
...πππ...
Rocky duduk bersandar dengan memegangi kepalanya. Ia memijat pelan keningnya yang pening. Dua bulan sudah berlalu sejak ia mendapat proyek yang di rekomendasikan oleh Galang. Proyek itu sudah selesai dan sekarang Rocky harus mencari klien baru. Sudah beberapa hari ia menemui calon-calon klien barunya, namun belum ada yang mencapai titik terang. Ia kembali frustasi.
"Aku sudah minta maaf pada Mama, Don. Apa itu masih belum cukup?"
"Bos minta maaf lagi saja pada nyonya besar. Bagaimana?"
"Setiap hari aku menelepon Mama dan mengucap maaf padanya. Apa itu masih belum cukup?"
"Kita temui lagi saja Ki Damar Atos. Dia kan sudah bilang kalau uang kita akan kembali bila tidak berhasil."
Rocky berpikir sejenak, lalu memutuskan.
"Oke! Kita temui lagi paranormal itu."
.
.
.
.
"Jadi ... usaha Anda belum berhasil?"
"Iya, Ki. Padahal bos saya sudah meminta maaf pada Mamanya."
Rocky menyenggol tangan Donny seraya memberi kode agar hati-hati dalam bicara.
"Apa ada kemungkinan kalau bos saya ... salah orang?"
"Mungkin saja."
"Heh?" Kaget mereka berdua bersamaan.
"Saya sudah bilang. Jika semua usaha Anda tidak berhasil, maka uang Anda akan saya kembalikan."
"Beri tahu kami apa petunjuknya!" Ucap Rocky lantang.
"Tuan Rocky ... apa yang menimpa Anda selama beberapa tahun terakhir, adalah karena ulah Anda sendiri. Ini seperti ... karma untuk Anda. Cobalah pahami apa yang menimpa Anda dan apa yang sudah Anda perbuat di masa lalu."
.
.
.
.
Rocky terdiam dan memikirkan sesuatu. Bayangan demi bayangan satu persatu muncul dalam fikirannya. Semua hal yang sudah dia perbuat di masa lalu.
"Bos!"
"Hmmm."
"Bos?"
"Hmmm."
"Bos kenapa? Dari tadi hanya diam. Apa yang bos pikirkan?"
"Banyak."
"Contohnya?"
"Hal yang dikatakan oleh Ki Damar tadi ... soal karma."
"Bos percaya padanya?"
__ADS_1
"Sepertinya begitu. Aku memang banyak melakukan hal buruk di masa lalu."
Tiba-tiba Rocky ingat apa yang pernah Papanya katakan saat mendatangi kamar apartemennya enam tahun lalu.
".............Itulah kenapa Sania sampai meninggalkanmu. Kau memang pria yang tak bisa diandalkan........."
"Sania!!!!" Pekik Rocky tiba-tiba.
CKIIIIIIITTTTTTTTTTTT
Donny mendadak menginjak pedal rem. "Bos, mengagetkan saja! Kenapa tiba-tiba berteriak?"
"Sania, Don!!! Sania!!! Aku melakukan banyak kesalahan selama kami menjalin hubungan. Ini pasti berkaitan dengannya. Aku yakin itu!!"
"Hah? Nona Sania? Bos yakin? Tapi Nona Sania sudah menikah sekarang. Bos tahu siapa suaminya, bukan?"
"Ya, aku tahu. Dia adalah pemilik YP Cons, perusahaan pesaing kita."
"Lalu apa yang akan bos lakukan?"
"Aku akan menemuinya, dan meminta maaf padanya. Aku yakin Sania mau memaafkanku."
...ππ...
Esok harinya, Rocky ditemani Donny mengintai rumah Sania dari kejauhan. Mereka duduk tak tenang dalam mobil.
"Menurut info, Nona Sania sedang tidak ada dirumah, Bos. Dia sedang pergi. Apa kita akan terus menunggunya disini?"
"Tentu saja! Aku harus bertemu Sania hari ini juga!"
"Bos yakin Nona Sania mau bertemu dengan Bos?"
"Entahlah. Aku terlalu banyak salah padanya."
Dan ingatan Rocky kembali pada tahun-tahun lalu. Tahun dimana ia banyak menyakiti hati Sania.
.
.
.
"Rocky!!! Kau mabuk lagi?"
"Hai, sayang... Kau disini? Kemarilah duduk disini!" Ucap Rocky berjalan sempoyongan kemudian jatuh tergeletak di lantai.
"Kau mabuk lagi, Rocky!! Mana perempuan yang tadi kau bawa kesini?"
"Aku tidak mabuk!! Aku hanya minum sedikit."
Sania berkeliling ke semua ruang di apartemen Rocky untuk mencari perempuan yang dibawanya masuk. Selama ini, Sania selalu mengintai gerak-gerik Rocky melalui seorang temannya.
"Tidak ada siapapun disini, sayang. Hanya ada kita berdua."
"Bohong! Dimana dia? Kamu sembunyikan dimana perempuan itu?" Sania mulai kesal.
Sania menuju ke kamar mandi yang pintunya tertutup. "Dia pasti ada didalam kan?"
