Labuhan Cinta Sang Playboy

Labuhan Cinta Sang Playboy
Kegundahan Galang


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Ari mendapat telepon dari asisten rumah tangga Galang yang memintanya untuk menggantikan semua pekerjaannya.


"Ini aneh. Tidak biasanya Pak Galang bersikap begini. Pasti terjadi sesuatu," ucap Ari yang di dengar oleh Siska.


"Ada apa, Mas?"


"Pak Galang tidak akan ke kantor hari ini."


"Eh?"


"Pasti terjadi sesuatu."


"Apa ini ada hubungannya dengan pernikahannya yang ditunda?" Tebak Siska.


"Entahlah. Nanti setelah pekerjaan selesai, aku akan ke rumahnya."


.


.


.


Sementara itu, Galang masih menatap buku harian Visha yang sudah membuat pikiran dan hatinya kacau hari ini.


Ingin ia membaca semua yang Visha tulis disana. Tapi hatinya sudah terlanjur sakit jika harus mendapati kenyataan lebih dari ini.


Apa yang harus kulakukan, Visha? Kau sudah membuat hatiku hancur. Bagaimana bisa, Visha? Aku sangat mencintaimu... Tapi dengan sekejap kau menghancurkannya...


Galang kembali mengacak rambutnya dan beringsut di pojok kamarnya. Seharian ini ia tak melakukan apapun selain menyendiri di dalam kamarnya.


.


.


.


Sore itu, usai bekerja Rocky kembali menjenguk Ali. Ia membawakan PSP atau playstation player untuk Ali agar ia tak bosan.


"Jangan memanjakannya. Nanti jadi kebiasaan." Lerai Visha yang sudah bergantian jaga dengan Karina.


"Tidak apa. Lagipula ini untuk mengusir kebosanan," jawab Rocky enteng.


Visha mengerucutkan bibirnya.


"Terima kasih, Om Rocky. Oh ya, Om 'kan sudah janji akan bawa Om Galang kemari. Kenapa belum dibawa juga Om Galangnya?" Tanya Ali polos.


"Eh?" Visha dan Rocky saling tatap.


Saat Ali sedang asyik bermain dengan PSP barunya, Rocky membawa Visha untuk bicara di depan kamar.


"Jadi Kak Galang tidak pernah menjenguk Ali?"


"Umm, tidak begitu juga sih. Mas Galang datang saat hari pertama Ali masuk rumah sakit."


"Dan setelah itu? Apa dia pernah berkunjung lagi?"


Visha menggeleng.


"Ada apa dengan Kak Galang?" Rocky berkacak pinggang.


"Mas Galang pasti sibuk. Jangan khawatir."


"Tapi Ali sangat mengharap kehadiran Kak Galang. Aku harus menghubunginya."

__ADS_1


"Jangan, Rocky!" Seru Visha namun sudah terlambat karena Rocky langsung menghubungi nomor Galang.


Rocky mengerutkan dahi dan wajahnya mulai panik. "Ponselnya mati. Sebaiknya kau tunggu disini. Aku akan memeriksa ke rumahnya saja."


"Rocky!" Visha mencegah Rocky dengan menarik lengannya.


Rocky merasa ada yang aneh dengan Visha. "Ada apa?"


"Aku benar-benar tidak mau menjadi beban untuk Mas Galang. Jadi, biarkan saja. Jika ia memang ingin datang, ia pasti datang."


Rocky menarik nafas kasar. "Baiklah, terserah kau saja." Rocky melirik jam tangannya.


"Aku harus pergi. Setelah kau mengundurkan diri, pekerjaanku bertambah banyak."


Visha mengangguk. "Terima kasih karena sudah menjenguk Ali."


"Kau ini!" Rocky menyentil dahi Visha. "Sudah kubilang 'kan aku akan selalu ada bersamamu. Aku pergi ya!"


"Hati-hati di jalan!"


Rocky berjalan memunggungi Visha. Namun ia tiba-tiba berbalik dan menghampiri Visha kembali.


Sebuah kecupan singkat Rocky daratkan di kening Visha.


Visha sangat terkejut dengan sikap Rocky namun ia tak bisa menolak. Ia mellihat ke kanan dan ke kiri, ia takut barangkali ada orang yang melihat adegan mereka tadi.


...***...


Galang tak bisa berdiam diri di kamar terus menerus. Otaknya terus berputar untuk mencari jawaban atas masalah yang sedang di hadapinya.


Ia beranjak pergi dari kamarnya dan mengambil kunci mobilnya. Bi Onah yang melihat Galang akhirnya keluar dari kamar segera berlari mengejarnya.


"Mas Galang! Mas Galang mau kemana?"


