LABIRIN

LABIRIN
86


__ADS_3

Pintu yang terkunci itu Jiasa buka.


Jiasa mematung di tempat ketika ia melihat beberapa siswi yang menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.


Jiasa tak perlu bertanya, hadirnya Lani pasti membuat tatapan itu mereka berikan kepada Jiasa.


Setelah beberapa detik mematung di ambang pintu, Jiasa mulai bergerak. Ia melangkah pelan sembari memeluk sebuah bungkusan yang sudah ia isi dengan rok kotor miliknya.


Jiasa terus melangkah keluar, tatapan itu masih ia dapatkan.


Ketika ia berhasil menggapai ambang pintu, Jiasa di kejutkan oleh suara Lani.


" Udah ? " tanya Lani.


Jiasa sempat terperanjat, detik berikutnya Jiasa tersenyum tipis kemudian mengangguk.


" yuk .. " kata Lani mengajak Jiasa menjauhi area kamar mandi.


Jiasa kembali mengangguk, kemudian ia melangkah bersama Lani menjauhi area kamar mandi perempuan.


Kedua melangkah beriringan, hanya saja di sepanjang perjalanan Lani sibuk dengan ponselnya.


jiasa sendirinya hanya diam, ia merasa canggung ketika harus memulai percakapan. Tapi seketika Jiasa ingat satu hal, Jiasa belum mengucapkan terima kasih kepada Lani.


Akhirnya setelah sekian menit diam, Jiasa bersuara.


" eeeemmm .. Makasih ya "


Seketika fokus Lani teralihkan, ia menoleh dan menatap Jiasa yang tengah menatapnya.


Lani memberi anggukan sebagai jawaban, kemudian kembali fokus pada ponselnya.


Jiasa mendesah kecewa, respon Lani tentu saja jadi penyebabnya.


Keduanya masih melangkah beriringan, setelah ucapan terima kasih tak ada lagi percakapan lain.


Tak lama ponsel yang tengah menjadi fokus Lani, berdering. Jiasa menoleh dan melihat Lani yang kini mulai menerima panggilan telephone itu.


" hallo coach " sapa Lani, kemudian melangkah pergi menjauh dari Jiasa tanpa permisi dan pamit.


Tindakan Lani tentu saja membuat Jiasa terkejut, ia merasa di abaikan. Jiasa berdiri di tempat sembari menatap punggung Lani yang semakin menjauh.


dalam tatapannya, Jiasa tersenyum miris. " jadi seperti ini rasanya sakit di acuhkan. " gumamnya pelan, sangat pelan. Bahkan hanya dirinya sendiri yang bisa mendengar.


Jiasa menghela nafas kasar, ia kembali bersiap untuk melangkah. Tapi baru satu langkah kakinya mengayun, sisi kiri punggung Jiasa ada yang menyenggol.

__ADS_1


Reflek, Jiasa yang sedang tidak siap menjatuhkan bungkusan yang sedari tadi ia bawa.


Jiasa menunduk, menatap bungkusan yang kini tergeletak tak berdaya di lantai.


Jiasa menghela nafas, kemudian ia menegakan kepalanya guna menatap siapa orang yang sudah menyenggol dirinya.


" sorry, gak sengaja " katanya dengan wajah tengil yang dia tunjukan kepada Jiasa.


Jiasa menatap datar siswi itu. cukup lama, hingga tatapannya ia putus ketika Jiasa berniat meraih bungkusan itu.


Jiasa membungkuk, tanggannya siap untuk menggapai. tapi bungkusan itu tak dapat Jiasa raih, dengan sengaja siswi itu menjauhkan bungkusan milik Jiasa dengan kakinya.


Jiasa memejamkan sejenak matanya, ia kemudian menghela nafas guna menahan emosinya.


Jiasa kembali menegakan tubuhnya, kemudian ia kembali menatap datar siswi itu. Yang di tatap kembali menunjukan tampang centilnya. Bahkan kini ia bersidekap di hadapan Jiasa.


" ada apa Ji ? "


Jiasa dan siswi itu menoleh, dan seketika mata siswi itu melebar ketika melihat Lani yang kini sudah berdiri di samping Jiasa.


Jiasa menggeleng, memberitahu jika tidak terjadi hal apapun. Tapi, tak lama Jiasa memberitahu Lani jika bungkusan miliknya jatuh.


" itu, tadi gak sengaja jatuh. " kata Jiasa, matanya menunjuk ke bawah lantai.


Tapi, niat Jiasa terhalang Lani. Lani dengan sigap menahan Jiasa.


