Labuhan Cinta Sang Playboy

Labuhan Cinta Sang Playboy
S2 - Rocky is Back!!


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Pagi itu, Visha bangun agak terlambat karena tubuhnya masih terasa lemas. Ia tak melihat suaminya ada di kamar mereka. Ia pun turun dari tempat tidur dan langsung membersihkan diri.


Kemudian ia keluar kamar dan mendapati suaminya sedang berkutat di dapur.


"Mas? Apa yang kau lakukan?"


"Hehe, memasak lah, masa tidur!"


"Memasak apa?"


"Hanya telur dadar saja," Bian meringis.


Visha tertawa kecil. "Lain kali jangan lakukan itu. Biar aku yang melakukannya."


"Kau sedang tidak enak badan. Aku tidak mau orang tuamu mengira aku menyiksamu. Sedang sakit masih disuruh memasak."


"Hei, siapa yang menyiksaku? Itu sudah tugasku, Mas. Justru aku yang tersiksa karena melihatmu berada di dapur." Visha segera mengambil alih sutil yang dipegang Bian.


"Hmm, tapi baunya sangat harum, Mas. Kau cukup pandai dalam memasak." puji Visha.


"Apa kubilang! Aku ini pandai dalam segala hal..."


Visha menggeleng pelan. "Terlebih dalam hal merayu wanita..." Cibir Visha.


"Haha, apa kau merasa jika aku perayu?"


"Hmm, aku selalu luluh dengan rayuanmu."


"Hmm, pesonaku sebagai playboy masih sangat memikat ya?"


Visha mengarahkan sutil ke wajah Bian. "Jangan macam-macam! Atau akan ada wajan panas yang melayang!"


"Haha, sayang... Kau benar-benar kejam! Tapi aku menyukainya."


Acara masak memasak pun telah usai. Kini tiba saatnya mencicipi masakan Bian.


Visha menyendok sedikit telur dadar ala Bian. Tapi belum sampai ia telan, sudah langsung ia muntahkan.


"Sayang... Apa rasanya tidak enak?" Bian panik karena Visha langsung memuntahkan makanannya.


Visha menggeleng cepat. Ia belum makan apa-apa sedari kemarin namun ia seakan memuntahkan seisi perutnya.


"Sayang, kau yakin tidak perlu ke dokter?" Bian tidak tahu harus berbuat apa.


"Tidak. Aku tidak apa." Visha selalu meyakinkan Bian jika dirinya baik-baik saja.


"Besok adalah persidanganku untuk menjadi Rocky. Apa kau bisa datang?"


"Tentu saja aku akan datang. Kita sudah menanti saat ini, bukan?"

__ADS_1


"Tapi kau tidak terlihat baik."


"Aku akan baik-baik saja besok. Percayalah!"


Bian mendekap Visha dalam pelukannya. Ia mengelus pelan rambut Visha.


Jangan-jangan kau hamil, sayang. Tapi kenapa kau tidak menyadarinya? Kau 'kan sudah pernah hamil. Atau memang kau hanya sakit biasa? Aah, aku tidak mengerti sama sekali.


Usai menyantap sarapannya, Bian berpamitan untuk pergi bekerja.


.


.


.


Bian mengurus banyak berkas untuk ia gunakan di persidangan besok. Penentuan akan kembalinya dirinya sebagai Rocky akan di sahkan esok pagi.


Ia sudah tak sabar ingin menjadi Rocky kembali dan mengurus Brahms Corp yang sahamnya mulai turun karena insiden yang menimpa Galang.


Bian ingin sekali menjenguk kakaknya di rumah tahanan. Tapi ia ingin menyelesaikan masalah identitasnya dulu.


Hingga akhirnya hari yang ditunggu pun tiba. Bian duduk di kursi depan hakim ketua. Visha dan beberapa orang terdekatnya ikut datang untuk menyaksikan kembalinya seorang Rocky Abraham.


Dokumen terkait sudah semua ia berikan dan kumpulkan. Meski ini hanya sidang biasa dan bukan sidang tindak pidana, tetap saja Visha merasa gugup mendengar keputusan.


"Berdasarakan bukti-bukti dan dokumen yang sudah di berikan oleh pemohon, dan dibuktikan dengan bukti dari beberapa saksi ahli, maka diputuskan jika saudara Biantara Adiguna sebenarnya adalah saudara Rocky Abraham."


