Labuhan Cinta Sang Playboy

Labuhan Cinta Sang Playboy
Aku Ingin Pulang


__ADS_3

...šŸšŸšŸ...


-Dua Minggu Kemudian-


Karina menemui Galang di kantornya. Ada hal yang ingin dia katakan pada Galang.


"Pak, ada Ibu Karina ingin bertemu bapak," tutur Ari.


"Suruh masuk!" jawab Galang datar.


Karina masuk dan masih berdiri menatap Galang yang masih sibuk dengan pekerjaannya. Karina bingung harus bicara apa karena sikap Galang tak lagi ramah padanya seperti dulu.


"Apa Nak Galang sedang sibuk? Kalau sedang sibuk ibu tidak mau mengganggu. Lain kali saja ibu kemari."


Galang segera menatap Karina yang hendak pergi. "Duduklah, Bu."


Karina berbalik. Dan melihat Galang sudah berdiri di depannya.


"Silahkan duduk, Bu." Galang mempersilahkan Karina duduk di sofa.


"Maaf jika ibu mengganggu Nak Galang."


"Tidak apa. Ada perlu apa ibu datang kemari?" Galang menjawab datar.


"Umm, begini. Ibu... ingin mengembalikan rumah dan mobil yang Nak Galang berikan. Ibu akan mencari rumah yang lebih kecil saja."


Galang menghela nafas. "Tidak perlu begitu, Bu. Saya tidak keberatan ibu masih tinggal disana. Bukankah selama ini ibu masih mencicil? Jika cicilannya lunas rumah itu jadi milik ibu. Begitu juga dengan mobilnya."


"Tapi..."


"Ibu tenang saja. Saya tidak akan membatalkan kerjasama kita. Perusahaan saya dan Brahms Corp akan tetap memakai jasa katering ibu."


"Eh?"


"Itu 'kan yang ibu khawatirkan?"


"Maafkan ibu Nak Galang."


"Tidak perlu merasa tidak enak. Saya adalah orang yang mengutamakan profesionalitas. Jadi, apapun yang terjadi dengan masalah pribadi saya, tidak ada hubungannya dengan bisnis."


"Terima kasih banyak, Nak Galang."


"Jika tidak ada lagi yang ingin ibu bicarakan, silahkan ibu keluar. Saya masih banyak pekerjaan."


"Baiklah. Terima kasih atas waktu Nak Galang."


Karina pun undur diri dan keluar dari ruangan Galang.


Galang mengusap wajahnya. Sebenarnya ia tak tega memperlakukan Karina dingin seperti itu. Tapi hatinya masih terasa sakit dengan semua kebohongan yang disembunyikan Visha dan Karina.


...///...


Visha menemani Ali bermain di halaman rumahnya. Ia tersenyum lega karena putranya sudah pulih dan tubuhnya menerima donor jantung dengan baik. Ia sangat berterimakasih kepada siapapun yang sudah mendonorkan jantung untuk putranya.


Visha menatap langit biru yang masih cerah di sore hari ini. Ia tersenyum memandang awan yang juga seakan tersenyum padanya.


Aku yakin kamu bahagia disana. Tidak ada lagi kesakitan yang akan kita rasakan. Aku akan bahagia disini dengan selalu mengenangmu.


Visha mengelus liontin kalung yang dipakai dilehernya.


Dilihatnya sebuah mobil datang. Itu adalah Karina yang beberapa hari ini sedang pulang kampung ke Semarang.


Visha dan Ali menyambut kedatangan Karina. Mereka tersenyum lebar.


"Nenek..." Teriak Ali dan menghambur ke pelukan Karina.


"Cucu nenek, bagaimana kabarnya? Sudah tidak sakit lagi 'kan?"


"Tidak, Nek. Aku sudah sekuat Hulk."


"Hulk? Sopo kuwi Hulk?" (siapa itu Hulk?"


"Pahlawan super, Nek."

