Labuhan Cinta Sang Playboy

Labuhan Cinta Sang Playboy
S2 - Teman atau Musuh?


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Bian mengantar Visha kembali ke rumah kosnya. Sudah diputuskan jika malam ini Visha akan tidur di kamar kosnya. Visha merasa tak enak hati pada Keisya jika terus menginap di kamar Bian. Apalagi mereka masih belum ada status apapun.


"Terima kasih sudah mengantarku." ucap Visha.


"Hmmm. Aku akan memperpanjang masa tinggalku disini, dan akan menemui orang tuamu akhir pekan ini."


"Eh? Secepat ini?"


"Bukankah ada pepatah yang mengatakan, niat baik harus disegerakan. Iya 'kan?"


"Baiklah. Jadi, bapak akan ikut aku pulang akhir pekan ini?"


"Iya. Kau siap 'kan?"


Visha mengangguk. "Kalau begitu, aku turun ya. Sebaiknya bapak juga istirahat."


"Iya."


"Bapak sudah mulai hapal jalanan kota ini?"


"Ya lumayan. Ada aplikasi maps juga. Kau jangan cemas. Aku pasti akan sampai di hotel dengan selamat."


Visha turun dari mobil, lalu melambaikan tangannya ketika mobil Bian mulai melaju.


Visha berbalik badan dan akan masuk ke kamarnya, namun dihadang oleh Keisya.


"Sepertinya tebakanku benar. Kau memang ada sesuatu dengan Bian."


"Mbak, bisa aku ganti baju dulu?"


"Oke, aku akan menyiapkan telingaku untuk mendengar ceritamu..."


Visha segera menghambur masuk ke kamar mandi.


Sementara itu, Bian telah sampai di kamar hotelnya. Ia segera merebahkan diri di atas sofa dan membuka ponselnya. Ia menghubungi seseorang.


"Bagaimana? Kau sudah urus semuanya?"


"Sabar sedikit, Bos. Semua tidak mudah. Tapi kenapa bos ingin aku mengecek semua ini?"


"Nanti saja kuberitahu. Kau lakukan saja apa yang kuperintahkan. Dan ingat, bekerjalah dengan sangat hati-hati. Aku tidak mau ada satu orang pun yang tahu tentang ini."


"Bos tenang saja. Sudah berapa lama bos mengenalku? Pekerjaanku selalu rapi, Bos."


"Baiklah, terima kasih."


Panggilan berakhir. Bian segera menghambur ke kamar mandi dan membersihkan diri. Ia merasa kamarnya terasa sunyi tanpa kehadiran Visha. Sudah dua malam Visha menemani tidurnya, dan kini ia harus tidur sendiri.


"Huft! Kenapa rasanya hampa sekali tanpa kau disini, Visha." Bian mengambil ponsel dan hendak menelepon Visha. Namun ada pesan masuk dari Visha.


"Malam ini jangan mengganggu. Aku sedang bersama Mbak Keisya. Dan sekarang sedang ada acara Sister's talk diantara kami. Bapak tidur saja. Selamat malam. Love you..."


Bian berdecak kesal membaca pesan dari Visha. Karena tubuhnya juga lelah, maka Bian pun merebahkan tubuhnya ke tempat tidur dan bersiap menuju alam mimpi.


"I love you too, Visha..." ucap Bian sebelum memejamkan mata.


...~ ~ ~ ...


Sania termenung meratapi nasibnya yang di tinggal lagi oleh Bian. Pagi ini Bian menghubunginya dan mengatakan jika urusannya di luar kota belumlah selesai. Ia akan disana hingga akhir pekan, dan akan kembali minggu berikutnya.


Sania hanya menatap putrinya yang sedang menikmati sarapan tanpa kehadiran Bian di tengah-tengah mereka.


Hati Sania mulai gelisah karena sudah setahun sejak Bian sadar dari komanya, namun hubungan mereka tetaplah hambar bagai sayur tanpa garam.


Ia sudah melakukan berbagai cara agar Bian tetap berada disisinya. Tapi entah kenapa, sejak melihat Visha di acara waktu itu, membuat Sania tak bisa hidup tenang seperti dulu lagi.


