
"Atau bisa jadi ... Visha hamil diluar nikah?!"
"Apa? Kenapa kau bisa bicara begitu? Visha adalah gadis baik-baik dan polos. Dia tidak akan melakukan kesalahan sebesar itu!"
"Sudahlah, jangan bahas soal dia lagi. Oh ya, sampai kapan kau tinggal disini?"
"Hanya sebentar. Besok sudah kembali ke Pekalongan."
"Oh," Siska menyesap tehnya dan menatap jauh kedepan.
Ia semakin curiga jika Visha memang menyembunyikan sesuatu.
"Siska, apa jadwal saya selanjutnya?"
"Sampai sore nanti bapak tidak ada janji dengan siapapun lagi."
"Benarkah? Kalau begitu saya akan menemui Visha."
DEG. Siska merasakan sesak didadanya ketika Galang menyebut nama Visha.
"Saya pergi dulu ya!"
"Tunggu, Pak!"
"Ada apa, Siska?"
"Umm, sampaikan salam saya untuk Nona Visha."
Galang mengerutkan dahi.
"Apa kau mengenal Visha?"
"Iya. Kami ... berteman."
"Benarkah? Oke, baiklah." Galang segera pergi dari ruang kerjanya.
Sementara Siska menghentakkan kakinya kesal. "Sial!!! Kenapa dia tak bertanya lebih lanjut? Aku akan terus memancingnya."
"Halo, Visha ... "
"Iya, Mas."
"Kamu dimana?"
"Aku masih di lokasi proyek."
"Kalau begitu aku jemput ya!"
"Eh? Mas ingin menjemputku?"
"Kita makan siang bersama."
"Tapi ... "
"Tak ada penolakan!!!"
Galang segera menutup sambungan telepon dan tersenyum puas. Entah kenapa akhir-akhir ini Visha selalu saja menolak jika Galang ingin menemuinya. Padahal kerinduan di hati Galang sudah memuncak. Seharian berkutat dengan pekerjaannya, ingin rasanya melepas letih bersama orang tercinta.
Visha segera membersihkan diri dan berganti baju. Seharian ini ia juga sibuk mengaduk semen dan pasir, alhasil seluruh tubuhnya berpeluh keringat dan menimbulkan bau yang tak sedap.
Visha menunggu Galang di jalan depan panti. Visha tersenyum ketika mobil Galang berhenti dan ia turun dari mobil.
Tanpa persiapan, Visha terkejut ketika Galang memeluknya.
"Mas ... apa yang kau lakukan? Ini tempat umum ... "
"Biarkan saja! Aku sangat merindukanmu."
Visha melepas pelukan Galang. "Aku sudah lapar, ayo makan!" Visha meraih tangan Galang dan Galangpun tersenyum.
"Iya, baiklah. Calon istriku sudah kelaparan ternyata."
Mobil Galang melaju meninggalkan area panti. Sepasang mata memperhatikan mereka dengan tajam.
Di sebuah resto yang menyajikan olahan masakan serba seafood, Visha makan dengan lahapnya. Galang terkekeh melihat kekasihnya makan sangat lahap.
"Apa kau sangat lapar?"
Visha menjawab dengan sebuah anggukan.
"Lalu kenapa tadi kau menolakku saat kuajak makan siang?"
__ADS_1
Visha terhenti. Ia merasa bersalah.
"Maaf ... aku pikir aku tidak enak hati meninggalkan timku dan makan sendiri tanpa mereka."
"Hahaha, kau ini. Kalau begitu setelah ini bungkuskan makanan untuk mereka juga."
Visha tersenyum. "Untung saja Mas Galang tidak curiga." Batin Visha.
*Flashback*
"Lelah sekali rasanya!!!" Rocky meregangkan otot-ototnya yang kaku.
"Kau pasti tidak pernah melakukan hal begini? Benar 'kan?" Ucap Visha.
"Ya iyalah. Aku ini seorang arsitek, bukan kuli bangunan."
Visha geleng-geleng kepala.
"Eh, sudah hampir waktunya makan siang. Kita sudahi dulu pekerjaan kita."
"Iya, baiklah." Visha meletakkan sekop dan ember berisi adukan semen.
"Tunggu!" Rocky meraih tangan Visha.
"Kita makan siang bersama, bagaimana?" Ajak Rocky.
"Bagaimana dengan yang lain?"
"Mereka bisa makan sendiri."
"Cih, kau ini!!!" Visha melenggang pergi.
Baru beberapa langkah, ponsel Visha berdering. Panggilan masuk dari Galang.
Rocky hanya terdiam mendengar percakapan Visha dan kakaknya.
"Maaf, aku akan makan siang bersama Mas Galang." Tutup Visha sebelum akhirnya ia benar-benar menghilang dari hadapan Rocky.
"Oh ya, kau dapat salam dari Siska."
"Uhuk uhuk ..."
"Kau kenapa? Minumlah dulu!"
