
...ššš...
Pagi itu Visha terbangun lebih awal karena ia tak mau kejadian kemarin terulang lagi. Ia tak enak hati pada suaminya yang memasak sarapan untuknya.
Visha melirik ke arah Bian yang masih terlelap dan kelihatan sangat lelah.
Sepertinya dia pulang larut malam semalam. Apa dia berhasil menemukan Papa Leonard?
Visha membelai lembut rambut Bian dan mengecup pipinya pelan.
Sudah beberapa hari ini dia tidak pulang ke rumah Sania. Apa yang akan Sania pikirkan? Ah sudahlah. Aku adalah istri sahnya. Kenapa aku harus takut? Dialah yang harus takut karena sudah mengaku-ngaku dan merebut suami orang.
Visha turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. Hingga Visha selesai menyiapkan sarapan, Bian belum juga bangun.
Namun saat Visha akan menuju kamar, Bian keluar dari kamar dengan ponsel yang ada di telinga dan raut wajah yang sulit diartikan.
"Baiklah, aku akan segera ke kantor." ucap Bian.
Bian mengakhiri panggilan dan menghampiri Visha.
"Sayang, aku tidak bisa sarapan di rumah. Aku harus segera ke kantor. Ada urusan mendadak."
"Hmm, baiklah. Akan kubungkuskan saja kalau begitu."
"Iya sayang, terima kasih."
Bian kembali meraih ponselnya dan mengetikkan sesuatu disana.
Visha masih enggan bertanya tentang kejadian kemarin. Karena sepertinya Bian sedang menghadapi masalah yang cukup berat.
Bian menatap Visha yang sedang memasukkan makanan kedalam kotak makan.
Maafkan aku, sayang... Aku belum bisa menceritakan apa yang terjadi kemarin padamu. Aku tidak mau menambah kegundahan hatimu. Dengan kau ada disisiku saja, itu akan menjadi kekuatan tersendiri untukku. Maka, tetaplah disisiku.
Visha menyerahkan kotak makan pada Bian. "Jangan lupa dimakan ya! Bagaimanapun juga kesehatanmu itu lebih penting dari apapun."
Bian mengangguk lalu mengecup bibir Visha, dan membuat Visha membulatkan mata karena tak siap dengan serangan tiba-tiba Bian.
Bian mengusap bibir Visha dengan jarinya. "Ingat pesanku! Jangan pergi kemanapun dan jangan buka pintu untuk siapapun."
Visha mengangguk paham. Bian pun berlalu dari hadapannya. Sejenak ia terhipnotis dengan pesona Bian hingga lupa jika persediaan bahan-bahan makanan telah habis. Visha ingin meminta ijin untuk pergi ke supermarket.
"Tuh kan! Gara-gara dia menciumku aku jadi lupa untuk minta ijin padanya. Mungkin nanti aku akan meneleponnya saja." gumam Visha dengan memegangi bibirnya yang masih merasakan sentuhan lembut Bian disana.
.
.
.
__ADS_1
Bian tiba di kantornya dan melihat Galang sudah duduk di sofa dalam ruangannya. Sejenak mereka saling melempar tatapan sengit satu sama lain.
"Selamat pagi Pak Galang! Saya tidak menyangka CEO besar seperti Anda berkunjung ke tempat saya." sapa Bian dengan mengulurkan tangannya.
Galang berdiri dan menyambut uluran tangan Bian. "Saya tidak menyangka jika CEO hebat seperti Anda akan datang terlambat ke kantor. Bukankah itu contoh yang buruk untuk anak buah Anda?"
"Akhir-akhir ini saya sedang sangat sibuk karena ulah seseorang. Maaf jika saya datang terlambat hari ini. Kalau boleh saya tahu, ada urusan apa CEO Brahms Corp datang ke Adiguna Grup?"
Galang melirik ke arah Reza yang masih setia berdiri di samping Bian. Bian pun paham maksud tatapan Galang pada Reza.
"Kau boleh keluar, Reza!" perintah Bian pada Reza.
"Baik, Pak." Reza undur diri dari ruangan Bian dengan mengernyit heran. Ia tahu pasti ada sesuatu yang tidak beres disini. Karena jika ini adalah urusan bisnis, tidak mungkin dirinya tidak dilibatkan.
Kini hanya ada mereka berdua di ruangan Bian. Galang memposisikan diri duduk kembali di sofa.
"Aku tidak suka berbasa-basi Tuan Biantara Adiguna. Atau lebih tepatnya, Tuan Rocky Abraham, adikku tersayang..."
Bian membulatkan matanya sempurna mendengar penuturan Galang.
"A-apa maksud Anda?" Bian mencoba bersikap senormal mungkin.
"Jangan berpura-pura lagi. Kau sudah mengingat semuanya bukan?"
Bian mengepalkan tangannya.
