
...ššš...
"Tidak! Tolong kamu saja yang antar saya!"
Visha membulatkan matanya. "Apa?!"
Tanpa memiliki pilihan, Visha mengantarkan Bian ke hotel tempatnya tinggal.
Bian terlihat sangat kesakitan saat ini. Visha bertanya dimana ia biasa menyimpan obat pereda rasa sakitnya.
Visha menemukan obat itu dan memberikannya pada Bian.
"Sebaiknya bapak istirahat. Kalau begitu saya permisi dulu."
Visha melihat Bian sudah merebahkan tubuhnya dan memejamkan mata. Visha kembali melangkah namun sayup-sayup ia mendengar Bian mengigau.
"Vi...sha..."
Visha membulatkan mata sempurna mendengar jika Bian menyebut namanya.
Visha memandangi Bian yang terpejam dengan terus menyebut namanya. Visha menutup mulutnya tak percaya.
"Dia... Kenapa memanggilku seperti itu..."
"Vi...sha..."
Visha meneteskan air matanya. Ia hapal suara itu.
"Rocky...? Itu suara Rocky..."
Visha menggelengkan kepala. "Tidak mungkin! Tidak mungkin!" Visha melangkah keluar dari kamar hotel Bian dengan menangis dalam diam.
Ia berlari menuju lobi hotel dan memberhentikan taksi. Ia naik ke dalam taksi dan menangis disana.
Kenapa bagian dari diri Bian mengingatkanku pada Rocky? Kenapa? Tidak mungkin jika Rocky masih hidup. Bahkan wajah mereka tidaklah sama.
Si supir taksi merasa bingung dengan penumpangnya yang terus menangis.
"Mbak, kita mau kemana?"
Visha tak menjawab dan terus menangis. Pak supir taksi menggaruk tengkuknya bingung.
.
.
.
Sementara itu, Zayn kelimpungan mencari keberadaan Visha yang tak ada dimanapun. Ia takut Visha marah setelah tadi ia memeluknya di depan para karyawannya.
"La, kamu tahu dimana Visha?"
"Tidak, Pak. Bukannya Visha masih di ruangannya."
"Harusnya begitu. Tapi tidak ada, La. Kemana sih dia? Aku benar-benar cemas padanya."
.
.
.
Visha akhirnya turun dari taksi dan berjalan kaki menuju rumah kosnya. Langkahnya gontai namun air matanya sudahlah kering.
Ponselnya berdering, sebuah panggilan dari Keisya, teman kosnya.
"Sha, kau dimana?"
"Aku masih dijalan, Mbak. Ada apa?"
"Bosmu dari sore menunggu di depan kos."
"Apa? Pak Zayn?"
"Iya, aku sudah bilang jika kau tidak ada dikosan, tapi dia tetap menunggumu. Bagaimana? Apa kukatakan saja jika kau sedang jalan kemari?"
"Jangan, Mbak. Aku sedang tidak ingin menemuinya."
"Lalu bagaimana? Kasihan dia jika terus menunggu."
"Berikan ponselmu padanya, Mbak."
__ADS_1
"Eh? Baiklah."
Keisya menemui Zayn yang sedang duduk di teras depan.
"Visha ingin bicara dengan Anda." ucap Keisya.
"Halo, Sha..."
"Halo, Pak. Maaf ya Pak saya tidak memberitahu bapak jika saya pergi. Ibu saya menelpon dan saya harus segera pulang ke Pekalongan."
"Oh, begitu. Jadi, sekarang kamu ada di rumah?"
"Iya, Pak. Saya benar-benar minta maaf. Besok saya akan tetap masuk kantor seperti biasa. Bapak tenang saja."
"Baiklah. Kamu hati-hati ya."
"Iya, pak, terima kasih."
Panggilan berakhir. Zayn menyerahkan kembali ponsel Keisya.
"Visha ada di rumahnya. Kalau begitu saya permisi. Maaf sudah merepotkan."
Zayn pergi dari kos Visha dengan perasaan kecewa. Keisya merasa iba padanya.
Tak lama Visha tiba dengan langkah lunglai.
"Sha? Kau berjalan kaki?" tanya Keisya.
Visha tak menjawab dan langsung memeluk Keisya sambil menangis.
Keisya bingung apa yang terjadi dengan Visha. Ia hanya bisa menenangkan Visha dengan mengusap punggungnya lembut.
.
.
.
Reza bingung bagaimana bisa Bian telah sampai di hotel lebih dulu.
"Pak..." sapa Reza saat tiba di kamar Bian.
Bian memegangi kepalanya yang masih sakit. "Entahlah. Bukankah kamu yang mengantarku kemari?"
"Eh? Bukan, pak. Saya tadi sedang memesan tiket pesawat untuk kita pulang besok."
