Labuhan Cinta Sang Playboy

Labuhan Cinta Sang Playboy
S2 - A M A R A H


__ADS_3

Keluar dari kantor Adiguna Grup, Galang tersenyum puas karena berhasil mengancam Bian. Lalu ia menghubungi anak buahnya yang ia tugaskan untuk mengawasi apartemen Bian. Ia bertanya apakah Visha keluar dari kamarnya atau tidak.


Galang tersenyum puas mendapat kabar jika Visha baru saja keluar dari apartemen.


"Bagus, kau ikuti kemana perginya wanita itu."


"Baik, bos."


Galang mengakhiri panggilan dan tersenyum seringai penuh misteri.


Kali ini kau tidak akan berkutik, Rocky. Apa yang akan kau lakukan jika wanitamu ada ditanganku?!


"Mas Galang?"


"Hai, Visha..."


"Apa yang mas lakukan disini?" tanya Visha ragu.


"Tidak ada. Kau mau pulang?"


"Eh? I-iya." Visha melihat ada yang aneh dengan sikap Galang. Ia pun akan bersiap membalikkan badan dan menjauh dari Galang.


Namun karena barang bawaan Visha yang cukup banyak, membuatnya susah untuk bergerak.


GREB!!


"Aku antar kau pulang!" ucap Galang dengan mencengkeram lengan Visha.


Visha merasa tak bisa menolak dan akhirnya ia ikut dengan Galang.


Galang membukakan bagasi dan menaruh barang belanjaan Visha. Lalu mempersilahkan Visha duduk di depan.


"Terima kasih." ucap Visha.


Mobil pun mulai melaju. Tak ada keanehan selama awal perjalanan. Namun tiba-tiba Visha mulai tidak tenang karena jalan yang dituju bukanlah jalan pulang ke apartemennya.


"Mas... Kita mau kemana? Ini... Bukan jalan pulang ke apartemenku." Ucap Visha lirih.


"Ah, jadi kau tinggal di Prince Town? Bersama siapa?"


"Mas... Tolong turunkan aku disini saja!" pinta Visha.


"Kau belum menjawab pertanyaanku. Kau tinggal disana bersama siapa?"


Visha mulai merasa Galang bukanlah Galang yang ia kenal.


"Mas... Tolong hentikan mobilnya!!!"


"Jawab dulu pertanyaanku!!!" Galang berteriak.


Visha menutup telinganya. Ia mulai ketakutan karena Galang terlihat sangat marah.


"A-aku... Aku tinggal..."


"Cepat jawab!!!" Galang kembali berteriak.


"Mas Bian! Aku tinggal bersama Mas Bian." jawab Visha cepat.


Galang tertawa keras mendengar jawaban Visha.


Mas Galang benar-benar sudah tidak waras! Kenapa sikapnya berubah seperti in?! Batin Visha.


"Kau tahu 'kan jika dia bukan Bian, tapi dia adalah Rocky." ujar Galang lagi.


Visha membulatkan matanya.


"Tidak perlu terkejut begitu! Kau bersedia tinggal bersamanya karena kau tahu dia adalah Rocky. Ayah dari anakmu. Benar 'kan?"


"Apa maumu, Mas?"


"Hahaha, kau bertanya apa mauku? Tentu saja aku ingin dia tetap menjadi Bian. Dan tidak akan pernah kembali menjadi Rocky."

__ADS_1


"Apa?!"


"Jawabanku cukup jelas bukan? Biarkan dia tetap menjadi Bian dan hidup bersama Sania."


"Tidak! Aku adalah istri Rocky! Dia tidak akan bersama dengan Sania!" pekik Visha.


"Hahaha, istri? Kau sudah menikah dengannya?!"


Visha menutup mulutnya. Tidak seharusnya dia mengatakan itu pada Galang.


"Ini akan semakin menarik, Visha!"


Visha memutar otaknya. Ia harus bisa keluar dari mobil Galang secepatnya.


Aku harus turun dari sini. Tapi bagaimana caranya?


Entah dapat keberanian dari mana, tangan Visha ikut memegangi kemudi dan memutar-mutarkan kemudi hingga laju mobil menjadi terombang ambing.


"Visha! Apa yang kau lakukan?!" Galang mulai kewalahan memegang kemudi karena Visha terus membelokkan kemudi ke arah yang tak beraturan.


"Visha, hentikan! Atau kita akan mengalami kecelakaan!"


"Biarkan saja! Biar kita mati bersama sekalian!!" teriak Visha.


"Kau gila, Visha!!"


"Kau yang gila, Mas! Bagaimana bisa kau melakukan ini pada adikmu? Dan juga Papa Leon dan Mama Elena. Kau juga 'kan yang menyembunyikan mereka!"


"Hentikan, Visha! Kita akan benar-benar kecelakaan!"


"Biarkan saja!"


CKIIIIIIITTTTT!!!!


Sekuat tenaga Galang menginjak pedal rem, dan...


BRAAAAAKKKK!!!!!


Mobilpun tak terkendali dan menabrak pohon.


Bian melewati hari-harinya dengan banyak meeting yang kemarin sempat tertunda. Ia merasa sangat lelah dan tak memperhatikan ponselnya.


