
...πππ...
Pagi itu, Visha ikut menyiapkan sarapan untuk kedua keluarga. Visha masih melihat guratan kesedihan di wajah Elena. Visha tahu jika Elena sangat mencintai suaminya, dan mereka adalah pasangan yang sangat harmonis, hingga kadang membuat Visha ingin seperti mereka.
Visha mengambilkan sarapan untuk Elena dan di letakkannya tepat di depan Elena yang terlihat melamun.
"Ma, makanlah dulu." ucap Visha dengan mengelus lembut tangan Elena.
"Terima kasih, sayang... Tapi mama tidak bernafsu makan..." jawab Elena lirih.
"Mama harus kuat demi Papa. Jangan bersikap begini..." Galang menghampiri dan memeluk mama tirinya itu. Galang baru datang untuk mengganti pakaiannya setelah semalaman menginap di rumah sakit.
Visha nampak canggung berdekatan dengan Galang. Ia pun memilih mundur dan duduk di kursinya sendiri lalu melanjutkan sarapannya.
Usai sarapan bersama, semua orang kembali ke rumah sakit untuk melihat kondisi Leonard. Menurut dokter yang baru memeriksanya, kondisi Leonard masih sama dan belum menunjukkan kemajuan yang berarti.
Yanti terus memeluk tubuh Elena yang semakin melemah setelah mendengar penjelasan dokter. Ali pun ikut memeluk Oma nya itu agar lebih sabar menghadapi cobaan ini.
Sementara Visha, masih memikirkan tentang paket misterius yang ia terima pagi ini. Ingin rasanya ia menganggap jika itu hanyalah perbuatan orang iseng yang mengerjainya. Namun di satu sisi, ia juga ingin tahu bagaimana kondisi apartemen Rocky sekarang.
Visha terus melamun hingga ayahnya harus menyadarkan kembali dirinya ke alam nyata.
"Jangan melamun, Nduk." Haryono menepuk pelan bahu Visha.
"Heh? Iya, Pak. Visha tidak melamun." jawab Visha dengan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Sedari tadi Galang masih sibuk menerima telepon entah dari mana. Posisinya yang agak menjauh dari ruang ICU, membuat Visha tidak mendengar apa yang Galang bicarakan di telepon.
Diliriknya Ali, yang nampak melihat ke arah Galang. Visha merasa jika anaknya itu ingin menyapa Galang dan bercerita bersama, mengingat dulu mereka sangatlah dekat bagai ayah dan anak. Sekarang Galang menjaga jarak dengan dirinya dan Ali. Visha hanya menatap iba putranya yang sedih karena Galang tak menyapanya sama sekali sejak kedatangannya kemarin.
Mas Galang pasti sangat sibuk. Hingga di hari libur seperti sekarang, ia masih harus mengurus perusahaan.
Tak lama setelah menutup panggilannya, Galang menghampiri Elena dan bersimpuh di hadapannya.
"Ma, Galang harus pergi. Visha dan Ibu Yanti akan menemani Mama disini selama Galang pergi."
Elena hanya menjawab dengan anggukan.
Sepeninggal Galang, Visha lagi-lagi memikirkan tentang pesan misterius itu.
Bumbu instan rendang? Apa maksudnya itu?
Visha masih tak mengerti, hingga akhirnya ia sadar jika pertemuannya dengan Rocky di awali dengan insiden kuah rendang.
Visha memikirkan cara agar bisa pergi dari rumah sakit tanpa dicurigai.
Akhirnya ia beralasan jika ada janji dengan teman lamanya yang sudah menunggu di lobi rumah sakit. Visha pernah tinggal di kota ini, jadi tak heran jika ia memiliki beberapa teman dekat.
Visha segera berlari keluar rumah sakit dan memberhentikan taksi yang parkir di halaman rumah sakit.
"Apartemen Prince Town, cepat ya Pak!" ucap Visha pada pak supir taksi.
"Baik, nona."
__ADS_1
Si supir taksi yang ternyata adalah Donny, segera melajukan mobilnya menuju apartemen milik bosnya itu.
Visha nampak cemas selama perjalanan menuju apartemen.
Apa semua ini benar? Apa kau memang masih hidup, Rocky? Aku tidak bermimpi 'kan?
Visha meremas tangannya yang mulai berkeringat dingin. Begitu sampai di lobi apartemen, Visha turun dari taksi dan berlari menuju lift. Ia tak sabar menunggu giliran naik lift.
Batinnya benar-benar sudah dibuat campur aduk dengan semua rentetan peristiwa yang menimpanya.
Ketika pintu lift terbuka, Visha langsung masuk dan menekan angka 20. Ia kembali berlari menuju kamar 2001 ketika pintu lift terbuka.
Visha mengatur nafasnya ketika tiba di depan pintu. Entah keputusannya untuk datang ke apartemen Rocky benar atau salah. Visha sendiri masih meragu.
