Labuhan Cinta Sang Playboy

Labuhan Cinta Sang Playboy
Mulai Menjauh


__ADS_3

...šŸšŸšŸ...


Sania dengan lahapnya menyantap hidangan pasta yang ada di depannya. Meski dalam keheningan, Rocky sesekali melirik ke arah mantan kekasihnya itu. Tak biasanya Sania makan dengan lahap seperti itu.


Sania yang ia kenal adalah wanita anggun yang penuh pesona. Ia akan menjaga sikapnya di depan orang lain. Tipe wanita idaman yang dengan amat terpaksa Rocky lepaskan.


"San ... hati-hati makannya! Apa kau kelaparan?"


"Entahlah. Tiba-tiba aku menjadi sangat lapar saat melihat pasta. Apalagi aromanya sangat menggoda."


Tak lama pasta di piring Sania telah habis. Rocky kalah kali ini. Ia yang mengajak makan, malah tidak bisa dengan cepat menghabiskan makanannya.


Sania meneguk lemon tea hangat sebagai pendamping pasta.


"Aah, sedap sekali. Terima kasih, Rocky. Lain kali kau harus sering mentraktirku makan."


Rocky tertawa kecil melihat tingkah Sania. Ia heran sejak kapan Sania sangat bersemangat dalam urusan makan, biasanya ia sangat menjaga pola makannya agar tubuhnya tetap terlihat bagus dan langsing.


Tiba-tiba Sania memegangi perutnya. Ada sesuatu yang tidak nyaman disana. Kemudian memegangi mulutnya yang seakan ingin mengeluarkan semua makanan yang sudah masuk tadi.


"Sania? Ada apa?" tanya Rocky yang masih asyik dengan pastanya.


"Entahlah. Rasanya aku ingin ... " Sania segera berlari menuju kamar mandi.


Karena takut terjadi sesuatu pada Sania, Rocky mengikutinya.


"Uweeekkk!!! Uweeeekkk!!!!" Sania memuntahkan makanan yang baru saja masuk ke perutnya.


"Sania!!! Kau baik-baik saja?" tanya Rocky dari luar toilet.


Sania keluar setelah memuntahkan semua isi dalam perutnya. Wajahnya terlihat pucat.


"San, kau baik-baik saja?" berulang kali Rocky menanyakan hal yang sama, namun Sania tak menjawabnya.


"Tolong antarkan aku pulang!" Hanya itu yang Sania ucapkan menjawab semua pertanyaan Rocky.


Selama perjalanan menuju rumah, Sania hanya terdiam menatap jalanan dari jendela.


Pikiran buruk tentang yang terjadi padanya beberapa saat lalu, mulai menggelayuti hatinya.


"Tidak mungkin aku ... " batin Sania. Ia menggeleng-gelengkan kepala seakan ia tak ingin apa yang ada dipikirannya benar terjadi.


Di rumah besar itu, Sania langsung menuju kamarnya. Ia duduk mematung di tepi ranjang. Ia memegangi perutnya yang rata.


"Hamil? Tidak mungkin! Ini tidak boleh terjadi!!! Di saat aku tidak lagi menginginkan anak dari Yogi, kenapa aku harus hamil?" batin Sania meronta menolak semua spekulasi yang dikatakan otaknya.


Esok harinya, Sania berdiam diri di dalam kamar mandi. Ia ragu apakah akan melakukan ini atau tidak.


Ia memegangi alat tes kehamilan di tangannya. Selama ini ia banyak membeli alat tes kehamilan dan menyimpannya tanpa sepengetahuan Yogi.


Dulu ia sangat mendambakan anak dari Yogi. Namun sekarang, setelah perlakuan Yogi padanya yang mengurungnya selama berhari-hari dikamar tanpa bisa berkomunikasi dengan dunia luar serta dengan kekerasan yang dilakukan Yogi di hotel beberapa waktu lalu membuat Sania tak lagi menginginkan anak dari Yogi.

__ADS_1


Dengan ragu Sania akhirnya melakukan tes kehamilan itu. Ia harus memastikan jika perasaannya salah. Ia menunggu beberapa saat sampai ia bisa mendapat hasilnya.


Sania menutup mulutnya ketika melihat dua garis biru disana. Sania membuang alat itu.


Ia meringkuk didalam bath-tub dengan memeluk kaki. Ia menangis disana.


"Kenapa Tuhan? Kenapa disaat aku sudah tak ingin anak dari Yogi, kenapa Kau malah menumbuhkan benih di rahim ini?" batin Sania menjerit namun suara tangisnya tertahan. Ia tak mau Yogi mendengar tangisannya.


...***...


Visha mengantar makanan ke lantai 13 seperti hari-hari biasanya. Sekali lagi Visha tak mendapati Rocky ada diruangannya. Visha menghela nafas kecewa.


