Labuhan Cinta Sang Playboy

Labuhan Cinta Sang Playboy
Menunda Pernikahan


__ADS_3

...šŸšŸšŸ...


Sore itu Galang menjemput Visha di kantor Brahms Corp. Visha agak terkejut karena Galang tiba-tiba menjemputnya.


Insiden bersama Rocky siang tadi masih terngiang di ingatan Visha. Visha kembali merasa bersalah pada Galang.


Orang-orang pasti akan mengumpatinya jika tahu apa yang terjadi antara dirinya dengan Rocky.


...Tiga kali, Visha! Tiga kali! Kau berciuman dengan Rocky sebanyak tiga kali dan kau sama sekali tak menolak. Kau benar-benar wanita yang buruk. Kau tak pantas mendapatkan Galang....


Sepertinya bisikan-bisikan ghaib mulai terdengar ditelinganya.


...Tidak Visha! Kau tidak buruk! Kau hanya menunjukkan perasaanmu padanya. Apa yang salah dengan jatuh cinta?...


Terdengar bisikan lain ditelinganya. Visha menutup telinganya dengan kedua tangan. Galang yang melihat keanehan pada Visha, langsung bertanya.


"Kau kenapa, Nav? Apa terjadi sesuatu?"


"Ah tidak, Mas. Aku hanya... merasa mendengar sesuatu yang buruk." Jawab Visha sekenanya.


"Kau mau langsung pulang atau ingin mampir ke suatu tempat?"


"Tidak, kita langsung pulang saja."


Galang melajukan mobilnya menuju rumah Visha. Keadaan rumah terlihat sepi. Biasanya Ali menyambut kedatangan Visha.


Visha turun dari mobil dan memanggil Ali. Namun bukan Ali yang menjawab melainkan Rara.


"Mbak..." Rara terlihat pucat dan panik.


"Ada apa, Ra? Ali mana?"


"Ali, Mbak... hiks hiks..."


"Ra, bicara yang jelas! Jangan membuat kami bingung!" Galang ikut panik melihat Rara menangis.


"Ali di bawa ke rumah sakit, Mbak. Penyakitnya kambuh."


"Apa?!"


...***...


Visha berlari sekencangnya di lorong rumah sakit mencari keberadaan putranya. Air matanya sudah tumpah sedari tadi.


Ia mencoba menghubungi Karina, namun belum berhasil tersambung. Dan Galang berinisiatif menghubungi Edo.


Ditengah kebingungannya, akhirnya Visha bertemu dengan Karina.


"Ibu!!!" teriak Visha.


"Visha..."


"Apa yang terjadi, Bu?"


"Jantung Ali kambuh lagi, Nduk. Sepertinya makin memburuk."


Visha merasa tubuhnya tak bernyawa lagi, ia hampir saja terjatuh jika saja Galang tak segera menangkapnya.


"Tenanglah, Nav. Ali pasti baik-baik saja. Bu, sekarang Ali dimana?"


"Dia akan dipindahkan ke kamar perawatan."


.


.


.


Visha memandangi tubuh putranya yang terkulai lemas di ranjang rumah sakit.


Visha terus memegangi tangan Ali dan menciuminya lembut.


Sejak masih dalam kandungan, Ali sudah divonis memiliki kelainan pada jantungnya, yang hanya bisa di sembuhkan dengan cara cangkok jantung.


Visha menyeka air matanya. Ia tak mau saat Ali terbangun, malah melihat dirinya sedang menangis.


Karina menguatkan Visha dengan mengelus bahunya pelan. Galangpun hanya terdiam melihat kesedihan calon istrinya itu.


Karina meminta Galang untuk keluar dari kamar.


"Nak Galang, maaf bila ibu harus bicara begini. Tapi... sebaiknya rencana pernikahan kalian ditunda dulu hingga keadaan Ali membaik."


Galang nampak berpikir. "Baiklah, Bu. Nanti akan saya bicarakan dengan Visha."


"Terima kasih, Nak Galang."


"Apa yang bisa kita lakukan untuk Ali, Bu?"


"Visha sudah mendaftarkan Ali untuk menerima donor jantung, namun sampai sekarang belum ada kabar dari rumah sakit."

__ADS_1


Raut wajah Karina dan Galang berubah suram. Bayangan tentang kejadian buruk menimpa Ali terlintas di pikiran mereka.


Apa jadinya jika Visha sampai kehilangan putranya? Batin Galang ikut resah memikirkan keadaan Ali.


"Sebaiknya Nak Galang pulang. Malam ini biar Visha dan ibu yang berjaga di rumah sakit."


"Tidak, Bu. Ibu pulang saja. Biar aku yang disini." Visha keluar dari kamar Ali.


"Besok 'kan kamu harus berangkat kerja."


"Tidak, Bu. Aku sudah mengundurkan diri."


"Eh?" Galang dan Karina terkejut.


"Tidak usah terkejut begitu."


"Nav, aku rasa kita harus menunda pernikahan sampai Ali sembuh." Ujar Galang.


"Terserah Mas saja."


Galang mendekat dan memeluk Visha.


"Mas pulanglah! Tolong antarkan ibu pulang juga."


"Ya sudah kalau begitu, aku pergi dulu ya. Ayo, Bu!"


