Labuhan Cinta Sang Playboy

Labuhan Cinta Sang Playboy
S2 - Kepingan Memori (1)


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Sania membawa Bian pergi dari pesta Galang dan segera menuju ke rumah mereka. Ia segera mengambil kotak obat untuk mengobati luka memar Bian.


"Apa yang terjadi, Bee? Kenapa Zayn memukulmu?"


"Aku tidak apa. Jangan berlebihan!"


"Tapi wajahmu?"


"Aku baik-baik saja. Kau pergilah. Aku hanya ingin sendiri."


Sania hanya bisa menghela nafas dan tak lagi memaksa Bian. "Baiklah. Tapi sebaiknya kau istirahat."


Sepeninggal Sania, Bian memegangi kepalanya yang berdenyut. Ia mengingat kebodohannya yang sudah ia lakukan pada Visha. Kenapa tubuhnya menginginkan Visha? Kenapa ada rasa berbeda saat bertemu dengannya?


Bian merebahkan tubuhnya. Beberapa bayangan yang entah dari mana datangnya tiba-tiba hadir dalam ingatannya. Bayangan Visha menghiasi kepingan memori yang ada di otaknya.


"AARRGGHHH!!!" Bian memegangi kepalanya.


"Apa yang terjadi denganku? Bayangan siapa yang kulihat tadi? Dia bukanlah aku... Tapi, wanita itu memang Visha... Apa aku pernah mengenal Visha sebelum ini?" batin Bian.


.


.


.


Zayn mengantar Visha kembali ke kamar hotel tempatnya menginap. Beruntung Visha di pesankan kamar di Royale Hotel jadi tak perlu pergi jauh untuk menuju tempat peristirahatannya.


Visha terus terdiam sejak kejadian di rooftop bersama Bian.


"Sebaiknya kamu beristirahat. Jika ada yang kamu butuhkan, hubungi aku saja." ucap Zayn saat tiba di depan kamar hotel Visha.


"Iya pak, terima kasih." Visha segera masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu.


Ia memegangi dadanya yang amat sesak. Bayangan tentang Bian yang menciumnya secara tiba-tiba membuatnya menangis dalam diam.


Kenapa semua hal tentangnya mengingatkanku pada Rocky? Tidak mungkin 'kan mereka adalah orang yang sama...


Saat sedang larut dalam kesedihannya, pintu kamar Visha di ketuk oleh Lala. Ia panik karena Visha tak ia temukan di ruangan pesta.


Visha menjawab melalui intercom jika dirinya merasa tak enak badan dan kembali ke kamar. Lala pun mengerti. Akhirnya Lala juga masuk ke dalam kamar yang letaknya bersebelahan dengan kamar Visha.


Visha kembali menangis kala ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


...~~~~...


Keesokan harinya, Visha bersiap merapikan barang-barang miliknya karena ia harus kembali ke Semarang sore ini.


Tok


Tok


Tok


Ada yang mengetuk pintu kamar Visha. "Itu pasti Lala!" ucap Visha sambil melangkah ke depan pintu.


Visha membuka pintu dengan senyum lebar yang seketika itu juga hilang. Ia segera menutup kembali pintu kamarnya namun ditahan oleh sebuah tangan kekar.

__ADS_1


"Tunggu!!! Ijinkan aku bicara sebentar denganmu!"


"Tidak ada yang perlu dibicarakan!"


"Tolonglah, Visha. Kumohon!!!"


Visha mendengus sebal namun ia tak bisa menolak. Ia mempersilahkan si pemilik tangan kekar itu masuk ke dalam kamarnya.


"Ada apa bapak datang kesini? Tahu darimana jika saya menginap disini?" tanya Visha kesal.


"Tidak perlu tahu aku dapat dari mana ruang kamarmu. Visha, aku ingin meminta maaf soal kejadian semalam. Aku...."


"Cukup! Aku tidak mau membahasnya." Visha membelakangi tamunya.


"Baiklah. Tapi aku... benar-benar menyesal dengan apa yang kulakukan padamu. Entah kenapa hatiku merasakan hal yang aneh sejak bertemu denganmu. Aku melihat kepingan memori yang mengisi otakku, dan itu semua adalah tentangmu..."


Visha berbalik badan dan menatap Bian dengan tajam. "Apa maksud bapak?"


"Apa kita memang terhubung, Visha?" tanya Bian dengan wajah putus asa.


