Labuhan Cinta Sang Playboy

Labuhan Cinta Sang Playboy
S2 - Aku Ingat Semuanya!


__ADS_3

...šŸšŸšŸ...


Bian tak lagi mampu menahan bobot tubuhnya yang mulai terhuyung dan berjalan sempoyongan. Bian akhirnya ambruk ke lantai tanpa ada seorang pun yang mengetahuinya.


Tubuh Bian terbujur kaku di atas lantai selama beberapa lama. Tak ada pergerakan dari tubuh Bian hingga akhirnya perlahan matanya mulai terbuka.


Bian masih dengan posisinya yang jatuh di lantai, namun matanya menatap tajam ke depan. Ia seperti terbangun dari mimpi panjangnya.


"Visha!!!" Pekik Bian kala mengingat isi tulisan Zayn di sosial medianya.


Bian bangkit dari posisinya dan berdiri menyeimbangkan tubuhnya. Dilihatnya ponselnya telah hancur akibat ulahnya.


Ia memegangi kepalanya yang masih sedikit berdengung. Beberapa memori datang menghampirinya.


"Visha!! Aku ingat! Aku ingat semuanya, Visha!!! Aku adalah Rocky..."


Bian berlari ke luar vila dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia akan pergi ke tempat Visha.


Dengan perasaan kesal bercampur sedih, ia terus memukul kemudi yang tidak bersalah.


Bian menuju bandara. Ia berlari ke tempat pemesanan tiket.


"Untuk ke Semarang sudah tidak ada jadwal penerbangan lagi, Pak. Besok pagi baru akan ada lagi." Jelas penjaga loket.


"Begitu ya..."


Bian melangkah pergi dengan tak berdaya. Ia memandangi dirinya di pantulan kaca. ia memegangi wajahnya.


"Ini... Adalah aku? Bagaimana bisa wajahku berubah? Siapa pemilik wajahku ini? Apa benar bernama Biantara?" gumam Bian dalam hati.


"Visha tidak akan mengakuiku sebagai Rocky... Dia tidak akan percaya denganku. Aku harus bagaimana? Siapa yang sudah melakukan semua ini padaku dan juga Visha..." Bian mengepalkan tangannya kuat.


Ia kembali melajukan mobilnya. Ia akan memikirkan cara agar dirinya bisa kembali menjadi Rocky.


Dan ingatannya kembali mengingat tentang Visha. Ia menghentikan mobilnya ke tepi jalan. Ia tidak akan gegabah seperti dulu. Ia ingat jika di malam itu ia mengalami kecelakaan ketika akan menemui Visha.


Air matanya tiba-tiba mengalir. Berkat Visha ia mulai mengingat semua kepingan memori itu. Namun setelah mengingat semuanya... Semua hal seakan semu.


"Aku adalah Biantara... Siapa yang sudah melakukan ini padaku? Sania? Tidak mungkin dia melakukan ini!!" gumam Bian.


Bian kembali melajukan mobilnya ke arah rumahnya. Ia harus memastikan banyak hal. Suasana rumah sudah sepi karena ia pulang hampir tengah malam.


Bian menuju ke kamarnya dimana Sania sudah terlelap di tempat tidur mereka. Selama ini, Bian tak merasakan apapun pada Sania meski mereka adalah pasangan suami istri.


Dipandanginya wajah Sania yang terpejam.


Apa kau tahu siapa aku sebenarnya, Sania? Jika kau tahu, itu berarti kau yang merencanakan semua ini. Tapi kenapa, Sania? Kenapa kau setega itu padaku? Dan Visha... Dia menganggapku sudah mati. Tega sekali kau, Sania!!!


Bian alias Rocky mengepalkan tangannya tak percaya. Ia tak bisa tidur seranjang dengan Sania lagi. Ia memilih untuk pergi ke ruang kerjanya.


Pikirannya benar-benar tak bisa fokus saat ini.


Apa yang harus kulakukan lebih dulu? Bagaimana membuatku kembali ke posisiku semula?

__ADS_1


Bian mengacak rambutnya frustasi. Ia merebahkan tubuhnya di sofa empuk di ruang kerjanya.


Sebaiknya aku istirahat. Aku tidak bisa berfikir jika begini. Saat ini aku hanya... memikirkan Visha saja...


Bian memejamkan matanya. Tanpa terasa buliran bening mengalir dari sudut matanya. Ia ingin berteriak sekencangnya dan menantang dunia.


...~~~~...


Keesokan paginya, Bian bangun dari tidurnya dan segera membersihkan diri kemudian turun ke meja makan untuk sarapan bersama Alisa dan Sania.


"Bee, kau tertidur di ruang kerjamu ya semalam. Sudah kubilang jangan terlalu memaksakan diri. Kau harus banyak beristirahat," ucap Sania panjang lebar.


