
...ššš...
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya orang itu pada Visha.
"Eh? Sepertinya tidak." Visha tak ingin memperpanjang obrolannya dengan pria asing yang menabraknya dan memilih kembali ke ruangan acara lalu duduk disebelah Zayn tanpa rasa bersalah.
"Maaf ya, Pak. Tadi saya langsung lari sebelum mendengar jawaban dari bapak."
"Iya, tidak apa. Sekarang duduk diamlah disini. Acaranya akan segera dimulai."
"Siap, Pak."
Tanpa mereka berdua sadari, sepasang mata tengah memperhatikan gerak gerik mereka sedari tadi. Tangannya mengepal kuat.
"Pak, acaranya akan segera dibuka. Mari bapak naik ke atas podium." Ucap Ari, tangan kanan Galang tentunya.
Galang hanya mengangguk paham.
Ari kembali duduk bersama Siska.
"Ada apa sih?" tanya Siska.
"Itu Pak Bos masih saja mengharapkan Visha."
"Apa? Visha? Memangnya dia ada disini?"
"Iya, dia ada disini."
Siska mendengus sebal mendengar pernyataan Ari.
"Sudah. Jangan mengharapkan Pak Galang lagi. Carilah pria yang mencintaimu dengan tulus."
Siska tak mau mendengar banyak ceramah lagi dari Ari dan memilih pergi.
.
.
Sementara itu, pria yang menabrak Visha masih bergeming di tempatnya berdiri.
"Bee, kau disini rupanya..." panggil seorang wanita yang adalah Sania.
"Ayo kita masuk, acaranya akan segera dimulai." Sania menggamit lengan Bian dan membawanya masuk ke ruang acara.
...***...
Pukul tiga sore, acara telah selesai. Visha ingin segera pergi dari tempat itu. Namun Zayn masih asyik berbincang dengan rekan-rekannya.
Visha tak begitu suka keramaian. Ia memilih menghindar. Lalu ia ingat jika ibunya memintanya untuk mengunjungi Leonard dan Elena.
Dengan tidak sopannya Visha meninggalkan bosnya dan pergi dengan taksi.
Sambil menunggu taksi datang ia mengirim pesan kepada bosnya jika ia ada urusan mendadak. Zayn yang mendapat pesan dari Visha segera berlari keluar gedung berharap masih bisa mencegah Visha.
"Sial!!!" umpat Zayn ketika melihat sosok Visha yang baru memasuki taksi dan taksi itu langsung melaju kencang meninggalkan gedung Brahms Corp.
Visha mampir ke toko roti dan membeli kue kesukaan Elena. Setelah ia membayar, taksi kembali jalan menuju kediaman keluarga Abraham.
"Visha!!!" pekik Elena sangat senang melihat kedatangan Visha. Kini Visha bagaikan seorang putri untuk Elena. Mereka berpelukan cukup erat.
"Bagaimana kabar Mama?"
"Mama baik. Kamu sendiri? Kamu kok bisa ada disini?"
"Visha ada acara kantor, Ma. Mumpung lagi disini, Visha sempatkan mampir kesini. Papa mana, Ma?"
"Ada keramaian apa ini? Hanya dua orang wanita saja kok seperti ada sepuluh orang."
"Hahaha, Papa bisa saja."
"Kamu sendiri saja, Visha?"
__ADS_1
"Iya, Pa."
"Oh ya, makan malam disini sekalian ya. Mama akan masak yang spesial buat kamu."
"Tapi, Ma...." Visha ingin menolak tawaran Elena. Bagaimanapun Visha memikirkan perasaan Zayn. Ia bingung harus menjawab apa.
"Iya deh, Ma." Putus Visha kemudian.
"Galang juga katanya sedang menuju kesini." ucap Papa yang baru saja memutus panggilan dengan Galang.
"Hah?!" Visha membulatkan mata.
Bagaimana ini? Visha berpikir keras menyelesaikan kecanggungan ini.
Sedari tadi ia menghindari untuk bertemu dengan Galang, tapi malah mereka seperti sengaja dipertemukan di rumah ini.
Visha memutuskan untuk menghubungi seseorang. Tiba-tiba ia mendapat ide yang ... entah itu baik atau buruk.
"Sha, kamu kalau lelah, istirahat dulu saja. Ada kamar kosong diatas," ucap Mama.
"Iya Ma." Visha berjalan naik ke lantai atas. Ada beberapa kamar disana. Dan salah satunya pasti milik Rocky.
Visha berjalan menyusuri kamar yang ada dilantai atas. Ia membuka satu persatu kamar disana.
Ini adalah kali pertama Visha naik.ke lantai atas.
DEG.
Jantungnya seakan ingin berhenti. Ia menatap kamar kosong itu nanar. Itu adalah kamar Rocky.
