
...ššš...
Reza kelimpungan mencari keberadaan atasannya di kantor Zayn Building. Beberapa saat lalu, Bian menyuruhnya untuk mengambil berkas yang tertinggal di kamar hotelnya. Namun saat Reza kembali, ia tak mendapati Bian ada dikantor.
Reza menemui Lala yang notebene adalah sekretaris Zayn.
"Apa Pak Zayn ada di kantornya?"
"Tidak ada. Dia sedang meeting diluar dengan klien. Ada apa?"
"Apa Pak Zayn pergi dengan Pak Bian?"
"Tidak. Kau ini bagaimana, kau adalah asisten Pak Bian tapi kau tidak tahu keberadaan bosmu. Kau sangat aneh." Lala menyilangkan tangannya didepan dada.
"Aku sudah menghubungi ponselnya tapi tidak aktif. Dimana Visha?"
"Ah iya, aku baru ingat. Visha pergi ke lokasi proyek bersama Pak Bian."
"Apa?! Jadi mereka pergi berdua saja?"
"Dari tadi kau kemana saja? Sudah sana, pergi dari sini. Auramu sangat aneh. Aku tidak suka." ucap Lala dengan mengibaskan tangannya.
Tanpa menjawab Lala, Reza segera berlari ke parkiran mobil dan melajukan mobilnya menuju ke lokasi proyek.
Sesampainya disana, Reza melihat Bian dan Visha sedang berteduh di sebuah warung yang terbengkalai. Ia berlari menghampiri mereka. Entah kenapa perasaannya menjadi aneh melihat kedekatan Bian dan Visha.
"Pak..." Suara Reza menginterupsi Bian dan Visha yang sedang saling pandang.
"Ini berkas yang bapak minta."
"Ah, kau sudah datang rupanya. Terima kasih sudah membawanya." Bian beranjak pergi, namun Reza tak mengikutinya.
"Apa yang kau lakukan disini bersama Pak Bian?"
"Kami meninjau lokasi proyek. Memang apa lagi?" Visha tak mau Reza terlalu banyak bertanya. Ia pun mengikuti langkah Bian meninggalkan Reza.
...~~~~...
Sore hari itu, Visha bersiap pulang ke kosnya. Seperti biasa, ia menunggu ojol pesanannya datang. Tak lama bang ojolpun datang dan berhenti tepat di lobi tempat Visha menunggu.
"Tunggu!!!" Suara Reza menghentikan langkah Visha.
"Bang, nona ini tidak jadi naik ojek. Ini sebagai ganti rugi." Reza menyerahkan uang lima puluh ribuan pada bang ojol.
"Wah, terima kasih, Pak. Maaf ya mbak, saya permisi. Orderannya di cancel saja."
Visha mengepalkan tangan. "Apa maksudmu menyuruh bang ojol itu pergi?"
"Aku akan mengantarmu pulang." Tanpa berbasa basi Reza meraih tangan Visha dan membawanya ke tempat parkir.
"Reza!! Lepas!!!" Visha meronta tapi Reza tak menghiraukan.
Secara tak sengaja Bian melihat kejadian yang menurutnya aneh.
Apa Reza sudah mengenal wanita itu? Kenapa terasa aneh saat mereka sedang berdua?
"Bi, apa yang kau lakukan disini? Ayo, mobilnya sudah siap." ucap Zayn sambil menepuk bahu Bian dan masuk ke dalam mobil yang sudah terparkir di depan lobi.
Sementara itu, Reza membukakan pintu mobil dan meminta Visha masuk.
"Masuklah!"
Visha masih diam.
"Masuklah! Aku akan mengantarmu pulang."
Visha merasa tak bisa menolak lagi dan akhirnya masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Reza tersenyum puas, dan iapun ikut masuk ke dalam mobil.
"Dimana rumah kosmu?"
Visha tak menjawab.
"Visha... Ayolah!!! Jangan seperti anak kecil."
"Kau yang seperti anak kecil. Berbuat seperti ini kau pikir siapa dirimu?!" Visha mulai kesal.
"Aku hanya ingin mengantarmu pulang. Itu saja!"
"Tapi cara yang kau lakukan sangatlah aneh!"
"Maaf. Habisnya ... aku kehabisan akal, Visha."
"Aku lapar, antarkan aku makan dulu. Dan kau harus mentraktirku!!!" Ucap Visha kesal.
Reza tersenyum penuh kemenangan.
Mereka menuju ke sebuah resto di sebuah mall. Visha segera masuk dan duduk, lalu memanggil pelayan.
Visha memesan beberapa menu makanan. Reza hanya bergeleng kepala.
"Apa kau sangat kelaparan?"
"Iya, aku sangat kelaparan. Dan aku ini anak kos, jadi ini kesempatan bagus karena ada yang ingin mentraktirku."
Reza kembali terkekeh. "Inilah yang aku suka darimu. Kau suka meledak-ledak tak karuan begini." Reza mengusap rambut Visha pelan.