"Ya sudah. Mungkin aku hanya kelelahan. Sebaiknya kau istirahat. Besok kita naik penerbangan jam berapa?"
"Pagi, pak. Jam delapan pagi."
"Baiklah." Bian kembali memejamkan matanya.
...~~~~...
Visha berangkat ke kantor dengan setengah hati. Entah kenapa hatinya masih tak tenang memikirkan Bian yang memanggil namanya dialam bawah sadarnya.
"Visha!" Zayn begitu gembira melihat kedatangan Visha.
"Pak... Maaf atas kejadian kemarin."
"Saya yang harus meminta maaf. Apa terjadi sesuatu di rumah? Kau tampak cemas."
"Tidak ada, Pak. Semua baik. Saya akan masuk ke ruangan saya. Permisi..." Visha tak mau berlama-lama bersama Zayn. Ia tak mau orang-orang makin bergosip tentangnya.
.
.
.
Sementara, ingatan Bian tiba-tiba terlintas pada Visha. Ia ingat jika kemarin ia melihat adegan Zayn yang memeluk Visha dan hatinya terasa sesak. Ia bertemu Visha di depan toilet dan membawa Visha ke ruang tangga darurat.
Jadi... yang mengantarku ke hotel adalah Visha... Bagaimana aku bisa lupa tentang hal itu?
Reza merasa jika bosnya bertingkah aneh di dalam pesawat.
"Pak, bapak baik-baik saja? Apa perlu saya ambilkan obat?"
"Tidak, tidak perlu. Saya akan ke kamar mandi sebentar." Bian segera menuju ke toilet pesawat.
Bian memandangi dirinya di cermin.
__ADS_1
Ada apa denganku? Kenapa hatiku selalu tidak tenang sejak bertemu dengannya? Siapa dia sebenarnya?
Bian tiba-tiba seperti melihat kepingan-kepingan memori dalam ingatannya.
"Aarrrggghhh!!!" Ia berteriak.
Para kru pesawat yang mendengar suara teriakan dari dalam toilet segera membuka paksa pintu toilet.
Reza ikut panik saat melihat keributan di depan toilet pesawat. Ia segera mendekati kerumunan kru pesawat dan melihat Bian sudah tergeletak disana.
Segera setelah pesawat mendarat, Bian di bawa ke rumah sakit terdekat. Tak lupa Reza menghubungi Sania agar segera datang ke rumah sakit.
Sania datang dengan ekspresi panik.
"Reza, bagaimana keadaan Bian?"
"Dokter masih memeriksanya, bu."
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Saya juga tidak tahu. Saya merasa Pak Bian bergelagat aneh selama di pesawat, saya tawarkan obat tapi ditolak, dan beliau memilih pergi ke toilet."
"Ya Tuhan! Ada apa denganmu, Bian?" Sania memegangi kepalanya sambil berjalan bolak balik di depan ruang IGD.
Tak lama seorang dokter datang menghampiri Sania dan Reza.
"Keluarga Biantara Adiguna!"
"Iya, dokter. Saya istrinya. Bagaimana keadaan suami saya?"
"Dia sudah baik-baik saja. Sepertinya trauma kecelakaan beberapa tahun silam masih menghantuinya sehingga ia masih sering mengalami sakit kepala."
Sania meremas tangannya. "Saya sudah bisa menemui suami saya?"
"Silahkan. Dia sudah siuman."
Sania segera berlari masuk ke ruang IGD. Dilihatnya Bian terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
"Bee, bagaimana keadaanmu?"
"Sania..."
"Jangan bergerak dulu. Istirahatlah saja. Untuk sementara jangan memikirkan urusan pekerjaan dulu. Aku akan mengurus semuanya."
"Aku baik-baik saja, Sania."
"Aku tahu. Aku tahu." Sania memeluk tubuh Bian. Ia memejamkan mata seakan tak mau jika sesuatu yang buruk menimpa suaminya.
.
.
.
-Kantor Zayn Building-
"Apa?! Jadi Bian di bawa ke rumah sakit? Tapi dia baik-baik saja 'kan?"
Visha mendengar pembicaraan Zayn di telepon.
Apa? Jadi Pak Bian sakit dan dibawa ke rumah sakit?
Visha segera berlari menuju toilet wanita. Ia menatap dirinya di cermin. Entah mengapa air matanya tiba-tiba mengalir di pipinya.
Entah kenapa aku merasa jika dia... adalah seseorang yang kukenal di masa lalu...
...ššš...
tobe continued,,,
.
.
*Apakah Bian adalah Rocky? Atau semua hanya kebetulan semata?
Coba beri pendapat kalian šš
Jangan lupa tinggalkan jempol kalian yah šš
thank you šš
__ADS_1