LABIRIN

LABIRIN
26


__ADS_3

Pagi ini rutinitas seperti biasa, Tedia pergi ke sekolah.


Sesuai perjanjian dengan Lani, ia pergi dengan mengendarai motor Lani, mereka akan bertukar kendaraan di sekolah nanti.


Jalanan yang tak padat meski di hari senin membuat ramaja bernama lengkap Tedia Ibrahim Almalik itu lebih cepat tiba di sekolah.


Menuju lahar parkir yang tersedia, Tedia memarkirkan motor milik Lani itu. Tedia merotasikan matanya kesekeliling. Ia melihat motor milik Zaki dan Yoga. Kemudian Tedia kembali merotasikan matanya, kali ini lahan parkir kendaraan beroda empat, dan dia melihat mobilnya sudah terparkir di sana.


Tedia tersenyum samar, kemudian ia melangkahkan kaki, tujuannya tentu saja kelas. Ia yakin ketiga temannya itu ada dikelas.


Langkah demi langkah dilalui tak terasa Tedia sudah tiba di depan kelas, ia bergegas masuk. Ketika di ambang pintu, Tedia terdiam, ia cukup terkejut karena berpapasan dengan Jiasa.


Saling tatap sesaat, Kemudian Tedia di buat tersadar ketika teriakan Lani menggema


" heh Malik, gak usah diliatin terus, entar lu jatuh cinta bisa gawat, saingan gue jadi berat .. "


Buru-buru Tedia menetralkan ekspresi wajahnya, ia tidak mau terlihat begitu kentara di depan teman-temannya jika ia tengah salah tingkah.


Tedia kembali menatap Jiasa, Jiasa tersenyum tipis ke arahnya. Tedia berdeham, kemudian ia membuang pandangannya. Setelah itu Tedia memilih melangkahkan kaki masuk ke dalam kelas.


Jiasa pun sama, ia sudah kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda karena berpapasan dengan Tedia.


" minggir ki .. " usir Tedia pada Zaki yang tengah duduk di kursi kebesarannya.


Bukan menurut, Zaki justru tak bergerak sedikitpun " benatar elah, lagi pewe nih .. " katanya membuat Tedia mendengus, Tedia membiarkan, ia menaruh tasnya di atas meja, kemudian ia duduk di kursi milik Zaki.


" Lan .. Kunci mobil gue mana .. ? " tanya Tedia yang duduk menghadap Zaki dan Lani, telapak tangan Tedia mengadah meminta satu benda yang berada pada Lani.


Lani merogoh saku seragamnya, kemudian meletakan benda yang di minta Tedia di atas telapak tangan Tedia.


Tedia mengerutkan dahi melihat benda yang diberikan Lani kurang satu. " STNK mana .. ? "


" nanti aja, dompet gue di dalem tas, males ngambilnya .. " sahut Lani dengan wajah santainya.


Tedia berdecih, Lani sangat menyebalkan jika sifat malasnya kumat " padahal nih ya, itu tas dibelakang punggung lu, tapi rasa males lu bisa ngalahin segalanya .. "


Lani tertawa santai, tak perduli dengan gerutuan Tedia.


Tedia menoleh ke arah Yoga yang duduk di sampingnya. Seketika Tedia inget dengan pembahasan semalam. Tedia merubah posisi tubuhnya. Kini ia membelakangi Zaki dan Lani, kemudian Tedia menggeser tubuhnya, merapatkan posisi duduknya dengan Yoga yang sedari tadi tak terusik. Yoga fokus dengan game di ponselnya.


Tedia merendahkan tubuhnya, kepalanya direbahkan di atas meja, kedua lengannya ia gunakan sebagai bantal, matanya kini menatap Yoga yang benar-benar sibuk dengan ponselnya. Sama seperti Tedia, Yoga pun berada dalam posisi dimana kepalanya di rebahkan di atas meja. Hanya saja tangan Yoga tidak di jadikan bantal, tapi tangannya sibuk bermain ponsel.


" Ga .. " Panggil Tedia pelan.


Yoga mendengar panggilan Tedia, ia kemudian merubah posisinya, yang tadinya membelakangi Tedia, kini berbalik menghadap Tedia, kepalanya masih berada di atas meja, begitu pula dengan Tedia, ia tak sedikitpun bergerak merubah posisi tubuhnya saat ini.


" apa .. " tanya Yoga, matanya melirik Tedia sekilas, kemudian kembali fokus pada game diponselnya.


Tedia tak menjawab, ia malah memejamkan matanya. Yoga melirik Tedia, kemudian ia mendengus karena Tedia ternyata hanya berniat mengganggunya. Padahal tadi Yoga sudah berpikir jika Tedia tengah dalam mode serius, ternyata siswa itu malah memejamkan matanya.


