
...ššš...
Pukul enam sore, Visha memutuskan untuk berpamitan pada penghuni panti. Matahari sudah makin tak nampak dan ia harus kembali ke rumah sebelum hari lebih gelap.
Visha berjalan ke jalan besar beberapa meter di depan panti. Ia celingukan mencari angkutan umum yang biasanya masih beroperasi.
Rocky berpamitan pada anak-anak panti dan Ibu Nur. Hari ini Sania juga tak datang ke panti. Rocky mulai bertanya-tanya apa yang terjadi dengan Sania.
Namun keingintahuannya segera sirna ketika melihat Visha yang sedang berdiri di pinggir jalan. Rocky melajukan mobilnya pelan dan menghampiri Visha.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Rocky.
"Saya sedang menunggu angkutan umum."
"Oooh." Rocky tak memperpanjang kalimatnya dan melajukan kembali mobilnya.
Dengan ragu Rocky melirik ke arah spion dan masih mendapati Visha disana. Sedari tadi tak ada mobil angkutan umum yang melintas.
Rocky mulai merasa kasihan pada Visha yang nampak kebingungan dan cemas.
Pikirannya beradu antara ingin menolong Visha atau membiarkannya.
Dengan memantapkan hati, Rocky memundurkan mobilnya dan kembali ke tempat Visha berdiri.
"Masuklah! Sepertinya sudah tidak ada angkutan umum yang melewati daerah ini." perintah Rocky.
"Heh?" Visha kebingungan.
"Masuklah! Hari mulai gelap."
Karena merasa tak ada pilihan lain, Visha masuk ke dalam mobil Rocky.
"Siapa yang menyuruhmu duduk dibelakang?! Kau pikir aku supir? Pindah ke depan!" Rocky mulai naik pitam.
"Hah? I-iya, Pak." Visha kembali membuka pintu mobil dan berpindah duduk di sebelah Rocky.
Sejenak tak ada perbincangan diantara mereka berdua, hingga akhirnya----
"Kenapa tidak meminta Kak Galang untuk menjemputmu?" tanya Rocky asal.
"Mas Galang tidak tahu jika saya menjadi relawan disini."
Rocky berdecih. "Berapa banyak kebohongan yang kau sembunyikan dari kakakku?"
"Eh? Apa maksud bapak?"
"Dengar ya, meskipun aku dan Kak Galang tidak lahir dari rahim yang sama. Tapi aku sangat menyayanginya. Dan aku tidak akan tinggal diam jika ada seseorang yang melukai hatinya. Maka dari itu, mulailah bicara jujur kepadanya dan jangan menyembunyikan apapun darinya."
GLEK. Visha menelan ludah.
"Mulai sekarang, tidak perlu bersikap formal kepadaku. Kau akan segera jadi kakak iparku. Omong-omong, selamat atas pertunangan kalian."
"Ah, iya, Pak. Terima kasih."
"Jangan memanggilku 'Pak'. Aku akan jadi adik iparmu. Panggil saja aku Rocky."
"Heh?"
"Kau harus mulai membiasakan diri untuk jadi bagian keluarga Abraham. Lalu, kapan kau akan menemui Papa dan Mama?"
"Itu---? Aku masih belum tahu. Semua terserah pada Mas Galang saja."
"Semakin cepat semakin baik. Kau harus tunjukkan pada Papa dan Mama kalau kau layak menjadi pendamping Kak Galang."
"Iya, aku akan berusaha keras."
"Aku suka semangatmu. Tetaplah seperti itu."
Visha membalas dengan seulas senyum di bibirnya. Sejenak suasana kembali hening.
Namun lagi-lagi, Rocky kembali membuka suara.
"Beritahukan pada Alena dimana alamat rumahmu!" perintah Rocky.
"Eh? Alena?! Siapa dia?"
Rocky menepuk kepalanya pelan. "Apa kau tidak pernah naik mobil Kak Galang? Kau tidak mengenal Alena?"
Visha menggeleng. Rocky tersenyum terkekeh kecil.
__ADS_1
"Perhatikan baik-baik! Aku tidak akan mengulanginya!"
Visha mengangguk.
"Alena! Tolong putar lagu Arianna Grande!" ucap Rocky sedikit berteriak.
"Oke! Memutar lagu Arianna Grande." sebuah suara datang dari arah depan dashboard mobil.
"Hah?" Visha melongo tak percaya. Tak lama sebuah lagu terputar di pengeras suara mobil.
"Kau sudah paham?" tanya Rocky.
Visha mengangguk.
"Alena! Hentikan lagunya!" titah Rocky lagi.
Seketika lagu berhenti. Visha merasa takjub dengan kecanggihan teknologi di mobil Rocky.
"Sekarang giliranmu!" perintah Rocky.
"Eh?" Visha mengambil nafas terlebih dahulu sebelum bicara.
"Alena! Tunjukkan arah ke jalan bunga dahlia empat!" ucap Visha dengan lantang.
"Oke! Dua ratus meter kedepan, lalu belok ke kiri!" jawab Alena.
Visha kembali takjub karena jalur yang diucapkan Alena adalah benar.
Rocky kembali menarik bibirnya sedikit melihat tingkah aneh Visha.
"Jadi kau tidak tahu kalau mobil Kak Galang juga memiliki Alena?"
"Tidak."
"Karena sekarang kau sudah tahu, jangan cemburu jika Kak Galang tiba-tiba memanggil nama Alena." kekeh Rocky lagi.
Visha mengerucutkan bibirnya karena Rocky terus mengejeknya. Ia memang tak terlalu paham dengan dunia teknologi jaman sekarang.