"Maaf, Mas. Siska? Siska siapa, Mas?"
"Dia sekretarisku di kantor. Dia bilang dia temanmu."
"Ah, iya. Aku pernah satu kos dengannya." Visha mencoba menjawab dengan santai agar Galang tak curiga.
Tiba-tiba ponsel Galang berdering. Panggilan dari kantornya.
"Visha, aku minta maaf. Aku harus segera kembali ke kantor. Ada hal mendesak."
"Iya, Mas. Tidak apa-apa."
"Kau bisa pulang sendiri?"
"Tentu saja," jawab Visha diiringi senyum.
"Kalau begitu, aku pergi dulu." Tak lupa Galang memberikan kecupan sayang di kening Visha.
Visha kembali melanjutkan makannya dengan pikiran melayang entah kemana.
Kenapa Mbak Siska melakukan ini? Apa maksudnya titip salam untukku? Apa ia ingin membongkar masa laluku di depan Mas Galang?
Visha menghela nafas.
"Kasihan sekali! Kau ditinggal oleh teman makan siangmu ya?"
Suara yang tak asing ditelinga Visha, membuat lamunannya buyar. Dia adalah Rocky.
"Kau? Bagaimana bisa kau ada disini? Kau mengikutiku?"
"Halo!!! Ini adalah tempat umum. Siapa saja boleh kesini 'kan?"
"Terserah kau saja!" Visha tak menghiraukan Rocky dan terus melahap makanannya.
"Eh!!! Siapa yang bilang kau boleh duduk disitu?!" Ucap Visha galak.
"Cih, ini juga tempat duduk umum! Siapapun boleh duduk disini!"
__ADS_1
Visha merasa kalah jika harus adu argumen dengan Rocky.
Visha menyelesaikan makannya dan akan menuju ke wastafel.
"Eh, mau kemana?"
"Aku mau cuci tangan!"
"Temani aku makan dulu baru kau boleh pergi!"
"Dih, dasar menyebalkan!!" Sungut Visha.
Visha kembali duduk dan menemani Rocky makan.
Sesekali Rocky tersenyum penuh kemenangan karena sudah menahan Visha di tempat duduknya.
"Ada apa Mbak Visha?" Tanya Eman melihat Visha tengah kebingungan disamping sepeda motornya.
"Ini, ban motorku sepertinya bocor."
"Wah, harus ditambal dulu itu, Mbak."
"Duh, bagaimana ini?"
"Mbak Visha ikut denganku saja."
"Eh?"
"Tidak apa, Mbak. Nanti minta tolong Pak Edi saja untuk menambal bannya."
Pak Edi adalah satpam di gedung Brahms Corp. Orangnya terkenal baik dan ramah.
"Baiklah. Tapi, apa tidak merepotkan Mas Eman?"
"Tentu tidak. Ayo, Mbak naik!!"
Vishapun naik ke motor Eman. Lagi-lagi sepasang mata menatap dengan penuh kekecewaan. Pemilik mata itu selalu terlambat melangkah.
Sesampainya di rumah, Visha berterimakasih pada Eman.
"Mama!!!" Ali berlari keluar rumah menyambut kedatangan Visha.
"Eh, anak Mama!!! Sudah mandi sore 'kan?"
"Sudah dong, Ma!"
Eman terkejut karena ternyata Visha sudah memiliki seorang putra yang sudah besar.
"Ini siapa, Ma?" Tanya Ali.
"Ini teman Mama, namanya Om Eman."
"Halo, nama kamu siapa?" Sapa Eman pada Ali.
"Aku Ali, Om." Ali menjabat tangan Eman dan mencium punggung tangannya.
Karena hari sudah mulai gelap, Eman segera berpamitan pada Visha dan kembali melajukan sepeda motornya.
Keesokan harinya, karyawan RAB Cons sedang berkumpul dan saling bercerita.
"Eh, aku baru tahu kalau ternyata Mbak Visha sudah menikah!" Celetuk Eman.
"Hush, yang benar saja! Dia adalah calon istri Pak Galang." Timpal Donny.
"Eh, serius?!" Semua karyawan ikut terkejut.
"Iya." Jawab Donny santai.
"Tapi dia sudah memiliki seorang anak lelaki. Anak itu bukan anak Pak Galang 'kan?" Eman merasa masih perlu penjelasan lebih lanjut.
"Jangan bicara sembarangan!!! Mbak Visha memang pernah menikah."
"Lalu apa yang terjadi dengan suaminya?" Eman benar-benar penasaran.
"Suaminya sudah meninggal."
DEG. Seseorang yang akan melangkahkan kakinya memasuki kantor RAB Cons tiba-tiba terhenti diambang pintu begitu mendengar pernyataan Donny.
Rocky mengerjapkan matanya berkali-kali seakan tak percaya. Ia memutar balik langkahnya dan menuju ke toilet.
tobe continued,,,,,,,,,
__ADS_1