
...ššš...
Tok
Tok
Tok
Visha kembali mengetuk pintu. Berharap jika Bian mau membukanya. Air matanya hampir saja tumpah kembali. Ia sedih karena Bian tak ingin menemuinya.
Dengan perasaan sedih dan bersalah, Visha membalikkan badan dan bersiap meninggalkan kamar Bian.
Namun secara tak terduga, sebuah tangan kekar membuka pintu dan meraih tangan Visha dan menariknya masuk ke dalam kamar.
Visha sangat terkejut mendapati Bian yang baru saja selesai mandi dan hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya dengan rambut yang basah dan membuatnya terlihat amat seksi.
"Pak Bian?" Visha membulatkan mata melihat pemandangan di depannya.
Bian menghimpit tubuh Visha ke dinding dan membuat Visha tidak nyaman.
"Akhirnya kau datang juga. Jam berapa ini? Kau kemana saja sedari tadi?"
"Eh?" Visha bingung dengan sikap Bian yang ternyata tak semarah seperti dalam pikirannya. "Pak... Bisakah bapak berpakaian lebih dulu?" ucap Visha dengan memalingkan wajah.
Bian terkekeh melihat Visha yang salah tingkah. "Aku menunggumu sejak tadi dan kau hanya mengatakan ini?"
"Maaf..." ucap Visha kemudian dengan masih memalingkan wajah.
Tanpa menunggu lama Bian langsung meraih bibir Visha dan menyesapnya pelan. Visha hanya pasrah menerima semua hal yang dilakukan Bian.
"Pak..." Visha terengah dengan sentuhan Bian. Bian pun melepaskan Visha.
"Duduklah dulu, aku akan mengganti baju." Ujar Bian sambil berlalu menuju kamar mandi.
Visha mengatur nafasnya. Jantungnya serasa akan lepas jika Bian terus memperlakukannya seperti ini.
Tak lama, Bian keluar dari kamar mandi dengan memakai setelan piyama berwarna merah muda. Visha tertawa keras melihat pria berbadan besar itu memakai piyama berwarna merah muda.
"Hentikan!! Aku tidak tahu jika Sania membawakanku piyama yang ini."
"Oh, jadi Sania yang sudah menyiapkan semuanya untukmu?" Visha nampak tak suka dengan cerita Bian.
__ADS_1
Bian segera menghampiri Visha yang duduk di sofa, dan meraih bahunya.
"Dengar! Kau tidak perlu cemburu dengan Sania, karena aku dan dia..."
"Dih, siapa juga yang cemburu." Visha menepis tangan Bian.
"Hei, harusnya aku yang marah, karena kau tidak juga datang. Kau belum jawab pertanyaanku, kenapa kau baru datang selarut ini? Kau pergi kemana saja?"
"Aku menemui Pak Zayn..."
"Apa?! Untuk apa kau menemuinya?"
"Tentu saja untuk minta maaf. Apa kau tidak merasa bersalah padanya?"
Bian hanya diam.
"Dia adalah sahabatmu. Bagaimana pun juga aku tidak mau hubungan kalian sampai hancur karena aku..."
"Kau pasti lelah hari ini. Mandilah dan ganti bajumu. Kau masih memakai setelan kantor, pasti tidak nyaman." Bian mengalihkan pembicaraan.
"Aku tidak bawa baju ganti." jawab Visha santai.
"Pakai saja kemejaku atau kausku. Semua ada di kamar ganti yang terhubung dengan kamar mandi."
Lima belas menit kemudian, Visha keluar dari kamar mandi dan memakai kemeja Bian yang terlihat kebesaran di tubuhnya. Bian tersenyum melihat Visha yang nampak sempurna di matanya.
"Kemarilah!" ajak Bian untuk menuju ke tempat tidur dimana ia telah berada.
Visha naik ke tempat tidur dan menarik selimut. Mereka duduk bersandar dan saling menatap.
"Bagaimana kabar Zayn?" tanya Bian. Ternyata ia mencemaskan keadaan sahabatnya itu.
"Dia baik. Meski aku yakin dia pasti sempat kacau. Tapi aku juga yakin dia akan baik-baik saja. Kau benar, semakin lama aku menahannya maka akan semakin menyakitkan untuknya. Lebih baik sakit sekarang dari pada nanti. Dia pernah kehilangan istri yang dia cintai, dan dia bisa menerima itu. Aku yakin dia juga pasti bisa menerima keputusanku ini..." cerita Visha.
"Syukurlah. Aku akan meminta maaf juga padanya sebelum aku kembali ke Jakarta."
"Lalu... Bagaimana hubunganmu dengan Sania? Pertama kali aku bertemu dengannya... Aku lihat hubunganmu dengannya bukan hanya sekedar teman biasa."
Bian menghela nafas. Sudah saatnya dia menceritakan semua pada Visha tentang masa lalunya. Dan juga penyesalannya kepada Visha.
