Labuhan Cinta Sang Playboy

Labuhan Cinta Sang Playboy
S2 - Biantara Adiguna


__ADS_3

...šŸšŸšŸ...


Bian kembali ke apartemennya dan mendapati Visha sudah tertidur di dalam kamar. Di dekatinya Visha yang tertidur dengan damai. Disibakkan rambut panjang Visha dan di belainya lembut.


Tak disangka sentuhan lembut Bian membuat Visha terbangun. Retinanya mencoba menggambar dengan jelas sosok yang ada di depannya itu.


"Mas Bian!" Visha berseru gembira dan langsung memeluk Bian.


"Aku pikir kau tidak akan datang!" Visha makin mengeratkan tubuhnya ke dada bidang Bian.


"Tidak mungkin! Aku pasti kembali padamu. Kembalilah tidur. Kau pasti lelah hari ini."


"Eh?"


"Aku sudah tahu apa yang kau alami hari ini."


Visha membulatkan mata dan menatap Bian. "Mas sudah tahu? Apa Sania yang..."


"Bukan! Kenapa kau tidak menghubungiku saat Sania melakukan hal itu padamu? Dia tidak berhak atas diriku. Dia bukan istriku. Kaulah istriku." ucap Bian sambil membingkai wajah Visha.


"Tapi... Dia melakukan semua ini karena dia mencintaimu. Aku tahu itu." Visha menunduk.


"Itu bukan cinta. Dia hanya terobsesi. Jangan khawatir. Sebentar lagi semuanya akan usai. Aku akan kembali menjadi Rocky."


Visha mengangguk. Lalu kembali memeluk Bian. "Terima kasih karena kau kembali. Terima kasih..." Buliran bening itu tak terasa membasahi pipi Visha.


"Istirahatlah! Aku tidak akan mengganggumu."


Mendengar kalimat Bian membuat Visha sontak tertawa. Air matanya berubah menjadi tawa ringan yang renyah.


"Kenapa tertawa?" tanya Bian bingung.


"Terakhir kau berkata begitu... Kau malah tidak bisa mengontrol dirimu dan membuatku tak bisa tertidur."


"Hmm, benarkah?" Bian mengernyit bingung.


"Ah, sudahlah. Mas istirahat juga. Kau pasti lelah mengurus perusahaan dan juga masalahmu."


"Terima kasih karena sudah hadir dalam hidupku..."


"Hmm, selamat tidur, Mas..."


Visha kembali ke alam mimpi. Sedangkan Bian hanya tersenyum melihat Visha yang sudah terpejam.


.


.


.


Pagi itu, Visha menyiapkan sarapan untuknya dan Bian. Saat sedang menata makanan di meja makan, ponsel Bian berbunyi. Sebuah panggilan dari Donny.


Bian yang sudah siap dengan setelan jasnya, segera mengangkat panggilan itu.


"Halo, Don..."


"Bos, hasil forensik dan DNA jasad yang terkubur sudah keluar."


"Apa katamu?!"

__ADS_1


"Kita bertemu satu jam lagi, bos."


"Baiklah."


Panggilan berakhir. Bian terdiam cukup lama setelah mengakhiri panggilan dengan Donny.


Visha menghampiri Bian yang terus terdiam. "Mas... Apa terjadi sesuatu?"


"Eh?" Bian pun tersadar.


"Mas, ada apa?"


"Sayang, hasil tes jasad yang terkubur atas namaku sudah keluar."


"Heh?"


"Aku akan menemui Donny setelah ini. Sayang, titik terang masalah ini akan segera ditemukan. Aku akan segera menjadi Rocky lagi..." Bian berucap dengan gembira.


"Iya, Mas. Syukurlah. Aku ikut senang mendengarnya. Kita sarapan dulu ya, setelah itu kau berangkat."


"Iya, sayang..."


.


.


.


Donny memberikan hasil tes kecocokan DNA dari Kakek Adi dan jasad yang terkubur atas nama Rocky. Bian membaca dengan seksama hasil tes itu.


"Jadi..." Bian masih tak percaya dengan apa yang dibacanya.


"Tapi... Apa benar dia adalah pemilik Adiguna Grup yang sesungguhnya? Menurut pengamatanku, kakek Adi seperti bukan dari kalangan pengusaha."


"Kalau masalah itu... Kami masih menyelidikinya. Apa bos memeriksa saham bos yang ada pada Brahms Corp?"


"Aku belum memeriksa sejauh itu. Apa ada kemungkinan jika perusahaan itu dibangun dengan menggunakan saham milikku?"


"Aku akan menyelidikinya, Bos. Atau coba kita tanyakan pada Jemmy. Bukankah dia selalu mengurus pemindahan saham yang terjadi di Brahms Corp."


"Kau benar juga. Kita akan temui dia lagi nanti. Sekarang aku ada urusan. Kau coba awasi Kak Galang. Kalau perlu kau dekati saja sekretarisnya untuk mencari informasi."


