
...ššš...
Rapat pagi itu akhirnya ditunda, karena klien sekaligus teman lama Zayn ambruk di tengah jalannya presentasi yang dibawakan Visha.
Bian tak sadarkan diri. Ia segera di bawa ke rumah sakit terdekat. Visha bingung dengan situasi yang terjadi.
Zayn memintanya untuk menunggu dikantor saja sementara dia dan asisten Bian akan membawanya ke rumah sakit.
Dan Visha baru menyadari jika asisten Bian adalah Reza. Mantan kekasihnya dulu. Visha menghela nafas. Betapa dunia begitu sempit.
Lala menghampiri Visha yang nampak frustasi.
"Sha, Pak Bian kenapa?"
"Aku juga tidak tahu. Dia tiba-tiba mengeluh sakit kepala dan menutupi telinganya lalu dia pingsan. Aku juga takut dia pingsan gara-gara aku."
"Heh? Kok bisa?"
"Entahlah. Aku ingin ke kantin dulu." Visha meninggalkan Lala dan pergi ke kantin.
Visha memesan es teh manis. Agar pikirannya tenang. Ia takut jika disalahkan oleh pihak klien karena sudah membuat kliennya celaka.
Tak lama, Visha mendapat pesan dari Zayn jika Bian sudah dibawa ke hotel tempatnya menginap.
Visha merasa harus meminta maaf pada Bian. Sore itu usai selesai bekerja, Visha mendatangi hotel tempat Bian menginap.
Visha masih bimbang bagaimana caranya meminta maaf. Akhirnya ia hanya duduk di lobi hotel dengan masih memikirkan cara yang baik untuk meminta maaf.
"Visha...!!!" Sebuah suara memanggil namanya.
"Reza?" gumam Visha.
Reza menghampiri Visha.
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Reza.
"Bagaimana keadaan Pak Bian?"
"Jadi kamu kesini untuk menanyakan itu?"
Visha mengangguk.
"Pak Bian sudah baik-baik saja. Dia menolak untuk ke rumah sakit."
"Huft! Syukurlah. Aku sangat takut. Aku kira terjadi sesuatu dengannya. Kenapa dia bisa berteriak histeris begitu? Apa karena mendengar suaraku ya?"
Reza terkekeh. "Lama tidak berjumpa, Visha..."
"Eh?"
"Kamu tidak menyadari keberadaanku karena terlalu fokus. Padahal tadi pagi aku menyimak presentasimu yang sangat bagus itu."
Visha mulai salah tingkah. Ia baru sadar jika sudah sangat lama sekali mereka tidak bertemu.
"Kamu tenang saja. Pak Bian sering mengalami sakit kepala. Jadi itu bukan karena dirimu."
"Benarkah?"
"Tiga tahun lalu dia pernah mengalami kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya."
"Ya Tuhan, mengerikan sekali."
"Sebaiknya kamu pulang saja. Pak Bian juga sedang beristirahat. Dia tidak akan mau diganggu."
"Begitu ya. Ya sudah, kalau begitu aku akan pulang." Visha segera melangkah keluar dari hotel itu.
"Oh ya, untuk presentasimu dilanjut besok pagi."
"Hah? Berarti aku tidak bisa pulang. Ini 'kan akhir pekan."
"Memang sekarang kau tinggal dimana?"
"Aku sudah bersama orang tuaku di Pekalongan. Tapi aku disini tinggal di rumah kos."
__ADS_1
"Syukurlah kamu baik-baik saja, Visha."
"Heh?"
"Aku merasa sangat bersalah padamu sejak kejadian itu..."
Visha memalingkan wajah.
"Bagaimana kabar Diva? Maaf ya aku tidak datang di pernikahan kalian berdua." tanya Visha berbasa-basi.
"Aku tidak tahu bagaimana kabarnya. Kami sudah berpisah sejak dua tahun lalu."
"Sorry..."
"Never mind. Mungkin ini balasan untukku."
"Kamu sendiri bagaimana? Kamu... sudah menikah?" tanya Reza.
Belum sempat Visha menjawab, ponselnya berbunyi. Sebuah panggilan video dari Ali.
"Mama...." teriak Ali di seberang.
"Hai, sayang..."
"Mama hari ini jadi pulang?"
"Maaf sayang, mama belum bisa pulang. Masih ada pekerjaan besok pagi. Maaf ya sayang..."
"Halo... nama kamu siapa?" Reza ikut berbincang dengan Ali.
"Halo, Om. Om teman mama ya? Namaku Ali, Om."
"Wah, kamu pintar sekali. Iya, om temannya mama kamu, panggil saja Om Reza."
"Sayang, mama janji besok mama belikan kamu oleh-oleh deh."
"Benar ya ma? Janji?"
"Iya, ma. Mama hati-hati ya disana. Om Reza tolong jaga mamaku ya."