"Ada apa dengannya?" Pertanyaan itu terus saja Visha pertanyakan pada dirinya sendiri.


"Mungkin memang dia sedang sibuk dengan pekerjaannya." jawab batin Visha.


Visha kembali ke parkiran. Ia mencoba mencari Rocky di pantry lantai dasar. Beberapa kali Visha bertemu dengannya disana.


Kosong. Tak ada siapapun disana. Visha berbalik badan dan meninggalkan pantry. Ia kembali ke mobil dan melaju ke kantor Galang untuk mengantar pesanan disana.


Visha masih tidak tenang karena tidak bertemu dengan Rocky.


Dari kejauhan seseorang memperhatikan Visha yang melaju meninggalkan parkiran gedung Brahms Corp.


"Maafkan aku, Visha. Aku harus mulai menjauhimu. Aku tidak bisa membiarkan debaran itu makin nyata jika bertemu denganmu."


...***...


Sania menunggu dengan cemas gilirannya di ruang tunggu dokter Thania.


"Nyonya Sania Hartawan." seorang perawat memanggil nama Sania.


Sania masuk ke ruang periksa. Dokter Thania menyambutnya dengan suka cita. Mereka berteman saat masih SMA dulu.


"Selamat ya, kau memang hamil Sania. Baru sekitar dua minggu. Masih belum terlihat janin yang bergerak. Tapi kau harus tetap menjaganya dengan baik. Aku akan berikan beberapa vitamin penguat yang bagus. Ini pertama kalinya kau hamil, kau dan suamimu pasti sangat bahagia."


Bahagia? Yang benar saja?!


"Terima kasih, Thania." ucap Sania tersenyum getir.


"Dua minggu lagi datanglah kembali. Kita harus mengecek perkembangan janinmu."


Sania hanya menganggukkan kepala. Ia permisi dari ruang periksa. Langkahnya terasa gontai. Ia tak menyangka akan mendengar hal mengejutkan ini.


Sania mengelus perutnya. Perasaannya bercampur aduk.


"Apa yang harus kulakukan sekarang?"


Sania mengemudikan mobilnya menuju suatu tempat yang menurutnya bisa membuatnya lebih tenang.


...***...

__ADS_1


Rocky duduk termenung di bangku taman panti asuhan seperti yang biasa ia lakukan di hari-hari sebelumnya.


Otaknya menginginkan agar ia menjauhi Visha, tapi tubuhnya malah berada disini. Di tempat dimana Visha juga berada disana.


Akhirnya Visha bisa melihat Rocky. Ia segera menghampiri Rocky.


"Sepertinya ruam merah di tubuhmu sudah mulai hilang. Syukurlah kau sudah baik-baik saja."


Tanpa menggubris ucapan Visha, Rocky berlari kecil menuju anak-anak panti yang sedang bermain bola.


"Anak-anak!!! Siapa yang mau bermain dengan Om Rocky?!" teriak Rocky.


Anak-anak berseru gembira karena Rocky ikut bermain bersama mereka.


Visha hanya memandangi Rocky dan anak-anak yang bermain bola.


Sekali lagi Visha hanya bisa bertanya pada diri sendiri. "Ada apa dengan Rocky?"


Visha membalikkan badan dan kembali ke panti jompo.


Tak lama, Sania tiba di panti asuhan dan melihat Rocky yang tertawa lepas bersama anak-anak panti.


Sania melihat di ketulusan di senyuman Rocky pada anak-anak panti. Dan terbersit suatu hal yang tak pernah ia duga sebelumnya.


"Andai saja anak yang ada dirahimku adalah anakmu, Rocky ... itu hanya seandainya ... " batin Sania.


...***...


"Dimana Sania?" tanya Yogi dengan nada marah.


"Nyonya belum pulang, Tuan."


"Brengsek!!! Pergi kemana dia? Dia pasti menemui pecundang itu, benar 'kan?"


Tak ada yang berani menjawab Yogi jika hatinya sedang diliputi amarah.


Yogi menunggu Sania di ruang tamu. Ia menghentakkan kakinya tak tenang.


"Baru sekali di beri kebebasan, dia sudah berani melanggarnya! Aku harus menghukumnya!"


Tiba-tiba pengawal pribadi Yogi memberi kabar jika sore tadi Sania pergi ke dokter kandungan.


"Apa katamu? Dokter kandungan? Jadi wanita itu hamil?"


Yogi tertawa keras setelah mendengar kabar bahwa Sania hamil.


"Ini bagus sekali! Sesuai dengan rencana." Yogi tersenyum dengan wajah menyeringainya.


...šŸšŸšŸ...


-------------tobe continued--------

__ADS_1


__ADS_2