Labuhan Cinta Sang Playboy

Labuhan Cinta Sang Playboy
S2 - Kesal tapi Cinta


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Bian menatap Visha yang sudah meneteskan air matanya. Duh, Bian, baru saja kalian menikah, kenapa sudah membuat Visha menangis?


Bian mendekat ke arah Visha lalu memeluknya erat.


"Jangan menangis!" ucap Bian sambil mengelus punggung Visha.


Visha mendorong tubuh Bian menjauh. "Kau yang sudah membuatku menangis."


"Maaf..." ucap Bian lirih.


"Baiklah. Kita akan bicarakan ini nanti. Aku harus membantu ibu menyiapkan makan malam." Visha melewati tubuh Bian dan berjalan keluar dari kamarnya.


Sedangkan Bian masih mematung lalu mengusap wajahnya kasar.


"Ada apa denganmu, bos?" tanya Donny yang menghampiri Bian terduduk sendiri di teras rumah.


"Entahlah. Aku merasa sesak, Don."


"Setelah bos mendengar semua cerita tentang Visha? Bukankah bos sudah tahu semuanya, kenapa bersikap seperti baru mendengarnya saja? Lagipula, Pak Haryono mau menikahkan Visha dengan bos karena bos sudah mengetahui masa lalu Visha."


"Justru itu. Mendengarnya lagi seakan menyayat hatiku. Aku tidak sanggup menghadapi Visha."


"Dengan membuatnya menangis?"


Donny ternyata mendengar pembicaraan Bian dan Visha saat dia tak sengaja melintas di depan kamar Visha.


"Bos, jangan begini! Apa bos tahu bagaimana Visha begitu mencintai Bos? Selama bertahun-tahun dia bahkan rela tidak menikah demi menunggu bos. Apa yang bos pikirkan hingga membuatnya menangis setelah menikahinya. Jika begini aku menyesal sudah menjadi saksi di pernikahan kalian." Donny pun berlalu dari depan Bian.


...*...


...*...


...*...


Makan malam pun berlangsung cukup ramai, karena bertambahnya anggota keluarga baru di rumah Haryono. Selama makan malam Bian hanya terdiam. Haryono memergoki tingkah menantunya yang seakan berubah murung sejak kembali dari pabriknya.


Haryono juga melirik ke arah Visha yang nampak diam. Namun tak ada yang menginterupsi. Biarlah semua terjadi dengan alami. Haryono yakin semua akan kembali normal.


Usai makan malam, Haryono dan Donny berbincang di teras depan rumah. Sedangkan para wanita, membersihkan meja makan dan merapikan dapur. Lalu Bian dan Ali, seperti biasa bermain game di ruang tengah.


"Nak Donny masih belum menikah juga?" tanya Haryono.


"Hehe, belum Pak. Belum dapat jodohnya saja." jawab Donny enteng.


"Jodoh ya harus dicari tho. Kalau ndak di cari bagaimana bisa datang?"


"Mungkin belum waktunya saja Pak."


"Jangan terlalu sibuk bekerja, sempatkanlah waktu untuk mengenal lawan jenis. Di kantor Nak Donny memangnya tidak ada yang menggetarkan hati?"


"Heh? Saya sepertinya pantang untuk cari jodoh teman satu kantor."


"Owalah, angel tho Lek nak ngono." (Susah deh Nak kalau begitu)


"Saya hanya mengikuti arus saja Pak. Saya yakin Tuhan sudah menyiapkan jodoh untuk saya, namun belum diperlihatkan saja."


"Ya sudah. Tetap semangat Nak. Bapak jam segini sudah mengantuk. Maklum sudah mulai tua. Bapak masuk dulu ya. Kamu masih mau disini?"


"Iya, Pak. Bapak duluan saja. Saya masih ingin duduk disini. Udaranya sejuk sekali, Pak."


Setelah Haryono berlalu, Donny menikmati kesendiriannya di temani udara malam yang sejuk dan menusuk tulang.


"Bapak mana, Don?"

__ADS_1


"Sudah masuk." jawab Donny ketus.


"Kau masih marah padaku?"


