Labuhan Cinta Sang Playboy

Labuhan Cinta Sang Playboy
S2 - Misteri Magnolia


__ADS_3

...šŸšŸšŸ...


Bian terbangun di pagi hari karena suara bergetar dari ponselnya yang semalam juga terus bergetar.


Sebenarnya Bian tahu jika ponselnya terus bergetar menandakan ada panggilan masuk. Namun ia enggan menghentikan kesenangannya bersama Visha hanya karena telepon masuk. Itu akan membuyarkan konsentrasinya yang sudah sampai memuncak dengan indah.


"Halo..." Suara Bian terdengar malas.


"Bos!!! Ya ampun!!! Demi apapun aku sudah menghubungimu ratusan kali tapi kau tidak pernah mengangkatnya!" gerutu Donny di seberang sana.


"Jangan membual!!! Kau hanya 30 kali melakukan panggilan!"


"Hehe, itu hanya perumpamaan saja Bos. Omong-omong apa yang sedang bos lakukan semalam? Kenapa tidak mengangkat telepon dariku?"


"Berisik!!! Untuk apa kau bertanya apa yang aku lakukan?! Cepat katakan ada masalah apa kau meneleponku sepagi ini?" Bian mulai naik pitam meladeni tingkah aneh Donny.


"Begini, bos. Jemmy menghubungiku. Dia bilang ada informasi penting mengenai magnolia."


"Apa?! Kau serius?!"


"Iya, bos."


"Kalau begitu nanti siang kita ke tempat Jemmy."


"Baik, bos."


"Ya sudah, aku mau tidur lagi."


TUT. Panggilan berakhir.


Bian melirik ke arah Visha yang masih terlelap. Ia sudah membuat Visha kelelahan semalam. Bian tersenyum kecil mengingat malam-malam yang mereka habiskan bersama. Entah kenapa itu selalu membuatnya tak ingin berhenti.


Bian memeluk tubuh Visha makin erat. "Sebentar lagi, sayang. Tunggulah sebentar lagi. Kita akan kembali bersama dengan tenang tanpa ada yang mengganggu ataupun yang menganggapmu sebagai wanita simpanan." Lirih Bian lalu kembali ke alam mimpi.


Visha mulai membuka mata. Tubuhnya terasa lelah sekali setelah apa yang Bian lakukan padanya semalam. Visha mengedarkan pandangan namun tak mendapati Bian ada di kamar.


Kemana dia? Apa dia sudah bangun?


Visha segera beranjak dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. Visha keluar dari kamar mandi dan hendak ke dapur. Namun ia dikejutkan dengan pemandangan yang tak biasa.


Bian sudah membuatkan sarapan untuk mereka dan sedang menatanya di meja makan.


"Mas? Apa yang kau lakukan?"


"Sayang, kau sudah bangun? Mari sarapan. Aku membuatkan sarapan sederhana untuk kita. Maaf ya, aku hanya bisa masak mie instan."


Visha tertawa kecil. "Kenapa tidak membangunkanku? Kau tidak perlu repot memasak untuk kita. Itu adalah tugasku."


"Aku tidak bisa membangunkanmu disaat akulah yang bersalah karena sudah membuatmu kelelahan."


"Mas!!!" Pekik Visha sambil memukul pelan lengan Bian.


"Sayang, hari ini aku akan menemui Jemmy. Donny bilang ada titik terang mengenai magnolia."


"Benarkah?"


"Dengar, kita akan menghadapi sesuatu yang besar kali ini. Entah itu Kak Galang atau bukan di balik semua ini. Aku ingin kau tidak pergi kemanapun dan tidak membuka pintu kecuali aku yang datang. Kau mengerti?"


Visha mengangguk. "Mas... Hati-hati ya. Entah kenapa aku merasa takut terjadi sesuatu lagi denganmu..."

__ADS_1


"Tenang saja! Aku tidak sendiri. Aku bersama Donny dan Jemmy." Bian memeluk Visha agar membuatnya tenang.


.


.


.


Donny dan Bian tiba di kedai Jemmy saat jam makan siang. Kedai Jemmy nampak ramai. Tapi ternyata Jemmy memiliki beberapa karyawan yang bisa menghandle semua pelanggan di saat Jemmy harus menemui Donny dan Bian.


"Rocky, aku baru ingat. Jika sekitar tiga tahun lalu, Galang sempat memintaku untuk memindahkan sahammu ke dalam saham milik Pak Leonard. Semua saham atas namamu. Aku saat itu tidak curiga, karena saat itu kau dinyatakan sudah meninggal. Tentu saja semua hartamu jatuh ke tangan orang tuamu karena kau belum menikah."


"Lalu?"


"Setelah semua terjadi aku baru menyadari jika saham itu sudah ada di tangan Galang. Galang yang mengelola semuanya."