Visha melangkah masuk ke dalam kamar itu. Melihat sekeliling kamar yang nampak rapi.
Ia merebahkan dirinya di atas ranjang milik Rocky.
Dingin.
Itulah yang Visha rasa saat kulitnya bersentuhan dengan sprei tempat tidur.
Ia memejamkan matanya. Dan tak lama dirinya benar-benar sudah terlelap dan masuk ke alam mimpi.
...***...
Pukul tujuh malam, Elena sudah selesai memasak. Ia menyiapkan semuanya di atas meja makan.
"Ma, Pa..." suara seseorang memasuki rumah.
"Galang!" Elena memeluk Galang.
"Papa mana, Ma?"
"Ada apa? Hari ini banyak sekali yang mencariku." jawab Papa santai.
"Banyak? Memang siapa saja?" Galang ingin tahu.
"Tadi Visha sekarang kamu."
"Visha? Dia ada disini?"
"Iya. Tadi mama suruh dia untuk istirahat di kamar atas."
"Bagaimana acara hari ini? Lancar?" tanya Papa.
"Lancar, Pa. Visha juga datang kok."
"Oh ya? Jadi maksudnya acara kantor itu ternyata acara di kantor kamu?" tanya Mama.
Galang mengangguk.
"Ini sudah lama sekali, kok dia belum turun juga. Galang, coba kamu cek.ke atas ya." pinta Mama.
"Eh?"
__ADS_1
"Iya, sana kamu ajak di turun untuk makan malam." tambah Papa.
Galang tak bisa menolak. Ia pun menaiki tangga menuju lantai atas.
Leonard dan Elena ber'tos' ria dan terkekeh bersama.
"Semoga rencana kita berhasil, Pa." bisik Elena. Dan dibalas anggukan oleh Leonard.
Galang sampai di lantai atas. Ia tak tahu di kamar mana Visha berada. Ia berpikir sejenak.
"Apa mungkin...?" tanya Galang pada dirinya sendiri.
Galang menuju kamar Rocky. Dan benar saja, Visha masih terlelap di tempat tidur Rocky. Ia menghampiri Visha dan duduk di tepi ranjang.
Disibakkan rambut yang menutupi wajah Visha. Dilihatnya wajah wanita yang sudah tiga tahun ini tak ia lihat.
Apa begitu besarnya cintamu pada Rocky? Hingga kau pun memilih kamar Rocky untuk singgah. Apa tak ada kesempatan untukku bisa memasuki hatimu?
Visha mulai menggeliat. Ia merasa ada seseorang yang sedang membelai rambutnya. Visha segera membuka mata dan memposisikan dirinya duduk.
"Mas Galang?"
Visha masih belum sadar sepenuhnya. Namun ia berusaha membuka matanya lebar.
"Iya, ini aku. Maaf sudah membuatmu terbangun. Mama dan Papa sudah menunggu dibawah untuk makan malam."
"Ah iya. Aku akan merapikan diri dulu." balas Visha.
Galang keluar dari kamar Rocky dan menutup pintunya. Visha keluar dari kamar Rocky dan berjalan di belakang Galang.
Elena dan Leon tersenyum melihat mereka turun bersama. "Sini duduk! Kamu pasti sangat lelah ya hingga tertidur lama sekali."
"Maaf ya, Ma. Visha jadinya tidak membantu Mama menyiapkan makan malam."
"Mama?!" Galang mengernyit heran. Selama ini ia tidak tahu jika Elena meminta Visha untuk memanggilnya Mama dan Leonard, Papa.
"Iya, Visha sudah Mama anggap seperti putri mama sendiri. Ayo makan! Mama masak makanan kesukaan kamu."
"Terima kasih, Ma."
"Kamu pasti lelah mengurus dua perusahaan beberapa tahun ini. Papa sangat berterimakasih karena memiliki kamu."
"Tidak, Pa. Ini sudah menjadi tugasku untuk mengurus perusahaan. Papa dan Mama tinggal menikmati hasilnya saja."
"Kamu memang hebat, Galang." Puji Mama Elena. "Lantas, kapan kamu akan menikah?"
"Uhuuuk uhuuuukkk." Galang tersedak.
"Pelan-pelan dong makannya!" Elena menyodorkan segelas air pada Galang.
"Terima kasih, Ma."
TING TONG
Tiba-tiba ada tamu yang datang. Bi Iroh pun membukakan pintu.
"Cari siapa ya, Mas?"
"Vishanya ada?"
...ššš...
^^^bersambung^^^
jangan lupa dukung karyaku dgn kasih like, komen, vote n klik favorit.
-mampir juga ke ceritaku yg lain:
*99 Cinta Untukmu (tamat)
*The Broken Leaf (ongoing)
__ADS_1
...terima kasih šš...