Donny memutar bola matanya. "Bos sebaiknya masuk ke kamar. Bos 'kan pengantin baru. Berikan adik untuk Ali. Dia sudah mau 10 tahun dan belum memiliki adik."


"Cih, kau ini! Kau sendiri bagaimana? Kau masih belum ada pendamping juga. Aku sudah memiliki dua anak. Ada Ali dan Alisa."


"Wah, jadi benar jika Alisa adalah anak bos dan Sania? Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Aku mau tidur saja. Besok aku akan meminjam istri bos untuk berkeliling kota Pekalongan dan membeli oleh-oleh." Donny mulai emosi jika berdekatan dengan bosnya saat ini.


Bian pun ikut kembali ke kamar, dan mendapati Visha sudah tertidur menghadap samping. Bian ikut naik ke atas tempat tidur dan langsung memeluk Visha.


Visha yang merasa ada sesuatu melingkar di pinggangnya segera membuka mata karena ia belum lama memejamkan mata.


"Mas Bian?"


"Hmmm."


Visha membiarkan posisinya yang masih membelakangi Bian. Ia masih tak mengerti sikap Bian yang tiba-tiba berubah.


"Apa mas menyesal sudah menikahiku?" Entah kenapa Visha bertanya tentang itu.


"Kenapa bertanya begitu?"


"Aku hanya..." Tanpa bisa memperpanjang kalimatnya, tubuh Visha di buat menghadap ke arah Bian. Mata mereka beradu mencari kebenaran satu sama lain.


"Aku tahu aku bersikap aneh. Dan bahkan Bapakmu juga seperti menyadarinya. Mungkin dia menganggap aku menyesal sudah menikahimu setelah aku mendengar cerita masa lalumu sekali lagi. Aku hanya merasa buruk di depanmu. Aku merasa tidak pantas kau tunggu selama 10 tahun..."


Visha menghela nafas. "Tidurlah, Mas. Aku lelah."


"Baiklah... Aku tidak akan mengganggumu malam ini. Kita masih punya malam yang lain untuk melakukannya."


Visha tersenyum getir. "Dasar bodoh!"


Visha kembali memunggungi Bian, lalu memejamkan mata. Sementara Bian, ia merasa kesal karena Visha menyebutnya bodoh. Ia kembali membalik tubuh Visha agar menghadap dirinya lalu dengan secepat kilat meraih bibir Visha.


"Apa yang kau lakukan, Mas? Kau benar-benar membuatku kesal!"


"Benarkah? Sepertinya kau menyukainya!"


"Mas!!! Hentikan!!!" Visha berteriak kecil kala Bian mulai bergerilya kemana-mana termasuk memberinya sebuah tanda cinta di leher Visha.


Suara Visha yang terdengar sampai keluar kamar, membuat Haryono dan Yanti menggelengkan kepala.


"Tadi saja seperti orang marahan, sekarang sudah teriak-teriak keenakan begitu. Anakmu lho, Pak!"


"Hahaha, 'kan anak ibu juga. Memang tho bu, permasalahan rumah tangga itu lebih baik diselesaikan diatas ranjang saja. Yang tadinya berteriak kesal, sekarang sudah bisa teriak karena enak, bu."


"Hush, si bapak ini ngomong opo tho! Ngko nek Ali krungu piye pak?" (nanti kalau Ali dengar bagaimana?)


"Sudah, bu. Kita juga masuk kamar. Biarkan mereka lembur bikin cucu buat kita, haha."


*


*


*


Menjelang pagi, udara di desa mulai menyeruak masuk ke dalam kamar dan menjadikan kamar terasa dingin. Visha makin menarik selimut kala tubuhnya merasa kedinginan. Ditambah lagi, ia masih dalam keadaan polos karena terlalu lelah untuk memakai baju tidurnya yang entah dibuang kemana saja oleh Bian.


Malam keduanya bersama Bian lagi-lagi terjadi secara tak terduga. Ia yang mengira akan terus kesal pada Bian, nyatanya bisa segera luluh kala mendapat sentuhan dari Bian yang membuatnya tak berdaya, sama seperti dulu. Bian memang pandai memperlakukannya dengan lembut di atas ranjang.


