Labuhan Cinta Sang Playboy

Labuhan Cinta Sang Playboy
S2 - Marah dan Panik


__ADS_3

...šŸšŸšŸ...


Visha kembali ke rumah kosnya dan langsung membersihkan diri. Ia merebahkan dirinya sambil memainkan ponsel. Masih belum ada panggilan dari Bian. Pikiran Visha diisi berbagai spekulasi tentang Bian.


Namun tiba-tiba ia mendapat panggilan dari Bian. Matanya langsung berbinar cerah.


"Halo, mas..."


"Halo, sayang. Kau sedang apa?"


"Aku sedang menunggu telepon darimu..."


"Benarkah? Maaf ya tadi aku tak sempat mengabarimu lagi karena aku langsung ke kantor."


"Tidak apa. Aku tahu Mas sibuk. Sekarang mas ada dimana?"


"Aku sedang di ruang kerjaku. Masih ada pekerjaan yang belum selesai."


Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu ruang kerja Bian. Sania melongokkan kepalanya.


"Sayang, makan malam sudah siap. Ayo makan dulu!"


DEG


Suara Sania membuat Visha berubah murung. Ia merasa sedih karena tak bisa melayani suaminya dengan baik.


"Visha, aku akan menghubungimu lagi nanti. Aku akan makan malam dulu. Kau sudah makan?"


"Hmm, aku sudah makan. Ya sudah, Mas makan dulu saja."


Panggilan berakhir.


Visha menghela Nafas. Dan entah kenapa air matanya mengalir begitu saja di pipinya. Visha memilih merebahkan tubuhnya dan terlelap ke alam mimpi agar ia bisa melupakan kesedihannya karena harus berjauhan dengan suaminya.


.


.


.


Bian menyantap makan malam bersama dengan Sania dan Alisa. Alisa nampak senang bisa berkumpul lagi dengan papanya.


Sania menyiapkan nasi goreng seafood kesukaan Alisa. Bian ingat jika ini adalah makanan kesukaan Visha. Seketika ia merindukan istrinya itu.


"Sania, kenapa kau tidak pernah menyajikan makanan kesukaanku?" tanya Bian menatap Sania.


"Eh?" Sania terkejut dengan pertanyaan Bian. "A-apa maksudmu? Aku selalu memasakkan makanan kesukaanmu kok." jawab Sania terbata.


"Oh ya? Bukankah aku menyukai gulai ikan kakap? Kenapa kau tidak pernah memasaknya untukku?"


"Heh, apa? Sayang, kau tidak menyukai ikan kakap, kau lebih suka ikan gurame." jawab Sania berusaha bersikap tenang.


"Benarkah? Seingatku aku menyukai ikan kakap, bukan gurame."


Sania merasa tak bisa berkilah lagi.


Apa maksud Bian mengatakan ini padaku? Apa dia ingin mengujiku? Atau dia... sudah mengingat masa lalunya? Tidak mungkin!


"Sania! Apa yang kau pikirkan?" suara Bian membuyarkan lamunan Sania.


"Eh? Ada apa?"


"Besok tolong kau buatkan gulai ikan kakap ya. Siapkan juga ayam goreng Wac'D."


"Hah? Apa? Ah, i-iya. Aku akan menyiapkannya untukmu..." Sania berusaha tersenyum di depan Bian.


.


.


.

__ADS_1


Pagi itu, Donny masih menunggu kedatangan Siska. Sejak kepulangannya kemarin, ia belum bertemu dengan Siska. Ia ingin memberikan dress batik yang kemarin ia beli.


Akhirnya sosok yang ia tunggu datang juga. Donny tersenyum gembira melihat kedatangan Siska.


"Siska!!" panggil Donny.


Siska mengernyitkan dahinya karena baru kali ini Donny menyapa dirinya dengan tersenyum lebar.


"Ada apa denganmu? Apa kau salah makan?" Siska merasa risih dengan perhatian Donny.


"Bagaimana kabarmu?" Donny berbasa-basi.


"Tidak perlu berpura-pura bersikap baik padaku. Ada perlu apa kau mencariku?"


"Ah, ini!" Donny menyerahkan paper bag pada Siska, kemudian berlalu begitu saja tanpa sepatah katapun.


"Apa maksudnya? Apa dia sudah tidak waras?" Siska menggelengkan kepalanya.


Sementara itu di pabrik milik Haryono, beberapa pekerja tengah membicarakan soal pengusaha muda yang akan membangun bisnis barunya di kota Pekalongan. Mereka merasa jika usaha mereka bisa terancam jika ada pengusaha kelas kakap yang membangun bisnis di kota mereka.


"Kalian sedang membicarakan apa? Kelihatannya serius sekali!" Haryono ikut nimbrung dengan para pekerjanya.


"Iki lho, pak, ono pengusaha muda seng meh nggawe usaha nang kene. Lah mangke usahane kita-kita sing wong cilik pripun, pak? Mesti kegerus karo sing kelas kakap kuwi." terang salah satu pekerja.


(Itu lho pak, ada pengusaha muda yang akan membangun bisnis disini. Lha nanti usaha kita yang orang kecil bagaimana? Pasti kalah dengan yang kelas kakap itu.)


"Hmm, memangnya siapa pengusaha muda itu?"


"Wonge ngganteng, Pak. Bojone yo ayune puol. Iki pak ono gambare nang koran." (Orangnya tampan, pak. Istrinya juga cantik. Ini ada gambarnya di koran.)


