Labuhan Cinta Sang Playboy

Labuhan Cinta Sang Playboy
S2 - Meminta Maaf


__ADS_3

...๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ...


Visha berjalan pelan menuju kantor Zayn. Langkahnya terasa berat setelah kejadian siang tadi yang malah menyakiti hati semua orang. Entah apa yang akan terjadi esok. Visha tak bisa membayangkan seperti apa akhir dari kisahnya ini.


Visha bertemu Lala yang menyapanya lebih dulu.


"Sha, kau dari mana saja?"


"Aku dari lokasi proyek. Oh ya, apa Pak Zayn ada?"


"Sepertinya dia belum kembali ke kantor sejak tadi pamit untuk makan siang. Ada apa, Sha? Kenapa wajahmu pucat begitu?"


"Tidak apa. Kalau begitu aku permisi ke ruanganku. Kalau Pak Zayn datang, tolong kabari aku ya."


"He'em, baiklah. Sha, kau sudah makan siang?"


"Sudah. Aku permisi."


Visha melanjutkan langkahnya menuju ruangannya. Di jalan menuju ke ruangannya, dia bertemu dengan Reza yang membawa dua cup kopi ditangannya.


"Reza..." panggil Visha.


"Eh, Visha? Wah, aku tidak pernah melihatmu berkeliaran di kantor ini sejak kemarin." canda Reza.


Visha tersenyum kecil. "Kau mau kemana bawa dua kopi?"


"Ah, aku... Aku ingin memberikannya padamu, hehe." Reza tak mungkin mengatakan yang sebenarnya jika kopi itu untuk Lala. Visha pasti akan menghajarnya jika tahu dia akan mendekati Lala, sahabatnya.


Visha mengernyit bingung namun menerima cup kopi dari Reza. "Oh ya, apa Pak Bian sudah kembali ke kantor?"


"Setahuku sih belum. Tadi dia bilang akan makan siang diluar. Tapi sampai sekarang belum kembali."


"Oh, begitu ya. Kalau begitu aku permisi. Thanks for the coffee."


Visha kembali melanjutkan langkahnya menuju ke ruangannya. Ia menuju mejanya dan duduk di kursi.


Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi nyaman itu. Hatinya kini bergemuruh. Bagaimana bisa dia kini menyakiti dua orang sekaligus.


Tak sadar secara tiba-tiba buliran bening mengalir dari sudut matanya. Ia menutup mata tidak ingin mengulang masa lalu yang menyakitkan.


Waktu telah menunjukkan pukul lima sore. Dan itu artinya sudah waktunya jam pulang kantor. Ruangan Visha di ketuk dan muncullah Lala dari balik pintu.


Lala melihat Visha sedang tertidur dengan lengannya dijadikan sebagai bantal. Karena lelah menangis, Visha tertidur dan terbangun karena mendengar suara cempreng Lala.


"Ya ampun, Sha. Jadi dari tadi kau tertidur? Apa kau sangat kelelahan karena menangani proyek ini? Sebaiknya kau pulang dan lanjutkan tidurmu di kos."


"Ini sudah jam berapa, La?"


"Ini sudah waktunya jam pulang kantor, Sha. Kau tertidur sampai lupa waktu."


Visha masih berada antara sadar dan tidak. Ia hanya menjawab Lala dengan anggukan dan melihat Lala pergi dari ruangannya. Visha menuju toilet wanita untuk merapikan diri. Ia meraih ponselnya dan tak ada apapun disana. Entah itu Zayn atau Bian, tak ada yang menghubunginya.


Visha menghembuskan nafasnya kasar. Ia sudah menyakiti hati dua lelaki yang berteman baik itu. Dan kini persahabatan mereka pasti hancur karena dirinya. Visha merutuki dirinya sendiri.


Dengan langkah yang masih gontai, Visha memutuskan untuk datang ke rumah Zayn. Ia pernah berkunjung kesana beberapa kali saat ada acara keluarga Zayn.

__ADS_1


Visha memanggil taksi dan masuk ke dalamnya. Selama perjalanan ia merangkai kata-kata untuk ia katakan pada Zayn. Kali ini ia harus meminta maaf dengan benar.


Sesampainya di rumah Zayn, rumah itu tampak sepi. Visha bertemu dengan asisten rumah tangga Zayn yang memang sudah mengenalnya, dan langsung mempersilahkan Visha menuju lantai atas karena Zayn ada disana.


Visha mencari keberadaan Zayn dan ternyata ia ada di teras lantai atas.


"Pak Zayn..." Visha mengeluarkan suara agar Zayn mengetahui kedatangannya.


"Untuk apa kau datang kemari?" Zayn bertanya tanpa melihat ke arah Visha.


Visha bisa memahami sikap Zayn yang tak ramah seperti biasanya.


