LABIRIN

LABIRIN
56


__ADS_3

Mengunyah, menelan dengan perlahan. Itu yang tengah Jiasa lakukan pada makan siangnya saat ini.


Meski begitu, pikiran Jiasa jauh entah kemana.


Hal yang ia pikirkan saat ini adalah sikap Lani di pagi hari yang tiba-tiba berbicara padanya. Namun setelah itu hingga tiba waktunya istirahat, Lani tidak lagi berbicara padanya.


" Hallo cantik "


Jiasa tersentak, seorang siswa duduk disampingnya dengan posisi tubuh yang rapat dengan tubuhnya. Jiasa menoleh, dan kini ia pun melihat sosok Tedia yang tengah tersenyum kepadanya.


Jiasa hanya membalas senyuman itu dengan senyuman tipis, kemudian Jiasa mengalihkan pandangannya, dan ia kembali terkejut ketika melihat Lani duduk disampingnya.


Posisi Jiasa saat ini diapit oleh Lani dan Tedia.


***Uhuk ..


Uhuk ..


Uhuk***..


Karena terkejut Jiasa pun tersedak, ia memukul-mukul dadanya yang terasa sesak.


Decakan lidah terdengar dari sisi kiri Jiasa, itu suara Tedia, bertepatan dengan itu air meneral diberikan oleh Tedia.


" santai Ji, kaya baru saja dideketin sama gue, ampe salting gitu. " celetuk Tedia.


Jiasa menatap Tedia dengan tatapan datar, Tedia salah, bukan kehadiran Tedia yang membuatnya terkejut hingga tersedak. Tapi, sosok siswa yang duduk disebelah kanan Jiasa lah yang membuat Jiasa seperti sekarang ini.


Jiasa menerima air mineral yang diberikan Tedia, ia meminum dengan pelan, ekor matanya melirik kearah Lani yang sedang fokus dengan ponselnya.


" Lan " suara Yoga yang duduk disebelah Rosa memanggil Lani.


" hhmm " respon Lani, wajahnya menunduk menatap layar ponsel yang kini jadi fokus utamanya.


" soal seleksi timnas waktu itu, gimana ? Ada kabar ? " tanya Yoga, Zaki dan Tedia merubah ekspresi wajahnya, menunggu Lani menjawab pertanyaan Yoga.


mereka pernasaran, pasalnya pelatih hanya memberitahu kepada Lani, dan nanti Lani bertugas menyambaikan kembali kepada rekan satu timnya.


Lani melirik Yoga sekilas, kemudian kembali fokus dengan ponselnya. ibu jarinya terus bergerak menari diatas layar ponsel, Sepertinya Lani tengah bertukar pesan.

__ADS_1


Yoga, Tedia, dan Zaki masih menunggu Lani menjawab, hingga decakan, dengusan, dan helaan nafas terdengar dari ketiganya ketika Lani tak kunjung menjawab.


Jiasa yang berada ditengah menggelengkan kepala akan sikap Lani.


Jiasa pun merasa jengah. mewakili tiga orang yang tengah menatap jengan kearah Lani, Jiasa merampas ponsel Lani begitu saja. tujuan Jiasa satu, Jiasa ingin Lani menghargai orang yang bertanya kepadanya.


Lani yang terkejut mendongkak, ini kedua kelinya Jiasa merampas ponselnya. Lani menatap datar Jiasa, Jiasa menatap tajam Lani.


sementara yang lain yang berada disana bersama Lani dan Jiasa menatap penuh waspada. pasalnya, Lani yang memiliki rasa sabar setipis kertas, pasti menanggapi tingkah Jiasa dengan emosi yang memuncak.


" hargai orang, kalau ditanya itu jawab, bukan dicuekin. " kata Jiasa begitu berani.


Zaki meneguk ludah, jujur ia takut terjadi keributan antara Lani dan Jiasa.


Berbeda dengan Zaki, Tedia dan Yoga masih menatap penuh waspada.


bukan hanya Tedia dan Yoga, tapi tiga gadis yang berada bersama mereka menatap penuh waspada apalagi ketika melihat Lani yang kini tersenyum meremehkan. belum lagi tatapan sinis yang mata Lani tunjukkan.


" kalau lu mau tau alasan gue nyuekin mereka, lu bisa liat hp gue, gue lagi ngapain disitu " kata Lani, tiga siswa yang menunggu jawaban Lani mengerutkan dahinya.


masih menunjukkan wajah tak bersahabatnya, Jiasa mulai menghidupkan ponsel Lani, dan kini Jiasa merasa tak enak hati, ternyata Lani tengah bertukar pesan dengan pelatihnya. Di pesan itu juga Jiasa melihat jika Lani dan pelatihnya tengah membahas perihal seleksi timnas.


Melihat ekspresi Jiasa, Lani mendengus pelan. Kemudian ia merebut dengan kasar ponselnya yang berada ditangan Jiasa.


Jiasa terhenyak, kata-kata Lani menyakiti hatinya, mata Jiasa memanas, cairan bening pun mulai membasahi pelupuk matanya. Sontak Jiasa bangkit dari duduknya, kemudian ia berdiri menghadap Lani yang masih menatapnya.


Plakkkk ...


Satu tamparan keras mendarat tepat di pipi Lani.


Semua terkejut, menatap tak percaya dengan apa yang mereka lihat.