"Kau benar. Kami bukan sekedar teman. Sania adalah mantan kekasihku. Aku mengenalnya saat libur kuliah dan aku pulang ke Indonesia. Awalnya dia dekat dengan Kak Galang. Dan aku rasa Kak Galang menyukainya. Tapi, jiwa kebrengsekkanku sebagai playboy tidak bisa tahan jika aku tidak mendapat apa yang aku inginkan. Aku pun mulai mendekati Sania, dan membuatnya luluh dengan rayuanku. Akhirnya kami jadian, dan kami berhubungan jarak jauh. Aku tidak pernah setia pada Sania, tapi ketika aku melihat ketulusan dan kesabarannya menghadapiku, aku mulai sadar dan luluh, lalu sangat mencintainya. Meski aku masih tetap bermain dengan perempuan lain di klab malam, tapi aku tetap mempertahankan Sania. Hingga akhirnya, Sania tidak tahan lagi dengan sikapku, lalu dia pergi meninggalkanku..." cerita Bian dengan tetap menatap ke depan.
__ADS_1
Sementara Visha, memperhatikan Bian dari samping. Tampak raut penyesalan di wajahnya.
"Aku sangat kacau setelah Sania memutuskan hubungan kami. Dan entah bagaimana mulainya, aku malah membuatmu mengalami hal pahit dalam hidupmu..." lanjut Bian.
"Usahaku selama bertahun-tahun tak pernah membuahkan hasil. Aku selalu sial. Tak seperti Kak Galang yang berhasil membangun bisnisnya. Aku juga pergi ke paranormal untuk menanyakan nasib sialku ini. Dan benar apa kata paranormal itu. Kesialanku adalah karena aku sudah menyakiti hati seorang wanita. Dan aku harus meminta maaf padanya. Awalnya aku pikir, wanita itu adalah Sania. Tapi ternyata aku salah. Aku baru menyadarinya ketika semua sudah terlambat..."
Bian menoleh ke arah Visha yang juga sedang menatapnya. Bian meraih tangan Visha dan menggenggamnya.
"Visha... Maafkan aku... Maaf karena sudah memberikan luka yang amat dalam padamu... Maaf karena aku baru mengatakannya sekarang. Setelah semua kesakitan yang kau rasakan selama bertahun-tahun. Aku... Aku... Benar-benar tidak pantas mendapat maaf darimu. Kau bahkan kembali menerimaku setelah semua kesakitan yang kuberikan padamu..." Bian meneteskan air matanya.
Begitu pula dengan Visha yang begitu tersentuh dengan cerita Bian.
"Terima kasih, karena kau mau menungguku. Terima kasih karena mau menerimaku, pria bodoh dengan segala kebrengsekkannya..."
Visha mulai mengatur nafasnya dan menyeka air matanya.
"Kau tahu... Setelah malam itu... Aku terus menunggumu... Tapi... Tapi kau tak pernah datang. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk berhenti bekerja dan berhenti kuliah. Karena aku mengandung anakmu. Tapi meski begitu, aku senang karena memiliki satu kenangan tentangmu melalui Ali. Aku tahu aku adalah gadis bodoh. Tidak sepantasnya aku mengharapkan seorang pangeran sepertimu untuk melihatku..." tangis Visha kembali pecah.
Bian segera meraih tubuh Visha dan mendekapnya erat. Badan Visha bergetar hebat setelah menceritakan segala kepahitan yang dia alami selama ini. Bian tak kuasa melihat orang yang dicintainya bersedih hingga seperti ini, dan itu karena dirinya.
"Maafkan aku, Visha... Maafkan aku. Hukumlah aku jika memang itu bisa menebus semua dosaku padamu..."
Tangis Visha makin kencang. Bian terus mendekapnya erat. Hingga akhirnya Visha kelelahan menangis, dan tertidur dalam dekapan Bian.
Bian mengecup pelan puncak kepala Visha.
Aku berjanji aku tidak akan meninggalkanmu dan Ali lagi. Aku akan ada disini bersamamu... Kita pasti akan bersama... Kita akan menghadapi ini bersama...
Bian membaringkan Visha dan menyelimuti tubuhnya. Ia menatap wajah Visha yang sembab serta sisa air mata yang mengalir dari sudut matanya. Bian mengelus wajah Visha lembut. Ia hapus air mata yang masih membekas di pipi Visha.
Bian memposisikan diri untuk berbaring di samping Visha dan memeluknya. Visha mengulurkan tangannya dan memeluk Bian. Kemudian mereka pun tertidur sambil terus berpelukan sepanjang malam.
...ššš...
bersambung,,,
.
.
*haloooo, jangan lupa tinggalkan jejak ya gaess š£š karena kalian adalah inspirasiku šš
__ADS_1
...~thank you~...