LABIRIN

LABIRIN
81


__ADS_3

" mau bareng gue, apa di anter Bapak gue ? " tanya Robi. yang sejak kejadian tak bermoral menimpa Lani, ia langsung di minta untuk tinggal di rumah Lani oleh para orang dewasa untuk menjaga Raya.


Semua takut Raya depresi dan kemudian membuatnya melakukan hal yang membahayakan dirinya.


Lani diam, tapi bukan untuk berpikir. Robi menghela nafas, guncangan di hati Lani ternyata masih berpengaruh hingga hari ini.


" elu mah bandel sih kalau di bilangin, kan kata gue apa. Gak usah jenguk Jiasa, jadinya lu liat live streaming hal yang bikin hati lu sakit lagi kan. Hadeeehhh.. Pusing pusing . " gerutu Robi. Ia sudah tahu jika kemarin Lani melihat Tedia di dalam ruangan perawatan Jiasa.


" bareng gue aja dah, gue aja ngebut biar cairan yang ada di otak lu meleleh gak ngegumpal " kata Robi duduk di atas jok motornya.


Lani menghela nafas, kemudian ia duduk di belakang Robi.


Setelah Lani duduk, Robi melajukan motornya meninggalkan area rumah Lani.


..


Tiba di sekolah, Robi melaju menuju tempat parkir. kemudian ia berhenti dan menaruh motornya berjejer rapih dengan motor milik siswa lain.


Lani dan Robi mulai berjalan menjauhi tempat parkir.


Dalam langkah keduanya tak sengaja mereka bertemu dengan Jennie, Irene, dan Rosa.


Robi menyapa, sedangkan Lani hanya diam kemudian melangkah pergi begitu saja tanpa menyapa tiga gadis itu.


Ketiga gadis itu menatap prihatian ke arah Lani. Tentu saja mereka sudah tahu tentang penolakan Jiasa terhadap Lani. Tapi untuk alasan, hanya Jennie yang mengetahuinya.


" Bi, dia di rumah juga gitu ? " tanya Rosa penasaran akan sikap Lani ketika di rumah.


Robi menghela nafas kasar, raut wajahnya berubah sendu. " hhmm .. Kalau di tanya, dia jawab seadanya. Wajar sih dia kaya gitu " Robi menjeda kalimatnya, ia menatap Jennie sekilas. " di gampar Ibu, di katain gak bermoral sama yang lain, dan yang tarakhir kaya di hempaskan ke dasar jurang yang terjal, kalau gue jadi dia mungkin bakal bunuh diri karena gak kuat. Padahal dalam hal ini dia bukan orang yang paling di rugikan, yang rugi justru yang di sana. Tapi, .. "


" Bi. " panggilan dari Lani membuat Robi menghentikan kalimatnya.


" iya .. " sahut Robi, " gue duluan ya. Ngeri di pecat gue kalau abai sama dia " sambungnya kemudian melangkah menyusul Lani.


Tiga gadis itu menatap kepergian Lani dan Robi.


" bingung gue jadinya mau mihak siapa, satu sisi Jiasa yang udah dirugikan. tapi di sisi lain, Lani yang paling terhempaskan. " kata Rosa ikut pusing dengan drama yang terjadi.


Irene menganggukkan kepala, setuju dengan kalimat yang Rosa katakan. Sementara itu Jennie menatap nanar Lani, tak lama raut wajah Jennie berubah. Kedua telapak tangannya terkepal.


Jennie tak bisa terus-terus berdiam diri, jika di biarkan maka Jiasa yang akan menjadi orang yang paling di sudutkan.


Dengan wajah geramnya Jennie melangkah pergi meninggalkan Rosa dan Irene.


" lho, Jen. Tunggu kita donk " panggil Rosa. Kemudian menyusul Jennie yang mulai menjauh.


Dengan amarah yang begitu membara, Jennie melangkah masuk ke dalam kelas. Ia berjalan menuju kursinya sembari manatap nyalang sosok siswa yang saat ini tengah bersenda gurau dengan Zaki.


brakk !

__ADS_1


Jennie menaruh dengan kasar tas miliknya di atas meja, sontak, ia pun menjadi perhatian.


Tedia dan Zaki seketika berhenti tertawa, keduanya menatap Jennie dengan dahi berlipat.


Bukan cuma Tedia dan Zaki, Yoga yang tengah fokus dengan ponselnya sampai mengabaikan gamenya kemudian fokus pada Jennie.


Hanya Lani yang tidak menanggapi Jennie.


