
...πππ...
Hari ini Bian sangat sibuk untuk mengurus masalah pekerjaan dan juga masalah pribadinya. Perlahan Bian menjelaskan pada Reza tentang apa yang sedang terjadi dengan dirinya dan keluarganya.
Reza terkejut tak percaya jika Bian adalah Rocky Abraham. Tapi semua bukti-bukti yang telah ia jabarkan sudah sangat jelas dan akurat.
Penangkapan Sania dan Galang tentunya menjadi trending topic di kalangan para pebisnis. Apalagi Galang adalah CEO Brahms Corp yang terkenal piawai dalam usaha apapun.
Namun semua kejahatan yang sudah ia perbuat tetap harus ia pertanggungjawabkan di depan hukum. Tak peduli ia adalah orang besar atau siapa. Hukum tidak memandang itu.
Bian meminta Reza agar ikut membantunya untuk mengurus masalah pribadinya yang cukup rumit ini. Berkas-berkas mengenai dirinya yang adalah Rocky harus segera di sahkan dan diserahkan pada pengadilan agar ia secepatnya kembali menjadi Rocky.
Sementara itu, Donny dan Siska bekerja sama untuk menangkap Ari, sang kaki tangan Galang. Dia adalah saksi kunci dari semua perbuatan Galang.
Ari yang hendak melarikan diri ke luar negeri, tertangkap basah oleh Donny dan anak buahnya saat berada di bandara. Ia pun hanya pasrah saat di gelandang ke kantor polisi.
Bian juga mendapat bantuan dari Jemmy yang sudah lama mengumpulkan jejak-jejak kebusukan Galang. Akhirnya satu persatu fakta mulai terkuak. Bian mulai bisa bernafas lega.
Di akhir harinya, Bian membuat janji dengan Yogi untuk bicara empat mata. Yogi pun bersedia menemui Bian yang ia tahu adalah suami dari mantan istrinya.
"Terima kasih karena bersedia menemuiku," ucap Bian.
"Tidak apa. Aku sudah tahu dengan apa yang terjadi. Aku tidak menyangka jika Sania..." Yogi merasa miris untuk melanjutkannya.
"Yah, tidak ada yang tahu jika Sania mengambil jalan ini. Yogi, maksudku menemuimu adalah... Aku ingin memberitahumu soal Alisa. Dia adalah putri Sania dan..."
"Putriku?" Dengan cepat Yogi menyambar kalimat Bian.
"Iya. Tapi... Untuk saat ini aku akan merawatnya. Tidak! Bahkan mungkin seterusnya. Kau tahu, aku menyayanginya seperti putriku sendiri. Aku harap kau bisa mengerti. Jika kau ingin bertemu dengannya maka, aku akan mengijinkannya."
Yogi nampak berkaca-kaca.
"Jadi Sania memang tidak menggugurkan bayinya?"
"Tidak. Dia mempertahankannya. Dia tumbuh jadi gadis kecil yang cantik. Kapan saja kau siap untuk menemuinya, aku akan mengantarkannya padamu. Bagaimanapun aku tak bisa memutus hubungan ayah dan anak."
"Terima kasih, Bian. Terima kasih..."
"Sama-sama. Kalau begitu aku permisi. Terima kasih atas waktunya."
Bian menjabat tangan Yogi. Kemudian pergi meninggalkan Yogi yang masih berkaca-kaca tak percaya.
.
.
.
Bian kembali ke apartemen dan mendapati Visha sedang memasak di dapur.
Bian menyapanya dengan mengecup keningnya.
"Dimana Ali dan Alisa? Apa mereka tidak denganmu kesini?" tanya Bian.
"Tidak. Mereka lebih memilih bersama bapak dan ibu di hotel." jawab Visha dengan masih fokus mengiris bahan makanan.
"Hmmm, mungkin mereka lebih nyaman bersama kakek dan neneknya karena mamanya terus cemberut seperti itu..." goda Bian.
Visha langsung memalingkan wajahnya ke arah Bian dengan tatapan membunuh.
"Sayang... Kenapa kau akhir-akhir ini sangat sensitif sekali? Apa hormonmu sedang naik, hah?!"
"Pergilah membersihkan dirimu dulu! Jika tidak aku akan mencincangmu juga seperti daging ini!" ketus Visha dengan mengacungkan sebilah pisau.
"Sayang? Kau sangat ekstrim! Aku takut!" Balas Bian dengan melenggang pergi ke kamarnya.
__ADS_1
Visha mendengus sebal melihat tingkah Bian yang seolah selalu menggodanya dan tak merasa bersalah sedikitpun.
Beberapa menit kemudian, Bian keluar dari kamar dengan sudah memakai piyamanya dan menuju meja makan.
Visha menata makanan ke meja makan lalu duduk bersama Bian. Ia mengambil piring dan memasukkan nasi untuk diberikan pada Bian.
Bian menerima dengan senang hati dan senyuman mautnya untuk menggoda Visha lagi.
"Berhentilah menggodaku!" galak Visha.
"Aku tidak menggodamu. Aku hanya tidak ingin kau terus bermuka masam seperti itu. Itu akan mengurangi kecantikanmu, kau tahu?"
"Cih, terus saja lakukan, aku tidak akan terpengaruh." balas Visha santai dengan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Aku sudah menemui Yogi." ucap Bian yang membuat Visha menghentikan makannya.
