LABIRIN

LABIRIN
44


__ADS_3

seperti biasa, rutinitas pagi seorang remaja bernama Lani. Pergi sekolah dengan mengedarai mobilnya. sebenarnya bukan miliknya tapi, milik ibunya.


Pukul 07.00 Lani masih berada di jalan raya. Jalanan yang cukup padat membuatnya agak terhambat.


Lani mendesah pelan, ketika lampu merah menyala. terpaksa berhenti, karena menaati aturan, Lani kemudian melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Beberapa menit menunggu akhirnya lampu merah berganti hijau, bergegas Lani melajukan kembali mobilnya.


Lancar, jalanan lancar. Lani bernafas lega. Wajah berbinar seketika.


Tapi, binar bahagia di wajah Lani sirna tatkala dia melihat beberapa orang yang mengenakan seragam di pertigaan jalan yang akan ia lewati.


" anjiir . Polisi " Lani panik, tapi dia tidak bisa putar balik.


Dengan terpaksa ia terus melaju, berharap polisi lalu lintas yang bertugas tidak menghentikan mobilnya.


Naas, kesialan menimpanya. mobil Lani di hentikan.


" pagi " sapa Polisi itu.


Wajah Lani memelas, tapi ia membalas sapaan Polisi itu. " pagi juga, Pak. "


" mau sekolah, dek. ? " tanya Pak Polisi.


Lani ingin memutar bola matanya malas, dan dia ingin menyahuti Polisi itu dengan kalimat " bukan saya mau ngereog "


Tapi, Lani tak berani. Ia mengangguk pelan, menjawab pertanyaan Pak Polisi itu.


" Bisa liat KTP, Sim, sama STNKnya ? "


Mampus, Lani tengah mengumpat dalam hati.


KTP, SIM, STNK. Apa itu, STNK mungkin ada. Tapi, Sim, dan KTP, Lani tidak memilikinya.


" KTP gak ada, Pak. Kalau kartu pelajar ada " jawab Lani dengan raut wajah pasrah.


Pak Polisi itu menatap datar, Lani tahu apa yang akan terjadi.


" bisa keluar sebentar " kata Pak Polisi, Lani menuruti.


Ia keluar dari dalam mobilnya, kemudian berdiri menghadap Pak Polisi yang saat ini tengah menindaknya.


" STNK " pinta Pak Polisi.


Lani mengeluarkan dompetnya dari saku celana abu-abunya. Lalu memberikan STNK yang di minta Pak Polisi.


Pak Polisi mulai memeriksa surat kendaraan itu. Lalu menyerengit ketika melihat nama yang tertera di surat kendaraan itu.


" ini punya Ibu kamu ? "


" iya, Pak. " sahut Lani, meski gugup tapi ia bisa menjawab.


" KTP sama Sim "


Lani benar-benar ingin mengumpat. Boro-boro Sim, untuk identitas diri saja, Lani masih menggunakan kartu pelajar.


" cuma ada ini, Pak. " Lani mengeluarkan kartu pelajar di dompetnya.


Diterima oleh Pak Polisi, memeriksa, dan kini raut wajah Pak Polisi berbeda. Pak Polisi yang menunduk karena memeriksa kartu pelajar Lani kini mendongkak.


" baru 16 tahun ? "

__ADS_1


Lani mengangguk mengiyakan.


" kamu tahu kesalahannya apa ? "


Lani kini menunduk.


" pasal pertama, tidak membawa Sim. pasal kedua, kamu masih di bawah umur tapi udah bawa mobil. kamu tau, di usia kamu ini bawa motor saja gak boleh apa lagi bawa mobil, STNK saya tahan, nanti bisa ambil di kantor. Pusat setelah kamu menyelesaikan proses sidang. Dan untuk sekarang karena kamu pelajar yang mau sekolah, jadi saya beri keringanan silahkan lanjutkan, dan hati-hati bawa mobilnya. "


Lani mengangguk pasrah, setelah di persilahkan untuk melanjutkan perjalanan. Lani kembali masuk kedalam mobilnya dengan wajah memelas.


kemudian Lani melajukan mobilnya meninggalkan jalan yang baru saja membuatnya sial.


..


Lani melebarkan bola matanya. Terkejut karena Pak Satpam akan menutup pintu gerbang sekolah.


Tin


Tin


Tin


Lani membunyikan klason. Berharap Pak Satpam menghentikan aksinya.


Harapannya jadi nyata. Pak Satpam menghentikan gerakan tanggannya yang mencoba mendorong gerbang, kemudian Pak Satpam menatap ke arah Lani yang kepalanya menyembul keluar melaui kaca mobil yang terbuka.


" Pak, buka Pak .. " mohon Lani, dengan wajah memelas.


Lani melihat Pak Satpam menghela nafas. Beruntung kali ini Pak Satpam tengah berbaik hati. Ia pun membuka kembali pintu gerbang yang nyaris tertutup.


Lani bernafas lega, akhirnya kesialannya berakhir. Bergegas ia kembali melajukan mobilnya masuk ke dalam area sekolah.