Nafas Jiasa memburu, pipinya kini sudah bahas oleh air mata yang mengalir di pipinya.


" harusnya kata-kata itu yang gue ucapin buat lu, bukan lu yang ngeluarin kata-kata itu " kata Jiasa dengan bahasa yang tedengar kasar.


Ini baru pertama kali mereka mendengar Jiasa menggunakan kata Gue dan elu, biasanya Jiasa akan menggunakan kata aku dan kamu.


Nafas Jiasa masih memburu, ia menatap tajam Lani, Lani sendiri hanya diam sembari memegangi pipinya yang terasa panas.

__ADS_1


" minggir " kata Jiasa pada Tedia. Bergegas Tedia pun bangkit dan memberi jalan pada Jiasa.


Setelah mendapatkan jalan, Jiasa berlalu begitu saja, tak perduli dengan tatapan siswa dan siswi lainnya yang berada dikantin dan melihat semuanya.


" Arlan, lu apa-apaan sih " sentak Jennie, " kapan sih lu rubahnya, kasar banget sama cewek, banci lu " kata Jennie kemudian beranjak pergi guna menyusul Jiasa, Rosa mengikuti. Sedangkan Irene, ia kini menatap Lani dengan kedua tangan bersedekap di dada.


" sifat buruk lu kapan dibuangnya sih, Lan. " kata Irene kemudian ia juga berlalu pergi.


Kini hanya mereka berempat, tiga pasang mata itu kini menatap Lani dengan sorot mata yang tajam. Lani memutar bola matanya malas, siraman rohani sebentar lagi akan ia dapatkan.


Lani mulai menghitung. dihitungan ketiga, suara Tedia terdengar, " gue saranin supaya lu minta maaf "


Lani mengabaikan, entahlah semenjak kejadian itu berbicara dengan Jiasa terasa gengsi, pagi saja Lani lakukan karena menjaga image didepan Tante Ane.


Lani belum bisa menerima semua kesalahan yang sudah terjadi. Ia takut, jika suatu hari Jiasa mengatakan satu hal yang tidak ia inginkan.


Diamnya Lani membuat Tedia menghela nafas lelah, kemudian ia beranjak dari duduknya. Tedia kini beralih menatap Yoga, " lu urusin nih bocah, kalau sama gue yang ada pipi sebelah kanannya yang bakal jadi sasaran. " kata Tedia setelah itu berlalu pergi, Zaki ikut pergi menyusul Tedia, kini menyisakan Yoga dan Lani.


Ditatap Yoga, Lani menunduk. Kemudian Yoga menghela nafas.


" elu kenapa sih, Lan. Baru aja suasana mulai kondusif, Jiasa mulai gak jaga jarak, elu malah mancing keributan perihal hp doank " Yoga geleng kepala." gue balikin ke Amerika juga lu " ancam Yoga mengungkit kampung halaman Lani.


ya, Lani memang lahir dan tinggal di Ibu kota. Tapi, Lani dan keluarga pernah tinggal di Amerika. bersama Ayah dan Ibunya, Lani pernah tinggal disana selama 4 tahun. Lalu menginjak kelas 5 sd, Lani kembali ketanah air, dan disaat itu ia bertemu dengan Tedia, kemudian beberapa tahun kemudian barulah ia bertemu dengan Yoga, Zaki, Irene, dan Jennie.


melihat Lani yang hanya menunduk, membuat Yoga berdecak, " ck ! " kemudian Yoga beranjak dari duduknya, " ayo ke kelas " katanya, Lani mengangguk pelan, lalu ia bangkit dan kemudian melangkah meninggalkan kantin bersama Yoga.


..


Bahu Jiasa bergetar, ia menangis. Tapi sebisa mungkin Jiasa menahan tangisannya meskipun ia tak sanggup. Kalimat Lani benar-benar menyakiti hatinya, Bisa-bisanya Lani mengucapkan kalimat seperti itu, jika dilihat bagaimana Jiasa. harusnya, Jiasa lah yang pantas berucap demikian.


" Ji .. " suara Jennie, lalu ia duduk di kursi kosong milik Irene. Jennie memeluk tubuh Jiasa yang tengah menenggelamkan wajahnya diatas meja.


Dipeluk Jennie, Jiasa malah tak kuat menahan tangisnya. dengan bahu yang semakin bergetar, Jiasa menenggakkan tubuhnya. Kini dapat Jennie, Irene, dan Rosa lihat dengan jelas wajah Jiasa yang berurai air mata.


Jiasa yang menangis berhambur kepelukan Jennie, Jennie membalas pelukan Jiasa, ia mengusap lembut punggung Jiasa, ia mencoba menenangkan Jiasa.


" sebenarnya ada apa sih, Ji. Kok lu ampe begini ? " tanya Jennie, sama seperti yang lain Jennie merasa aneh dengan sikap Jiasa.


Jiasa tak menjawab, ia malah menangis sejadinya dipelukan Jennie.

__ADS_1


Rosa dan Irene menatap sendu kearah Jiasa dan Jennie, kemudian Irene mengusap lembut bahu Jiasa.


Diambang pintu Tedia menyaksikan betapa dramatisnya adegan pelukan dua gadis itu. Tedia mengepalkan tangan,dia yakin ada yang tidak beres dan dia harus mencari tahu sendiri.


__ADS_2