan Bi Minah menghentikan Robi.
Mata Robi mengerejap, sedangkan Lani tengah tertawa terbahak.
__ADS_1