"Lalu?"
"Dia setuju aku merawat Alisa."
"Kenapa?"
"Karena dia merasa aku sanggup melakukannya."
"Benarkah?"
"Visha... Aku tahu kau masih belum bisa menerima Alisa. Tapi percayalah, kehadirannya akan membawa kebahagiaan untuk keluarga kita..."
"........."
.
.
.
Dua insan ini kini sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga akhirnya,
"Mas, jika kau kembali menjadi Rocky, itu artinya... Kau akan menjadi CEO Brahms Corp?"
"Hmmm, ya begitulah." jawab Bian tanpa menoleh sedikitpun.
"Berapa lama Mas Galang akan dihukum?"
Bian menghentikan aktifitasnya dan menaruh tab nya di atas nakas. Ia menatap tajam kearah Visha yang juga sedang menatapnya.
"Ada apa? Aku hanya bertanya..." tukas Visha.
"Kau masih peduli padanya? Setelah apa terjadi pada kita, terlebih orang tuaku."
"Mas... Kau yang sensitif. Aku hanya bertanya."
"Pengadilan yang akan memutuskan. Sidangnya akan dimulai dua hari lagi. Aku meminta prosesnya di percepat karena semua bukti sudah lengkap. Ada lagi yang ingin kau tanyakan?"
"Tidak. Aku hanya... merasa kasihan padanya."
"Kau kasihan padanya dan kau tidak kasihan pada Alisa?"
Visha menatap Bian dalam. "Mas... Semua butuh waktu. Jadi tolong berikan aku waktu untuk bisa mencerna semuanya." tutup Visha sebelum akhirnya ia merebahkan tubuhnya membelakangi Bian.
Bian mengusap wajahnya. Ia merasa bersalah pada Alisa dan juga Visha.
"Sayang..." panggil Bian dengan memeluk tubuh Visha.
"Maafkan aku... Mungkin aku terlalu memaksamu. Aku tahu ini pasti sulit untukmu. Kita akan melaluinya bersama-sama. Jadi..."
__ADS_1
Visha memutar tubuhnya menghadap Bian. "Sudahlah. Kita tidur saja. Aku lelah. Tidak mau berdebat denganmu lagi..." ucap Visha dengan membingkai wajah Bian.
Bian membalas dengan senyuman yang memiliki makna lain.
"Ada apa dengan senyummu?" tanya Visha.
"Sayang, bagaimana program memiliki adik untuk Ali? Apa sudah ada perkembangan?"
"Apaan sih?" Visha nampak malu.
"Jika masih belum ada perkembangan maka... Mumpung kita hanya berdua saja." Seringai Bian yang langsung menerkam Visha.
"Mas!!!" Pekik Visha terengah karena Bian menyerangnya tiba-tiba.
Namun kemudian pekikan Visha berubah menjadi suara lembut yang memanggil nama Bian disertai sedikit desahan manja.
.
.
.
Keesokan harinya, Visha menyiapkan sarapan lebih banyak dari biasanya. Bian sedang menjemput keluarga Visha di hotel agar sarapan bersama di apartemennya.
Bian melihat jika Ali mulai menerima kehadiran Alisa sebagai adik. Bian akan mengurus semuanya agar Alisa bisa segera ia adopsi.
Sesampainya di apartemen, Ali dan Alisa bermain berlarian keliling ruangan. Visha yang melihat kegembiraan anaknya ikut bahagia.
"Benar 'kan sayang, kehadiran Alisa akan membuat keluarga kita makin ceria." ucap Bian sambil membantu Visha menata makanan di meja makan.
"Hmmm, iya Mas. Semoga saja." balas Visha datar.
Bian masih melihat raut kecemburuan dalam wajah Visha. Bian pun membawa Visha masuk kedalam kamar.
"Mas, kenapa membawaku ke kamar? Kita kan mau sarapan."
"Jangan cemburu lagi. Alisa tidak akan menjadi sainganmu kok. Aku tidak akan menyerahkan hatiku pada orang lain. Percayalah!" Bian membujuk Visha lagi dan lagi.
Visha melipat tangannya di depan dada. "Hmmm, baiklah. Aku percaya padamu. Tapi sebaiknya kau benar-benar menepati janjimu! Tuan Rocky Abraham!"
"Tentu saja, Nyonya Rocky Abraham. Aku berjanji!" Balas Bian dengan meraih bibir Visha dan menyesapnya lembut.
Tok
Tok
"Nduk....Ayo sarapan dulu!" Suara Yanti menginterupsi aktifitas Bian dan Visha.
"Iya, Bu..." jawab Visha sedikit mendesah karena Bian mengecup leher Visha dan menggigitnya pelan.
Yanti hanya menautkan alisnya bingung lalu memutar bola matanya malas.
"Hmmm, memangnya semalam masih kurang? Pagi-pagi sudah masuk kamar..." gumam Yanti sambil menggeleng pelan.
...πππ...
#bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalianπ£π£πππ 'Coz you are my sunshine ββ
Hai hai, Mamak punya story baru nih di NT, judulnya RaKhania. Masih baru banget dan masih anget π¬π¬π¬
Silahkan mampir dan kepoin yaak. Klik favorit aja dulu biar kalo ada UP bisa langsung baca ππ
Terima kasih π
__ADS_1