Apa yang kau harapkan, Visha? Tidak mungkin Pak Zayn akan menyapamu ramah seperti dulu.


"Pak... Saya... Saya... Ingin meminta maaf. Maaf jika harus begini..."


Zayn tersenyum miris, kemudian menatap Visha. "Jadi kau datang untuk meminta maaf?"


"Eh?"


"Aku berharap kau bisa mencintai lelaki lain, bukan Bian. Kenapa harus dia? Apa karena dia mengingatkanmu pada Rocky?"


"Eh? Bapak tahu dari mana soal..."


"Tentu saja aku tahu, Visha. Aku tahu semua hal yang kau sembunyikan dari dunia luar. Kau memiliki anak bersama Rocky dan kau mengkhianati Galang, kakak Rocky."


"Apa?"


"Kau kejam, Visha! Apa memang beginilah wajah aslimu? Kau berlindung dengan wajah polos dan lugumu, tapi kau tega melakukan ini padaku, dan juga Galang."


"Wah, berani sekali kau menyalahkanku. Sebaiknya kau pergi dari sini. Aku tidak ingin melihat wajahmu. Dan sebaiknya kau terima tawaran Bian untuk bekerja dengannya. Kau akan sangat bahagia bukan bisa menghancurkan rumah tangga orang lain?"


"Apa maksud bapak bicara begitu? Saya tidak serendah itu!"


"Boleh kuajukan satu pertanyaan untukmu? Jika aku sudah memiliki istri seperti Bian, apa kau akan menerimaku? Sepertinya kau memang tertarik dengan pria beristri. Benar 'kan tebakanku?"


Visha mengepalkan tangannya. Sesakit apapun Zayn mengatakan hal buruk tentangnya, ia tak boleh terpancing emosi. Memang dirinya lah yang bersalah karena sudah menyakiti Zayn, meski ada campur tangan Zayn juga didalamnya.


"Sekali lagi saya minta maaf. Jika bapak memang tidak berkenan saya bekerja lagi di perusahaan bapak maka..."


"Jangan mencampur adukkan urusan pekerjaan dengan urusan pribadi, Visha. Bagaimanapun aku tetap menyukai pekerjaanmu selama ini. Semua kuserahkan padamu. Jika tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan denganku, sebaiknya kau pergi."


"Baik, terima kasih, Pak. Saya permisi..."


Zayn menatap punggung wanita yang mengisi hatinya dengan nanar.


Aku akan belajar melupakanmu, Visha. Kuharap kau bisa bahagia dengan pilihanmu...


.


.


.


Visha menatap bangunan megah didepannya. Ia ragu untuk melangkah masuk. Kejadian bersama Zayn tadi bisa saja terulang kembali saat ia menemui Bian kali ini.

__ADS_1


Tapi Visha tak ingin menyerah, ia harus meminta maaf juga pada Bian. Ia menguatkan tekadnya dan melangkah masuk.


Saat tiba di lobi hotel, ponsel Visha berdering. Sebuah panggilan dari Keisya.


"Halo, mbak..."


"Visha, kau dimana? Kau belum pulang juga. Apa malam ini kau juga tidak akan pulang?"


"Maaf, mbak. Sepertinya iya, aku tidak akan pulang ke kos malam ini."


"Ada apa, Visha? Kau baik-baik saja 'kan?"


"Iya, mbak. Aku baik-baik saja. Mbak Kei jangan khawatir."


"Ya sudah. Kalau begitu, jaga dirimu ya."


Panggilan berakhir. Keisya memang sudah menganggap Visha seperti adik baginya. Tak heran ia selalu cemas dengan keadaan Visha. Terlebih kemarin Visha tidak pulang, dan Keisya tidak tahu Visha menginap dimana.


Visha tiba di depan kamar hotel Bian. Ia masih menatap pintu itu dan ragu untuk mengetuknya.


Setelah menghela nafas, Visha memberanikan diri mengetuk pintu kamar itu.


Tok


Tok


Tok


Hening.


Tak ada jawaban. Visha mengetuknya lagi. Dan masih tak ada jawaban.


Visha menghembuskan nafasnya. Ia berpikir jika Bian pasti sangat marah dengannya dan tak ingin menemuinya saat ini.


Tok


Tok


Tok


Visha kembali mengetuk pintu. Berharap jika Bian mau membukanya. Air matanya hampir saja tumpah kembali. Ia sedih karena Bian tak ingin menemuinya.


Dengan perasaan sedih dan bersalah, Visha membalikkan badan dan bersiap meninggalkan kamar Bian.


...๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ...


bersambung,,,


.


.


*jangan lupa tinggalkan jejak kalian๐Ÿ‘ฃ๐Ÿ‘ฃkarena kalian adalah kekuatanku๐Ÿ’ช๐Ÿ’ช


...~thank you~...

__ADS_1


__ADS_2