Lani dan Zaki asik bergurau, Yoga asik dengan gamenya. Sedangkan Tedia asik dengan dunianya. Tedia sebenarnya tidak tidur, ia hanya memejamkan matanya saja, ia merasa bingung harus melakukan apa pada saat menunggu guru seperti ini. Ingin bergabung dengan Zaki dan Lani, ia merasa malas. ingin menganggu Yoga, ia tidak berani.


" nanti siang aku kerumah kamu deh .. " suara Jiasa terdengar, seketika Tedia membuka matanya. Hal itu diam-diam di sadari Yoga.

__ADS_1


Yoga menggelengkan kepala menatap Tedia yang tengah membuka mata dan menatap Yoga.


Kemudian Tedia menggerakan kepalanya, masih dalam posisi yang sama. Tapi, kini ia menatap ke arah Jiasa yang tengah bersenda gurau dengan irene, jennie, dan juga rosa.


Yoga kembali sadar akan apa yang tengah Tedia lakukan, ia menghela nafas kasar. Yoga mendekati Tedia, kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Tedia. Dengan jahil Yoga meniup telinga Tedia.


Tedia yang terkejut pada akhirnya mengumpat " ANJING  .. " Tedia menegakkan tubuhnya, menatap tajam Yoga sembari menyentuh telinganya yang terasa gatal karena ulah Yoga.


Yoga menyeringai, Lani dan Zaki tertawa terbahak.


"  Ki, lu dipanggil ke ruang guru .. " kata Robi, siswa yang selalu mengenakan seragam rapih dan duduk di kursi paling depan.


Zaki menaikan alisnya " ngapain ? " tanya Zaki,


Robi memutar bola matanya malas " mana gue tau .. " sahut Robi, kemudian kembali melangkah ke kursinya dan duduk dengan tenang di sana.


Zaki bangkit dari duduknya, seragam yang ia kenakan berbanding terbalik dengan Robi. Seragam di keluarkan, celana model beige dan sepatu berwarna putih.


Seluruh siswa kecuali teman sekelasnya. Sempat terheran-heran kenapa siswa urakan seperti Zaki bisa terpilih sebagai ketua kelas.


" gue pergi dulu ya .. " kata Zaki, dan mendapat anggukan dari ketiga temannya.


Zaki pergi, Tedia bangkit dan pindah ke tempat duduknya. Tedia menatap Lani yang tengah menyandarkan tubuhnya pada dinding kelas, mata Lani fokus memandang satu objek. Tedia mengerutkan dahinya, kemudian ia mengikuti arah pandang Lani. Ternyata Lani tengah memandangi Jiasa.


Tedia menghela nafas pelan, kemudian ia menatap Yoga. di tatap Tedia, Yoga tersenyum penuh arti. Melihat itu Tedia memutar bola matanya malas.


..


Kocokan berhenti. Zaki bergegas meletakkan gelas itu di atas meja. Keempat siswa itu kini menatap dengan was-was gelas berisi sumplit itu.


" udah siap ..? " tanya Zaki, ketiga siswa lain mengangguk.


" satu .. Dua .. Tiga .." Tepat pada hitungan ketiga yang di suara Zaki, keempat siswa SMA NUSA PELITA itu mulai berebut mengambil sumplit yang ada di dalam gelas.


Lani orang yang pertama kali mengangkat tangannya bernapas lega ketika melihat sumplit yang ia tarik keluar dari dalam gelas tak memilik garis merah.


Setelah Lani, kini berganti Zaki. Sama seperti Lani, Zaki pun bernafas lega ketika mendapat sumplit yang sama seperti Lani.


Tersisa Yoga dan Tedia, ekspresi wajah keduanya kini berubah. Keduanya takut jika mendapat sumplit yang tidak mereka inginkan.


Yoga mengangkat tangannya, seketika ia bersorak ketika hal yang ia takuti tidak terjadi " YESSSS .. " tangannya terkepal kemudian di angkat ke atas. Pertanda jika ia sangat senang.


Tedia membulatkan mata, hanya tersisa satu sumplit. Tiga sumplit yang sudah di tarik dari dalam gelas merupakan sumplit yang aman. Itu berarti sumplit yang Tedia penggan merupakan sumplit yang memilik garis merah.


" HAHAHAHAHAHA ... " Zaki, Lani, dan Yoga terbahak melihat wajah memelas yang di tunjukan Tedia.


Dengan gerakan pelan Tedia mengangkat tangannya mengeluarkan sumplit dari dalam gelas. Tedia berharap jika garis merah di sumplit itu hilang.


Harapan hanya tinggal harapan. Tedia memelas, kemudian menengelamkan wajahnya di atas meja.


" apes apes apes .. " katanya, seperti merengek sembari memukul-mukul meja menggunakkan tangannya yang terkepal.