"Jadi, ada kemungkinan kalau Adiguna Grup dibangun dengan saham-saham milikku?" tanya Bian penasaran.


"Aku masih belum yakin. Tapi kemungkinan itu memang ada. Ditambah dengan saham milik Sania. Dia juga mendapat kompensasi yang cukup besar dari perceraiannya."


Bian dan Donny saling pandang.


"Lalu soal magnolia? Apa kau menemukan sesuatu tentang itu?" tanya Bian lagi.


"Aku mendengar dari pelangganku yang datang, jika Magnolia adalah sebuah klinik di desa yang agak jauh dari kota."


"Jadi, papa di rawat disana?"


"Kau harus mengeceknya sendiri jika ingin mengetahui soal itu." balas Jemmy.


"Baiklah. Ayo, Don! Kita kesana sekarang! Sekali lagi terima kasih banyak atas bantuanmu."


.


.


.


Donny melajukan mobilnya dengan cukup kencang. Mereka sudah jauh dari kota dan ia mengikuti petunjuk arah yang Jemmy berikan.


Bian terus berharap jika papanya benar-benar ada disana. Hingga akhirnya mereka sampai disebuah perkampungan dan melihat ada tanda petunjuk yang mengarahkan ke arah klinik Magnolia.


"Itu disana, Don!" tunjuk Bian.


"Pantas saja tidak masuk maps atau dimanapun. Tempatnya terpencil begini." rutuk Donny.


"Bagaimana bisa Kak Galang membawa papa ke tempat seperti ini? Apa peralatan disini memadai?" Bian mengepalkan tangannya.


Mereka segera turun dan mengedarkan pandangan.


"Kita cari dari mana, Don? Tempat ini cukup luas meski dibilang tidak layak."


"Coba kita kesana, Bos."


Mereka berjalan melalui lorong-lorong klinik yang terasa sunyi dan dingin.


Mereka bertanya kepada beberapa perawat dan karyawan yang bekerja disana namun tak menemukan hasil.


"Sial!!! Sepertinya Kak Galang sudah menyuap mereka semua untuk tutup mulut."

__ADS_1


"Kita coba cari dari kamar ke kamar, bos."


"Kau gila! Kamar disini ada banyak, Don. Bagaimana kita bisa tahu dimana kamar papa?"


"Tidak ada salahnya di coba, dari pada kita tidak dapat apa-apa dari sini."


"Baiklah. Kau cari sebelah sana. Dan aku sebelah sini."


Bian bergegas berlarian dari kamar ke kamar mencari keberadaan Leonard. Kamar-kamar disini masih banyak yang kosong.


Hingga sore telah berganti malam, Donny dan Bian tak menemukan Leonard di kamar manapun.


Dari kejauhan, seorang pria berseragam penjaga keamanan sedang menelepon seseorang.


"Lapor, Pak. Ada dua orang yang sepertinya mencari keberadaan pasien bernama Leonard. Ini saya kirimkan fotonya pada anda."


"............"


"Bapak tenang saja! Saya sudah memindahkan pasien ke ruang yang tidak bisa dijangkau oleh mereka."


Sementara itu di seberang telepon.


Galang membuka sebuah pesan yang dikirimkan oleh anak buahnya. Ia melihat foto dua orang pria.


"Donny? Dan Bian?!" Galang membulatkan matanya.


"Jadi... Apa Bian sudah kembali mendapatkan ingatannya? Tidak mungkin!!!"


Galang mengepalkan tangannya. Ia segera menghubungi Sania dan memintanya untuk bertemu.


"Ada apa kau memintaku bertemu? Biasanya kau sangat galak dan tidak ingin aku menemuimu..." ucap Sania sedikit kesal.


Galang masih terdiam memikirkan semua kemungkinan yang sedang terjadi.


"Galang! Kenapa diam saja?!" Gerutu Sania.


"Dengar. Apa kau tidak merasa aneh dengan sikap suamimu?"


Sania merasa risih dengan pertanyaan Galang. "Apa maksudmu bertanya begitu?"


"Ada kemungkinan Bian sudah mengingat masa lalunya."


"Apa?!"


"Dia sedang menyelidiki keberadaan papa di klinik Magnolia. Itu berarti... Dia tahu jika dia adalah Rocky..."


"Kau! Jangan bercanda!"


"Ini semua karenamu! Kau tidak menjaga suamimu dengan baik!"


"Kenapa menyalahkanku?" Sania tidak terima.


"Apa kau tidak curiga kenapa Visha bisa ada di kota ini? Itu pasti karena Bian sudah mengingat masa lalunya."


"A-apa?! Tidak! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!" Sania berteriak histeris.


...šŸšŸšŸ...


#bersambung

__ADS_1


__ADS_2