Jennie menatap tajam Tedia. " lu ikut gue sekarang ? " kata Jennie dan sukses mengundang tanya untuk yang lain.


" ngapain, ngajak pacaran ? Di sini aja " canda Tedia kemudian tertawa.


Jennie memutar bola matanya malas, Rosa dan Irene menatap khawatir.


Zaki dan Yoga saling tatap, Mereka paham sepertinya ada yang tidak beres.


" gue lagi gak mau bercanda. Buruan ikut gue sekarang juga. " kata Jennie kemudian melangkah menuju pintu keluar.


Tedia menghela nafas. tapi ia berdiri, kemudian menyusul Jennie yang sudah keluar lebih dulu.


" anjiir mau ngapain ya kira-kira ? Kok gue yang deg-degkan. " kata Zaki satu telapak tangannya menyentuh dada sebelah kirinya.


Irene panik, ia beralih menatap Yoga. " Ga, kayanya mending susulin deh. Gue takut mereka berantem. " saran Irene.


Seketika ekspresi wajah Yoga berubah. Irene bener, jika di biarkan pasti akan terjadi perkelahian. Yoga pun pada akhirnya menganggukkan kepala. Kemudian mereka mulai bergerak guna menyusul Jennie dan Tedia.


Zaki tiba-tiba menghentikan gerakan kakinya, ia berbalik dan menatap Lani yang sedari tadi duduk anteng di sudut kelas.


" ayo Lan, kita ikutin mereka " kata Zaki sembari manarik tangan Lani.


Lani yang seperti orang tidak memeliki tenaga akhirnya berdiri pasrah dan mengikuti Zaki karena Zaki terus menarik dirinya dengan paksa.


" eh, tungguin anjir, gue ikut juga " kata Robi kemudian berlari pelan keluar kelas.


..


Berada di taman belakang, itu lah Jennie dan Tedia saat ini.


Dengan kedua telapak tangan masuk ke dalam saku celana, Tedia menatap malas Jennie yang saat ini menatapnya dengan tatapan tajam.


" elu mau ngapain sih, Jen. buang waktu tau gak. " jengah Tedia pada akhirnya.


" elu tuh jadi orang jahat banget sih, bisa-bisa elu bertindak sesuka hati lu. Lu tau enggak ? Dengan lu bertingkah seperti itu, image Jiasa jadi rusak, udah hidupnya di rusak Lani. Sekarang Lu malah ngerusak sisi baik seorang Jiasa. " maki Jennie pada Tedia. Menurut Jennie, ulah Tedia membuat Jiasa menjadi di rugikan, pasalnya semua orang kini menyudutkan Jiasa dan mengatkan Jiasa gadis yang tidak tahu diri karena menolak Lani.


" gue gak ngerti lu ngomong apa. " kata Tedia membela diri.


Jennie tersenyum miring, " gak usah pura-pura polos deh Tedia. Lu kan yang udah nyuci otak Jiasa " Jennie semakin geram.


" maksud lu apa ? " bentak Tedia tak terima, bahkan kedua telapak tangannya sudah ia keluarkan dari dalam saku celana abu-abunya. Tedia menatap tajam Jennie.

__ADS_1


" elu jahat, dengan gak ada akhal lu minta sama Jiasa buat pisah sama Lani setelah anak mereka lahir. Mikir Tedia lu tuh manusia paling jahat, lu lebih jahat dari seorang psykopat "


Deg ..


Mata Tedia melebar, ia terkejut. satu pertanyaan muncul di benaknya, dari mana Jennie tahu semua itu ? Apa Jiasa memberitahunya ?


Jennie kembali tersenyum, wajahnya semakin menunjukan kemarahannya, kemudian ia menggelengkan kepala. " bisa-bisanya lu kaya gitu, Di. " kata Jennie, telunjuknya menusuk-nusuk dada Tedia dengan kasar.


" lu gak mikir, Lani itu sahabat lu, dan gara-gara lu sekarang image Jiasa jelek. Lu pernah mikir gak, Jiasa sekarang di salahkan orang karena nolak Lani padalah dalam hal ini jelas Jiasa yang paling di rugikan. Otak lu di mana Tedia. " wajah Jennie semakin memerah, nafasnya pun memburu karena luapan emosi yang dia keluarkan.


" kalau emang lu sayang dan cinta sama Jiasa, harusnya lu biarin Jiasa sama takdirnya. Bukan maksa dia buat nurutin ego lu. Bisa-bisanya lu manfaatin rasa bencinya Jiasa sama Lani dengan hasutan lu itu. " Jennie terus memaki Tedia, Tedia sendiri terdiam, ia terlihat seperti mati kutu.