__ADS_1


"Owalah, nenek ya tidak tahu."


Visha menghampiri Karina dan mencium punggung tangan Karina. Visha cukup terkejut karena ternyata Karina tak datang sendiri.


"Ibu... Bapak..." Mata Visha berkaca-kaca melihat kedua orang tuanya datang bersama Karina.


Visha langsung menghambur bersimpuh di kaki kedua orang tuanya.


Tangisan mereka bertiga pecah. Sudah hampir tujuh tahun lamanya Visha tak bertemu dengan orang tuanya.


Ternyata selama dua tahun terakhir, Karina mencari orang tua Visha dan akhirnya berhasil menemukan mereka. Sebenarnya Karina sudah sering membujuk mereka untuk segera menemui Visha. Namun Pak Haryono masih merasa sakit hati dengan sikap Visha yang meninggalkan rumah.


Dan kini, setelah Karina menceritakan tentang ayah cucu mereka yang sudah meninggal, mereka iba dan akhirnya bersedia menemui Visha.


"Ibu turut berduka, Nduk atas kehilangan kamu..." ucap Yanti, ibu Visha yang duduk disebelah Visha.


"Terima kasih, Bu. Mungkin ini hukuman dari Tuhan, karena aku selalu bilang jika suamiku sudah meninggal. Dan kini... dia memang benar-benar sudah tidak ada."


"Jangan bicara begitu, Nduk. Jadi, ini adalah anak kamu?" tunjuk Yanti pada Ali.


"Iya, Bu. Ali, beri salam sama Mbah Kakung dan Mbah Uti." perintah Visha pada Ali.


"Owalah, ganteng tenan iki kowe Le." (Tampan sekali kamu nak)


"Pasti mirip dengan bapaknya ya." Kini Haryono mulai bicara.


Visha mengangguk.


"Umm, Pak, Bu... Kalau boleh, aku ingin pulang."


"Eh?"


"Aku ingin pulang ke rumah." ucap Visha berkaca-kaca.


"Tentu saja, boleh Nduk. Kamu tetap putri ibu." Yanti memeluk putri semata wayangnya itu.


"Bagaimana dengan Ibu Karina? Dia sudah merawatmu selama ini," tambah Haryono.


"Saya tidak apa, Pak. Visha berhak memulai hidupnya yang baru," balas Karina.


"Sama-sama, Pak. Visha sudah seperti putri saya sendiri. Ali juga seperti cucu saya. Kalau kalian kangen, nanti bisa main kemari."


"Ibu...." Visha berganti menghambur ke pelukan Karina. Tidak ada kata yang bisa ia katakan lagi selain banyak terima kasih pada Karina.


.../////...


Malam harinya, keluarga Abraham datang ke rumah Karina bersama Donny. Visha cukup terkejut dengan kedatangan Leon dan Elena ke rumahnya.


"Silahkan masuk, Om, Tante."


"Terima kasih, Visha." balas Leonard ramah. Tak begitu dengan Elena yang masih menatap Visha sinis.


Mereka duduk bersama di ruang tamu. Leonard bingung mengutarakan maksudnya. Kemudian Donny berinisiatif untuk membuka pembicaraan lebih dulu.


"Umm, begini Mbak Visha. Kedatangan kami kesini karena... Ingin bertemu dengan Ali."


"Eh? Ali?"


"Bisakah kami bertemu dengannya?" Tanya Leonard.


"Sebentar, saya panggil dulu."


Visha masuk kedalam kamar memanggil Ali.


Mata Leonard berbinar melihat Ali. Ia langsung menghampiri Ali dan memeluknya. Ada semburat kesedihan dimatanya.


"Mama, Kakek ini siapa?" tanya Ali bingung setelah Leon melepas pelukannya.


"Kakek adalah Kakekmu, Nak. Panggil Opa ya?"


"Opa?" Ali bingung.