Jiasa pun menegakan tubuh, ia menatap Lani penuh tanya.


Sedangkan Lani kini menatap siswi yang sejak tadi berdiri bersama dirinya dan Jiasa. Siswi yang Lani tatap itu kini menunjukan ekspresi wajah ketakutan.


Jiasa mengerutkan dahi.


" ambil " perintah Lani, terdengar begitu dingin.


Jiasa kembali mengerutkan dahi.


Sementara siswi itu terlihat ketar ketir.


" AMBIL, SEBELUM GW PAKSA LU BUAT NGEBUNGKUK. " perintah Lani, kali ini dengan ancaman.


Bergegas siswi itu membungkuk dan mengambil bungkusan milik Jiasa, lalu setah itu ia memberikan benda tersebut pada pemiliknya.


Lani menggelengkan kepalanya. " denger ya, Citra " Lani melirik sebentar name tag siswi bernama citra itu sebelum menyebut namanya.


Citra menunduk takut.

__ADS_1


" gw ngeliat semua yang lu lakuin semua sama Jiasa. Inget ini buat yang pertama dan yang terakhir. Sekali lagi lu ganggu milik gw. Gw pastiin lu gak akan bisa lulus dari sekolah ini. " ancam Lani dan sukse membuat Citra mati kutu.


Sedangkan Jiasa terkejut dengan kata-kata Lani. Bukankah Lani tadi pergi meninggalkan Jiasa begitu saja ? Pertanyaan itu muncul dalam benak Jiasa.


" inget lu itu berada satu tingkat di bawah kita. Tolong sopan sedikit, kalau lu mau di hargai orang, setidaknya lu bersikap untuk menghargai orang lain lebih dulu. PAHAM. " kata Lani lagi, Citra mengangguk takut.


" minta maaf "


" ma .. Maaf kak " kata Citra dengan nada takutnya.


Lani memutar bola matanya malas, sedangkan Jiasa menggelengkan kepala.


Meski masih kesal, karena tingkah Citra yang sengaja menendang benda miliknya. tapi, Jiasa mengangguk agar semuanya segera selesai.


Lani menatap datar siswi kelas 10 yang selalu mencari perhatian padanya. Yang di tatap menunduk takut, kemudian melangkah pergi meninggalkan Lani dan Jiasa.


" lain kali kalau ada yang nyoba ngebully itu, langsung di lawan. Jangan diem aja, mending kalau gw liat, langsung gw samperin. Kalau enggak ? Abis lu di tindas adik kelas . " gerutu Lani memberi Jiasa nasehat agar lebih tegas kepada siapapun yang akan berniat kasar kepadanya.


" malas meperekeruh aku " sahut Jiasa kemudian melangkahkan kaki.


Lani mengikuti, ia pun menyamakan langkahnya dengan Jiasa.


" bukan memperkeruh, tapi membela diri. Lu terima aja gitu di perlakukan kaya tadi, mana dia pake kaki, belum aja gw patahin kakinya " Lani kembali menggerutu, keduanya tak sadar jika kini langkah mereka diiringi dengan obrolan.


Jiasa terkekeh pelan. " jangan kasar sama perempuan, dia kaya gitu sama aku karena kamu. "


Lani menghentikan langkahnya, Jiasa pun sama. Keduanya kini berhadapan dan saling tatap. Bukan tatapan mata romatis, tapi tatap dengan dahi berkerut dari Lani.


" lah kok gue ? " tanya Lani menunjuk dirinya sendiri.


dengan senyum Jiasa menggelengkan kepala, kemudian ia kembali melangkah.


Senyum Jiasa membuat hati Lani terhenyuh. Tapi ia buru-buru membuang rasa itu, dan kembali menyamakan langkahnya dengan Jiasa.


" lu belum jawab, kenapa jadi gue ? "


" dia kan perempuan yang ngejar-ngejar kamu, makanya dia bersikap kaya gitu sama aku. Makanya kamu tuh mending jauh-jauh deh dari aku, deket kamu bahaya buat aku. " kata Jiasa, tanpa sadar berbicara seperti tanpa beban.


Lani diam-diam tersenyum. " kalau gue nya gak mau jauh-jauh gimana ? " tanya Lani.


Kekehan Jiasa terdengar " berarti aku yang harus menghindar " lalu melangkah lebih dulu meninggalkan Lani.


Lani terdiam, menatap punggung Jiasa yang mulai menjauh darinya.


" elu gak perlu ngehindar, Ji. Sebentar lagi gue yang akan pergi ngejauh dari semuanya. " tutur Lani pelan.

__ADS_1


__ADS_2