
Yogyakarta, 27 Agustus 2003
Sekarang masih pukul setengah enam pagi, aku mulai bersiap-siap memasukkan alat tulis ke dalam tas.
Tok.. tok.. tok..
"Kinan sarapan dulu, nanti kesiangan." Ucap Mbak Rukmi dari balik pintu.
Aku langsung bergegas mengenakan sepatu dan menenteng tas ranselku, sesampainya di meja makan aku hanya duduk terdiam.
"Kinan kok diam? Ayo makan." Ucap ibu. Aku langsung memerhatikan mereka semua, mulai dari ibu lalu simbah dan Mbak Rukmi.
"Kinan mau berangkat sekarang saja bu." Ucapku lalu berdiri dan menggendong tas ransel tadi.
"Lho kenapa?" Tanya ibu heran.
"Masih bisa sarapan itu bersyukur, ini malah tidak makan." Ucap simbah menyela, aku hanya menggelengkan kepala menjawab ibu. Setelah itu aku langsung berpamitan dan berangkat sekolah dengan berjalan kaki. Entahlah aku malas untuk melakukan sesuatu.
Sesampainya di sekolah masih pukul enam kurang sepuluh menit, hanya beberapa siswa yang sudah berangkat. Kulangkahkan kakiku menuju kelas secara perlahan. Saat membuka pintu kelas, aku sedikit terkejut melihat Wayan yang sudah duduk anteng di bangkunya seorang diri. Bagaimana tidak, hampir sekitar satu minggu dia tidak berangkat sekolah dan sekarang dengan tenangnya duduk tanpa mengalihkan pandangannya dari papan tulis. Kulangkahkan kakiku memasuki ruang kelas dan menuju bangku tempatku duduk di depan Wayan, tanpa berkata apapun aku langsung duduk. Atmosfer ruang kelas terasa sesak, anehnya aku mencium seperti bau tanah kuburan dari arah belakangku, seketika bulu kudukku meremang. 'Apa yang di belakangku benar Wayan? Bagaimana kalau setan?' pikirku.
Duak..
"Aaaaa." Aku berteriak saat kursiku sedikit tertendang maju, aku langsung menutup wajahku dengan telapak tangan, dan sekarang mulutku tak berhenti berkomat-kamit membaca doa.
"Kamu pikir aku setan, sampai dibacain surat-surat?" Ucap seseorang yang kuyakini adalah Wayan, karena hanya kami yang berada di kelas. Aku menurunkan telapak tanganku dari muka dan kuhadapkan tubuhku secara perlahan ke belakang. Remaja laki-laki berkulit kuning langsat sedikit pucat, dengan muka datar tanpa ekspresi itu menatapku.
"Kamu benar Wayan kan? Bukan setan kan?" Tanyaku ragu. Yang ku yakini Wayan tersebut berjalan dan berhenti di sampingku.
"Lihat ke bawah." Ucapnya yang membuatku mengalihkan pandangan kebawah. Sepatu berwarna hitam yang melekat pada kaki, itu yang kulihat.
__ADS_1
"Apa? Mau pamer sepatu baru?" Ucapku padanya sedikit sinis.
"Bodoh." Ucapnya mengejek.
Wayan membungkukkan badannya dan mendekatkan wajahnya, "Kaki aku masih menapak pada lantai, yang artinya aku masih hidup. Begitu saja tidak mengerti." Ucapnya sambil berbisik ke samping telinga, yang membuatku bergidik ngeri.
Wayan berlalu kembali menuju bangkunya,
"Kamu tidak mencium sesuatu?" Tanyaku ragu, pasalnya aku juga tidak hanya mencium bau tanah kuburan tetapi juga harum bunga walau tidak terlalu pekat. Wayan pun hanya menggelengkan kepalanya. Sebelum aku sempat bertanya lagi, teman sebangkuku datang dan langsung menarikku keluar dari kelas.
"Kamu kenapa mengobrol sama anak setan itu?" Tanya Sarah teman sebangkuku.
"Anak setan? Wayan?" Tanyaku.
"Iya Kinan, memangnya tadi kamu berbicara sama siapa selain dia?" Ucap Sarah geram.
"Memangnya kenapa jika aku mengobrol dengan dia?" Tanyaku tidak mengerti.