Begitu mobil Lani masuk dengan sempurna, Pak Satpam segera menutup gerbang sekolah yang berdiri kokoh itu.


" iya, tapi tumben kamu terlambat ? "


Lani menghela nafas kembali. " abis kena tilang, Pak. "


Bukan prihatin, Pak Satpam justru tertawa terbahak. " makanya sadar umur, 16 tahun bawa mobil. KTP aja belum bisa bikin. " ledek Pak Satpam.


Lani mendengus.


" udah sana cepetan kekelas, nanti Gurunya keburu datang kamu dihukum .. "


Lani mengangguk kemudian melajukan kembali mobilnya menuju area parkir.


..


Sementara itu di kelas, setelah bel pertanda pelajaran akan segera dimulai, berbunyi. Semua siswa dan siswi masuk ke dalam kelas.


Begitu pula dengan penghuni kelas 11 IPA C, semua siswa duduk rapih di kursinya menunggu kedatangan Guru yang akan mengajar di jam pertama.


" ini si Arlan kemana, belum nongol tuh bocah. ? " kata Zaki dengan wajah sedikit panik. pasalnya tak ada informasi perihal ketidak hadiran Lani hari ini. Sebagai ketua kelas, pasti nanti dia yang akan di beri rentetan pertanyaan mengenai teman sekelasnya yang tidak hadir.


" kena macet kali, atau jangan-jangan tuh bocah sakit .. " celetuk Yoga.


Tedia yang sudah kembali bersekolah mengerutkan dahinya. Kemudian ia menggelengkan kepala. " enggak mungkin sakit. kalau dia sakit pasti Ibu ngabarin kita. Ini mah gak ada satu pun yang di kabarin. "


Zaki dan Yoga mengangguk membenarkan ucapan Tedia.


" hari ini jamkos kaga, Ki.? " tanya Jennie yang duduk di sisi kiri Zaki.

__ADS_1


Zaki mendengus dengan mata memincing. " elu maunya jamkos aja, inget lu bentar lagi ujian kenaikan kelas."


Jennie memutar bola matanya malas.


" eh anjiir kita jadi kakak kelas bentar lagi. " kata Yoga antusias dan di tanggapi oleh Tedia yang juga begitu antusias mendengar kata kakak kelas.


" kita udah jadi kakak kelas, bego. " kata Zaki mengingatkan Yoga dan Tedia jika status mereka sudah menjadi kakak kelas dari kelas 10.


" beda, oon. nanti tuh kakak kelas senior, gak ada yang berani menindas entar sama kita .. " Yoga kembali berkata, dan di benarkan oleh Tedia.


Brakkk..


Bertepatan dengan itu, Pintu terbuka. Semua pasang mata tertuju kepada suara pintu yang terbuka itu.


Di ambang pintu Lani berdiri. Dengan tatapan waspada, tapi di detik selanjutnya Lani langsung menghembuskan nafasnya lega.


Lani melangkah masuk, melawati satu persatu teman sekelasnya termasuk Jiasa, yang sedari tadi memperhatikan Lani.


Lani berjalan menuju kursinya, sempat terkejut melihat Tedia sudah kembali sekolah.


" udah sembuh lu ? " tanya Lani.


Tedia mengangguk. " udah donk, kangen banget gue sama elu " kata Tedia sembari merentangkan kedua tangannya, seolah menunggu Lani untuk mendekap dan memeluknya.


Lani meringis. " minggir " bukan memberi pelukan, Lani malah meminta Tedia agar memberinya jalan.


Tedia mendengus, kemudian ia merubah posisi tubuhnya memberi jalan untuk Lani.


Lani sudah duduk di singgahsananya. Ia menyadarkan tubuhnya di tembok, nafas Lani sedikit memburu. Hal itu mengundang tanya bagi tiga orang yang kini menatap Lani.


" ngapa lu ? " tanya Tedia, hati-hati karena sepertinya kondisi Lani sedang tidak baik. Bisa saja sebentar lagi Lani akan menjawab sambil berteriak.


Dan ternyata benar.


" ANJING, GUE DI TILANG "


Tedia, Zaki, dan Yoga memejamkan matanya menahan diri agar tidak mengumpat Lani.


" kok bisa ? " tanya Zaki


bahu Lani merosot. Wajahnya memelas.


" gak bawa Sim, gak punya KTP.. " sahut Lani nadanya merengek seperti seorang yang tengah menangis.


Ketiga mata temannya membulat. Dan di detik selanjutnya bukan belas kasihan yang Lani dapatkan. Tapi, ia di tertawakan.


Hahahahaha


Hahahhaha


Bahkan Tedia sampai tersedak.


Lani memberengut.


" tengil sih, 16 tahun bawa mobil. tau rasa lu " Zaki mengejek.


Lani mendengus. " lah Si Malik juga bawa mobil. "


" mohon maaf, gue udah 17 tahun. gw udah punya KTP sama Sim. " Tedia menaik turunkan alisnya.


Lani mencibir, jika sudah begini dia kalah telak.

__ADS_1


" pagi semua .. " sapa Guru yang baru datang.


Semua menyapa balik, dan pelajaran pun akan segera di mulai.


__ADS_2