"Mama, kenapa makanan Mama tidak di makan?" tanya Alisa, gadia kecil berusia tiga tahun ini sudah lancar berbicara.


"Eh?"


"Mama mikirin Papa ya?"


"Tidak. Ini Mama mau makan. Alisa sudah selesai makannya?"

__ADS_1


"Iya, Ma."


Sania menatap putri kecilnya yang cantik itu. Ia menerawang jauh. Apakah semua keputusannya yang dimulai tiga lalu itu adalah benar atau salah?


Usai mengantar Alisa ke sekolah, Sania melajukan mobilnya menuju suatu tempat. Hari ini ia mengemudikan mobilnya sendiri, karena ada hal yang ingin dia lakukan.


Sania menatap gedung berlantai 13 itu. Sudah beberapa lama sejak acara pelantikan Galang berlalu. Ia baru menapakkan lagi kakinya disini.


Sania melangkah masuk menuju ke ruangan CEO Brahms Corp. Dulu saat Leonard masih menjabat sebagai CEO, ia kadang berkunjung kesini untuk menemui Rocky.


Sania melangkah dengan anggunya dan menenteng tas mewahnya di lengan kirinya. Saat ia di depan ruang bertuliskan, CEO, ia segera masuk, namun tak mendapati sekretaris Galang disana.


Sania langsung nyelonong masuk ke ruangan Galang tanpa mengetuk pintu. Dilihatnya Galang sedang sibuk membaca berkas-berkas di mejanya.


Prok


Prok


Prok


Sania bertepuk tangan. Sontak membuat Galang menoleh ke arahnya dan membulatkan mata.


"Kau pasti sangat senang berhasil menduduki kursi itu, Galang..." Sania berjalan mendekat ke arah meja Galang yang terdapat papan nama bertuliskan, Galang Abraham, CEO Brahms Corp.


"Mau apa kau datang kesini? Kenapa sekretarisku tak memberitahu jika kau datang?" Galang sedikit kesal karena kedatangan Sania.


"Aku malah tidak tahu dimana sekretarismu tadi. Ia tidak ada di mejanya."


Galang ingat jika ia meminta Siska untuk meminta data dari bagian keuangan.


"Katakan ada apa kau datang kesini? Aku sibuk. Sebaiknya jangan bertele-tele."


Sania berdecih. "Jadi inilah wajah aslimu Galang. Kau sudah mendapat segalanya, dan kau mulai menyingkirkan orang-orang yang kau anggap mengganggu."


"Jangan banyak bicara! Katakan saja langsung apa maumu?"


"Kau harus menolongku." pinta Sania dengan raut wajah dibuat memelas.


Galang tersenyum sinis. "Masalah Bian lagi?"


"Aku sudah membantumu sejauh ini. Sisanya kau kerjakan sendiri. Kenapa kau masih tetap menggangguku?" kesal Galang.


"Hei, tuan!!!" Sania menggebrak meja Galang.


"Kita ini partner. Kau jangan lupa jika kita mengerjakan ini bersama. Jika kau berani mengacuhkanku, maka akan kupastikan kau akan hancur."


Galang mengepalkan tangannya. "Apa yang bisa kubantu?" Galang akhirnya mengalah.


"Bian sedang ada di Semarang, mengurus proyek disana."


"Lalu?"


"Rencananya hanya tiga hari dia disana. Tapi, tadi pagi dia menghubungiku dan mengatakan akan lebih lama tinggal disana."


"Mungkin ada masalah dengan proyeknya."


"Tidak. Aku khawatir soal Visha."


"Kenapa dengannya?"


"Dia bekerja disana juga. Zayn Building."


"Dan kau khawatir Bian akan berselingkuh darimu?"


Sania terdiam.


"Kalian bahkan tidak menikah. Apa kau sangat khawatir jika Bian kembali menatap Visha?"


"Entahlah. Maka dari itu, tolong aku. Bukankah kau masih mencintai Visha? Kau bisa mulai mendekatinya lagi untuk menjauhkan dia dari Bian."