"Siap, sayang. Pasti Om Reza jaga."
TUT. panggilan video berakhir.
Visha menatap Reza tajam.
"Kenapa? Aku hanya ingin berkenalan dengan anakmu. Berapa usianya? Sepertinya dia sudah besar."
"Sembilan tahun." jawab Visha singkat.
"Oh ya? Jadi kau langsung menikah setelah kita putus?"
"Sebaiknya aku pulang." Visha kembali melangkahkan kakinya. Ia tak mau Reza terus bertanya tentang masa lalunya.
"Kamu bawa mobil?" Reza masih belum menyerah.
"Tidak. Aku tidak bisa menyetir mobil. Aku akan naik ojek saja."
"Kalau begitu aku antarkan saja."
Kembali Visha memberikan tatapan tak suka pada Reza.
"Baiklah. Sampai ketemu besok."
Reza melambaikan tangan dan berbalik badan.
Visha membuka ponselnya dan memesan ojol. Ia geleng-geleng kepala dengan kejadian hari ini.
Tanpa Visha ketahui, ada sepasang mata yang lagi-lagi mengawasinya dari jauh dari dalam balkon hotel.
"Siapa dia? Kenapa kepalaku mendadak berdengung kencang ketika mendengar suaranya? Apa aku pernah mengenalnya?" batin Biantara.
...~~~~...
__ADS_1
Keesokan harinya, Visha bersiap kembali untuk melakukan presentasi. Semoga saja kejadian kemarin tidak terulang.
Dan hari ini, sebagai tanda permintaan maaf, pihak Zayn Building menyiapkan acara makan siang dengan pihak Adiguna Grup.
Reza nampak sedang berbincang dengan para petugas katering untuk acara makan siang nanti.
Visha penasaran dengan apa yang dibicarakan Reza.
Apa sebegitu pentingnya Biantara hingga Reza harus sangat berhati-hati dengan makanan yang akan dimakan Biantara. Batin Visha.
"Pak Bian sangat menyukai menu gulai ikan kakap. Iya benar. Taruh di tempat yang paling depan. Lalu, apa isi salad buah ini? Apa ada buah pisang di dalamnya?"
"Tidak ada, Pak." jawab petugas katering.
"Kamu yakin?"
"Iya, Pak."
"Jauhkan buah pisang dari sini. Karena Pak Bian alergi dengan itu."
"Baik, Pak."
"Saya harap tidak ada kesalahan untuk menu makan siang hari ini. Terima kasih atas kerja keras kalian. Saya permisi."
Sayup-sayup petugas katering menggerutu karena Reza banyak sekali meminta ini dan itu.
Visha yang sedari tadi menguping pembicaraan Reza, merasa jika apa yang Reza jelaskan tadi mengingatkannya kepada seseorang.
"Ini seperti... mengingatkanku padanya..." Visha segera menggeleng cepat. "Tidak! Ini pasti hanya kebetulan saja."
.
.
.
Sudah lima belas menit berlalu sejak Visha menjelaskan tentang konsep yang ia buat tentang pembangunan kantor cabang baru milik Adiguna Grup di depan klien dan juga Zayn.
Zayn tersenyum bangga pada Visha. Vishapun sangat percaya diri jika Biantara pasti menyukai konsep yang ia buat. Namun bukan itu yang membuat Visha mulai berkeringat dingin saat ini.
Tatapan Biantara yang seakan tak mau lepas pada dirinya membuat Visha canggung dan salah tingkah.
Zayn pun menyadari tatapan aneh yang diberikan Bian pada karyawannya itu.
Namun Visha tetap berusaha profesional didepan kliennya. Beruntung Reza tidak ikut rapat dan hanya menunggu di luar. Visha pasti akan bertambah canggung karena ada tiga pria yang menatapnya seolah akan memakannya.
Hingga presentasi Visha selesai dalam empat puluh lima menit, mata Bian tak juga lepas dari sosok Visha. Ia pun segera ijin untuk undur diri setelah rapat selesai.
Zayn yang melihat pemandangan itu akhirnya menegur Bian.
"Ada apa denganmu? Kenapa menatap karyawanku seperti itu?"
"Entahlah...." jawab Bian.
Zayn menggeleng. "Inilah jika seorang suami pergi tanpa ditemani istrinya. Kamu berada di masa krisis, kawan. Setelah makan siang, sebaiknya kamu langsung pulang ke Jakarta, dan temui istrimu sepuasnya."
Zayn menepuk bahu Bian sebelum ia keluar dari ruang rapat.
Sementara Bian hanya terdiam dan mengusap wajahnya.
...ššš...
bersambung,,,,,
.
.
...jangan lupa tinggalkan jejak kalian š£š£(like. komen + favorit)...
...thank you...
...ššš...
__ADS_1