...***...


"Bu Navisha, dokter ingin bicara dengan Ibu." Suara seorang perawat membuyarkan lamunan Visha yang sedari tadi diam di depan kamar Ali.


"Eh? Iya, suster."


"Mari ikut saya!"


Visha menuju ke ruangan dokter Dhani ditemani seorang perawat.


"Dokter, bagaimana keadaan Ali?"


"Bu Visha tenang dulu. Kami juga sedang berusaha semaksimal mungkin untuk mendapat donor untuk Ali. Untuk saat ini, Ali harus mendapat perawatan intensif sebelum dia menjalani operasi."


Visha menutup mulutnya. Air matanya sudah mengalir deras didepan dokter.


"Ibu berdoa saja semoga kita cepat mendapatkan donor. Dan, ibu harus bisa membesarkan hati Ali, dan jangan bersedih didepannya."


Visha mengangguk.


...***...


"Bos..."


"Hmm."


"Kita mau kemana?"


"Terserah kau saja."


"Pulang ke apartemen?"


"Aku tidak ingin pulang."


"Bos ingin ke klab dan mabuk-mabukan lagi?"


"................"


"Bos... Aku sudah tahu soal bos dan Visha."


GLEK! Rocky menelan ludah.


"Jadi ini alasan bos bersikap aneh akhir-akhir ini."


"Apa saja yang kau tahu?"


"Kejadian tadi siang..."


Rocky menatap Donny tajam. "Apa yang kau lihat?"


"Kesedihan kalian..."


"Eh?" Rocky tak mengira jika jawaban Donny diluar ekspektasinya.


"Kalau kalian saling cinta, kenapa tidak sama-sama berjuang? Toh mereka belum menikah."


"Aku tidak bisa menyakiti Kak Galang. Dia sangat mencintai Visha."


"Tapi Visha mencintai bos. Benar 'kan?"


"Tapi dia tak pernah mengakuinya."


"Apa bos tidak waras?!"

__ADS_1


Rocky melotot ke arah Donny yang sedang konsen menyetir.


"Berani sekali kau bilang aku tidak waras!?!"


"Itu benar. Kenapa bos butuh pengakuan darinya jika dari matanya saja sudah terlihat jika dia mencintai bos."


"Kau yakin?"


"Bos sendiri yakin atau tidak?"


"Ish, dasar kau!" Rocky menunjukkan tinjunya didepan wajah Donny.


"Sudahlah, kita pulang saja. Bos butuh istirahat. Pikirkan dengan baik dan lakukan sesuai kata hati bos."


"Visha sudah mengundurkan diri. Tadi siang dia datang ke kantor untuk menyerahkan surat pengunduran dirinya."


"Dan bos diam saja?"


"Kau ingin aku melakukan apa? Mereka akan menikah dalam hitungan hari."


"Dan takdir bisa berubah dalam hitungan menit, bahkan detik."


"Kau gila? Papa dan Mama bagaimana? Aku juga memikirkan perasaan mereka. Terlebih lagi... Aku memikirkan perasaan Ali."


"Siapa Ali?"


"Anak Visha."


"Oh."


Dan tak ada percakapan lagi setelahnya. Rocky pulang ke apartemen, dan Donny pulang ke rumahnya.


...***...


Malam berikutnya,


"Eh, Mas Rocky, tumben pulang tidak kasih kabar."


"Bi Iroh nih, tidak suka ya aku pulang ke rumah?"


"Bukan begitu Mas. Tapi biasanya Mas Rocky pulangnya kalau ada acara saja."


"Bukankah hari ini ada acara makan malam bersama Kak Galang?"


"Masa sih Mas? Kok bibi tidak tahu. Nyonya juga tidak meminta bibi memasak."


"Wah, ada yang tidak beres nih. Mama dimana, Bi?"


"Ada di teras belakang dengan Tuan."


Rocky segera berjalan menuju teras belakang. Dan benar saja, disana Papa dan Mamanya sedang asyik bercengkerama memandang sinar bulan.


"Ma, Pa.."


"Eh, Rocky! Tumben kamu datang?"


"Apa maksud Mama? Bukankah hari ini ada acara makan malam keluarga?"


"Ya ampun! Mama lupa telepon kamu. Acara makan malamnya batal."


"Batal? Kok batal?"


"Pernikahan kakak kamu ditunda."


"APA?!"


"Astaga, Rocky! Tidak perlu bereaksi berlebihan begitu dong!"


"Apa alasannya sampai ditunda, Ma?"


"Anaknya Visha sakit. Sekarang sedang di rawat di rumah sakit," kini Papa yang menjawab.


"Oh, begitu."


"Kau sudah makan?" Tanya Mama.


"Aku tidak lapar. Kalau begitu, Rocky pergi dulu, Ma, Pa."


"Eh mau kemana? Baru datang sudah mau pergi."


"Rocky ingat kalau ada janji. Dah Ma, Pa."


Rocky terburu-buru mengendarai mobilnya menuju ke rumah Visha. Ia harus tahu bagaimana keadaan Visha dan terutama Ali.


...šŸšŸšŸ...


tobe continued,,,


Jangan lupa tinggalkan jejak šŸ‘£šŸ‘£

__ADS_1


__ADS_2