
...πππ...
"Iya, saya sangat bersedia! Bahkan menikah sekarang pun saya siap!" ucap Bian lantang.
"Hah?" Visha dan Yanti melongo tak percaya dengan apa yang sedang dilakukan oleh dua pria yang duduk berhadapan itu.
"Bapak?!" Visha mendelik ke arah Bian.
"Saya siap menikahi Visha!" Ulang Bian dengan nada serius.
Haryono menatap Bian dengan tajam.
"Besok saksi dari pihak saya datang, jadi kami bisa melaksanakan pernikahan."
"Pak Bian!!" Visha masih tak percaya jika Bian serius melakukan ini.
"Baiklah. Bapak suka dengan kegigihan kamu. Lamaranmu bapak terima." Haryono mengulurkan tangannya ke arah Bian.
Bian menyambut dengan senang hati.
"Saya tidak akan mengecewakan kepercayaan bapak dan ibu. Saya akan membahagiakan Visha."
Visha menghela nafas. Malam itu bagai malam yang penuh kejutan untuknya.
.
.
.
"Pak Bian! Kenapa bapak melakukan ini?" Visha menghampiri Bian yang sedang duduk di halaman rumah menikmati semilir angin malam khas pedesaan.
"Sudah kubilang jangan memanggilku bapak! Kau masih belum menemukan panggilan yang bagus untukku, huh?!"
"Huft! Yang benar saja! Bukankah bapak hanya ingin berkenalan dengan orang tuaku dulu, kenapa sampai melakukan ini?"
"Siapa yang bilang jika aku hanya akan berkenalan dengan orang tuamu? Aku memang ingin menikahimu..."
"Tapi statusmu? Masih sebagai Bian?"
"Aku sudah memeriksa semuanya. Dan aku bisa menikah dengan dokumen sebagai Bian. Nanti setelah semuanya menemukan titik terang, aku akan kembali menjadi Rocky."
"Tapi... Bagaimana dengan Sania?" Visha menunduk sedih jika ia mengingat tentang status Bian sebagai suami Sania.
"Aku tidak pernah menikah dengan Sania. Tidak ada dokumen yang menyatakan jika aku dan dia adalah suami istri. Kau tenang saja! Aku akan mengurus semuanya."
Visha menatap Bian dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.
Bian meraih tubuh Visha, dan mendekapnya erat. "Aku mencintaimu, Visha. Kau mau 'kan besok menikah denganku?"
Visha melepas dekapan Bian, lalu menatapnya intens.
"Iya, aku mau. Aku mau menikah denganmu, Rocky Abraham..."
.
.
.
Pagi itu Bian sudah rapi dengan setelan jasnya. Dia menunggu kedatangan Donny yang akan ia jadikan sebagai saksi di pernikahannya.
Bian menghubungi ponsel Donny berkali-kali. Namun belum juga ia angkat.
__ADS_1
Visha melihat Bian yang mondar mandir tidak tenang. Ia menghampirinya.
"Ada apa, Mas?"
"Mas?" Bian mengernyit heran.
"Kenapa? Aku akan memanggilmu dengan panggilan 'mas'."
"Tidak! Kau memanggil kakakku juga dengan panggilan 'mas'."
Visha memutar bola matanya. "Kenapa memangnya? Itu panggilan untuk para pria, bukan?"
"Tapi aku maunya yang spesial! Jangan yang biasa kau gunakan untuk memanggil orang lain juga."
"Sudahlah. Kita bahas itu nanti saja. Dimana Donny? Dia masih belum datang juga?"
"Belum. Aku sudah menghubunginya berkali-kali. Kau tidak merias wajahmu?"
"Kurasa tidak perlu. Kita hanya akan menikah secara sederhana. Yang terpenting sah di mata hukum dan negara. Begitu 'kan?" jelas Visha.
"Hmmm, baiklah. Yang penting aku menikah denganmu..." Bagai sebuah kebiasaan, Bian meraih wajah Visha dan hendak menciumnya.
"Ehem!!!" Suara dehaman Haryono membuat keduanya saling menjauh dan bersikap canggung.
"Bagaimana Nak Bian? Apa kau sudah siap?" tanya Haryono.
"Sudah, Pak. Tapi teman saya belum datang. Mungkin sebentar lagi."
"Baiklah, bapak tunggu di ruang depan. Visha, ayo ikut bapak. Sepertinya berbahaya jika kau berdekatan terus dengannya sebelum pernikahan."
Bian menggaruk tengkuknya sambil tersenyum nyengir. Sedangkan Visha mengikuti langkah ayahnya menuju ruang depan.
.
.
.
"Maaf, bos, jalanan agak macet, hehe." Alasan Donny.
"Kau tidak sengaja melakukan ini 'kan?"
"Tentu saja tidak! Mana mungkin aku mengacaukan hari pernikahan bos."
Bian dan Donny segera menemui Haryono. Haryono cukup terkejut karena yang datang sebagai saksi Bian adalah Donny.
"Lho? Kalian sudah saling kenal?" Haryono mencoba mengkonfirmasi.
