Labuhan Cinta Sang Playboy

Labuhan Cinta Sang Playboy
Salah Siapa?


__ADS_3

...šŸšŸšŸ...


Pukul tujuh malam, Galang datang ke rumah keluarga Abraham, rumah yang dulu pernah ia singgahi juga. Rumah yang penuh kenangan bersama mendiang Mamanya. Galang mulai memasuki rumah yang terasa sunyi dan hampa.


Dulu rumah ini penuh dengan keriuhan antara dirinya dan Rocky saat mereka masih kecil. Menginjak dewasa, mereka mulai sibuk dengan kegiatan masing-masing. Kemudian Rocky justru lebih dulu meninggalkan rumah karena memilih kuliah di luar negeri.


"Mas Galang!!" Seorang asisten rumah tangga menyambut kedatangan Galang.


"Apa kabar Bi?" Sapa Galang dengan tersenyum.


"Baik, Mas. Mas Galang bagaimana? Bibi dengar usaha Mas Galang sekarang sudah tambah maju."


"Aku sangat bersyukur, Bi. Semua berkat do'a dari Bibi juga."


"Jadi ini sebabnya Tuan Leon meminta Bibi untuk memasak yang spesial buat makan malam. Ternyata karena Mas Galang mau datang."


"Bibi masak apa? Aku boleh mencicipinya sedikit?"


"Ayo Mas kita ke dapur saja. Bibi masak makanan kesukaan Mas Galang." Bibi Iroh membawa Galang menuju dapur.


Bibi Iroh menuangkan udang asam manis kesukaan Galang ke dalam piring. Galang langsung melahapnya.


"Mmmm, ini sangat enak, Bi. Masakan Bibi memang yang terbaik." Galang mengacungkan jempolnya pada Bi Iroh.


"Sudah datang rupanya---" Elena datang menghampiri Galang dan Iroh dengan melipat tangannya.


Galang menghentikan aktifitas makannya. "Iya, Ma. Papa memintaku datang."


"Sebelum bicara dengan Papamu, temui Mama di teras belakang. Ada yang ingin Mama bicarakan." Usai mengatakan maksudnya, Elena melangkah pergi dari dapur.


Galang berpamitan pada Bi Iroh.


"Yang sabar ya Mas Galang." Bi Iroh mengelus bahu Galang.


"Iya, Bi. Aku sudah terbiasa kok."


Bibi Iroh menatap kepergian Galang dengan cemas. "Mas Galang memang sangat mirip dengan mendiang Nyonya Paramitha. Ia sangat sabar menghadapi sikap Nyonya Elena." Gumam Bi Iroh.


...šŸšŸ...


-Teras Belakang Kediaman Abraham-


Galang menghampiri Elena yang berdiri membelakanginya.


"Mama mau bicara soal apa?"


Elena membalikkan badan dan menatap Galang tajam.


"Apa maksud kamu melakukan semua ini pada Rocky?"


"Melakukan apa maksud Mama?"


"Jangan berlagak bodoh! Bisa-bisanya kamu berpura-pura baik pada Rocky dengan meminjamkan uang padanya, padahal sebenarnya kamu ingin menghancurkan Rocky! Iya kan?"


Elena tak mampu menahan amarahnya.

__ADS_1


"Gara-gara kamu, Rocky harus memindahkan kantornya ke gudang Brahms Corp. Kamu puas sekarang, huh?"


Galang tak menanggapi kemarahan Elena. Ia hanya terdiam.


"Kamu pasti sudah merencanakan semua ini kan? Kamu bilang kamu menyayangi adikmu, tapi apa buktinya? Kamu malah menghancurkan dia!! Padahal dia selalu menganggapmu sebagai dewa penolong untuknya."


"Maafkan aku, Ma---" Akhirnya Galang buka suara.


"Galang!!!" Suara Leonard Abraham mengagetkan Galang dan Elena.


"Temui Papa setelah selesai bicara dengan Mamamu!"


"Baik, Pa!"


Galang berpamitan pada Elena. "Sekali lagi aku minta maaf. Aku tidak pernah bermaksud menghancurkan kepercayaan Papa pada Rocky. Aku janji akan memperbaiki semuanya. Aku permisi!"


...šŸšŸ...


-Ruang Kerja Leonard Abraham-


"Apa yang kamu bicarakan dengan Mamamu?" Tanya Leonard.


Galang tak menjawab pertanyaan Leonard. Bagaimanapun, Galang yakin kalau Papanya ini sudah tahu apa yang tadi ia bicarakan dengan Mamanya.