"Kamu tahu? Dia itu sangat aneh, aku terkadang mencium bau tanah kuburan, bahkan bunga ataupun kemenyan saat didekatnya. Bahkan pernah suatu ketika ada kakak kelas yang mengusik Wayan, lalu paginya kakak kelas tersebut tiba-tiba jatuh sakit. Aneh bukan?" Lanjut Sarah.
"Kalau bau tanah dan bunga sih iya, tapi apa hubungannya Sadewa dengan kakak kelas yang tiba-tiba jatuh sakit?" Tanyaku.
"Menurut logikaku dan anak yang lain, kakak kelas tersebut mungkin terkena gangguan makhluk astral yang dikirim Wayan." Aku langsung tertawa mendengar penuturan Sarah.
"Kamu pikir Wayan itu dukun? Ada-ada saja kamu." Ucapku lalu meninggalkan Sarah yang jengkel denganku.
Bel pulang sekolah telah berbunyi, pelajaran pun berakhir. Siswa-siswi mulai berhamburan keluar untuk pulang. Kulangkahkan kakiku sambil bersenandung kecil di bawah teriknya matahari yang menyengat.
Kruuk.. kruuk.. kruuk..
__ADS_1
"Aduh, aku lapar sekali." Aku lupa jika hari ini aku baru makan satu kal waktu jam istirahat, itupun aku hanya memakan camilan. Ku edarkan pandanganku meneliti apakah ada warung atau pedagang kaki lima yang berjualan di daerah sini.
"Bakso Pak Joyo." Bacaku pelan lalu menjentikkan jari. Aku pun melangkah sedikit cepat, karena perutku sudah berdemo.
"Bakso komplit kaleh es jeruk setunggal nggih pak." Ucapku memesan dan diacungi jempol oleh si bapak. Ku edarkan pandanganku melihat bangku yang masih kosong, ku sipitkan mataku melihat sesosok remaja berkulit putih pucat yang sedang makan, serta dihadapannya terdapat dua mangkuk bakso dan satu es teh.
"Monggo mbak mlebet, ditunggu riyen." Ucap si bapak menyuruhku untuk duduk, kulangkahkan kakiku menuju remaja tersebut, lalu kududukkan tubuhku di depannya.
"Wayan?" Remaja tersebut mendongakkan kepalanya dan menatapku sekilas setelah itu kembali dengan aktivitasnya yang tertunda.
"Niki njih mbak bakso kaleh es jeruk e." Ucap si bapak sambil meletakkan pesananku. Aku langsung memakan bakso tersebut hingga ludes tak tersisa.
"Wah.. baksonya enak sekali." Ucapku setelah menyeruput es jerukku.
"Belum makan berapa hari?" Tanya Wayan lalu menghabiskan es tehnya.
"Aku kan hanya makan satu porsi, sedangkan kamu makan dua porsi, jadi seharusnya aku yang tanya kamu 'belum makan berapa hari?'." Wayan hanya mengangkat bahunya acuh.
Beberapa orang melirik sekilas ke arah kami dan aku baru sadar jika aku masih mencium bau tanah kuburan maupun bunga dari Wayan. Setelah itu ia langsung berdiri dan pergi untuk membayar pesanannya. Aku pun bergegas untuk membayar lalu ingin mengikuti ke mana Wayan pergi.
"Dados e pinten njih pak?" Tanyaku.
"Sampun dibayar kaleh mas-mas e wau mbak." Jawab bapak penjual bakso, 'Wayan yang bayar?' batinku.
"Njih pak, matur nuwun." Aku langsung berlari mencari ke mana Wayan pergi, tapi nihil aku tidak menemukannya. Padahal baru sebentar, akhirnya aku berinisiatif untuk datang kembali ke rumah kosong yang waktu itu. Ku langkahkahkan kakiku kembali menuju rumah kosong.
Sesampainya di rumah kosong tersebut aku tidak mendapati Wayan di sini. "Apa aku masuk saja ya? Mumpung Wayan tidak ada."
"Tapi nanti kalau Wayan tahu gimana ya?"
__ADS_1
"Tidak mungkinlah kalau Wayan tahu, kan dia tidak ada di sini. Ya sudahlah masuk saja." Ucapku bermonolog. Saat aku akan membuka gerbang, tiba-tiba