" udah gak usah melas, ambil tuh kertas hukuman .. " kata Zaki mengingatkan Tedia. Tedia mendongkak, wajahnya semakin memelas meminta dikasihani.

__ADS_1


" gak usah gitu mukanya, gak bakal mempan, buruan ambil .. " Lani memberi perintah agar Tedia bergerak cepat. Ia tak sabar hukuman apa yang didapatkan Tedia.


Dengan wajah memberengut, tangan Tedia terulur bergerak menuju kertas yang dilipat kemudian ditaruh di dalam gelas sama seperti sumplit. Kertas-kertas itu berisi tulisan hukuman yang mereka tulis sendiri.


Semua menatap penasaran, bukan hanya ketiga teman Tedia, tapi siswa dan siswi lain yang berkunjung ke kantin menatap penasaran akan hukuman yang Tedia dapatkan.


Tedia mengambil satu kertas yang terlipat. Kemudian Tedia menatap nanar kertas tersebut. Ia mulai panik, takut jika hukumannya lebih memalukan.


" lama ah .. " Yoga merampas kertas hukuman milik Tedia, kemudian segera membuka kertas itu.


Tedia kembali menatap dengan wajah memelas.


Yoga melebarkan kertas itu. Detik berikutnya Yoga tertawa terbahak " bahahaha .. "


Lani dan Zaki yang penasaran mengintip, setelah membaca kertas hukuman itu, Lani dan Zaki pun tertawa terbahak.


" tembak satu cewek yang menurut lu paling cantik di kantin ini .. " suara Lani terdengar membaca dengan lantang dan keras tulisan yang tercetak di kertas itu.


Tedia membulatkan matanya " anjir siapa yang nulis hukuman kaya gitu .. ? " Tedia terkejut, bisa-bisanya salah satu dari mereka menulis hukuman seperti itu.


" elu ya .. " telunjuknya mengarah kepada Yoga, Yoga menanggapi dengan kedikan bahu.


" udah buruan ..." Lani bersuara, Yoga dan Zaki tertawa.


Tedia mendengus kesal, kemudian matanya mulai berotasi mencari seorang gadis yang akan ia tembak guna menjalankan hukuman.


Lama matanya berotasi, mata Tedia melihat sosok gadis yang menarik perhatiannya, dan kebetulan gadisitu tengah menatap ke arahnya dan teman-temannya.


Tedia menatap ketiga temannya, Tedia mendengus kemudian melangkahkan kaki guna mendekati gadis yang tadi ia lihat.


Semuat menatap Tedia, dan seketika mata semua orang yang menyaksikan permainan mereka membulat ketika melihat Tedia menghampiri Jiasa.


" ji .. Maaf ya sebelumnya, elu mau gak jadi pacar gue .. " ucap Tedia entah dia sadar atau tidak.


Jiasa membulatkan mata, begitupun dengan yang lain. Bahkan Lani kini bukan menatap terkejut tapi menatap tajam.


Yoga yang rasa terkejutnya lebih dulu hilang menepuk dahinya " bocah edan .. Gak bisa ngontrol hati .. " guman Yoga, Zaki yang mendengar menoleh kemudian mengerutkan dahinya. Ditatap Zaki, Yoga menghela nafasnya.


Jiasa masih diam. Tedia masih menatapnya dengan tatapan penuh arti, entahlah Tedia justru berharap Jiasa menganggukkan kepalanya.


" ayo udahan, maaf ya, Ji. Ganggu. Ini cuma permainan kok, jangan di ambil hati ya .. " Lani menyadarkan semuanya. Semua tak sadar kalau saat ini Lani sudah berdiri di samping Lani.


Tedia menoleh, menatap Lani dengan tatapan sulit diartikan, sementara itu Jiasa tengah menundukan kapala, sedikit kecewa ketika mendengar kalimat fakta yang di ucapkan Lani.


Lani menarik tangan Tedia membawanya menuju tempat mereka berkumpul. Tedia hanya diam mengikuti.


Keduanya sudah sampai di tempat mereka, Tedia masih diam dengan pikiran entah kemana. Melihat ekspresi Tedia, Yoga berinisiatif menyudahi permainan


" udahan yuk cuy, bentar lagi masuk nih .. "


Lani dan Zaki mengangguk. Kemudian merapihkan kembali alat-alat yang ternyata milik si ibu pedangan mie ayam di kantin sekolah.


Menyudahi permainan , keempat siswa itu melangkah bersama. Dalam langkahnya Yoga melihat Tedia, kemudian Yoga menepuk bahu Tedia guna menyadarkan Tedia " jangan terlalu kentara .. " bisik Yoga pada Tedia. Tedia mengangguk pelan.

__ADS_1


__ADS_2