Labuhan Cinta Sang Playboy

Labuhan Cinta Sang Playboy
Kissing You


__ADS_3

...πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ...


Visha mengambil kotak obat dan kompresan, lalu duduk di samping Rocky.


Dengan sabar, Visha membersihkan luka di wajah Rocky.


"Aw!! Pelan sedikit!" Rocky mengaduh.


"Kau bukan anak kecil, jangan manja! Lagipula kenapa kau bisa berurusan dengan preman-preman itu? Apa kau punya musuh?"


"Entahlah. Aku juga tidak tahu siapa mereka. Tiba-tiba mereka menghentikan mobilku dan menyuruhku keluar dari mobil."


"Lain kali kau langsung tancap gas saja. Jangan menghiraukan orang macam mereka."


"Kau sendiri? Kenapa kau berani sekali melawan mereka? Bagaimana jika kau ikut celaka?"


"Orang macam mereka tidak akan berani jika kita memberanikan diri."


"Dasar kau!"


"Sudah selesai! Untuk memarnya, aku yakin butuh beberapa hari agar bisa sembuh total. Sebaiknya sekarang kau istirahat. Kalau begitu, aku permisi dulu."


Visha hendak beranjak dari sofa, namun tangan Rocky dengan cepat meraih tangan Visha, dan berhasil membuat Visha kembali duduk.


"Ada apa?" tanya Visha mengerutkan dahi.


"Terima kasih." Ucap Rocky diiringi senyum.


"Sama-sama. Aku permisi!"


Visha kembali beranjak dari sofa. Dan lagi-lagi Rocky meraih tangan Visha dan membuat Visha kembali duduk.


"Rocky!! Apa yang kau mmmppphhh ..." Dengan cepat Rocky meraih wajah Visha dan mendaratkan bibirnya pada bibir Visha.


Visha membelalakkan mata mendapat sebuah ciuman dari Rocky. Sejenak ia terlena dengan perlakuan Rocky terhadapnya. Visha mulai memejamkan mata. Ia meremas bajunya sambil menikmati ciuman dari Rocky.


Cukup lama Rocky mengecup bibir mungil milik Visha, namun si empunya hanya diam tak membalas.


Rocky mulai melepaskan ciumannya. Visha mendorong tubuh Rocky menjauh darinya.


"Maaf ... " Satu kata yang Visha ucapkan sebelum akhirnya ia melenggang pergi dari apartemen Rocky.


Rocky hanya diam melihat kepergian Visha. Akhirnya ia melakukan apa yang selama ini hatinya inginkan. Mengungkapkan perasaannya pada Visha lewat sebuah ciuman.


Maafkan aku, Visha. Aku benar-benar tidak bisa mengontrol diriku jika bersama denganmu. Aku harus bagaimana lagi?


Rocky mengacak rambutnya. Ia merebahkan tubuhnya diatas sofa dan mencoba memejamkan mata. Seluruh tubuhnya mulai terasa sakit akibat pukulan dari preman-preman itu.


.


.


.


Sementara itu, Visha mencoba mengatur nafasnya yang memburu. Jantungnya berdetak sangat cepat.


Entah mengapa ia tidak bisa menolak perlakuan Rocky padanya. Visha mulai merutuki dirinya sendiri. Ia sadar hubungan apa antara dirinya dan Rocky. Ada Galang diantara mereka.


Visha melajukan kembali sepeda motornya menuju rumah. Sampai dirumah, ia mendapati mobil Galang ada disana.


Visha baru ingat jika tadi pagi Galang mengatakan bahwa dirinya akan datang ke rumah usai bekerja.


Galang menyambut kedatangan Visha.


"Wah, sepertinya kau menikmati berkendara dengan sepeda motor ya?"


Visha tak menjawab dan langsung memeluk tubuh Galang.


Maafkan aku, Mas. Aku sudah melakukan kesalahan...


"Visha? Ada apa?" Galang melepas pelukan Visha.


Visha menggeleng. "Aku hanya ... merindukanmu ... "


"Hei! Harusnya aku yang bicara begitu! Aku sangat merindukanmu." Galang meraih tubuh Visha dan memeluknya.


Ibu Karina yang melihat dua sejoli ini sedang saling melepas rindu segera menegur mereka.

__ADS_1


"Masuklah dulu! Kangen-kangenannya di dalam saja. Udara diluar sedang dingin."


Visha dan Galang terkekeh. "Iya, Bu," jawab mereka kompak.


...***...


Keesokan harinya, Visha mengatur nafas ketika lift sedang berjalan menuju lantai 13.


TING. Pintu lift terbuka. Visha mendorong trolinya pelan menuju kantor RAB Cons.


Visha masuk ke ruangan itu dan disambut oleh beberapa orang dikantor. Visha meletakkan kotak nasi berjumlah 26 boks.


Visha melirik ke arah ruangan Rocky yang kosong. Batinnya lega karena tak harus bertemu Rocky usai insiden ciuman semalam.


Visha mendorong troli kosongnya keluar dan kembali menuju lift.


Saat lift terbuka, Visha terkejut karena mendapati Rocky ada disana.


Visha ragu apakah ia harus masuk atau tidak. Hingga akhirnya,


"Masuklah!" Ucap Rocky.


"Eh?"


"Kau tidak tuli 'kan? Cepat masuk!" Perintah Rocky.


"Ah, iya baiklah."


Visha mendorng trolinya masuk ke dalam lift bersama dirinya.


Lift berjalan turun ke lantai dasar basement. Merasa canggung dengan situasi ini, Visha memberanikan diri membuka percakapan.