Visha memantapkan hati menekan angka yang sama saat dulu ia membuka pintu itu beberapa tahun lalu.
"7890," gumam Visha.
KLINTONG!
"Hah?" Visha melongo mendapati jika angka yang ia tekan adalah benar.
Dengan hati-hati, Visha melangkah masuk ke dalam apartemen. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan di apartemen itu.
Penataan ruang terlihat sama seperti saat dulu ia memasukinya. Hanya semua perabotannya kini terlihat baru.
Visha nampak berkaca-kaca mengingat semua hal yang pernah terjadi disana. Saat dirinya sedang larut dalam memori masa lalunya di tempat itu, seseorang menghampirinya dan berdiri di belakang Visha.
Visha yang menyadari kehadiran seseorang dibelakangnya, segera membalikkan badan.
"Pak Bian? Jadi semua ini ulah bapak? Bapak yang mengirim paket misterius itu kepada saya?"
Visha benar-benar kesal dan segera beranjak dari tempat itu. Namun tangan kekar Bian segera meraih lengan Visha.
"Lepaskan!" seru Visha.
"Visha, dengarkan aku dulu. Kumohon!" pinta Bian dengan nada memelas.
Visha menepis tangan Bian dan mulai menenangkan diri. Ia memutuskan untuk mendengar penjelasan dari Bian.
"Aku tahu ini mungkin terdengar aneh, aku tahu ini mungkin mustahil menurutmu. Tapi inilah yang terjadi." terang Bian.
"Jangan berputar-putar! Langsung katakan intinya saja."
Visha menatap Bian dengan tatapan tajam. Bian pun balas menatap Visha.
Wanita yang sangat Bian rindukan kini menatapnya dengan tatapan tak suka.
"Aku adalah Rocky!" Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Bian.
Mata Visha membulat sempurna. Ia tak percaya dengan apa yang Bian katakan.
"Kenapa kau memanfaatkan kematian Rocky untuk melakukan hal ini? Kau sangat menjijikkan!" ucap Visha kesal.
__ADS_1
"Aku tahu ini aneh. Tapi ini semua benar. Terlepas dari wajahku yang bukan lagi Rocky yang dulu. Tapi aku tetaplah Rocky. Pria yang selalu mencintaimu."
Visha masih belum mau percaya. "Apa buktinya jika kau adalah Rocky?"
"Aku masih hapal semua kenangan tentang kita."
"Apa saja?"
Bian menjelaskan satu demi satu urutan peristiwa yang terjadi diantara mereka. Mulai dari awal bertemu, hingga banyak kenangan manis dan menyedihkan yang membuat hati sesak.
Tubuh Visha serasa lemas mendengar semua penjelasan Bian yang memang tak ada satupun yang meleset.
Bian memegangi tubuh Visha yang terhuyung. Ia tahu, Visha pasti sangat syok mengetahui ini semua.
Air matanya mulai membasahi wajah ayu nan sendunya. Ia masih belum bisa percaya jika Rocky yang ia cintai masih hidup.
Tangisannya terdengar membuat hati Bian kian sakit.
"Jangan menangis, Visha. Aku ada disini..." Bian meraih wajah Visha dan menghapus air matanya.
Namun entah kenapa air mata itu terus lolos dari sudut mata Visha. Kerinduan akan sosok orang terkasih membuat semua rasa yang kini bergejolak terus berpacu dan tak ingin berhenti.
Bian meraih tubuh Visha dalam dekapannya. Ia mendekap erat wanita yang selalu mengisi hatinya meski ia pernah lupa ingatan.
Takdir membawanya kembali untuk bersatu dengan Visha dan Ali.
Ketika Visha mulai tenang, Bian melepaskan pelukannya dan masih menatap mata Visha yang dipenuhi air mata.
Bian mengecup pelan puncak kepala Visha dengan lembut. Perasaan rindu yang benar-benar menggebu telah ia tahan selama beberapa hari ini, kini bisa tersalurkan.
Usai mengecup kening Visha, Bian ingin mendapat lebih. Ia tahu tidak seharusnya ia meminta hal yang lebih karena Visha masih belum menerima kenyataan ini. Namun hasrat rindu terpendamnya tidak bisa ia kontrol lagi.
Dengan memberanikan diri, Bian mengusap bibir Visha yang bergetar karena tangisnya. Ia mulai mendekatkan wajahnya dan tak ada penolakan dari Visha.
Hingga akhirnya...
"Maaf..."
Satu kata berhasil terucap dari bibir Visha. Ia mendorong tubuh Bian dan melepaskan diri darinya.
Visha segera keluar dari apartemen itu dan terus memegangi dadanya yang sesak dengan masih terus terisak.
...πππ...
Bersambung,,,
.
.
*Hmmmm, cant talkπ·π· bagaimana dengan kalian?
*jangan lupa tinggalkan jejakπ£πππkarena kalian adalah semangatku π
__ADS_1
...~thank you~...