.
.
.
"Berhenti disini saja!" ucap Visha.
Rocky menghentikan mobilnya. "Yang mana rumahmu?" tanya Rocky sambil celingukan.
"Aku turun disini saja. Terima kasih sudah mengantarku."
"Eh tunggu!! Yang mana rumahmu?" Rocky mengulangi pertanyaannya dengan nada tegas.
Visha tahu jika Rocky tak suka dibantah. Visha menunjukkan rumahnya.
"Yang itu!" Visha menunjuk dengan jarinya.
"Masih jauh, akan kuantar kesana."
"Tidak perlu. Aku turun disini saja."
"Kau ini!! Aku harus memastikanmu pulang dengan selamat. Kau adalah kekasih kakakku."
Visha mengangguk dan mobil melaju.
"Yang ini?" tanya Rocky sambil menunjuk ke arah sebuah rumah dengan papan bertuliskan Karina Catering.
"Iya."
Mobil Rocky memasuki halaman depan rumah.
"Eh? Tidak perlu masuk!"
Rocky tak mendengar ucapan Visha dan malah memarkirkan mobilnya tepat didepan teras rumah. Rocky segera turun dari mobil.
"Kenapa bapak ikut turun?" tanya Visha yang mulai kewalahan menghadapi Rocky.
"Kenapa memangnya? Aku tidak boleh berkunjung kesini? Kau bilang rumah ini bukan pemberian Kak Galang, tapi kau membelinya dengan cara mencicil. Dan aku rasa, cicilannya pasti belum lunas. Itu artinya rumah ini masih milik kakakku. Jadi, aku juga berhak untuk datang kemari."
Visha kehabisan kata-kata. Ia tak bisa menolak kedatangan Rocky.
__ADS_1
"Bagus juga rumahnya! Halamannya juga luas. Kak Galang pintar memilih rumah."
"Visha? Kau sudah pulang, Nduk?" sapa Ibu Karina.
"Iya, Bu."
"Lho? Ini siapa, Nduk?" tanya Ibu Karina dengan menunjuk Rocky.
.
.
Karena merasa tak ada pilihan lain, Visha mengajak Rocky masuk kedalam rumah dan duduk diruang tamu.
"Ini adiknya Mas Galang, Bu. Namanya Rocky. Kami tidak sengaja bertemu di panti asuhan Kasih Bunda." Visha memperkenalkan Rocky pada Ibu Karina.
"Ooh. Adiknya Nak Galang." Ibu Karina memandang Visha dengan tatapan penuh berjuta pertanyaan.
"Mama!!!" Ali berlari ke arah Visha.
"Om ini siapa, Ma?" tanya Ali.
"Halo, Om adalah adiknya Om Galang. Panggil saja Om Rocky. Nama kamu siapa?" sapa Rocky pada Ali.
"Jadi, Om adalah adiknya Om Galang? Namaku Ali, Om."
"Halo, Ali. Senang berkenalan denganmu." Rocky mengulurkan tangannya, dan Ali menyambutnya.
"Karena Om adalah adiknya Om Galang, jadi Om adalah keluarga kita juga. Benar kan, Ma?" tanya Ali polos.
"Eh? Iya." jawab Visha kikuk.
"Om, bisa main play station?"
"Tentu saja. Om sangat ahli dalam permainan apapun."
Ali menarik tangan Rocky ke ruang tengah dan mengajaknya berduel. Ali terlihat bahagia karena ia memiliki teman baru untuk bermain play station.
Visha yang hanya memperhatikan tingkah putranya, hanya tersenyum tipis sambil menatap Ibu Karina.
.
.
Pukul tujuh malam, Ibu Karina mengajak Rocky untuk ikut makan malam bersama dirumah.
Suasana terasa canggung karena ini pertama kalinya ada orang lain selain Galang yang bergabung dalam acara makan malam mereka.
"Nak Rocky suka makanan apa?" tanya Ibu Karina.
"Saya suka gulai ikan kakap, Bu. Ibu pernah membuatnya, dan saya sangat menyukainya." jawab Rocky dengan mengembangkan senyumnya.
Baru kali ini Visha melihat senyum Rocky yang lebar.
"Bukan ibu yang membuatnya, tapi Visha."
"Eh?" kaget mereka bersamaan.
Sejenak mata Rocky dan Visha saling beradu. Rocky tak mengira makanan kesukaannya dimasak oleh Visha.
Makan malam akhirnya usai. Rocky berpamitan pada keluarga Visha.
Visha mengantarkan Rocky hingga ke depan rumah.
"Terima kasih atas makan malamnya." ucap Rocky.
"Sama-sama. Saya juga berterimakasih karena bapak sudah mengantar saya ke rumah."
"Hei! Bukankah sudah kubilang jangan memanggilku bapak?"
"Eh, iya, maaf. Terima kasih, Rocky." ulang Visha dengan canggung.
"Kalau begitu, aku permisi dulu." pamit Rocky.
Visha menganggukkan kepalanya. Visha menatap mobil Rocky yang mulai meninggalkan halaman rumahnya.
...ššš...
tobe continued,,,,,,
__ADS_1
*Note: Alena plesetan dari Alexa, aplikasi pemutar musik yg sedang hits, karena menggunakan suara utk mengaktifkannya. Disini fitur alexa kutambahi dengan keahliannya sebagai map juga, heheheh. Yah namanya juga berfantasi, hihihi. tapi beberapa mobil juga sudah ada yg memiliki fitur seperti ini.