Salah seorang pekerja menunjukkan koran hari ini pada Haryono.


"Hah? Ini 'kan..." Haryono mengepalkan tangannya dan meremas koran yang ada ditangannya. Ia segera kembali ke rumah dan menemui Yanti.


"Lho, Pak. Kok sudah pulang? Apa ada yang ketinggalan, pak?" tanya Yanti yang melihat suaminya pulang kerumah padahal baru saja berangkat ke pabrik.


"Cepat hubungi Visha, Bu." Haryono berusaha menutupi amarahnya.


"Sudah, ibu telepon saja! Dan suruh dia pulang hari ini juga!" titah Haryono.


"Lho, lho! Bapak ini sebenarnya ada apa? Kalau ada masalah 'kan bisa dibicarakan baik-baik."


"Ini, ibu baca sendiri saja!" Haryono menyerahkan koran yang di bawanya pada Yanti.


Yanti sangat terkejut membaca berita terbaru di koran lokal mereka.


"Pak, opo iki pak? Iki 'kan Nak Bian? Lho kok dia ternyata sudah punya anak dan istri..." tubuh Yanti terasa lemas dan ia jatuh tersungkur.


(Apa ini, pak? Ini kan Nak Bian?)


Haryono tak dapat berkata apa-apa. lagi. Mereka hanya bisa terdiam dan menutup bibir mereka rapat-rapat.


Jangan sampai ada tetangga yang tahu jika Visha, putri mereka, menikahi pria yang sudah beristri.


"Pak, jangan menghubungi Visha sekarang. Dia itu 'kan sedang bekerja. Nanti kalau malah kerjaan dia jadi berantakan, bagaimana? Kita tunggu saja penjelasan dari Visha saat dia pulang nanti." ucap Yanti setelah hatinya mulai tenang.


"Baiklah, jika memang mau ibu begitu."


.


.


.


Di lain tempat, ponsel Galang terus berdering dan itu panggilan dari Sania. Galang malas untuk mengangkat panggilan itu karena Sania pasti hanya akan mengeluh tentang Bian.


Ari yang mendengar ponsel bosnya terus berdering, tak kuasa ikut menegur bosnya itu.


"Pak, ponsel bapak sedari tadi berdering. Apa bapak tidak ingin mengangkatnya lebih dulu?" ujar Ari.


"Biarkan saja. Nanti juga dia berhenti sendiri." jawab Galang santai.

__ADS_1


"Atau bapak ingin saya yang menjawabnya lalu saya bilang jika bapak sedang rapat bersama klien?" tawar Ari.


"Tidak perlu. Biarkan saja. Kau boleh keluar."


"Baiklah, pak. Saya permisi."


Sepeninggal Ari, Galang mengangkat panggilan dari Sania.


"Halo..." jawab Galang dengan malas.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa tak. mengangkat teleponku?!" teriak Sania.


"Tidak perlu berteriak, aku bisa mendengarmu."


"Galang... Kau harus membantuku."


Galang memutar bola matanya. "Ada apa lagi dengan Bian?"


"Dia sepertinya... Mulai ingat tentang masa lalunya. Bagaimana ini?" suara Sania mulai panik diseberang.


"Bukankah kau selalu memberinya obat agar tidak ingat masa lalunya? Apa dia sudah berhenti mengkonsumsi obat itu?"


"Tentu saja tidak! Setahuku dia masih meminumnya."


"Lalu apa yang kau takutkan?" Galang mulai malas meladeni Sania.


"Dia memintaku untuk membuatkan makanan kesukaannya. Kau tahu 'kan apa saja makanan kesukaan Rocky?"


"Apa maksudmu?!"


"Galang, jika dia bisa ingat makanan kesukannya maka... Bisa saja dia mengingat tentang masa lalunya yang lain."


"Kau jangan cemas. Tidak semudah itu mengingat tentang masa lalu. Sebaiknya kau bersikap normal saja dan jangan tunjukkan jika kau panik didepannya."


"Bagaimana mungkin? Dia bahkan bicara seolah-olah dia bukanlah Bian yang aku kenal dulu. Dia seperti... Orang lain..."


"Sudahlah, kau jangan cemas berlebihan. Dan jangan menghubungiku seperti ini lagi. Itu akan membuat orang-orang curiga jika kita melakukan sesuatu bersama."


"Kau melarangku untuk menemuimu di kantor, lantas bagaimana caraku bicara denganmu? Dengar ya, sudah kuperingatkan, jika kita berada dalam perahu yang sama. Jadi, jika aku tenggelam, maka kau pun harus ikut tenggelam. Camkan itu Galang!"


TUT. Panggilan berakhir.


Galang mengumpat dalam hati.


Sial!!! Bagaimana bisa aku bekerja sama dengannya? Ini tidak bisa dibiarkan! Jika dia terus mengancamku maka aku... Harus menyingkirkan dia juga...


Galang tersenyum menyeringai dengan mengerikan.


...šŸšŸšŸ...


bersambung,,,


.


.


*Promo Novel*



...Hai gaess, mari mampir di story lain punya author, dengan judul "The Broken Leaf" yang masih on-going di NT. Bisa search di profil aku šŸ™šŸ™šŸ˜ŠšŸ˜Š...


...Gak kalah seru sama cerita ini 😘...


...-Thank you-...


.


.


*Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya gaess šŸ‘£šŸ’šŸ’

__ADS_1


...-terima kasih-...


__ADS_2