"Tidak ada, sayang----"
"Keluar!!! Keluar kau!!!" Teriak Sania sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi.
Seorang wanita muda keluar dari kamar mandi. Sania sudah tak bisa menahan amarahnya.
"Pergi kau dari sini!!! Kau masih belia begini tapi mau menjajakan tubuhmu untuk lelaki hidung belang seperti dia?!!"
Sania mengusir perempuan muda yang berpakaian minim itu.
"Kau juga!!!" Sania menunjuk ke arah Rocky.
__ADS_1
"Apa yang akan kau lakukan dengan gadis belia seperti dia? Kau ingin merusak hidupnya, huh?"
"Sayang, aku bukan pria seperti itu."
"Cukup!!! Aku sudah tidak kuat lagi, Rocky! Kau tidak pernah berubah! Dan tidak akan bisa berubah. Sebaiknya kita akhiri sampai disini saja!"
"Tunggu, Sania!!!" Rocky yang tergeletak di lantai memegang kaki Sania dan memeluknya.
"Jangan pergi!!! Aku tidak bisa hidup tanpamu, Sania!!!"
Sania mengepalkan tangannya. "Lepaskan kakiku! Kau cari saja perempuan yang akan menemani malam-malammu. Aku tidak bisa bersama denganmu. Ini! Kukembalikan cincin pemberian darimu. Kita batalkan semua rencana pernikahan kita. Aku pergi!"
Sania menghentakkan kakinya sehingga Rocky melepaskan tangannya yang melingkar di kaki Sania.
"Sania!!! Jangan pergi!!! Sania!!! Jangan tinggalkan aku! Saniaaaaaaaa!!!"
.
.
.
.
"Huuuuuuuufffttttt!!!" Rocky menarik nafasΒ dan menghembuskannya kasar.
"Ada apa, Bos?"
"Aku sedang mengingat bagaimana aku sangat menyakiti Sania. Padahal dia adalah wanita yang sangat baik dan sabar."
"Lalu kenapa Bos sampai tega menyakitinya?"
"Aku tidak tahu, Don. Saat itu, jiwa kebrengsekkanku sedang meronta-ronta. Dan secara tak sadar, aku sudah sangat menyakiti hatinya."
"Lalu sekarang Bos ingin bagaimana? Meminta maaf rasanya masih kurang, Bos."
"Kalau begitu aku harus berlutut padanya. Menyembah kakinya, atau mencium kakinya. Aku akan lakukan apapun asal Sania mau memaafkanku."
Donny hanya bisa menganggukkan kepalanya mendengar keseriusan hati Bosnya. Sejak Donny bertemu lagi dengan Rocky tujuh tahun lalu, Bosnya itu memang sudah banyak berubah. Mereka kenal sejak saat SMA. Dan saat itu, Rocky memang di cap sebagai lelaki playboy disekolahnya. Bahkan cewek yang pernah disukai Donny, justru direbut oleh Rocky. Tapi entah kenapa saat Rocky menemuinya lagi dan memintanya untuk bekerja padanya, Donny tak bisa menolak. Donny bisa melihat ada sorot keseriusan di mata Rocky. Rocky sudah banyak berubah seiring berjalannya waktu. Ia bukan lagi anak manja yang suka menghamburkan uang Papanya yang kaya raya.
Setelah menunggu lama di depan rumah Sania, sebuah mobil toyota Alphard hitam berhenti di depan rumah Sania. Rocky langsung bergerak keluar dari mobilnya dan berlari menuju mobil tersebut.
Rocky menggedor kaca mobil hitam itu dan memanggil nama Sania. Beberapa petugas security di rumah Sania segera menghampiri Rocky dan memegangi kedua lengannya. Namun Rocky tak menyerah begitu saja. Ia terus menyebut nama Sania hingga mobil hitam itu memasuki halaman rumah.
Seorang wanita muncul dari dalam mobil dan menatap Rocky dari kejauhan.
"Sania!!! Ini aku! Rocky!! Tolong ijinkan aku bicara sebentar denganmu!!"
Sania nampak tak suka dengan kehadiran Rocky.
"Usir dia dari sini, Pak! Dan jangan biarkan dia masuk kesini lagi!"
Sania kembali melangkah memasuki rumah megahnya.
"Saniaaaaaa!!! Tolong!!! Aku ingin bicara!!! Sania!!!" Rocky meronta-ronta memanggil nama Sania.
Namun usaha Rocky tetap sia-sia. Sania sudah tak terlihat lagi. Dan beberapa orang security berbadan besar menyeret Rocky keluar dari kediaman Yogi Pratama.
BRUUUKKKK
Tubuh Rocky dilempar ke jalan. Donny tak berani melakukan apapun. Ia berlari menghampiri Rocky setelah gerbang rumah Sania tertutup rapat.
"Bos!!! Bos tidak apa-apa?"
Rocky menggeleng. Matanya memerah. Ia marah dan sekaligus sedih. Ia bisa merasakan kalau Sania sangat membencinya meski hanya melihatnya dari jauh.
Rocky meneteskan air mata.
...πππ...
__ADS_1
-------tobe continued-------