"Heh? Yang benar saja!"


Bian melenggang pergi meninggalkan Donny yang masih menggaruk-garuk kepalanya.


.


.


Bian mendatangi makam yang bertuliskan nama Rocky Abraham. Ia memberikan seikat bunga di makam itu.


Maafkan aku. Selama ini kau terkubur atas nama orang lain. Setelah semua ini selesai, kau akan kembali di makamkan dengan layak menjadi dirimu sendiri. Terima kasih karena kau sudah memberikan jantungmu untuk anakku. Aku menemukan ayahmu. Aku janji akan merawatnya dengan baik. Terima kasih karena kau memiliki wajah yang tampan. Jadi, aku tidak terlalu malu saat mendekati Visha lagi... Sekali lagi, terima kasih...


Setelah berkunjung ke makam Biantara yang asli, Bian kembali melajukan mobilnya ke panti jompo dimana ayah Biantara berada.


Dilihatnya kakek Adi sedang duduk termenung seperti menunggu seseorang. Bian memandangi kakek Adi dari kejauhan.


"Setiap hari kakek Adi selalu duduk disana. Pernah saya bertanya apa yang dia tunggu. Kakek Adi menjawab jika dia menunggu putranya. Apa benar, Pak Bian adalah... Putra kakek Adi?" Ibu Nur mencoba bertanya pada Bian.

__ADS_1


Bian tersenyum mendengar pertanyaan Ibu Nur.


"Bukan, Bu. Saya bukan putranya. Tapi saya akan menggantikan putranya untuk menjaganya."


"Terima kasih, Pak. Semoga Tuhan membalas kebaikan bapak."


Bian berpamitan pada Ibu Nur dan menghampiri kakek Adi. Raut bahagia nampak jelas tergambar di wajah kakek Adi kala melihat Bian menghampirinya.


Bian memeluk lelaki tua itu. Kakek Adi terharu melihat kedatangan putranya. Bian pun larut dalam keharuan hingga ia ikut meneteskan air mata.


Saat ini Bian tidak bisa memeluk ayah kandungnya yang entah ada dimana. Dan di saat bersamaan Bian menemukan seorang ayah yang kehilangan putranya. Ini seperti sudah menjadi suratan takdir ketika beberapa orang dipertemukan dalam satu waktu untuk saling melengkapi dan menguatkan.


.


.


.


Bian kembali ke apartemen dengan langkah gontai. Seharian ia tidak fokus bekerja dan ingin segera menemukan Papa dan Mamanya.


Bahkan saat makan malampun mereka hanya saling diam. Visha juga tak berani menegur suaminya lebih dulu. Karena tak mau membuat situasi jadi runyam.


Hingga akhirnya, Visha memberanikan diri untuk bersuara.


"Mas, ada apa? Apa terjadi sesuatu? Bagaimana hasil tesnya? Siapa yang sudah terkubur di makam atas namamu selama tiga tahun ini...?"


Bian menatap ke arah Visha kesal.


"Mas, aku hanya bertanya, kenapa kau malah menatapku begitu?"


"Kau cerewet sekali! Aku harus membungkam bibirmu itu!"


Visha segera berlari menghindari Bian. Ternyata sifat cerewet Visha bisa membuat Bian kembali ceria dan tak murung seperti saat tadi tiba di rumah.


Visha berlari berkeliling apartemen dan membuat Bian kelelahan karena tak berhasil menangkapnya.


Bian pura-pura tersandung dan terjatuh lalu mengaduh kesakitan. Visha segera mendekati Bian yang kesakitan.


"Mas, mana yang sakit? Maaf ya, aku tidak bermaksud untuk...."


Belum sempat Visha melanjutkan kata-katanya, Bian sudah membungkamnya lebih dulu.


Kena kau!!! Batin Bian.


Bian menggiring tubuh Visha masuk ke dalam kamar tanpa melepaskan pagutannya.


Visha mendorong tubuh Bian karena nafasnya mulai tersengal. "Mas... Kau benar-benar...."


Tidak akan ada kesempatan lagi untuk Visha bicara saat ini. Bian terus bermain disana dengan tenang meski Visha terus meronta meminta di lepaskan, awalnya... Tapi sekarang, Visha mulai mengikuti permainan Bian.


Permainan mereka terus berlanjut hingga malam yang semakin larut. Bahkan Bian tak menyadari jika ponselnya terus bergetar sejak tadi.


"Bos!!! Angkat dong!!! Apa sih yang sedang dia lakukan?!" gerutu Donny karena panggilannya belum juga Bian angkat.


...šŸšŸšŸ...


#bersambung,,,


*Bian menjawab : Lagi tanggung, Don. Nanti aja kalo mau telepon! šŸ˜…šŸ˜…

__ADS_1


*Mari tinggalkan jempol kalian 😚😚😚 Terima kasih šŸ™


__ADS_2