
Dua hari kemudian,
Navisha kembali menemui Dokter Diana di kliniknya dengan membawa sebuah buku harian. Ia mengikuti nasehat yang dikatakan oleh Dokter Diana.
Visha duduk berhadapan dengan Dokter Diana.
"Bagaimana kabarmu, Visha?"
"Saya baik, Dok. Ini..." Visha menyerahkan buku hariannya diatas meja.
"Jadi kau sudah menulisnya?"
"Iya."
"Boleh saya membacanya?"
"Boleh."
Dokter Diana mengambil buku harian Visha dan membaca lembar demi lembar tulisan Visha.
"Ternyata kau sudah banyak menulisnya. Bagaimana perasaanmu? Lebih tenang bukan setelah menuliskannya?"
"Iya, Dok."
"Saya boleh menanyakan sesuatu?"
"Tentu saja."
"Bagaimana kabar kedua orang tuamu?"
Raut wajah Visha berubah muram.
"Saya tidak tahu." jawab Visha dengan menunduk.
"Kau tidak ingin mendengar kabar dari mereka?"
Visha terdiam cukup lama.
"Tidak apa. Ceritakan perlahan saja."
"Sudah enam tahun berlalu, mungkin mereka menganggap saya sudah mati."
"Bagaimana jika mereka ternyata mencarimu?"
"Tidak mungkin."
"Kenapa?"
"Karena saya adalah anak durhaka. Saya pergi dari rumah. Saya meninggalkan mereka. Mereka pasti membenci saya."
"Jika Tuhan saja selalu memaafkan hambaNya, kenapa orang tuamu tidak bisa memaafkanmu?"
"............."
Dokter Diana menggenggam tangan Visha. "Jangan takut! Saya akan selalu ada bersamamu. Saya akan membantumu."
Visha hanya membalas dengan seulas senyum.
...***...
Kantor RAB Cons,
"Ada tawaran proyek baru, Pak. Ini berkas-berkasnya."
"Terima kasih, Eman. Bagaimana menurutmu?"
"Bapak meminta pendapat saya?"
"Tentu saja. Kamu adalah marketingnya, saya butuh masukan dari kamu."
"Menurut saya ini proyek yang bagus. Meski hanya skala kecil. Tapi kita bisa menunjukkan kemampuan kita disini."
"Baiklah. Saya akan tinjau ulang, dan akan saya kabari lagi. Kamu boleh keluar."
"Terima kasih, Pak. Saya permisi."
__ADS_1
Sepeninggal Eman, Rocky membaca berkas-berkas yang ada di mejanya. Ia tersenyum kecil karena akhirnya usahanya mulai menunjukkan hasil.
Tok tok tok,
"Masuk!"
"Bos!" Donny menghampiri Rocky dan duduk di hadapannya.
"Ada kabar baru?"
"Iya, Bos. Saya sudah dapat informasi tentang Navisha."
Rocky terperanjat dan menatap Donny tajam. "Benarkah? Apa saja yang kau dapat tentang dia?"
"Semoga Bos tidak terkejut mendengarnya."
"Ish, kau membuatku makin penasaran saja. Cepat katakan!"
"Navisha----dia---dia pernah bekerja di kelab Miracle."
Rocky tak percaya dengan yang dia dengar. "Apa katamu? Kelab Miracle? Dia pernah bekerja disana? Kau yakin?"
"Iya, Bos. Sangat yakin. Informan saya adalah yang terbaik. Omong-omong, Miracle adalah kelab malam favorit Bos, bukan? Apa bos pernah bertemu dengannya saat berkunjung kesana?"
Rocky berpikir sejenak. Dia sudah lama tidak datang ke kelab malam manapun. "Entahlah. Kapan dia bekerja di kelab itu?"
"Sudah sekitar enam tahun lalu. Menurut info, dia tiba-tiba menghilang dan tak pernah kembali lagi kesana."
"Ya sudah. Kau boleh keluar!"
"Saya permisi, Bos!" Donny menunduk dan melangkah keluar dari ruang kerja Rocky.
...***...
Visha mengirim makanan seperti biasa. Ketika sampai di lantai 13, hatinya mulai cemas. Ia masih mendapat tatapan tak enak dari Rocky. Dan hari inipun, ia yakin jika dirinya akan mendapat tatapan yang sama lagi.
Para karyawan RAB Cons sangat antusias menyambut kedatangan Visha. Mereka menghampiri Visha dan bertanya beberapa hal padanya.
Visha melihat Rocky keluar dari ruang kerjanya. Ia berjalan menghampiri Visha. Bukan! Rocky tidak menghampirinya. Ia hanya berjalan melewati Visha dan menuju keluar kantor.
"Ini? Ini milik Pak Rocky." ucap Visha sambil membawa kotak nasi milik Rocky.
"Berikan padaku! Biar aku yang memberikannya pada Bos Rocky." balas Donny.