Bian hanya terdiam dan tak menanggapi ucapan Sania. Ia terus memandangi wanita yang selama setahun ini menemaninya. Ya, baru setahun Bian bersama Sania. Namun Sania bilang, jika mereka sudah bersama selama tiga tahun.


Entah dimana semua memori itu. Ia benar-benar tak mengingatnya.


Bian melirik ke arah Alisa. Gadis kecil yang cantik berusia sekitar tiga tahun itu kini menjadi perhatian Bian.


Apa benar Alisa adalah putriku? Sania, apa kau benar-benar tidak tahu jika aku adalah Rocky? Bagaimana semua ini bermula? Aku harus bertanya pada siapa?


"Bee, kenapa diam saja? Apa kau sakit?"


"Tidak, aku baik-baik saja. Mungkin aku hanya kelelahan saja."


Bian lalu menyantap sarapan yang sudah Sania ambilkan untuknya.


.


.


.


Apa aku bertanya pada Reza saja? Apa dia tahu sesuatu?"


"Reza..."


"Iya, Pak."


"Sudah berapa lama kau bekerja padaku?"


"Eh? Sudah sekitar satu tahun ini. Sejak bapak dan Ibu Sania masih tinggal di Surabaya."


"Bagaimana kau mengenalku?"


"Umm, saat itu saya mendapat informasi jika Adiguna Grup membutuhkan seorang asisten untuk CEOnya. Lalu saya melamar. Namun saat itu kondisi bapak masih melakukan terapi di rumah sakit. Karena bapak baru tersadar setelah koma dari kecelakaan."


Ah iya, benar. Aku mengalami koma setelah mengalami kecelakaan.


"Apa kau tahu berapa lama aku koma?"


"Eh? Setahu saya sekitar dua tahun, Pak. Kenapa bapak tiba-tiba menanyakan ini?"


"Tidak ada apa-apa. Oh ya, apa saja jadwalku hari ini?"

__ADS_1


"Oh, ini Pak." Reza menyerahkan selembar kertas pada Bian.


.


.


.


Sore hari itu, Bian mendatangi klinik dokter Fahri. Ia menceritakan jika ia sudah mengingat semua memori yang hilang di masa lalunya.


"Jadi, bapak benar sudah mengingat semuanya?" tanya dokter Fahri.


"Iya, Dok. Tapi yang saya tidak mengerti adalah... kenapa wajah saya berubah? Ini bukanlah wajah saya di masa lalu. Pantas saja tak ada yang mengenali saya, termasuk wanita yang saya cintai." Bian menunduk lemas.


"Pasti ada sesuatu yang bisa menjelaskan semua ini. Sebaiknya bapak melakukan beberapa tes untuk membuktikan jika bapak memang adalah orang yang sama dengan orang yang dinyatakan meninggal beberapa tahun lalu."


Bian mengangguk paham. Ia melakukan beberapa tes DNA. Termasuk juga tes untuk meyakinkan dirinya jika Alisa adalah putrinya atau bukan.


Butuh waktu untuk bisa mendapatkan semua hasil tes yang sudah dilakukan Bian.


Pikirannya sekarang hanya ingin pergi ke rumah orang tuanya. Dilihatnya Elena dan Leonard sedang bercengkerama di teras depan rumah. Mereka nampak bahagia.


Bian tersenyum haru melihat kedua orang tuanya dalam keadaan baik-baik saja.


Bian kemudian melajukan mobilnya menuju ke apartemen yang dulu di tempatinya. Tempat itu sudah kosong dan sedang mencari pembeli.


Tanpa pikir panjang, Bian membeli kembali apartemen itu. Ia memasuki kamar yang penuh kenangan itu.


Ia tak berhenti menangis haru kala mengingat di tempat inilah ia menyatakan perasaannya pada Visha lewat sebuah ciuman.


Ia tak akan pernah lupa jika Visha juga mencintainya. Lalu ia ingat jika ia meninggalkan kalung hadiah untuk Visha di meja kerjanya, yang ternyata kalung itu kini telah kembali kepada pemiliknya.


Sampai sekarang Visha masih memakai kalung itu.


Itu berarti dia... masih mencintaiku. Visha tidak pernah melupakanku. Dia selalu mencintaiku... Cintanya telah menuntunku untuk kembali padanya.


Visha, tunggulah sebentar lagi. Aku akan kembali padamu. Kita... akan kembali bersama.


.


.


...šŸšŸšŸ...


Bersambung,,,


.


.


*ada yg ingin kalian katakan? 😨😨


*jangan lupa tekan jempol ya, karena itu adalah semangat untukku 😚😚

__ADS_1


...*terima kasih*...


...šŸ’ŸšŸ’ŸšŸ’Ÿ...


__ADS_2