Labuhan Cinta Sang Playboy

Labuhan Cinta Sang Playboy
S2 - Istri Sah vs Istri Palsu


__ADS_3

*Waduh, dilihat dari judulnya, sepertinya akan terjadi sebuah ketegangan nih. Jangan lupa kasih like nya yak setelah baca, hehe.


...*Happy Reading*...


...šŸšŸšŸ...


Pagi itu, Visha membuka mata dan merasa jika ada sesuatu yang berat menindih tubuhnya. Visha memutar tubuhnya dan melihat Bian memeluknya sangat erat dalam tidurnya. Bau alkohol masih tercium jelas dari tubuh Bian.


Visha menepis tangan dan kaki Bian yang memeluknya bagai memeluk guling.


"Jadi semalam kau mabuk, huh?! Dasar pria!!! Selalu saja alkohol yang jadi pelampiasan ketika marah." Gerutu Visha namun tak didengar oleh Bian yang masih terlelap.


Visha segera membersihkan diri lalu menuju dapur. Apartemen mewah ini sudah banyak berubah. Sepertinya pihak pengelola memang sengaja mengubah beberapa detail dengan menambah kesan kemewahan didalamnya. Tak heran saat Bian membeli kembali apartemen ini, harganya memang sangat mahal.


Pagi ini, Visha memasak sesuatu yang simpel saja. Nasi putih, sayur capjay, lalu telor ceplok dan susu sapi murni untuk menambah semangat Bian dalam bekerja. Ia juga membuatkan bekal makan siang untuk Bian, karena ia tak mau jika Sania yang melakukannya lagi.


Meski hatinya masih kesal dengan Bian, namun ia tetap memberi perhatian padanya. Kali ini Visha mulai takut jika Bian kembali menaruh hati pada mantan kekasihnya itu.


Saat Visha masih berkutat di dapur, Bian keluar dari kamar dalam keadaan sudah rapi dengan memakai kemeja warna soft blue dan celana kain hitam. Ia sengaja belum memakai dasinya karena ia ingin Visha yang memakaikannya.


Bian memeluk pinggang istrinya yang sedang menata makanan di atas meja makan.


"Hmmm, baunya harum sekali sayang..."


Visha diam dan tak menanggapi Bian.


"Sayang, kau bawakan bekal untukku? Terima kasih, ya." Bian mengecup sekilas pipi Visha. Namun Visha masih diam.


Bian meraih kedua bahu Visha, dan menatapnya dalam.


"Sayang... Berhentilah mendiamkanku, aku tidak tahan melihatmu marah..." Bian memohon dengan wajah memelasnya.


Visha menghela nafas kasar. "Kau sudah sadar, huh?! Berapa banyak yang kau minum semalam?"


"Sayang... Maafkan aku. Aku khilap!"


"Sudahlah. Jangan meminta maaf terus. Aku tidak perlu kata maaf darimu, tapi aku butuh bukti!"


"Baiklah, akan aku buktikan padamu!" Bian mengecup kening Visha lama.


"Sudah, ayo makan! Aku lapar!" ketus Visha sambil mendorong tubuh Bian.


Selesai sarapan, Bian mengambil dasinya dan dengan manja meminta Visha memakaikannya.


Visha memutar bola matanya malas. Namun tatapan puppy face ala Bian selalu bisa membuat Visha luluh.


"Hmm, kemarilah..." Visha memakaikan dasi ke kerah kemeja Bian. Namun Bian malah mencuri-curi kesempatan untuk mencium Visha.


"Berhentilah bermain-main dan diamlah! Aku tidak bisa memakaikan dasi jika kau terus berulah!"


Bian malah terkekeh melihat kemarahan Visha.


Setelah selesai memakai dasi, Bian menarik tubuh Visha mendekat. Dengan cepat ia meraih bibir Visha dan menyesapnya pelan.

__ADS_1


Entah bagaimana dimulainya, Bian yang sudah berpakaian rapi, tiba-tiba melucuti pakaiannya kembali dan tak lupa pakaian istrinya juga.


Matahari yang mulai menghangat, masih kalah panas dengan adegan pagi ini di kamar apartemen Bian.


Visha memukul dada Bian pelan kala pergulatan mereka telah berakhir. "Kau benar-benar ya, Mas. Bukannya ke kantor malah..."


"Haha, aku akan menelepon Reza dan bilang kalau aku akan datang terlambat." Bian memeluk tubuh Visha yang polos makin erat.


"Kau ini!"


"Sayang, kita buatkan adik untuk Ali ya?"


"Iiihh, mas apaan sih? Memangnya sejak menikah kita tidak berusaha untuk itu?"


Bian kembali tertawa. "Kau benar juga. Kalau begitu, kita akan mencobanya setiap hari, bagaimana?"


"Mas! Apaan sih? Buat anak kok coba-coba!"


Bian tertawa makin keras karena menurutnya kalimat Visha sangatlah lucu.