Tok Tok Tok,


Donny dan Siska yang ikut hadir, turut bahagia dengan kembalinya sang Rocky.


"Bos, selamat ya! Akhirnya bos kembali ke posisi semula!" Donny memberikan pelukan sebagai kawan.


"Terima kasih, Don. Kau adalah kawan terbaik yang kumiliki!" balas Rocky.


"Selamat ya Visha. Maaf dulu aku sempat marah padamu." Siska ikut memeluk Visha.


"Iya, mbak tidak apa. Aku tahu posisi mbak Siska saat itu." Visha membalas pelukan Siska.


Setelah mengucap salam perpisahan, Rocky dan Visha berniat mengunjungi Leonard dan Elena. Tapi sebelumnya mereka harus menemui para wartawan lebih dulu untuk memberikan klarifikasi. Donny dan Siska hanya saling pandang melihat pasangan yang sangat saling mencinta itu.


"Cinta memang penuh misteri ya, Don. Mereka sudah terpisah oleh jarak dan waktu, dan bahkan wajah Pak Rocky juga sudah berubah, tapi ternyata cinta mereka sangat kuat hingga bisa saling mengenali walau dalam wujud yang berbeda." ucap Siska dengan penuh haru.


"Iya, aku terkadang juga heran bagaimana bisa bos Rocky masih tetap mencintai Visha meski ia lupa ingatan."


Siska menghela nafas melihat kemesraan yang di tunjukkan Visha dan Rocky di depan para wartawan yang mengerubungi mereka.


"Siska..."


"Hmmm,"

__ADS_1


"Apa kau juga ingin mendapatkan cinta yang seperti itu?"


"Eh? Apa maksudmu?" Siska menatap Donny aneh.


"Bagaimana kalau kita... memulai kisah kita sendiri?"


"Heh? Kau tidak salah?"


"Tentu saja tidak. Aku merasa... Sesuatu dalam dirimu terasa bergairah saat bersama denganmu."


GLEK!


"Apa maksudmu bicara begitu? Kau sangat mesum!!" Siska memukuli lengan Donny.


"Aw!! Siska hentikan!! Aku serius! Aku juga ingin mendapat cinta sejati seperti bos Rocky dan Visha."


Siska menghentikan pukulannya dan menatap Donny.


"Kau serius?!" tanya Siska mencari kebenaran.


"Tentu saja!" jawab Donny tegas.


"Baiklah, kita coba saja dulu. Siapa tahu kita cocok!" balas Siska.


.


.


.


Rocky dan Visha mengunjungi Leonard di rumah sakit. Meski kondisinya mulai membaik, namun belum ada tanda-tanda jika Leonard akan sadarkan diri.


"Mas, cobalah bicara dengan Papa. Ada yang bilang, meski seseorang dalam keadaan koma, dia masih bisa mendengar apa yang kita ucapkan." usul Visha.


"Baik, akan aku lakukan."


Rocky mulai membisikkan sesuatu di dekat Leonard. Bercerita tentang bagaimana hidupnya kini. Dan kebahagiaan tak terkira karena sudah bersama dengan orang yang dicintam Dan juga merindukan kehadiran Leonard agar hari-harinya lebih berwarna.


Setelah mendengar cerita Rocky, jari-jari tangan Leonard mulai bereaksi. Rocky segera memanggil dokter.


Dokter bilang ini kemajuan yang sangat bagus. Ada kemungkinan Leonard akan segera sadarkan diri.


Rocky memeluk Visha dengan mengucap rasa syukur yang dalam.


Usai mengunjungi Leonard, Rocky mengunjungi Elena di klinik dokter Diana. Perubahan dalam diri Elena juga sangat banyak.


Dan secara ajaib, Elena menghambur memeluk Rocky dan memanggil namanya. Meski wajahnya berbeda, entah kenapa Elena bisa mengenali putranya itu.


Rocky menangis haru dalam pelukan Elena. Visha yang melihat pemandangan itu pun ikut terharu.


...🍁🍁🍁...

__ADS_1


#Bersambung...


*Jangan lupa tinggalkan jejak kalianπŸ‘£πŸ‘£πŸ˜šπŸ˜šπŸ˜š 'Coz you are my sunshine β˜€β˜€


__ADS_2