Bian menyandarkan tubuhnya ke kursi kebesarannya sambil melirik ponselnya. Ia pun meraih ponselnya dan terkejut karena melihat ada banyak panggilan dari Visha.


"Visha? Ada apa dia menghubungiku sebanyak ini?"


Bian pun menghubungi ponsel Visha. Namun tak ada jawaban. Hingga Bian mencobanya berkali-kali dan tetap tak ada jawaban dari Visha.


Lalu ingatan Bian kembali pada ancaman Galang yang akan mengusik Visha jika ia tak menuruti keinginannya.


"Sial!!! Jangan-jangan Kak Galang melakukan sesuatu pada Visha!"


Bian segera berlari kencang dan menuju tempat parkir. Ia segera melajukan mobilnya dengan kencang menuju apartemennya.


Hanya lima belas menit ia tiba di apartemennya dan berlari menuju lift. Ia berlari lagi saat lift terbuka dan menuju kamarnya.


Bian menekan kombinasi angka di pintu kamarnya dan masuk dengan meneriakkan nama Visha.


"Visha!! Dimana kau!!! Visha!!!"


Bian berlarian menyusuri tiap bagian di kamar apartemennya, namun tak menemukan sosok Visha.


"Arrrggghhhh!!!! Kak Galang!!! Kurang ajar, kau!!!" Bian benar-benar marah saat ini.


Ia meraih ponselnya dan menghubungi Donny. Ia kembali keluar dan menuju ke suatu tempat.


Donny yang dihubungi Bian segera mengerahkan anak buahnya untuk mencari Visha.


Sementara itu, Visha yang merasa tubuhnya sakit karena mobil Galang yang menabrak pohon, berusaha melepas sabuk pengaman dan keluar dari mobil.


Visha melihat Galang sepertinya tidak sadarkan diri. Ia buru-buru pergi dari tempat itu dan mencari pertolongan.

__ADS_1


Visha berjalan tertatih mencari rumah penduduk. Ia tidak tahu dimana ia sekarang. Galang sudah membawanya jauh dari kota. Dan tempat itu hanya berisi pohon-pohon besar.


"Aku harus pergi kemana?" Visha menahan sakit di tubuhnya dan berusaha berjalan.


"Hei, nona. Apa kau butuh bantuan?"


Visha tersentak melihat seseorang yang tiba-tiba ada di hadapannya. Ia merasa orang itu bersikap mencurigakan. Ia segera berjalan menjauh dari orang itu, namun langkahnya kembali terhenti kala melihat Galang sudah ada di depannya.


"Hah?! Mas Galang?! Bagaimana kau bisa keluar dari mobil?"


Saat Visha hanya berfokus pada Galang, seseorang membekap mulut dan hidungnya dengan sapu tangan yang sudah diberi obat bius. Visha pun mulai kehilangan kesadaran dan tubuhnya ambruk.


Galang segera memerintahkan anak buahnya untuk membawa tubuh Visha masuk kedalam mobil lain milik anak buahnya. Ia pun merintih kesakitan akibat kecelakaan yang baru saja menimpanya.


Bian mendatangi rumah Sania dengan amarah yang mencapai puncaknya.


"Sania!!!" teriak Bian.


"Bian? Ada apa kau berteriak?!"


Bian langsung mencengkeram leher Sania dan membuat Sania merintih kesakitan.


"Katakan dimana Visha?! Kau pasti merencanakan ini dengan Kak Galang, benar 'kan?"


"A-apa maksudmu?!"


"Visha menghilang, dan ini pasti ulahmu dan Kak Galang."


"Le-lepaskan tanganmu dulu..." rintih Sania.


Bian pun melepaskan tangannya dari leher Sania dan melemparkannya ke lantai.


"Kau kenapa? Kenapa semarah ini padaku?" tanya Sania dengan menitikkan air mata.


"Apa yang kau rencanakan dengan Kak Galang, huh?!"


"Rencana apa? Aku tidak melakukan apapun pada Visha!"


"Benarkah?!"


"Aku berkata jujur, Bian!"


"Berhenti memanggilku Bian! Aku bukan Bian!!" teriak Bian.


Sania makin mengencangkan tangisnya.


"Kalau sampai terjadi sesuatu pada Visha, maka aku tidak akan pernah memaafkanmu!!! Kau ingat itu, Sania!!"


Sania meraih kaki Bian. "Tunggu!!!"


Bian melihat kebawah dan Sania memegangi kakinya dengan kuat.


"Aku akan membantumu menemukan Visha!"


Bian berdecih. "Kau pikir aku percaya? Kau pasti senang jika Visha celaka bukan?"


"Tidak! Kumohon berikan aku kesempatan!"


Bian menghela nafasnya. "Katakan!"


"Aku tahu dimana Om Leonard dan Tante Elena."


Bian membulatkan matanya.


"Untuk saat ini aku akan percaya padamu. Tapi kau harus ingat! Jika kau membohongiku, kau akan tahu akibatnya. Apa kau mengerti?!"


Sania mengangguk. Bian menepiskan tangan Sania dari kakinya lalu melangkah pergi dari rumah Sania.


#bersambung...


*Give me Like and comments guys, becoz you are my sunshine 😊😊

__ADS_1


__ADS_2