Labuhan Cinta Sang Playboy

Labuhan Cinta Sang Playboy
S2 - Tamu Tak Diundang


__ADS_3

...šŸšŸšŸ...


"Maaf, cari siapa ya Mas?"


"Vishanya ada?"


"Eh? Mbak Visha? Mas siapa ya?"


"Saya Zayn. Tadi Visha menghubungi saya untuk datang kemari."


Bi Iroh hanya bisa ber'oh' ria.


.


.


.


*Flashback*


Sesaat setelah Leonard berkata jika ia mengundang Galang untuk datang kerumah. Visha menuju ke pojok ruangan dan menelepon seseorang.


"Halo..." Sapa Visha sengaja ia lembut-lembutkan.


"Visha!! Kau ada dimana?!" pekik Zayn dari seberang panggilan.


"Maaf, Pak. Saya mendadak ada urusan di rumah kerabat saya."


"Lalu kapan kau kembali?"


"Umm, begini Pak. Apa saya bisa minta tolong?"


"Apa?"


"Datanglah kesini, Pak. Saya akan mengirimkan alamatnya. Datanglah saat jam makan malam. Bagaimana?"


"Hanya itu saja?"


"Iya, tolong ya Pak."


"Baiklah."


.


.


.


"Mbak Visha, ada tamu yang mencari mbak Visha," terang Bi Iroh.


"Siapa, bi?"


"Namanya Mas Zayn."


"Suruh masuk saja, Bi." perintah Elena.


Zayn dipersilahkan masuk dan Visha menghampirinya.


"Maaf ya Pak, saya tadi meninggalkan bapak."


"Iya, tidak apa." jawab Zayn mencoba ikhlas meski hatinya kesal.


"Visha, tamunya diajak sekalian ke meja makan. Kita makan malam bersamal," ucap Elena.


Visha menatap Zayn. "Iya, baiklah." balas Zayn pasrah.


Zayn dan Visha tiba di meja makan. Zayn terkejut karena melihat Galang ada disini.


"Pak Galang?" sapa Zayn.


"Eh, Zayn. Silahkan duduk. Mari makan malam bersama."


Elena dan Leonard saling pandang. Sangat terlihat aura persaingan diantara mereka berdua.


"Silahkan nak Zayn. Jangan sungkan." tawar Elena.


"Iya, tante. Terima kasih. Maaf kalau saya merepotkan."


"Tidak. Jadi kau tadi mengikuti acara yang Galang adakan?" tanya Leonard.


"Iya, Om. Saya dan Visha yang mewakili perusahaan saya."


"Dia adalah putra dari Pak Viki Ibrahim, Pa." jelas Galang.


"Oh ya? Wah, saya berteman baik dengan Papamu. Bagaimana kabarnya?"

__ADS_1


"Papa baik, Om."


"Semoga kalian juga bisa berteman seperti Papa kalian ya!" ceplos Elena.


Galang menatap Elena tak suka. Dari tatapan Galang menyiratkan jika ia sama sekali tak berniat berteman dengan pesaingnya.


...***...


Usai makan malam, mereka bercengkerama bersama di ruang keluarga.


"Kalian menginap disini saja ya!" ajak Elena.


"Eh?" Visha dan Zayn saling pandang.


"Kalian belum memesan hotel 'kan?"


"Sebenarnya dari pihak penyelenggara sudah menyediakan hotel, Ma." Galang ikut menjawab.


"Oh begitu. Tapi lebih nyaman tinggal di rumah sendiri. Bagaimana Visha?"


"Eh?"


"Baik, Tante. Saya dan Visha akan menginap disini." putus Zayn.


"Hah?" Visha terkejut tak percaya. Ia pikir Zayn tak akan mau menginap di rumah orang asing.


Setelah cukup lama berbincang. Visha pamit undur diri karena sudah kembali mengantuk. Ditambah besok masih ada acara di Brahms Corp.


Visha kembali memilih kamar Rocky untuk tidur malam ini. Ia sengaja memilih kamar itu agar kedua pria yang seperti sedang berjuang mendapatkan hatinya jadi menyerah.


Visha membersihkan diri dan berganti pakaian. Dia benar-benar tak enak hati pada Zayn karena harus membawa barang-barangnya tadi.


Visha melihat sekeliling kamar Rocky. Ada beberapa foto saat Rocky masih kecil. Visha tersenyum sendiri.


.


.


Sementara itu, kedua pria yang sudah makin akrab itu sedang berbincang di balkon lantai atas.


"Jadi kau sudah tahu jika Visha dan adikku...." kalimat Galang terhenti.


"Iya. Aku tahu. Tapi aku berpura-pura tak mengetahuinya didepan Visha."


"Visha adalah wanita yang baik. Meski ia pernah melakukan kesalahan di masa lalunya."


"Lalu apa kau menerima masa lalunya?"


"Bagaimana denganmu?" Zayn balik bertanya.


Galang membuang wajah.


"Sepertinya kau hanya menjadikan dia sebagai obsesimu saja." sarkas Zayn.


"Apa katamu?!" Galang mengepal tak terima.