"Dan yang disana adalah Oma kamu. Ayo beri salam pada Oma." Leon menggandeng tangan Ali menghampiri Elena.

__ADS_1


"Oma?" sapa Ali.


"Lihat dia, Ma. Dia sangat mirip dengan Rocky saat kecil."


Visha berkaca-kaca mendengar kalimat Leonard.


Beberapa menit kemudian, ruang tamu makin penuh karena kedua orang tua Visha juga ikut bergabung.


"Begini, Pak, Bu. Kedatangan kami kesini, karena ingin membawa Visha dan Ali ke rumah kami. Bagaimana pun juga, Ali juga cucu kami, dan Visha menantu kami."


"Tapi, maaf. Bukankah Visha dan Rocky belum pernah menikah?" tutur Haryono.


"Eh, itu... Memang benar. Tapi..." suara Leonard terhenti karena ia bingung harus berkata apa lagi.


"Saya serahkan semua pada Visha. Dia yang akan menjalani hidupnya. Saya berterimakasih karena bapak sekeluarga mau bertanggung jawab meski putra bapak sudah tiada."


"Bagaimana Visha? Saya akan menanggung semua biaya kamu dan Ali. Maaf karena selama ini kami tidak pernah tahu tentang kalian." lanjut Leonard.


"Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih karena Om dan Tante bersedia menerima Ali sebagai cucu. Tapi, maaf... Saya tidak bisa tinggal bersama kalian. Saya...akan pulang ke rumah orang tua saya."


"Oh, begitu. Tapi... tetap ijinkan saya untuk membiayai kebutuhan Ali. Bagaimana pun dia adalah cucu kami."


"Kalau masalah itu... Itu terserah Om saja. Saya tidak akan menolak."


"Terima kasih, Visha."


.../////...


"Kenapa Mama hanya diam saja tadi? Harusnya Mama ikut membujuk Visha agar ikut tinggal di rumah kita."


"Apa maksud Papa? Mama tidak akan sudi tinggal bersama pembunuh Rocky."


"Ma, Visha bukan pembunuh. Ini semua sudah jalan dari Tuhan. Dan Rocky masih hidup, Ma."


"Eh?"


"Bukankah jantung Ali adalah jantung Rocky? Itu artinya ada sebagian jiwa Rocky yang hidup dalam tubuh Ali."


Elena memalingkan wajah. Ia masih enggan menerima Ali sebagai cucunya.


"Tuhan mengirim Ali sebagai pengganti Rocky. Lihat saja wajahnya, sangat mirip dengan Rocky."


"Bisa saja wanita itu hanya menginginkan uang kita, Pa."


"Tidak, Ma. Jika Visha hanya ingin uang, sejak dulu dia sudah memeras kita 'kan? Tapi tidak dia lakukan. Dia merawat Ali seorang diri. Bahkan Rocky tidak tahu jika Ali adalah anaknya."


Elena menghela nafas. Semua ucapan suaminya adalah benar.


"Tapi mereka akan pindah ke rumah orang tua Visha, Pa."


"Tidak masalah. Kita masih bisa mengunjungi mereka jika ingin bertemu Ali."


"Pa..." Elena memeluk Leonard. "Kenapa semuanya jadi begini?" Elena kembali menangis.


Galang yang sedari tadi mendengar percakapan Mama dan Papanya hanya terdiam. Entah apa yang dia pikirkan. Ia berjalan menuju teras belakang dan menghubungi seseorang.


"Halo, sudah tahu dimana posisi mereka?"


"Sudah, Pak."


"Dimana mereka?"


"Mereka ada di Surabaya, Pak."


"Baiklah, awasi mereka dengan baik."


Telepon di tutup.


...šŸšŸšŸ...


bersambung lagi,,,


Silahkan tinggalkan jejak kalian šŸ‘£šŸ‘£ (like, komen, vote, etc) 😘😘😘

__ADS_1


thank U


__ADS_2