"Jadi, sudah tidak marah lagi 'kan?" Bian mencoba menggoda Visha.


Visha hanya menunduk malu. Ia memang lemah jika sudah mendapat sentuhan dari Bian.


Maka seperti biasa, pertengkaran mereka berakhir di atas ranjang dan akhirnya selesai dengan kata berbaikan.


.


.


.


Reza akhirnya memberitahu Sania jika Bian akan datang terlambat. Sania mulai resah karena tak biasanya Bian datang terlambat ke kantor.


Reza yang tahu dimana Bian berada sekarang, hanya diam dan tak mau mencampuri urusan bosnya itu.


Karena kesal, Sania memutuskan untuk pergi dari kantor Bian. Ia melangkah dengan kesal.


Apa jangan-jangan yang Galang ucapkan itu benar? Jika Visha sudah ada disini, dan sekarang mereka sedang bersama?


Sania menggeleng cepat.


Tidak mungkin jika Bian sudah mengingat masa lalunya! Aku tidak akan tinggal diam jika Visha kembali masuk ke kehidupan Rocky!


Sania menginjak pedal gas mobilnya dan melaju menuju apartemen Rocky. Hatinya bergemuruh tak tenang jika memang semua yang Galang katakan benar.


Aku tidak akan kehilanganmu lagi, Rocky. Aku sudah sejauh ini melangkah, aku tidak akan menyerah!!


Sania tiba di apartemen Prince Town dan menunggu di lobi bawah. Ia masih ingat nomor kamar Rocky yang dulu. Ia membayar seorang cleaning service agar memberi pesan ke kamar nomor 2001.


Jika dugaannya benar dan Visha tinggal disana, maka ia akan menemui Visha di lobi bawah dan akan mempermalukan Visha di depan semua orang disana.


Visha yang baru selesai membersihkan diri, membuka pintu kamarnya dan mendapati seorang pemuda memberinya sebuah kertas yang bertuliskan sebuah pesan.

__ADS_1


"Apa ini? Siapa yang sudah mengerjaiku seperti ini?" Visha berdecak kesal namun ia juga penasaran dengan siapa pengirim pesan itu.


Visha lalu turun ke lantai bawah dan celingukan mencari keberadaan orang yang kemungkinan sudah mengiriminya pesan.


"Jadi benar jika kau tinggal disini?"


Sania tiba-tiba muncul di depan Visha dan membuat Visha terkejut.


"Sania?! Jadi kau yang mengirim pesan itu padaku?"


"Benar sekali. Dan ternyata memang benar, wanita simpanan suamiku tinggal di apartemen mewah ini!"


"Hei, jaga bicaramu!!! Aku bukan wanita simpanan!!"


"Oh ya? Lantas apa? Pelakor? Istri simpanan? Semuanya sama saja!"


Orang-orang mulai melihat ke arah mereka yang nampak sedang berdebat.


Visha tak bisa membela diri. Karena meski ia adalah istri yang sah, tapi dimata publik, Sania lah istri sah Bian.


Bagaimana ini? Aku harus segera pergi dari sini sebelum Sania makin menjadi.


Visha melangkahkan kakinya, namun lengannya langsung di cekal oleh Sania.


"Mau pergi kemana kau, wanita simpanan!" Sania berteriak dengan kencang sehingga beberapa mata tertuju pada mereka.


"Sania, lepaskan! Sudah kubilang aku bukan wanita simpanan!" Visha berusaha melunak dan memohon. Mungkin saja Sania masih punya hati dan mau melepaskannya.


"Melepasmu?! Yang benar saja! Aku akan memberimu pelajaran lebih dulu baru aku akan melepasmu!"


Sania hendak melayangkan tangannya ke wajah Visha, namun sebuah tangan berhasil mencegahnya.


"Hentikan! Kau benar-benar keterlaluan!"


Visha yang sudah menutup matanya segera membuka mata dan melihat Galang memegangi tangan Sania.


"Mas Galang!" seru Visha.


Galang segera menjatuhkan tangan Sania kasar. Lalu dengan cepat meraih tubuh Visha dan dibawanya pergi dari lobi apartemen.


Sania berdecak kesal melihat kedatangan Galang yang tiba-tiba dan menolong Visha.


Sial!!! Dari mana Galang tahu jika aku akan mencelakai Visha?! Awas kau, Visha! Lain kali kau tidak akan bisa lolos dariku!


...šŸšŸšŸ...


#bersambung,,,


Hai hai šŸ‘‹šŸ‘‹ jangan lupa mampir juga ke story author yg lain ya, ada "The Broken Leaf" yg masih ongoing dan "99 Cinta Untukmu" yg sudah tamat šŸ˜˜šŸ™


*Jangan lupa tinggalkan jejak kalian utk Bian dan Visha (Bisha 😬😬) Karena kalian adalah semangatku šŸ˜ššŸ˜ššŸ’ŖšŸ’Ŗ


...~Thank You~...

__ADS_1


__ADS_2