Labuhan Cinta Sang Playboy

Labuhan Cinta Sang Playboy
S2 - Meyakinkan Navisha Lagi


__ADS_3

...šŸšŸšŸ...


"Maaf..."


Satu kata berhasil terucap dari bibir Visha. Ia mendorong tubuh Bian dan melepaskan diri darinya.


Visha segera keluar dari apartemen itu dan terus memegangi dadanya yang sesak dengan masih terus terisak.


Visha segera menuju lift dan ingin segera pergi dari sana. Ia tak bisa menahan sesak didadanya jika memang apa yang Bian katakan adalah benar. Ia ingin mengetahui kebenarannya. Namun hatinya tak sekuat itu untuk menerima semua ini setelah bertahun-tahun menganggap Rocky telah tiada.


Donny melihat Visha berlari keluar dari apartemen dan menghentikan taksi. Donny mengernyit bingung dan menanyakan banyak hal di benaknya.


"Ada apa ini? Kenapa Visha malah pergi?" gumam Donny.


Dan pikirannya terlintas pada Rocky yang ternyata tidak mengejar Visha.


"Bos Rocky?"


Donny langsung berlari dan menuju kamar apartemen Rocky. Begitu didepan pintu, ia tak bisa membuka pintunya karena Bian sudah mengganti kodenya. Ia menekan bel dan berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk dengan bosnya.


Bian membuka pintu dengan tatapan kosong.


"Ternyata kau! Ada apa?" tanya Bian dengan suara lirih.


"Bos, apa yang terjadi? Kenapa Visha pergi dengan menangis?"


"Entahlah. Aku tidak tahu..." Bian duduk di sofa dan tatapannya masih kosong.


"Bos sudah mengatakan semuanya pada Visha?"


Bian mengangguk.


"Lalu?"


Bian menggeleng.


Donny menggaruk tengkuknya. "Visha percaya?"


"Entahlah..."


Donny benar-benar bingung dengan situasi ini. "Ya sudah, sebaiknya bos istirahat saja. Jangan terlalu memikirkannya. Aku yakin Visha hanya butuh waktu untuk menerima semua kenyataan ini." Donny menepuk pelan bahu Bian.


Bian hanya menjawab dengan anggukan. Donny tak tega meninggalkan bosnya sendirian di saat seperti ini.


"Kau pergilah!"


"Eh?"


"Bukankah aku menyuruhmu untuk mengawasi keadaan Papa? Sebaiknya kau berjaga di rumah sakit saja."


"Baiklah. Tapi berjanjilah bos tidak akan melakukan hal nekat."


Bian tersenyum menyeringai. "Kau tenang saja! Aku masih waras, Don."


"Kalau begitu aku permisi."


Usai Donny meninggalkannya, Bian mengusap wajahnya kasar.


Apa Visha mempercayaiku? Ya Tuhan! Kenapa aku merasa jika dia akan tambah membenciku?


Bian menuju dapur dan menuangkan segelas air putih lalu meneguknya dengan cepat.


Aku harus cari cara agar bisa meyakinkan Visha. Aku tidak akan menyerah begitu mudah. Kau tunggu saja, Visha. Kau pasti akan kembali padaku!


...~ ~ ~...


Sore harinya, Visha sudah berada di bandara dan bersiap kembali ke Semarang. Semenjak menemui Bian, Visha terus terdiam dan nampak tak fokus. Haryono mengenali putrinya dengan baik. Ia tahu jika putrinya itu menyembunyikan sesuatu.


Namun ia tak mau menambah kesedihan pada putrinya itu dan memilih bungkam.


Sampaindi Semarang, orang suruhan Haryono sudah menjemput. Visha berpamitan dengan ayah ibunya, juga Ali. Ia tak ikut kembali ke Pekalongan karena besok ia sudah kembali berkutat dengan pekerjaannya.

__ADS_1


Sepeninggal ayah ibunya, Visha nampak mencari taksi untuk pulang ke kosnya. Namun secara tak terduga, Visha malah bertemu Zayn.


"Hai..." sapa Zayn dengan senyum maskulinnya.


"Pak Zayn? Kenapa bapak ada disini?" tanya Visha dengan masih tidak sadar jika Zayn pasti menjemputnya.


"Tentu saja untuk menjemputmu."


"Eh?"


"Ayo! Sini kubawakan tasmu." Zayn mengambil alih tas yang dibawa Visha kedalam tangannya.


"Eh?" Visha masih belum sadar dengan semua perlakuan Zayn dan hanya mengikuti langkah Zayn menuju mobilnya.


"Ayo masuk!" Zayn mempersilahkan Visha duduk di mobil.


Tanpa menjawab apapun Visha menuruti semua perkataan Zayn. Ia sedang tak ingin berdebat. Hati dan pikirannya sudah terkuras habis usai insiden bersama Bian di apartemen siang tadi.


"Kau pasti belum makan, kita makan dulu ya!" ajak Zayn dan Visha hanya bisa mengangguk.


.


.


.


"Aku akan meninjau proyek perusahaan di Semarang." ucap Bian di sela-sela makan malamnya bersama Sania dan Alisa.


"Eh? Ke Semarang? Apa itu adalah proyek bersama Zayn?" tanya Sania.


Terlihat gurat kecemasan saat Bian mengatakan tentang Kota Semarang.


"Iya. Kenapa? Aku tidak mau jika harus menyerahkan semuanya ke anak buahku. Aku ingin langsung memantau perkembangannya."


"Ah, begitu. Iya, aku mengerti."


"Kau tenang saja, tidak akan lama kok. Hanya sekitar tiga hari." Bian mengelus lembut lengan Sania. Kini ia memerankan perannya dengan apik sebagai Bian.