"Ada urusan. Aku harus pergi."


Galang tak menggubris kalimat Bi Onah dan langsung bergegas pergi.


"Mas!!!" Bi Onah kembali berteriak namun teriakannya tetap tak didengar oleh Galang. Selama dia bekerja di rumah Galang, tak pernah ia lihat Galang bersikap seperti ini.


"Ada apa sebenarnya?" Lirih Bi Onah sambil mengelus dadanya.


.


.


.


Galang pergi ke rumah utamanya dengan tergesa dan menuju sebuah kamar. Ia menuju kamar lama milik Rocky. Ia mengambil sesuatu dari sana.


Setelah urusannya selesai ia segera pergi dari rumah itu, namun ia sempat bertemu dengan Elena.


"Eh, Galang? Kamu datang kok tidak bilang-bilang."


Galang malas berbasa-basi dengan mama tirinya itu dan menjawab seadanya.


"Ada urusan sebentar, Ma. Kalau begitu, aku pergi dulu Ma."


"Eh tunggu!! Jangan lupa dua hari lagi Papa kalian ulang tahun."


"Iya, Ma. Aku ingat." Dan setelahnya Galang ngeloyor pergi dari hadapan Elena.


"Ish, nih anak! Masih saja bersikap kurang ajar!" Kesal Elena.


Kemudian Galang menuju ke rumah yang lain, rumah Visha. Lebih tepatnya masih menjadi rumah miliknya karena cicilannya belum lunas.

__ADS_1


Rumah itu terlihat sepi. Karina sedang tidak ada di rumah. Hanya ada Rara dan beberapa pegawai yang sedang meracik bahan makanan untuk katering.


Galang hanya sebentar disana dan kembali mengendarai mobilnya menuju suatu tempat. Ia menemui teman lamanya, Arka.


"Berapa lama hasilnya bisa diketahui?" Tanya Galang tak sabar.


"Biasanya memakan satu hingga dua minggu," jawab Arka.


"Tidak bisa! Aku ingin hasilnya cepat keluar! Ini mendesak, tolonglah! Berapapun biayanya akan kubayar."


"Baiklah, akan kuusahakan. Semoga dalam 24 jam sudah bisa selesai"


"Terima kasih banyak, bro. Aku pergi dulu."


Arka hanya menggelengkan kepala melihat tingkah laku Galang yang tak biasa.


...***...


Malampun tiba, Galang masih berkendara dengan mobilnya entah ingin menuju kemana. Ia melirik ke arah samping dan melihat buku harian Visha disana. Ia membawa buku itu kemanapun ia pergi hari ini.


Pikirannya sedang kacau sekarang. Ia harus segera mengambil keputusan.


Dan disinilah Galang sekarang, kembali ke rumah Visha. Ia menatap rumah itu dengan nanar.


Harusnya aku tidak meminta Visha untuk pindah kemari. Akan lebih baik jika aku tetap melakukan hubungan jarak jauh bersama Visha.


Galang mengusap wajahnya kasar. Ia memutuskan turun dari mobilnya dan menuju ke rumah Visha.


Dilihatnya Karina sedang berada di teras bersama Rara. Galang menyapa mereka. Penampilannya lusuh, tak seperti yang biasa Karina lihat.


"Nak Galang?" Karina nampak terkejut melihat Galang yang lusuh.


"Maaf, Bu. Apa saya bisa bicara dengan ibu?" Tanya Galang dengan menatap Rara.


"Ah, kalau begitu, aku masuk dulu, Bu." Rara tahu diri dan dia segera masuk kedalam rumah.


"Ada apa Nak Galang? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Karina cemas.


"Ini..." Galang menyerahkan buku harian Visha kepada Karina.


Karina membulatkan matanya.


"Ini milik Visha, bukan?" Tanya Galang dengan tatapan sendunya.


"Iya. Dari mana Nak Galang mendapatkannya?"


"Terjatuh di mobilku saat aku mengantar Visha."


Karina tahu dari ekspresi wajah Galang, jika Galang pasti sudah mengetahui sesuatu.


"Apa yang ingin Nak Galang tanyakan?"


Galang tak tahu harus bertanya apa dan bagaimana cara mengatakannya.


Ia hanya bisa mengusap wajahnya berulang kali dan mengacak rambutnya.


"Sebaiknya Nak Galang pulang. Ibu tidak bisa menjelaskan apa-apa. Biar Visha saja yang menjelaskan semuanya," ucap Karina.


...🍁🍁🍁...


tobe continued,,,


duuuh bingung dan galau deh jadi Galang 😩😩😩


stay tuned terus ya gaess, jangan lupa tinggalkan jejak 👣👣

__ADS_1


thank you😘


__ADS_2