Leonard menghela nafas. "Galang, Papa tahu apa yang kamu lakukan pada Rocky, hanya karena ingin membantunya. Dan Papa tidak marah akan hal itu. Apa yang Papa lakukan hari ini, hanya karena ingin memberikan pelajaran pada Rocky. Bagus untuknya jika dia pindah ke lantai 13. Papa akan lebih mudah untuk mengawasinya."


"Tapi kenapa Papa tetap memindahkan saham Rocky padaku?"


"Karena itu adalah hak kamu. Dan kamu pantas untuk menerimanya."


"Apa yang Mama kamu katakan, tolong jangan diambil hati. Kamu tahu kan sifat Mama kamu itu. Dia selalu membela si anak manja itu."


"Iya, Pa. Jangan khawatir. Aku yakin Mama mengatakan semua itu karena dia sedang kesal."


"Ya sudah. Ayo kita makan malam. Kamu pasti sudah lapar kan?"


Leonard merangkul bahu Galang dan berjalan bersama menuju meja makan.


.


.


"Rocky belum datang?" Tanya Leonard saat sampai di meja makan bersama Galang.


"Apa Papa pikir dia akan datang setelah apa yang sudah Papa lakukan padanya hari ini? Dia bahkan mengusir Mama saat tadi sore Mama datang ke apartemennya." Elena bercerita dengan ketus sambil menata piring di atas meja makan.


"Hahaha, benarkah? Anak manja itu berani melakukan hal itu pada Mama?"


"Kenapa Papa malah tertawa? Rocky marah pada Papa, tapi Mama jadi ikut kena imbasnya."


"Papa tidak merasa sudah melakukan hal buruk padanya. Jadi, jangan melebih-lebihkan hal ini."


"Nafsu makan Mama sudah hilang. Kalian saja yang makan malam berdua!" Elena melenggang pergi dari meja makan.


Leonard dan Galang tetap melanjutkan makan malam.

__ADS_1


"Galang, setelah dari sini mampirlah ke apartemen adikmu. Jangan sampai dia melakukan hal nekat karena kejadian hari ini."


"Baik, Pa."


...***...


Pukul delapan malam, suasana rumah Visha sudah sepi. Ibu Karina menerapkan jam tidur yang disiplin pada karyawannya yang tinggal di rumah itu. Semua harus beristirahat setelah pukul delapan malam. Karena mereka harus bangun kembali pada pukul tiga pagi.


Malam ini, Visha memandangi langit-langit kamarnya. Ia masih terjaga. Dilihatnya Ibu Karina sudah tertidur pulas di sampingnya.


Visha masih mengingat kejadian siang tadi saat ia menumpahkan kuah rendang pada seorang pria.


.


.


*Flashback*


"Pak Rocky! Saya minta maaf, Pak. Saya bisa bantu bapak untuk membawa pakaian bapak ke laundry."


Visha yang sedang membersihkan sisa makanan yang jatuh ke lantai, tiba-tiba dikejutkan dengan suara seorang wanita yang sepertinya sedang bicara dengan pria yang tadi di tabraknya.


"Pak Rocky?!" Gumam Visha yang akhirnya membalikkan badannya untuk melihat sosok pria tersebut.


Namun Visha hanya bisa melihat bagian belakang sosok bernama Rocky itu karena posisinya yang membelakangi Visha.


Apa mungkin dia adalah Rocky yang itu? Batin Visha.


Visha melihat sekeliling gedung kantor itu. Ia mencari sesuatu seperti nama perusahaan dan semacamnya. Kemudian dilihatnya papan besar yang bertuliskan Brahms Corp. Kakinya terasa lemas setelah tahu dimana ia berada sekarang.


Tidak mungkin! Ini semua pasti mimpi! Tidak mungkin dia adalah Rocky yang itu!


.


.


Visha menatap Ibu Karina yang terlelap.


Apa mungkin Ibu sengaja melakukan ini semua? Ibu---sengaja menempatkanku dalam posisi ini?


Batin Visha mengalami perang.


Tidak-tidak!! Ibu tidak mungkin melakukan ini. Ini semua pasti hanya kebetulan! Ya! Semua hanya kebetulan. Jangan berpikir negatif, Visha!!


Visha menggeleng-gelengkan kepalanya.


Sebaiknya aku tidur. Lupakan semua hal yang terjadi hari ini.


Visha mencoba memejamkan matanya. Namun batinnya masih tak tenang.


Jika memang benar dia adalah Rocky yang itu----


Aaah, Ya Tuhan!!! Aku jadi tak bisa tidur! Bagaimana ini?!?


...šŸšŸšŸ...

__ADS_1


Tobe continued----


__ADS_2