Aaah, mengingat kejadian semalam membuat Visha malu dan menutup wajahnya. Ia kembali memejamkan mata karena masih terlalu mengantuk untuk bangun. Lagipula Bian juga masih terlelap. Pikirnya.


Pukul tujuh pagi, semua orang sudah berkumpul di meja makan, kecuali sang pengantin baru yang masih terlelap di dalam kamar.

__ADS_1


Donny yang kemarin merasa kesal karena sikap Bian, kini hanya bisa tersenyum seringai.


Ternyata mereka berbaikan juga. Padahal aku akan meminta Visha untuk menemaniku membeli oleh-oleh. Sepertinya gagal karena bos Rocky pasti masih mendekapnya erat.


"Nak Donny kembali ke Jakarta jam berapa?" tanya Haryono.


"Setelah saya membeli oleh-oleh, Pak. Tapi... saya tidak tahu tempatnya. Rencananya saya ingin meminta Visha untuk menemani saya, tapi sepertinya... saya tidak bisa mengganggu mereka." Donny menggaruk tengkuknya.


"Ya sudah, kami akan mengantarkan Nak Donny membeli oleh-oleh. Kita ke pasar Setono saja, Pak. Disana Nak Donny bisa memilih banyak baju-baju batik khas kota sini." jelas Yanti.


"Oh, begitu ya Bu. Saya ikut saja." jawab Donny sambil kembali melanjutkan sarapannya.


.


.


.


Merasa jika hari sudah mulai siang, Visha segera bangun. Namun lagi-lagi Bian memeluknya erat.


"Mas, sudah siang. Ayo bangun! Tidak enak sama bapak dan ibu."


"Hmmm, biarkan saja. Lagipula mereka pasti mengerti."


"Tetap saja! Aku tidak enak pada ibu karena tidak membantunya membuat sarapan."


"Visha..."


"Hmmm?"


"Bagaimana dulu saat aku melakukan itu padamu? Kau pasti menangis sedih karena aku merenggut mahkotamu dengan paksa..."


DEG!


Visha memposisikan dirinya duduk dan menatap Bian yang masih berbaring. "Kumohon jangan mengingat masa lalu lagi, mas. Kita hidup untuk masa depan. Aku sudah melupakan hal pahit itu dan hanya mengenang yang indahnya saja bersamamu. Jadi... Jangan menyalahkan dirimu lagi. Karena apapun yang terjadi padaku adalah atas keputusanku sendiri, bukan karena siapapun. Apa mas bisa mengerti?"


Bian menatap Visha dengan tatapan penuh cinta. Ia pun ikut duduk lalu memeluk Visha. "Terima kasih atas semua cinta dan kesabaranmu selama ini."


"Iya, mas. Jangan mengingat masa lalu lagi. Fokuslah untuk mengurus masalah jati dirimu. Kau harus segera menjadi Rocky kembali."


"Pasti! Kau tenang saja!"


"Baiklah, kalau begitu aku akan membersihkan diri dulu."


"Tunggu!!! Berikan aku satu ronde lagi, ya?" pinta Bian dengan puppy face ala Bian.


"Mas!!!"


"Aku jadi sangat mencintaimu setelah mendengar semuanya!"


Visha memutar bola matanya. "Hmm, baiklah. Tapi hanya satu ronde, jangan seperti semalam! Awas kau!" ancam Visha.


"Hahaha, iya sayang..."


Bian kembali meraih tubuh Visha dan bermain cantik disana hingga peluh kembali membasahi tubuh keduanya dan suara erangan kenikmatan kembali terdengar dari dalam kamar Visha.


...🍁🍁🍁...


tobe continued,,,


.


.


*ihiiiir Bian πŸ™ˆπŸ™ˆmalam kedua nih ceritanya, atau terasa bagai malam pertama ya? Kan yg dulu ia tidak ingat πŸ˜…πŸ˜…

__ADS_1


*Jangan lupa tinggalkan ihir ihir kalian berupa jejak cinta πŸ‘£πŸ’


...*terima kasih*...


__ADS_2