Tanpa mereka tahu, ada dua pasang mata memperhatikan gerak gerik mereka berdua, Zayn dan Bian.
Zayn mengepalkan tangan. Lalu menghampiri Visha. Visha terkejut saat tahu Zayn juga ada disana.
"Bapak ada disini juga? Bukannya tadi bilang mau pergi dengan Pak Bian ya." Visha celingukan mencari keberadaan Bian yang ternyata sedang menuju ke meja mereka.
"Ada apa ini?" Visha merasa ada hawa aneh yang dibawa oleh Zayn dan Reza.
"Ikut denganku!!!" Zayn menarik tangan Visha dan membawanya keluar dari resto.
"Pak!! Apa yang bapak lakukan? Aku bahkan belum sempat memakannya!" Visha merasa sedih meninggalkan makanannya.
"Aku akan belikan makanan untukmu yang lebih enak."
Sementara itu, Reza mendesah kesal. Bian menghampiri Reza dan duduk di depan Reza.
"Ada apa ini sebenarnya Reza?" tanya Bian. "Apa kau tahu jika Zayn menyukai Visha?"
"Maaf, Pak. Saya tahu jika Pak Zayn menyukai Visha."
"Lalu kenapa kau malah mendekati Visha?"
"Visha adalah mantan kekasih saya."
Bian menghela nafas. "Dan kau masih mencintainya?"
"Sepertinya begitu, Pak. Mereka bahkan tidak dalam sebuah hubungan. Kenapa Pak Zayn sampai semarah itu?"
"Kau masih bertanya? Cepat habiskan makananmu dan antar saya kembali ke hotel."
"Bagaimana kalau kita makan dulu saja, Pak? Ini banyak sekali makanannya."
"Tidak. Saya tidak mau makan bersama pria di tempat seperti ini."
"Lalu untuk apa bapak kemari bersama Pak Zayn? Ya sudah, makanannya dibungkus saja. Nanti bapak makan di hotel."
Bian hanya geleng-geleng kepala.
__ADS_1
.
.
.
"Kita mau kemana, Pak?" tanya Visha saat mobil Zayn melaju membelah jalanan kota Semarang.
"Kau bilang ingin makan. Aku akan membelikanmu makanan. Jadi jangan pernah makan bersama dengannya. Lagi pula, sejak kapan kau sedekat itu dengan asistennya Biantara?"
Visha terkekeh. "Apa sih Pak? Jangan aneh-aneh deh. Aku dan Reza tak ada hubungan apapun."
"Lalu kenapa kau diam saja saat dia membelai rambutmu?"
"Itu adalah kebiasaannya."
CKIIIIIIIIIITTTTTTT!!!!
"Aduh! Kenapa berhenti tiba-tiba sih pak?"
"Apa katamu tadi?! Kebiasaan dia? Jadi kau memang sudah mengenalnya?"
"Huft!!! Bapak ingin aku mengatakannya dengan jujur?"
"Tentu saja." Zayn menatap Visha serius.
"Dia adalah mantan kekasihku."
Zayn tertawa.
"Apanya yang lucu?" Visha mengernyitkan dahi.
"Tidak ada."
"Kalau begitu cepat jalankan mobilnya, aku sudah sangat lapar. Bagaimana kalau aku pingsan, huh?"
"Hahaha, iya baiklah. Kau ingin makan dimana?"
"Tadi bapak bilang ingin membelikanku makanan yang enak. Kalau begitu di resto XYZ saja."
"Baiklah. Tapi jangan memanggilku bapak."
"Iya, iya, Zayn Ibrahim... Sudah puas?"
"Hahaha, kau sangat aneh dan lucu. Semoga kau tidak akan kembali berhubungan dengan mantanmu itu."
"Tentu saja tidak! Sebenarnya aku masih membencinya karena dia berselingkuh dengan sahabatku. Tapi saat dia bilang mereka sekarang sudah bercerai, aku jadi iba padanya. Tapi sepertinya dia malah melunjak, bla bla bla bla..."
Zayn hanya tersenyum mendengar cerita Visha. Sebenarnya Visha butuh seseorang untuk sekedar diajak berbincang dan berkeluh kesah.
Dan setahun ini, Zayn adalah pendengar setia Visha yang bersedia mendengarkan tanpa menghakimi.
Tanpa sadar Zayn meraih tangan Visha dan mengecupnya pelan sambil tangan kanannya tetap fokus pada kemudi.
Visha hanya membulatkan mata mendapat perlakuan manis dari Zayn. Hatinya merasakan sesuatu yang aneh didalam sana.
...ššš...
Bersambung,,,
.
.
.
...Hayooooo kalian tim siapa nih? š¬š¬š¬...
__ADS_1
...jangan lupa tinggalkan jejak yaah, supaya aku lebih semangat menghadapi hari šš...
...Thank You šš...