
...πππ...
Rocky memandangi kalung yang tadi Visha tinggalkan dengan mata berkaca-kaca.
Sedari tadi ia sudah memperhatikan kesedihan yang dialami wanita yang dicintainya itu dari dalam mobilnya di parkiran rumah sakit. Namun ia terlalu pengecut untuk bisa menemuinya seperti yang ia janjikan sore tadi.
Rocky mengusap wajahnya kasar. Hatinya hancur melihat kesedihan Visha. Ia tak pantas menampakkan diri di depan Visha setelah semua kesakitan yang dialami Visha selama beberapa tahun ini.
Rocky mengambil kalung itu dan pergi meninggalkan halaman rumah sakit.
Ia merutuki dirinya didalam mobil. Ia terus memukuli kemudi yang tidak tahu apa kesalahannya. Ia menghentikan mobilnya di tepi jalan.
Ia mengumpati dirinya yang sama pengecutnya seperti yang ia katakan kepada kakaknya.
"Kau pengecut, Rocky! Kau brengsek! Kau tidak pantas muncul didepan wanita itu! Wanita yang begitu berharga dengan segala kesakitannya!"
Rocky menangis dan berteriak. Pilu. Dan sendiri.
Untung saja ia benar-benar sampai di apartemennya dengan selamat. Ia langsung menuju kamar mandi untuk menyegarkan badan dan pikirannya.
Ia berdiri dibawah guyuran shower cukup lama. Dan semua kenangan tentang Visha melintas dipikirannya dan tak pernah bisa ia lupakan.
Sungguh ia sangat mencintai wanita itu. Entah sejak kapan dan kenapa harus dia? Apa karena memang dia pernah hadir di kehidupan masa lalunya? Dan karena memang mereka terikat oleh suatu takdir.
Tapi kenapa rasanya sesakit ini? Kenapa cinta bisa sesakit ini?
Rocky keluar dari kamar mandi dan berganti baju. Ia memandangi tempat tidurnya yang menjadi saksi bisu semua perbuatan kejamnya pada Visha. Bagaimana mungkin ia tak ingat apapun tentang kejadian nahas itu?
"Kau memang brengsek, Rocky!!! Lelaki brengsek!!!" teriaknya.
Sekilas ia mencoba mengingat kepingan-kepingan kecil di hari itu.
.
.
.
*Flashback Sekitar 6 Tahun Lalu*
Rocky harus segera bangun dari tidurnya karena Papanya datang tiba-tiba dan memintanya untuk cepat-cepat datang ke kantor.
Ia meminta Donny untuk menyiapkan semua pakaian kerjanya layaknya seorang istri yang menyiapkan baju untuk suaminya, hihihi. Setelahnya Donny berpamitan dan menunggunya di kafe lantai bawah apartemen untuk sarapan.
Rocky yang baru keluar dari kamar mandi ditegur oleh pelayan apartemen yang membereskan sprei tempat tidurnya. Rocky menyewa pelayan untuk merapikan apartemennya yang bernama Bi Isah.
"Mas, ini kok ada noda darah di sprei Mas Rocky? Apa Mas Rocky terluka?"
__ADS_1
Rocky yang mendengarnya malah tertawa, lalu menjawab, "Tidak, aku tidak terluka. Itu bukan noda darah, tapi wine. Anggur, kau tahu, Bi? Aku pasti mabuk semalam."
Bi Isah malah geleng-geleng kepala melihat tingkah Rocky.
"Mas, sebaiknya cari istri saja. Jangan terus mabuk-mabukan seperti itu. Mas harus sayang sama diri Mas sendiri."
"Wanita yang kucintai sudah pergi meninggalkanku, Bi." Rocky tersenyum getir.
"Maka dari itu, Mas harus menata hidup Mas dari awal. Lupakan semua yang pernah terjadi. Dia pasti bukan jodoh Mas. Tuhan pasti sudah menyiapkan seorang wanita baik yang lain untuk Mas. Mas harus percaya itu."
Rocky terdiam. Ia mencoba mencerna semua kata-kata wanita paruh baya yang sudah keluar dari apartemennya itu.
...***...
Visha memandangi wajah putranya yang sedang tertidur lelap. Sudah pukul dua dini hari namun mata Visha seakan enggan terpejam. Ia memandangi ponselnya dan tak ada apa-apa disana.