Sania tersenyum kaku. Bian tahu jika sangat nampak Sania cemas. Bian tahu jika Sania pasti khawatir tentang Visha.


Bian kembali menyantap makan malamnya dengan santai.


Bersiaplah, Sania. Semua kebusukanmu akan mulai terbongkar.


Usai makan malam, Bian pergi ke ruang kerjanya. Ia akan mengecek email yang sedang ditunggunya. Ia menyalakan laptopnya dan membuka akun emailnya.


Sebuah email masuk dan berhasil membuatnya tersenyum getir.


"Bagaimana bisa kau melakukan semua ini, Sania? Kau sungguh telah berubah. Kau bukan lagi Sania yang kukenal dulu." gumam Bian.


Bian membaca isi email yang dikirim oleh orang suruhannya. Bian mengepalkan kedua tangannya setelah membaca email tersebut.


Ia menuju ke sofa di ruang kerjanya dan merebahkan tubuhnya disana. Ia akan tidur di sofa malam ini. Ia benar-benar muak jika harus bertemu dengan Sania.


...~ ~ ~...


Hari itu, Bian telah sampai di kota Semarang dan langsung menuju ke lokasi proyek bersama Reza. Bian tersenyum penuh arti melihat Visha yang bersemangat memimpin proyek ini. Padahal Visha pernah berkata padanya jika ia menyesal telah menggagalkan pembatalan kontrak kerjasama ini.


"Reza, kau carikan hotel yang paling bagus untuk tempatku menginap ya!" titah Bian pada Reza.


"Baik, Pak!" jawab Reza.


Reza kini mulai tak peduli dengan keberadaan Visha karena kini Visha sudah menjadi milik Zayn. Ia memutuskan untuk melupakan Visha dan mencari wanita lain saja.


"Tolong kau pastikan secara langsung fasilitas di hotel itu."


"Heh?"


"Kau pergilah memeriksanya."


Reza menunjukkan ponselnya pada Bian. "Bagaimana kalau hotel ini, Pak?"

__ADS_1


"Hmm, bagus juga. Pergilah memeriksanya dan pastikan semuanya sempurna."


"Eh? Baik, Pak." Reza segera berlalu dari hadapan Bian.


Bian menghampiri Visha yang sedang berdiskusi dengan kepala pekerja.


"Selamat siang, Pak..." sapa kepala pekerja bernama, Heru pada Bian.


Visha tak menyadari kedatangan Bian dan nampak canggung bertemu dengan Bian.


"Se-selamat siang, Pak." sapa Visha kemudian.


"Hmm," jawab Bian singkat.


"Bisa saya bicara sebentar?" tanya Bian pada Visha. Heru pun undur diri dan kembali bekerja.


Visha hanya menjawab dengan anggukan.


Kenapa dia bisa ada disini? Apa dia akan kembali membahas soal kemarin?


Bian mengajak Visha ke sebuah resto yang nampak sepi. Sebenarnya Bian sudah mempersiapkam segalanya dengan menyewa seluruh resto hanya untuk dirinya dan Visha saja.


"Kita makan siang dulu." ucap Bian.


Bian tahu jika Visha pasti akan menolak jika dirinya membawa Visha ke tempat tertutup seperti hotel atau apartemen. Jadi lebih baik membawanya ke tempat umum saja.


Bian tak melihat ada kebencian di mata Visha seperti beberapa waktu lalu.


Apa dia mulai percaya padaku?


Bian tersenyum penuh arti. Sementara Visha terus menunduk sejak kedatangan mereka.


"Kau ingin makan apa?" Tanya Bian.


"Terserah bapak saja." jawab Visha.


"Baiklah, akan kupesankan makanan kesukaanmu."


Visha mendongakkan kepala mendengar jawaban Bian.


"Mbak, pesan nasi goreng seafood, dengan telor ceplok setengah matang diatasnya. Pedasnya sedang saja, lalu minumnya lemon tea hangat. Buatkan dua ya!" ucap Bian pada si pelayan wanita.


"Baik, Pak. Ditunggu sebentar!"


Setelah pelayan pergi, Visha menatap Bian tak percaya. Semua yang diucapkan Bian adalah benar makanan kesukaan Visha.


"Jangan menatapku seperti itu! Makanlah dengan baik. Bukankah aku sudah pernah mengatakan hal itu padamu..."


Visha segera memalingkan wajahnya. Dan tak lama pesanan mereka datang, karena memang Bian sudah memesannya lebih dulu sebelum mereka datang.


"Makanlah! Kau terlihat kurus! Kau pasti sangat sibuk mengurus proyek ini ya."


Visha tetap tidak menjawab dan segera meraih sendok lalu menyuapkan nasi goreng kedalam mulutnya karena ia memang sudah lapar.


Usai makan siang, Bian memberikan sebuah amplop pada Visha.


"Bukalah saat kau sudah di rumah." Dan tanpa kalimat perpisahan, Bian segera pergi dari resto tersebut. Sementara Visha mematung tak paham dengan sikap Bian.


"Aku sudah menyiapkan supir untuk mengantarmu kembali ke kantor." Ucap Bian berbalik badan sebelum akhirnya ia benar-benar pergi.


...šŸšŸšŸ...


bersambung...


.


.


*kira-kira apa isi dalam amplop yang diberikan Bian?


*apa Visha akan mempercayai Bian kali ini?

__ADS_1


*jangan lupa tinggalkan jejak, karena kalian adalah kekuatanku šŸ’ŖšŸ˜


...~thank you~...


__ADS_2