Emosi yang sudah menguasainya membuat Jennie mengeluarkan air matanya. " Ya Allah, salah apa sih Jiasa sampai ketemu orang-orang kaya lu sama Lani. Lani udah berhasil ngerusak dia, dan elu malah nambahin dengan bikin Jiasa punya image buruk di mata orang " sesal Jennie. Tedia menundukkan kepalanya.


" puas lu sekarang, inget ya Tedia. Gue gak akan biarin Jiasa sama elu. Bukan bahagia tapi yang ada tambah menderita. lu bukan orang yang lebih baik dari Lani. Lu sama bejatnya "


" gue terpaksa, Jen. Rasa sayang gue sama Jiasa yang udah di luar batas bikin gue gak waras, apalagi pas Lani berhasil dapatin Jiasa dengan cara kotor. Gue gak bisa semudah itu untuk ikhlas " Tedia akhirnya bersuara.


Jennie menggelengkan kepala. " gue paham, Dia. Kalau gue ada di posisi lu pasti gue juga akan ngerasain rasa kecewa. Tapi, apa dengan cara seperti itu lu bisa ngebahagian orang yang lu sayang.? Lu salah, Tedia. sekarang Jiasa jadi orang yang paling di sudutkan. "


" terus gue harus gimana, Jen. Ikhlasin Jiasa sama Lani ? Gue gak sanggup, selama ini gue cuma pura-pura tegar di balik rasa kecewa gue yang besar. Gue sayang Lani, Lani udah kaya adik gue sendiri, tapi untuk urusan hati. Gue gak bisa ngalah dan nyerah. " kata Tedia. Sama seperti Jennie, kini ia pun mengeluarkan air mata.


Jennie memejamkan sejenak matanya, drama percintaan ini membuat kepalanya ingin meledak. Awalnya ia ingin memaki Tedia, tapi setelah mendengar kalimat yang di ucapkan Tedia, hati Jennie tiba-tiba melemah. Wajar jika Tedia bersikap seperti itu, karena Tedia sangat mencintai sepupuhnya. Ketulusan Tedia di buktikan dengan kehadiran Tedia yang selalu mendamingi Jiasa, meski Tedia tahu Jiasa sudah tidak dalam keadaan baik-baik saja.


Jennie menghela nafas ketika amarahnya sudah sedikit mereda. " minta maaf sama Lani, setelah itu biar kita serahin sama Jiasa dan keluarganya. Jangan meksa ego lu yang justur ngerugiin pihak lain, cuma itu saran dari gue. Pikirin baik-baik, yang di pertaruhkan di sini bukan hal sepele, tapi persahabat kalian dan nama baik keluarga gue. " kata Jennie, ia menatap Tedia yang tertunduk.


Merasa sudah selesai Jennie berniat pergi, tubuhnya bergerak kini menghadap kiri dan siap melangkah pergi. Tapi, bukannya mengayunkan kaki, Jennie malih diam membatu ketika melihat pemandangan yang sangat mengejutkan dirinya.


" Lani " kata Jennie.


Ya. tanpa Jennie dan Tedia sadari, Lani dan yang lainnya mengikuti, dan mereka semua mendengar perdebatan yang terjadi. Semua terbongkar, Lani pun mengetahui niat jahat Tedia, begitu pula dengan yang lainnya.


Seketika Jennie panik.


Tedia pun terkejut. Sama seperti Jennie, Tedia pun kini terlihat panik.


" Lan, gue bisa jelasin " kata Tedia berusaha menjelaskan semuanya.


Lani tersenyum, dan itu membuat hati yang melihatnya merasa sakit. Terlebih Tedia.


" makasih ya, Di. " tutur Lani kemudian kembali tersenyum.


Jennie menatap nanar, sedangkan Tedia tak bisa berkata-kata.


Setelah mengucapkan kata terima kasih, Lani melangkah pergi begitu saja.


" Lan. " panggil Robi, kemudian pergi menyusul Lani.


Ke empat siswa dan siswi itu kini menatap Tedia dengan wajah kecewanya. Zaki sampai menggelengkan kepala.

__ADS_1


Yoga membuang pandangannya, dugaannya ternyata benar. Tedia lah dalang dari semua ini.


Melihat Yoga memalingkan wajah, Tedia menundukkan kepalanya. Ia yakin Yoga kini kecewa dan membencinya.


__ADS_2