
...ššš...
Meski Rocky tak menghadiri sidang putusan perkara Galang secara lengkap, namun ia telah mendengar jika kakaknya itu di jatuhi 15 tahun hukuman penjara oleh hakim ketua. Mengingat banyaknya kejahatan yang ia lakukan selama ini.
Rocky tak mengerti apa yang membuat lelaki baik seperti Galang tiba-tiba berubah haluan dan menjadi pelaku kejahatan.
Hari ini Rocky memutuskan untuk mengunjungi Galang di sel tahanannya. Sudah berkali-kali Rocky datang namun tak pernah ditemui oleh Galang.
Karena kegigihannya, akhirnya Galang bersedia menemui Rocky. Dilihatnya sang kakak yang terlihat lusuh memakai baju tahanan. Rocky merasa iba dengan keadaan kakaknya itu.
"Bagaimana kabar kakak?" tanya Rocky diiringi senyum.
"Seperti yang kau lihat. Sangat menyenangkan tidak lagi memikirkan tentang perusahaan." jawab Galang dengan senyum getirnya.
Rocky tersenyum miris.
"Kau sendiri bagaimana? Kau sudah kembali menjadi Rocky? Aku merasa aneh karena wajahmu bukanlah Rocky."
"Kakak yang sudah membuatku jadi begini..."
"Tidak, Rocky."
Rocky menatap wajah kakak yang sangat ia sayangi. "Lantas apa? Kakak boleh membenciku, dan membalaskan semua dendam kakak padaku, tapi..."
Rocky menatap wajah Galang dengan mata yang memanas.
"Tapi, jangan pernah menyakiti Visha. Dan juga papa dan mama..."
Galang tersenyum seringai. "Kau sangat mencintai Visha?"
"Apa kakak juga mencintainya? Jika iya, kenapa kakak..." suara Rocky tertahan.
"Rocky... Kau ingat saat pertama kali kau datang ke rumah bersama mamamu?"
Rocky berusaha mendengarkan cerita Galang.
"Saat itu usiamu sekitar lima tahun. Aku yang masih berusia delapan tahun, sudah tahu apa yang terjadi dengan keluargaku. Papa... sudah menikah lagi dan memiliki anak yaitu kamu. Tapi, apa kau tahu apa yang dikatakan mamaku? Dia bilang, aku harus menerima kalian. Aku tidak tahu apa maksud kalimat itu. Hingga aku harus kehilangan mama karena sakit kanker yang di deritanya..."
"Aku berusaha menerima semuanya, karena itu pesan terakhir mama padaku. Aku tidak membenci kalian. Dan aku sangat menyayangimu. Rocky kecil sangatlah lucu. Kau selalu ingin selalu bermain denganku meskipun mama Elena melarangmu."
Galang menatap jauh menerawang.
"Mulai beranjak remaja, aku mulai tahu apa yang mamaku maksud. Aku harus menjadi seorang kakak yang menjadi panutan untuk adiknya. Aku belajar keras agar selalu menjadi nomor satu di sekolah maupun di hati Papa. Dan benar, papa sangat peduli padaku. Dia bahkan sangat bangga padaku. Mungkin dari situ lah... Mama Elena mulai membenciku. Karena papa lebih sayang padaku, dari pada kamu."
Galang masih menatap jauh entah kemana.
"Apa kau tahu, Kak? Aku... selalu iri denganmu. Benar, otakku tidak sepandai otakmu. Makanya aku...Selalu membuat ulah. Aku melakukan hal yang tidak bisa kau lakukan. Aku mulai nakal di sekolah dan... memacari banyak gadis." Rocky tersenyum getir.
"Itu adalah cara agar aku... sedikit diakui oleh papa. Dan benar papa memperhatikanku karena aku selalu membuat onar. Hingga aku memutuskan pergi ke luar negeri, itu juga caraku agar menghindari kalian. Aku membencimu, kak. Kau seakan merebut duniaku. Tapi saat kau dekat dengan Sania, aku merasa sedikit membalaskan dendamku karena ternyata Sania lebih memilihku."
Galang tersenyum miris. "Jadi... kita menyimpan dendam masing-masing, Rocky."
__ADS_1
"Dan semua itu seakan sia-sia saja, Kak. Aku... sangat menyayangimu sejak aku memutuskan berhenti menjadi pemain hati wanita. Kau selalu ada untukku. Aku tidak bisa menyakitimu lagi hingga akhirnya... Aku bertemu dengan Visha. Wanita yang mampu menggetarkan hatiku. Untuk pertama kalinya aku berjuang untuk cintaku. Namun kakakku ternyata juga mencintainya..."
"Jangan gila, Rocky. Dia tidak pernah mencintaiku. Akhirnya aku tahu, alasan dia mau menerima perasaanku adalah... Karena ada sesuatu dalam diriku yang mengingatkannya tentangmu. Ya, dia selalu mencintaimu, Rocky. Bahkan bertahun-tahun berlalu pun, dia masih mencintaimu. Maka dari itu... tolong jaga dia. Jangan membuatnya menangis lagi..."
"Maaf, waktu kunjungan sudah habis." interupsi petugas sipir yang membawa Galang kembali ke dalam ruang tahanannya.
Rocky masih duduk diam di tempatnya. Hatinya begitu sesak mengetahui semua kenyataan pahit tentang kehidupannya dan Galang.
Rocky berjalan gontai keluar dari rumah tahanan. Dilihatnya Visha sudah menunggunya sambil mengulas senyum.
Entah apa yang di rasakan oleh Rocky setelah mendengar kalimat terakhir Galang tadi tentang Visha.
"Kau baik-baik saja?" tanya Visha.