"Dengar baik-baik, Rocky. Jika kau ingin orang tuamu selamat, maka..."
"Aku tidak menyangka kau akan mengingat semuanya secepat ini."
"Jadi, kakak yang sudah merencanakan semua ini? Kakak yang sudah membuatku jadi Biantara?"
"Sssttt!!! Aku kesini bukan untuk membahas itu."
Bian nampak tak sabar menghadapi Galang. "Bagaimana pun Papa adalah orang tua kita. Kenapa kakak melakukan ini pada Papa? Dimana papa sekarang?"
"Diam! Jika kau berusaha mencari bukti untuk mengalahkanku, maka papa dan mamamu itu tidak akan selamat. Pikirkan itu! Dan juga... Wanita kesayanganmu itu... Dia bisa saja celaka jika kau lengah."
"Kakak!!!" Bian sudah benar-benar marah sekarang.
"Rocky! Sudah saatnya kau kehilangan semuanya. Kau sudah merebut banyak hal dariku. Dan harusnya, kau tetap menjadi Biantara saja. Maka kau tidak akan kehilangan apapun. Pikirkan itu baik-baik! Tetaplah menjadi Bian, atau Rocky yang akan kehilangan segalanya!"
Galang pun keluar dari ruangan Bian. Sementara Bian, sangat marah namun tak bisa berbuat apapun. Hidup orang-orang yang dia sayangi, ada ditangannya sekarang.
.
.
.
__ADS_1
Visha menghubungi ponsel Bian namun tak pernah ia angkat. Visha menghela nafas dan berpikir sejenak.
"Aku hanya ke supermarket saja dan belanja kebutuhan rumah. Pasti tidak apa 'kan? Hanya sebentar!" gumam Visha.
Lalu Visha pun keluar dari kamar apartemennya dan menuju supermarket.
Sesampainya di supermarket, Visha sangat senang memilah beberapa sayuran sebagai stok bahan makanan di rumah.
Saat sedang mendorong troli belanjanya, langkah Visha terhenti karena bertemu Sania.
"Ya ampun! Dunia ini begitu sempit ya! Kenapa aku harus bertemu wanita simpanan di tempat begini?!" ujar Sania dengan tatapan sinis pada Visha.
"Sudah kubilang aku bukan wanita simpanan!" Visha tak bisa diam saja karena Sania terus menyebutnya wanita simpanan.
"Oh ya? Kalau begitu, aku harus menyebutmu apa? Pelakor? Ckckck, kau tidak sepolos wajahmu, Visha. Dulu pun kau pasti menggoda Rocky hingga dia sampai menidurimu dan kau hamil anaknya. Lalu sekarang, kau menggoda suamiku dan kau tinggal bersamanya dalam satu atap. Apa kau tidak malu pada anakmu? Anakmu pasti malu memiliki ibu sepertimu!"
Visha mengepalkan tangannya kuat. Namun entah kenapa bibirnya tak mampu berkata apapun.
"Katakan saja apa yang ingin kau katakan! Jangan diam saja! Itu seolah-olah aku jahat padamu dan kau adalah korbannya."
"Aku...Bukan wanita simpanan! Aku...adalah istri sah Bian!"
"Benarkah? Apa kau pikir orang-orang akan percaya padamu?"
"Kau pikir aku tidak tahu, semua dokumen pernikahanmu itu palsu. Dan aku memiliki dokumen yang asli. Kau mau bukti?!" Visha menantang Sania.
"Kau!!!" Sania lagi-lagi melayangkan tangannya. Namun dengan sigap Visha menangkap tangan Sania dan menghempaskannya kasar.
"Mana Sania wanita yang lemah lembut yang kukenal dulu? Apa Sania yang sekarang adalah wanita kasar yang suka main kekerasan?"
"Kau!!! Kau tidak tahu berhadapan dengan siapa, Visha! Kau akan menyesal karena berani melakukan ini padaku!" Sania pun berlalu dari hadapan Visha.
Sepeninggal Sania, Visha menghembuskan nafasnya kasar dengan lega. "Ya Tuhan! Dari mana aku dapat kekuatan sebesar itu untuk melawan Sania." gumam Visha.
Setelah selesai berbelanja, Visha keluar dari supermarket dan bermaksud memesan taksi online. Visha mencari ponselnya.
"Eh? Dimana ponselku?" Visha merogoh tasnya. "Ya ampun! Aku meninggalkan ponselku di meja setelah aku menelepon Mas Bian."
Visha berjalan dengan menenteng tas belanjaan dan mencari keberadaan taksi yang mangkal di sekitar area supermarket. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti kala melihat seseorang menghampirinya.
"Mas Galang?" Dahi Visha berkerut.
"Hai, Visha..." sapa Galang dengan senyum seringai di bibirnya.
...ššš...
#Bersambung...
*Give me Like and comments guys, becoz you are my sunshine šš
__ADS_1
...~Thank You~...