"Kau mau turun dilantai berapa?"


"Aku tidak ingin turun. Aku hanya ingin bicara denganmu."


"Eh?" Visha kebingungan.


"Visha, aku ... "


"Bagaimana kondisimu? Apa sudah baikan?"


"Aku baik-baik saja. Hanya luka memar, kau tidak perlu khawatir."


"Sebaiknya coba periksakan dirimu ke dokter, siapa tahu ada luka dalam." Ucap Visha dengan tak memandnag ke arah Rocky.


"Tataplah lawan bicaramu jika kau sedang bicara pada orang lain. Kau sangat tidak sopan."


"Kau bukan orang lain."


"Lalu, siapa aku? Siapa aku dihatimu?"


DEG. Sepertinya Visha salah bicara.


Pertanyaan Rocky membuat Visha memalingkan wajahnya ke arah Rocky.


"Siapa aku di hatimu, Visha?"


"Bukan siapa-siapa!" Jawab Visha dengan memalingkan kembali wajahnya ke arah berlawanan.


TING. Visha sudah sampai ditujuannya. Ia segera mendorong trolinya keluar.


Rocky mengikutinya di belakang. Visha mempercepat langkahnya setelah meletakkan troli di tempatnya.


Rocky tak mau kalah dan akhirnya berhasil meraih tangan Visha.


"Tunggu!!! Kita harus bicara!" Ada nada penuh penekanan dalam suaranya.


"Bicara apa?"


"Soal semalam."


Visha menepis tangan Rocky. "Tidak ada yang perlu dibicarakan."


"Ada! Aku minta maaf, Visha. Aku tahu aku salah."


"..............."

__ADS_1


"Aku sudah melakukan hal diluar kendaliku. Aku benar-benar minta maaf. Tapi ... itulah yang kurasakan terhadapmu."


DEG. Mata Visha membulat sempurna.


"Apa maksudmu?"


"Aku tahu ini gila! Tapi hatiku tidak bisa berbohong. Kau sudah mencuri hatiku."


"Hahahahaha," Visha tertawa terbahak.


"Kau sangat lucu! Aku tidak tahu jika kau pandai bercanda!"


"Aku tidak sedang bercanda, Visha!"


Visha menelan salivanya. Ia tak tahu harus menjawab apa.


"Aku harus segera mengirim barang ke kantor Mas Galang."


Visha berbalik badan dan berjalan membelakangi Rocky menuju ke mobil.


Rocky kembali meraih tangan Visha dan membawanya ke ruang pantry basement.


"Rocky! Lepas!" Seru Visha namun tak dihiraukan oleh Rocky.


"Rocky!!! Sakit! Tolong lepaskan!"


Rocky mendorong tubuh Visha ke dinding didalam ruang pantry.


"Rocky! Apa yang kau lakukan?" Mata Visha sudah berkaca-kaca sekarang.


Ia sadar sekuat apapun berusaha melawan tetap tak bisa melawan tubuh besar Rocky.


"Jawab aku, Visha! Kau merasakan sesuatu juga 'kan terhadapku?"


Buliran bening mulai mengaliri pipi Visha. Ia memalingkan wajahnya yang terasa begitu dekat dengan wajah Rocky.


"Jika tidak, bagaimana bisa kau tidak menolak saat aku menciummu?"


"Berapa banyak gadis yang kau cium setiap malam?"


Rocky tersenyum tipis. "Aku bukan lagi seorang playboy, Visha. Aku tidak mencium wanita yang tidak aku cintai."


Mata Visha kembali membulat sempurna menatap lekat mata milik Rocky. Visha tahu ada kejujuran disana.


"Aku adalah calon kakak iparmu!"


"Aku tahu. Tapi masih calon 'kan? Masih belum resmi dan kau masih bisa memilih."


"Apa kau sudah gila?" Visha mendorong tubuh Rocky. Ia ingin keluar dari kungkungan tubuh besar Rocky.


Namun kembali Rocky meraihnya dan menempelkan tubuh Visha ke dinding.


"Maafkan aku. Visha. Aku tidak bisa berbohong lagi."


Rocky menangkupkan tangan besarnya pada wajah Visha dan kembali mencium bibir merah muda milik Visha.


Visha meronta meminta Rocky melepasnya namun semua sia-sia. Kini tangan Visha tak lagi memukul lengan besar Rocky. Ia sudah pasrah dengan semua perlakuan Rocky.


Meski sedikit memaksa, tapi Rocky memperlakukan Visha dengan lembut. Visha masih diam dan tak membalas ciuman Rocky. Ia sadar apa yang dilakukannya adalah sebuah kesalahan. Ia hanya menangis dalam diam.


Rocky bermain cukup lama di bibir Visha. Aroma tubuh Visha kini menjadi candu baginya. Rocky semakin memperdalam ciumannya berharap Visha membalasnya.


Namun yang ia dengar hanya suara sesenggukan yang keluar dari bibir Visha.


Rocky melepaskan ciumannya. Ia mengusap bibir Visha dengan lembut.


"Maafkan aku, Visha. Maafkan aku." Rocky meraih tubuh Visha dan mendekapnya erat. Tangisan Visha makin keras dalam dekapan Rocky.


...🍁🍁🍁...


*tobe continued,,,


*Lalu bagaimana nasib es krim yang dibeli Visha semalam?πŸ˜…πŸ˜…


Meleleh dong pastinya, seperti Visha yang meleleh dihadapan Rocky.😬😬


Terima kasih atas dukungannya. Jangan lupa tinggalkan jejak😘

__ADS_1


Β©pinkanmiliar


__ADS_2