"Sebaiknya bapak pergi. Saya tidak mau orang-orang berpikir yang tidak-tidak. Saya sudah cukup pusing dengan perlakuan pak Zayn pada saya. Saya tidak mau bapak juga berkelakuan sama dengan dia. Lagipula bapak sudah menikah. Saya tidak mau dianggap menggoda suami orang."


"Baiklah. Sekali lagi, saya minta maaf." Dan Bian pun pergi dari kamar Visha.


Visha kembali memegangi dadanya. Sesak sekali rasanya.


Tok


Tok


"Visha! Ini aku! Ayo cepat keluar!" teriak Lala dari luar pintu.


.


.


.


Bian melajukan mobilnya dan menuju ke sebuah tempat. Ia benar-benar ingin tahu jawaban tentang kepingan memorinya.


"Dokter tolong bantu saya!"


Bian mendatangi dokter Fahri yang direkomendasikan oleh Reza.


"Kita lakukan pemeriksaan menyeluruh lebih dahulu. Jadi, bapak pernah mengalami kecelakaan dan di vonis mengalami Amnesia?"


"Iya, dok. Saya memang tidak ingat siapa diri saya, dan saya hanya menjalani kehidupan seperti yang diceritakan oleh orang terdekat saya."


"Lalu, akhir-akhir ini bapak mulai mengingat sesuatu?"


"Entahlah, dok. Saya mengalami sakit kepala hebat saat saya pertama kali mendengar suaranya. Saya seperti... mengingat sesuatu namun semua masih belum jelas..."


"Apa orang itu mengingat anda?"


"Tidak. Dia bahkan baru pertama kali bertemu dengan saya. Begitulah yang dia katakan."


"Ini aneh!" dokter Fahri memegangi dagunya seraya berpikir.


"Tapi yang saya lihat dalam memori itu adalah bukan diri saya. Itu adalah orang lain..."

__ADS_1


"Heh?"


"Dokter, bisa tolong periksa apa obat ini sebenarnya?" Bian menyerahkan sebotol obat yang biasa ia konsumsi.


"Apa ini?"


"Obat ini biasa saya minum ketika mengalami sakit kepala hebat."


"Baiklah. Akan saya coba cari tahu. Namun butuh waktu."


"Terima kasih banyak, dok. Dan... saya mohon jangan beritahu siapapun perihal kedatangan saya ini."


...~~~...


Visha sudah kembali ke Semarang dan sudah kembali ke aktifitasnya di Zayn Building.


Ia tak mau terus larut dalam kesedihan. Visha mengawasi proyek Adiguna Grup dengan baik.


Zayn merasa jika Visha memaksakan diri untuk tetap melanjutkan proyek bersama Adiguna Grup meski hatinya terluka.


"Jika kau tidak ingin melanjutkan proyek ini, maka aku akan membatalkannya. Kita bisa cari proyek lain yang bisa kau tangani."


"Tidak perlu, pak. Saya bisa memimpin proyek ini."


"Visha..."


"Tolong jangan memasukkan kepentingan pribadi dalam urusan pekerjaan, pak. Saya baik-baik saja dan saya sudah memaafkan Pak Bian."


Zayn melihat ada keseriusan dalam mata Visha. Ia pun mengalah.


"Baiklah. Kau boleh melanjutkan proyek ini. Tapi, jika kau mulai keberatan, maka katakan saja padaku."


"Iya, pak. Terima kasih atas perhatian bapak."


Visha melangkah pergi dari ruangan Zayn. Zayn memijat pelipisnya pelan. Ia merasa tak mengerti dengan situasi saat ini.


Ia memutuskan kembali ke Jakarta dan menemui Bian tanpa sepengetahuan Visha.


"Zayn?!" Bian terkejut kala mendapati Zayn ada di kantornya.


"Bisa kita bicara?"


"Baiklah. Tapi aku harap kau tidak menggunakan kekerasan seperti waktu itu."


Zayn tersenyum menyeringai. "Jika aku bisa aku benar-benar ingin membunuhmu, Bi."


"Maaf... Aku tidak tahu apa yang terjadi denganku. Aku merasa... aku sudah lama mengenal Visha."


"Cih, apa begitu caramu mendekati para wanita?"


"Tidak, Zayn. Aku mendekatinya bukan karena aku ingin merebut Visha dari sisimu. Tapi... Aku merasa jika aku dan dia memang sudah terikat sesuatu yang tidak bisa terlepas... Suatu ikatan yang aku tidak tahu apa itu..."


...🍁🍁🍁...


tobe continued,,,,


Jangan lupa tinggalkan jejak kalianπŸ‘£


thank you πŸ’πŸ’

__ADS_1


__ADS_2