Ia menunggu Rocky menghubunginya namun tak ada satupun panggilan maupun pesan darinya.
Visha ingin menghubunginya namun ia enggan. Ia takut bahwa kenyataan yang ia harapkan tak sesuai dengan yang sebenarnya.
Air matanya mengalir kembali.
Pasti terjadi sesuatu di makan malam tadi. Apa aku harus menghubunginya? Tapi ini sudah tengah malam, bagaimana kalau...
Dengan memantapkan hati ia menekan nomor Rocky dan memanggilnya. Hatinya tak bisa tenang lagi kali ini.
Visha berlari keluar kamar dan menuju lobi rumah sakit. Ia mencari kalung yang tadi ia tinggalkan di bangku panjang depan rumah sakit.
Tidak ada apa-apa disana. Pasti seseorang sudah mengambilnya. Pikir Visha.
Ia kembali ke kamar Ali dan memandangi putranya.
Apa yang kau pikirkan, Visha? Apa kau hanya memikirkan kebahagiaanmu sendiri saja? Bagaimana dengan putramu yang sedang meregang nyawa? Apa kau tidak memikirkannya? Fokus, Visha!!! Lupakan hal yang tak penting. Kau harus bangkit dan kuat untuk Ali. Putramu! Dialah hidupmu, Visha!
Semua kalimat itu terngiang-ngiang di otak Visha. Dengan cepat ia menghapus air matanya.
...***...
Pagi itu, Rocky terbangun karena terdengar suara bel apartemennya yang terus ditekan oleh seseorang.
Itu pasti Donny. Pikir Rocky. Ia tak ingin menemui siapapun saat ini. Ia ingin mengurung diri dikamar.
Hatinya terlalu lemah untuk menghadapi dunia. Terlebih Visha.
.
.
__ADS_1
.
Satu hari, dua hari, tiga hari... Masih tak ada kabar dari Rocky. Donny tahu jika Rocky ada di apartemennya.
Pasti telah terjadi sesuatu di malam ulang tahun Leonard, tapi mana mungkin ia bertanya pada Leonard maupun Galang.
Hingga akhirnya, Donny mendapat panggilan dari Leonard yang mengatakan jika Elena di rawat di rumah sakit. Ia meminta Donny untuk membawa Rocky ke rumah sakit sekarang juga.
Donny kebingungan karena ia tak bisa menemui Rocky juga. Donny kembali ke apartemen Rocky dan menggedor pintunya. Tak ada jawaban disana.
Apa yang terjadi disini? Kenapa aku harus berada di situasi yang membingungkan ini?
Donny mengacak rambutnya frustasi. Apakah ia harus menemui Visha? Donny menggeleng cepat. Visha juga sedang mengalami musibah.
"AARRGGGHHH!!" Donny berteriak marah pada situasi ini.
.
.
.
Rocky memberanikan diri membuka ponselnya yang beberapa hari ini ia matikan. Pasti banyak sekali pesan masuk dan panggilan yang tidak ia jawab.
Benar saja. Ada nama Visha juga disana. Namun hanya satu kali panggilan. Sedang yang lainnya adalah dari Papanya, dan Sania lalu tentu saja Donny.
Ia membaca pesan jika Mamanya sedang di rawat di rumah sakit. Rocky makin mengumpati dirinya sendiri. Ia memutuskan untuk menghubungi ponsel sang Mama. Ia sudah menyakiti satu wanita, tak mungkin ia menyakiti wanita yang lainnya.
"Halo, Ma..."
"Rocky!!! Kemana saja kamu? Sulit sekali menghubungimu!"
"Maafkan Rocky, Ma. Bagaimana keadaan Mama? Mama harus cepat sembuh ya. Mama jangan memikirkan Rocky. Rocky baik-baik saja."
"Kamu tuh..." terdengar suara isak tangis Elena.
"Jangan menangis, Ma. Aku baik-baik saja. Berjanjilah jika Mama akan segera keluar dari rumah sakit."
Rocky mematikan sambungan telepon dan kembali menonaktifkan ponselnya.
Rocky kembali merutuki dirinya. Penampilannya sekarang sungguh kacau. Ia bahkan memakan mie instan selama beberapa hari ini. Masih untung ia ingat untuk mengisi perutnya.
...πππ...
bersambung dulu yaaa....
π’nyesek bet ngetiknya...π«π
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejakπ£π£