Tanpa menjawab Rocky langsung memeluk wanita yang sudah menjadi istrinya itu.
Visha pikir hati Rocky pasti terasa sakit setelah bertemu dengan Galang. Visha mengusap-usap punggung suaminya untuk menenangkannya.
.
.
.
Dan disaat Rocky menemui Galang, Visha juga menemui Sania di ruang tahanan wanita.
Sempat ditolak beberapa kali sama seperti Rocky, namun hari ini Sania bersedia menemui Visha.
"Untuk apa kau terus datang?" tanya Sania sinis.
"Bukankah ada yang harus kita bicarakan?"
"Jika kau ingin bercerita kebahagiaanmu bersama Rocky, aku tidak sudi mendengarnya."
"Tidak. Aku hanya ingin mengatakan tentang Alisa. Apa kau tahu dia sekarang tinggal bersamaku?"
"Iya, aku tahu. Aku tidak sudi jika Alisa harus bersama Yogi."
"Tapi dia tetap ayah kandung Alisa. Dan kami tidak akan menghalangi Yogi jika dia ingin bertemu Alisa."
"Rocky benar-benar memegang ucapannya. Dia bilang dia akan menyayangi Alisa seperti anaknya sendiri. Dan itu terbukti. Aku harap... kau bisa menerima Alisa." kini nada bicara Sania tak lagi sinis.
"Hmmm, aku memang belum sepenuh hati menerimanya, karena sosoknya mengingatkanku padamu. Bagaimana kau menyakitiku dengan begitu dalam..." mata Visha mulai mengembun.
"Maaf, Visha. Tapi semua terjadi begitu saja. Aku tidak tahu akan berbuat sampai sejauh ini..."
"Kenapa? Apa kau sangat menginginkan Rocky?"
"Saat dia menolak untuk menjadi ayah dari bayi yang kukandung, entah kenapa aku tidak bisa menerima itu. Terlebih lagi, dia mencintai wanita sepertimu. Seperti bukan selera Rocky saja..."
Visha tersenyum getir.
__ADS_1
"Apa kau ingin tahu bagaimana Rocky bisa berubah menjadi Bian?"
Visha menatap Sania tajam. Seakan menyiratkan jika ia ingin mendengar semuanya dari mulut Sania secara langsung.
"Apa kau tahu, Rocky mengurung diri selama berhari-hari setelah tahu jika dia memiliki anak darimu? Aku sangat tahu sifatnya, dia pasti merasa bersalah dan tak berani menampakkan dirinya di depanmu."
Visha membulatkan mata. Akhirnya ia tahu kenapa Rocky tak datang malam itu.
"Aku menghubunginya berulang kali namun tak pernah ia angkat. Hingga di malam kecelakaan itu, seseorang mengangkat panggilan dariku dan mengatakan jika Rocky mengalami kecelakaan. Aku segera kesana. Dan ternyata rumah sakit itu adalah rumah sakit yang sama tempat anakmu di rawat. Tapi yang membuatku akhirnya mengambil langkah ini adalah... saat Rocky berniat mendonorkan jantungnya untuk putramu jika sesuatu terjadi dengannya."
DEG.
"Kau tahu bagaimana perasaanku, Visha? Aku tidak bisa terima itu. Lalu kulihat ada kesempatan yang tak akan terulang lagi. Rocky tidak kecelakaan sendiri, ada seseorang yang menolongnya. Dia adalah Biantara Adiguna. Aku memanfaatkannya dengan meminta bantuan Galang. Kulihat tubuhnya penuh dengan luka bakar yang cukup parah, dan dia tidak akan selamat. Maka...Aku menyuap para dokter untuk mengubah identitas Bian menjadi Rocky, dan Rocky menjadi Bian."
Visha merasa dadanya mulai sesak mendengar semua kenyataan pahit ini.
"Aku membawanya pergi jauh dari kota ini dan mengubah wajah dan identitasnya. Dia tak sadarkan diri selama dua tahun. Dan saat terbangun, dia sudah melupakan ingatan lamanya. Namun...ada satu hal yang membuatku kesal. Saat dia bangun setelah koma dua tahun, dia langsung menyebut namamu. Dia menggumamkan namamu. Dia hanya mengingatmu..."
"Maaf, jam kunjungan sudah habis." Seorang sipir wanita menghampiri Sania dan membawanya kembali kedalam sel.
Visha masih tertegun mendengar cerita Sania. Air matanya luruh mengalir di pipinya.
.
.
.
Visha mengusap punggung Rocky dengan pikirannya yang juga sedang larut dalam kepiluan.
Setelah lama saling berpelukan, Rocky melepaskan tubuh Visha.
"Kita pulang ya!" ucap Visha.
Rocky mengangguk dan meraih bahu istrinya lalu berjalan menuju mobil.
...ššš...
#bersambung....
š„š„š„š„š„
Sepintar-pintarnya kita menyembunyikan bangkai, baunya pasti akan tercium juga.
Cerita ini hanya fiktif belaka ya gaes, apa yg ada didalamnya kita jadikan pembelajaran. Mari ambil yg baik dan jangan tiru yg buruknya. Apalagi jika yg berhubungan dengan melanggar hukum, adat istiadat dan norma yg ada di masyarakat.
Semoga kalian terhibur dengan cerita halu dari mamak šš Terima kasih untuk yg sudah setia mampir dan menunggu UP dari mamak. Tiada kata yg bisa kugambarkan untuk.rasa terimakasihku pada kalian semua šš
Cerita ini akan mencapai akhir sebentar lagi. Tetap dukung mamak ya dalam berkarya šš
Terimakasih š
__ADS_1