"Iya, Pak. Aku adalah teman baik Pak Bian juga."
"Eh?" Ada raut kebingungan di wajah Haryono.
Jadi, putriku akan menikahi temannya Rocky juga. Apa dia tidak bisa lepas dari lingkaran bernama Rocky? Batin Haryono.
"Pak, bisa kita mulai pernikahannya?" tanya petugas pencatat pernikahan pada Haryono.
"Eh? Iya bisa."
Dan akhirnya, hari itu menjadi hari bahagia untuk Bian dan juga Visha. Meski pernikahan mereka dilakukan secara sederhana, dan tentu saja tanpa resepsi atau pergelaran ramai apapun, namun kebahagiaan terpancar dari wajah keduanya.
Bukan tanpa alasan pernikahan mereka diadakan secara sederhana saja. Ini sesuai permintaan Visha dan juga karena orang-orang menganggap jika Visha menikah untuk yang kedua kalinya, jadi tak perlu dirayakan secara besar-besaran meski ayahnya mampu untuk menikahkan Visha di ballroom hotel berbintang sekalipun.
Usai acara pernikahan, aktifitas masih seperti biasa. Haryono yang tetap sibuk dengan bisnis batiknya. Namun kali ini, Haryono mengajak Bian dan juga Donny untuk berkunjung ke pabrik pembuatan kain batiknya.
__ADS_1
Bian terlihat sangat antusias dengan majunya usaha milik ayah mertuanya itu.
"Dulu, bapak sempat bangkrut dan akhirnya berhutang banyak pada lintah darat. Bapak hampir saja menikahkan Visha dengan si lintah darat itu. Tapi ternyata Visha lebih dulu kabur dari rumah." cerita Haryono.
"Sebenarnya bapak tidak tega dia harus mengandung tanpa adanya suami, tapi tekadnya sungguh kuat untuk mempertahankan bayi dalam kandungannya. Dan akhirnya semua keputusannya itu berbuah manis. Ali tumbuh jadi anak yang cemerlang. Visha sudah mendidiknya dengan baik selama ini..." lanjut Haryono.
Mendengar semua cerita dari ayah mertuanya tentang masa lalu Visha, membuat Bian terdiam. Ada raut penyesalan amat besar atas apa yang pernah ia lakukan pada Visha.
Donny pun bisa melihat jika Bian merasa bersalah atas semua kesakitan yang Visha dan Ali alami selama ini.
.
.
Sore harinya mereka bertiga kembali ke rumah. Visha menyambut kedatangan Bian dengan senyum manisnya. Namun reaksi Bian adalah sebaliknya.
Visha merasa bingung dengan sikap Bian. Bian yang disapa ramah olehnya, hanya berjalan melewatinya dan langsung menuju kamar.
"Don, ada apa dengannya?" tanya Visha pada Donny yang wajahnya juga hampir sama dengan Bian.
Donny hanya mengangkat bahu mendengar pertanyaan Visha.
Visha mengikuti Bian yang masuk ke kamar.
"Mas... Ada apa? Kamu kecapekan ya keliling pabrik bapak?"
"Tidak. Aku hanya ingin mandi, badanku lengket. Ternyata disini lebih panas dari pada Jakarta."
"Eh? Ya sudah, sana mandi. Aku akan siapkan baju ganti untukmu."
Hanya sepuluh menit saja Bian berada di kamar mandi, lalu keluar hanya berbalut handuk. Visha yang sedang menata baju Bian di atas tempat tidur merasa canggung dengan pemandangan yang ada di depannya.
"Tidak perlu kaget! Aku 'kan suamimu! Mana baju gantiku?"
"Eh? I-iya." Visha menjawab sedikit canggung.
Visha menyerahkan sebuah kaus berkerah dan celana panjang kain pada Bian. Lalu Bian pun kembali masuk ke kamar mandi untuk mengganti baju.
Sikapnya pada Visha masih sama seperti saat baru datang dari pabrik.
"Ada apa sih sebenarnya? Kenapa sikapnya aneh begitu?" lirih Visha dengan menghela nafas.
Beberapa menit kemudian, Bian keluar dari kamar mandi dalam keadaan sudah berpakaian rapi. Ia hendak keluar dari kamar Visha. Setelah pernikahan pagi tadi, barang-barang Bian sudah dipindahkan ke kamar Visha.
"Tunggu, Mas! Apa kamu akan acuh tak acuh begini padaku? Ada apa denganmu? Aku ini istrimu, Mas!"
Bian terhenti mendengar suara Visha yang sedikit bergetar. Rasa dihatinya sedang sangat berkecamuk.
Bian menatap Visha yang sudah meneteskan air matanya. Duh, Bian, baru saja kalian menikah, kenapa sudah membuat Visha menangis?
...πππ...
tobe continued,,,
.
.
*apa sih yang dirasakan Bian? Beri pendapat kalian gaessππ
Maaf ya UP nya larut malam πseharian sibuk liburan ceritanyaπ¬π¬
Jangan lupa tinggalkan jejak jejak manjah ππ£
__ADS_1
...*terima kasih*...