"Apa kau tidak waras? Visha sekarang bersama dengan Zayn. Kau tenang saja. Jangan berlebihan!"


"Tapi tetap saja... Aku curiga jika dia memang sengaja mengundur kepulangannya."


"Jika kau setakut ini, kenapa kau tidak menetap di Surabaya saja selamanya? Kenapa kau malah kembali kesini?"

__ADS_1


"Kenapa kau bicara begitu?"


"Jika kau tidak kembali semua ini tidak akan terjadi. Dan satu lagi, jangan datang lagi kesini tanpa memberitahuku. Sejak kedatanganmu yang terakhir, kau membuat masalah baru."


"Aku minta maaf soal Om Leon. Karena pembicaraan kita waktu itu, Om Leon sampai kena serangan jantung dan sekarang koma. Kau harus terus mengawasinya. Jangan sampai dia mengacaukan rencana kita karena mengetahui rahasia diantara kita."


"Saat begini kau malah melemparkan semua solusi padaku? Kau yang mulai membahas soal masa lalu, makanya Papa sampai syok dan pingsan. Ini semua karenamu yang tak bisa menjaga mulutmu!"


"Hei!! Jangan menyalahkanku! Kita di kubu yang sama, Galang. Jika aku hancur, maka kau juga akan kehilangan semua ini. Kau harus membantuku agar Bian selalu bersamaku, atau aku akan menghancurkanmu sedikit demi sedikit. Ingat itu baik-baik!"


Sania pun keluar dari ruangan Galang dengan perasaan kesal di hatinya. Lalu Galang? Jangan ditanya, wajahnya sudah merah padam karena menahan amarah.


Sementara itu, Donny menerima panggilan dari Bian untuk kesekian kalinya di hari ini.


"Astaga! Sejak pagi dia tidak berhenti menggangguku." Donny berdecak kesal namun tetap mengangkat panggilan Bian.


"Halo, bos..." jawab Donny malas.


"Bagaimana? Kau sudah memeriksa semuanya?"


"Sudah, bos. Ini baru dapat hasilnya."


"Lalu?"


"Semua data kependudukan bos atas nama Biantara Adiguna. Dan sudah dipastikan jika tak ada orang lain lagi bernama sama dengan bos."


"Kau yakin? Satu Indonesia tak ada yang bernama Biantara Adiguna lagi?"


"Yakin, bos."


"Jadi, aku bisa menikah dengan data sebagai Bian?"


"Hah? Menikah? Bos menyuruhku melakukan ini karena ingin menikah?"


"Tentu saja. Memang apa lagi?"


"Dengan Visha?"


"Tidak perlu bertanya. Kau harus datang akhir pekan ini sebagai saksi dari pihakku."


"Yang benar saja!"


"Tak ada penolakan!!"


Panggilan berakhir. Bian menutup secara sepihak, dan Donny mendengus sebal.


BRUG!


Donny menabrak seseorang.


"Maaf!" ucap Donny membantu orang yang ditabraknya yang ternyata adalah Siska.


"Kau baik-baik saja, Siska? Kenapa kau terburu-buru...." Belum selesai Donny menyelesaikan pertanyaannya, Siska bergegas pergi.


"Ada apa dengannya?" Donny menggelengkan kepala dan kembali melangkah menuju kantornya di lantai 13.


Kantor RAB Cons masih tetap berada di gedung Brahms Corp lantai 13. Karena memang itu semua untuk mengenang mendiang Rocky.


...🍁🍁🍁...


bersambung,,,


.


.


UP again gaess πŸ˜ƒπŸ˜ƒπŸ˜ƒ


*kemaren2 siapa yg komen kalo Galang dan Sania bekerja sama? Tebakan anda benar, yeay. Tapi... apa saja sih yg mereka lakukan? Simak terus lanjutannya ya gaessπŸ˜‰πŸ˜‰


*itu kira2 Siska kenapa ya?😨


*jangan lupa tinggalkan jejak kalianπŸ‘£πŸ˜˜karena itu adalah my power πŸ’ͺ


...~thank you~...

__ADS_1


__ADS_2