"Kalau begitu, saya permisi dulu."
Visha mendorong troli kosongnya keluar kantor RAB Cons. Donny menatap ke arah Visha yang berjalan semakin jauh.
Bagaimana bisa wanita lembut seperti dia pernah bekerja di kelab malam? Batin Donny.
Ah, sudahlah. Itu adalah urusan Bos Rocky, aku tidak perlu ikut campur.
.
.
.
Visha keluar dari dalam lift dan menuju tempat parkir. Saat ia akan menuju ke mobil milik Karina Catering, seseorang membekap mulutnya dan membawanya ke suatu tempat.
Visha tak sempat berteriak karena tubuh yang membekapnya lebih besar dari tubuhnya.
Orang itu membawa Visha ke ruang pantry di lantai basement.
"Jangan berteriak!" bisik orang itu ke telinga Visha.
Visha menganggukkan kepala dan orang itu melepas tangannya dari mulut Visha.
Betapa terkejutnya Visha saat tahu siapa orang yang membekapnya tadi.
"Pak Rocky? Kenapa bapak membawa saya kemari?" tanya Visha.
"Saya tidak mau berbasa-basi denganmu, jadi saya akan langsung pada intinya. Apa sebenarnya tujuanmu mendekati Kak Galang?"
"Apa? Tujuan? Tujuan apa maksud bapak?"
__ADS_1
"Tidak perlu berpura-pura lagi, Navisha. Saya sudah tahu semuanya tentangmu."
Visha mengernyitkan dahi.
"Kenapa kau berbohong? Berapa banyak kebohongan yang kau sembunyikan dari Kak Galang?"
"Kebohongan?"
"Ini bukan pertama kalinya kau datang ke Jakarta. Benar, kan?"
Visha menelan ludah.
"Sudah berapa lama kau mengincar Kak Galang?"
Visha merasa terpojok dengan pertanyaan Rocky.
"Kau bahkan pernah bekerja di kelab malam. Apa Kak Galang tahu soal itu?"
Visha meremas bajunya.
"Miracle Club. Itu adalah kelab malam yang sering kami kunjungi. Jadi kau sudah merencanakan ini semua? Untuk mendapatkan hati Kak Galang. Begitukah?"
"Mas Galang tidak tahu apapun soal itu. Tolong! Jangan katakan apapun padanya!" Visha memohon.
"Jadi, Kak Galang tidak tahu tentang masa lalumu? Wow! Kau hebat sekali! Kau pintar mengelabuinya dengan wajah lugumu itu."
"Apa yang bapak inginkan? Kenapa bapak mencari tahu tentang masa lalu saya?"
"Tinggalkan Kak Galang!!! Putuskan hubunganmu dengannya!"
"Apa?"
"Kau tidak tuli, kan? Tinggalkan Kak Galang. Saya tidak sudi punya kakak ipar sepertimu."
Mata Visha mulai berkaca-kaca.
"Ini!" Rocky memberikan selembar kertas pada Visha. "Ini adalah cek asli. Silahkan tulis berapa saja uang yang kau inginkan agar kau meninggalkan Kak Galang."
"Saya tidak menginginkan uang bapak. Dan saya bersama dengan Mas Galang bukan karena uang."
"Jangan munafik! Kau bahkan menerima rumah dan mobil dari Kak Galang. Apa itu yang kau sebut cinta?"
"Saya tidak menerima rumah dan mobil secara gratis. Kami membelinya dari Mas Galang. Meski dengan cara mencicil."
"Hahahaha, kau pikir saya percaya? Sudahlah, terima saja uang yang saya tawarkan. Kau pasti membutuhkannya untuk mengobati anakmu yang sedang sakit." Rocky meraih tangan Visha dan menyerahkan satu lembar cek padanya.
DEG. Jantung Visha serasa akan berhenti.
"Pikirkan dengan baik! Dan temui saya besok!" Rocky melenggang pergi meninggalkan Visha.
Visha tak bisa berkata apapun lagi.
Berapa banyak yang dia tahu tentang masa laluku? Apa dia sudah tahu semuanya? Jika dia mencari tahu tentang Ali----
Tidak!!! Aku tidak akan membiarkan dia mencari tahu tentang masa laluku ataupun Ali.
"Tunggu!!!" cegat Visha.
Rocky terhenti dan berbalik badan menghadap Visha.
"Jangan katakan apapun pada Mas Galang! Saya janji saya akan melakukan apapun yang bapak inginkan."
Rocky mengernyitkan dahi. "Melakukan apapun?"
"Iya."
"Baiklah. Akan saya pertimbangkan."
Rocky kembali membalikkan badan dan melangkah pergi.
Sepertinya permainan yang menarik baru saja dimulai. Batin Rocky dengan senyum menyeringai di wajahnya.
...ššš...
tobe continued,,,,,,,
__ADS_1