"Bukankah kau dulu sempat membencinya karena ia sudah mengkhianatimu bersama adikmu?"


"Bukan urusanmu! Kau sendiri? Apa kau benar-benar tulus mencintainya?"


Perdebatan diantara Zayn dan Galang rasanya tak akan pernah usai karena mereka membela ego mereka masing-masing.


...***...


Esok harinya, Galang dan Zayn sama-sama mencari Visha dan bertanya pada Elena.


"Visha sudah pergi pagi-pagi sekali tadi."


"Eh?" Mereka berdua terkejut bersama.


"Dia bilang nanti akan ke Brahms Corp sendiri saat acara akan berlangsung." lanjut Elena.


"Kenapa Mama tidak melarangnya pergi?" tanya Galang dengan nada kecewa.


"Sebaiknya kalian berikan Visha waktu untuk sendiri. Sikap kalian yang terlalu berlebihan akan membuat Visha tidak nyaman. Bersainglah dengan sehat." Elena menepuk bahu kedua pria itu.


"Kami sedang tidak bersaing!!"Jawab mereka kompak.


"Paling tidak kalian sedang bersaing melawan ego kalian." tutup Elena sebelum akhirnya ia menuju ke dapur.


Galang dan Zayn saling pandang.


.


.

__ADS_1


.


Sementara itu, Visha berada di suatu tempat yang sunyi. Ia berjongkok di pusara seseorang.


Ia menaburkan bunga diatas pusara itu.


"Maaf, lama sekali aku baru datang... Butuh waktu untuk menguatkan hatiku..."


Visha tersenyum. Kemudian kembali bermonolog.


"Bagaimana kabarmu disana? Kau pasti sudah bahagia. Tapi kenapa aku tidak bisa bahagia disini? Semua orang menginginkan agar aku bisa melupakanmu. Dan itu sangat sulit. Katakan padaku bagaimana caraku melupakanmu? Aku ... sudah cukup tersiksa dengan semua rindu ini..."


Visha mengelus nisan bertuliskan Rocky Abraham. "Terima kasih karena sudah membuat kami selalu mengenangmu... Aku pergi ya. Entah kapan aku bisa kembali kesini."


Visha beranjak pergi dari area pemakaman. Ia masuk kedalam taksi yang sedari tadi menunggunya.


Dari kejauhan, sosok Galang sudah mengamati Visha. Daripada berdebat tak jelas dengan Zayn, Galang memilih pergi melajukan mobilnya. Firasatnya mengatakan jika Visha akan datang kesini. Dan ternyata dugaannya benar.


Galang menghembuskan nafas kasar. "Sepertinya akan sangat sulit menghapus kenangan tentangmu dari hati Visha." Gumam Galang yang akhirnya juga ikut pergi dari sana.


.


.


.


Visha sampai di rumah yang dulu pernah ia tinggali. Rumah itu masih tampak sama dengan tanda 'Karina Catering' di bagian depannya.


Visha berjalan masuk ke halaman rumah itu. Masih pukul tujuh pagi saat ia melirik jam tangannya.


"Ibu..." panggil Visha yang melihat Karina sedang menyapu halaman rumah.


"Visha?!" Karina berteriak senang melihat kedatangan Visha. Ia berlari menghampiri Visha dan memeluknya.


"Kamu datang, Nduk..."


"Iya, Bu. Maaf ya aku baru sempat datang kesini."


"Tidak apa. Kamu sendirian? Tidak bersama Ali?"


"Tidak, bu. Aku sedang ada acara kantor."


"Ayo masuklah! Rara pasti merindukanmu..."


.


.


Karina mengajak Visha sarapan pagi bersama.


"Kamu menginap dimana?" tanya Karina.


"Aku... menginap di rumah keluarga Abraham."


"Eh? Kenapa tidak disini saja?"


"Ibu memintaku untuk mengunjungi Mama Elena, tapi beliau malah memintaku untuk menginap."


"Maaf ya ibu belum sempat berkunjung ke rumahmu."


"Iya, tidak apa, bu. Lagipula sepertinya usaha katering ibu makin berkembang."


"Iya, benar Nduk. Dan juga Ibu sudah melunasi rumah ini dan juga mobil."


"Eh? Maksud ibu melunasi pada Mas Galang?"


"Iya, memang siapa lagi. Ibu merasa tak enak hati pada Nak Galang. Jadi, ibu memutuskan untuk melunasi semuanya."


Visha memeluk Karina. "Maaf ya bu. Visha banyak menyusahkan ibu..."


"Tidak, Nduk. Kamu sendiri bagaimana? Apa sudah bertemu dengan calon ayah untuk Ali?"


"Eh?"


"Maaf bukannya ibu mau ikut campur. Tapi ini sudah tiga tahun, Nduk. Kamu harus mencari kebahagiaanmu sendiri."


Visha hanya menunduk dalam diam...


...šŸšŸšŸ...


^^^tobe continued^^^


^^^Jangan lupa kasih like komen + klik favorit 😘^^^


^^^thank you šŸ’žšŸ’ž^^^

__ADS_1


__ADS_2