
...πππ...
Bian dan Visha tiba di rumah Zayn. Visha langsung menghambur keluar dari mobil dan berlari cepat masuk ke dalam rumah. Bian hanya bisa menghela nafas melihat kepanikan Visha yang menurutnya unfaedah.
Visha bertemu dengan Bi Ani dan bertanya padanya.
"Dimana Pak Zayn, bi? Sebenarnya dia kenapa? Kenapa dia pingsan?"
Bi Ani merasa kebingungan karena Visha memberondongnya dengan banyak pertanyaan.
"Bibi!! Kenapa diam? Dimana Pak Zayn?"
"Eh, anu mbak. Tuan Zayn sudah di kamarnya. Tadi saya dan pak udin memindahkannya ke kamar."
"Dimana kamar Pak Zayn?"
"Ada di lantai atas, mbak."
Visha segera berlari menuju lantai atas rumah Zayn. Bian yang melihat kepanikan Visha lagi-lagi hanya bisa menggeleng.
"Kubilang juga apa, pasti sudah ada orang yang menolongnya. Kenapa Visha sampai sepanik itu sih? Menyebalkan sekali!"
Bian dan Bi Ani ikut menuju lantai atas dan menuju kamar Bian. Bian melihat Visha sudah duduk di samping tempat tidur Zayn.
"Pak Zayn mengalami demam. Suhu tubuhnya 40Β° celcius. Bi, tolong siapkan kompresan ya."
"Baik, mbak."
"Ya ampun, Sha. Kenapa kau sampai repot begini? Telepon saja dokter dan semua beres. Bos sekelas Zayn pasti punya dokter pribadi."
"Pak Zayn tidak suka ke dokter. Karena ia punya kenangan buruk dengan dokter."
Bian memutar bola matanya. "Kau sangat mengenalnya ya. Aku bahkan tidak tahu sebanyak itu tentang Zayn."
Tak lama, Bi Ani membawa alat kompres untuk Zayn. Visha segera meletakkan handuk basah di dahi Zayn. Melihat ketelatenan Visha merawat Zayn, Bian merasa cemburu dan dia memutuskan untuk keluar dari kamar Zayn.
Bian menuju teras rumah Zayn di lantai atas. Ia menghirup udara sebanyak-banyaknya. Rasanya dadanya sangat sesak.
"Bapak disini?"
"Kenapa kau kesini? Bukankah seharusnya kau menemani Zayn saja. Kau kesini untuk itu 'kan?"
"Kau cemburu?"
"Tidak! Kau 'kan tidak ada perasaan apapun padanya." Bian bicara membelakangi Visha.
Sangat terlihat jika ia sedang di kuasai api cemburu. Visha bisa melihat itu.
Visha menghampiri Bian dan memeluknya dari belakang.
"Aku tahu bapak cemburu. Maaf ya, aku harus memaksa bapak untuk mengantarku kemari. Aku tidak mau jika aku datang sendiri, itu akan membuat semuanya bertambah runyam."
Bian melepas tangan Visha dan berbalik menghadap Visha. "Iya aku tahu. Maafkan aku juga karena tidak mengerti tentangmu. Kau adalah wanita yang baik. Kau bahkan melawan preman-preman untuk menolongku saat aku dikeroyok. Kau wanita luar biasa, Visha." Bian memeluk Visha.
Ada perasaan nyaman ketika sudah saling memaafkan dan mengutarakan perasaan masing-masing.
"Sekarang bapak temani Pak Zayn ya. Aku akan memasakkan bubur untuknya. Setelah itu kita pulang."
Bian mengangguk dan meraih bahu Visha. Mereka berjalan beriringan menuju kamar Zayn.
Visha turun ke lantai bawah dan menuju dapur. Ia dibantu Bi Ani menyiapkan bahan-bahan dan mulai memasak.
Sementara Bian, ia duduk disamping tempat tidur Zayn. Dilihatnya Zayn mulai menggeliat. Zayn mulai membuka matanya. Ia mengerjap beberapa kali untuk menyadarkan diri dan melihat ke arah Bian.
"Aku ada dimana?" tanya Zayn lirih dan mengambil handuk kompres di dahinya.
__ADS_1
"Kau ada di akhirat." jawab Bian santai.
"Eh?"
"Tentu saja kau ada di rumahmu. Bagaimana kau bisa pingsan? Apa kau ingin bunuh diri, huh? Tapi sayang kau tidak mati."
Zayn terkekeh kecil mendengar kalimat Bian. "Kau yang membawaku ke kamar? Seingatku aku ada di teras."
"Bukan aku, tapi penjaga rumahmu. Ada apa denganmu? Apa kau begitu patah hati karena Visha lebih memilihku?" tanya Bian.
"Entahlah. Aku merasa tidak enak badan. Lalu, bagaimana hubunganmu dan Visha? Kemarin dia datang untuk meminta maaf padaku."
"Hubungan kami baik-baik saja. Dia sudah bercerita padaku jika dia datang menemuimu."
"Kenapa, Bi?"
"Eh?"
"Kenapa harus Visha, Bi? Bukankah kau sudah memiliki Sania di sisimu?"
Bian menatap iba pada sahabatnya itu. "Maaf, Zayn. Tapi seperti yang pernah aku katakan padamu. Aku dan Visha... seperti terikat tali takdir. Kami tidak bisa dipisahkan."
"Lalu bagaimana dengan Sania?"
Bian menarik nafas dan menghembuskannya pelan. "Untuk hubunganku dengan Sania... Ada hal yang tidak bisa kuberitahukan padamu. Hal itu cukup aku dan dia saja yang tahu. Yang jelas, aku sangat mencintai Visha, dan dia juga mencintaiku."
Zayn menatap Bian lalu tersenyum. "Aku berharap kau bisa membuat Visha bahagia. Selama ini dia selalu bersedih karena mengingat cinta masa lalunya."
"Pasti! Aku pasti akan membahagiakan Visha."
.
.
.
"Kau ingin langsung pulang atau kembali ke kantor?" tanya Bian.
"Sudah jam segini. Sebaiknya antarkan aku pulang ke kos saja." Visha melirik jam tangannya.
"Apa malam ini kau tidak ingin menginap lagi di kamarku?"
"Aku tidak enak hati pada Mbak Keisya. Dia sangat mengkhawatirkanku."
"Tapi aku tidak melakukan apapun padamu."
Visha memicingkan matanya. "Bapak yakin?"
Bian tertawa kecil sambil menggaruk tengkuknya.
"Ya sudah, sekarang kita ke mini market dulu dan membeli es krim coklat. Aku sangat ingin mendinginkan hati dan kepalaku karena ulah bapak."
"Hei, aku tidak melakukan apapun." Bian masih membela diri.
Visha masuk ke dalam mini market dan membeli beberapa es krim kesukaannya. Tak lupa ia juga membelikan untuk Bian.
Hujan mulai turun ketika Visha keluar dari mini market. Visha berlari cepat dan masuk kedalam mobil.
"Huh, kenapa tiba-tiba hujan sih? Ini 'kan masih musim kemarau." rutuk Visha.
"Jangan menggerutu, hujan adalah anugerah. Kita harus mensyukurinya. Lalu mana barang belanjaanmu? Apa kau jadi membeli es krim?"
"Tadaaa, tentu saja. Silahkan pilih es krim yang bapak suka." Visha menunjukkan beberapa rasa es krim pada Bian dengan ekspresi yang dibuat seimut mungkin.
"Cih, kau ini. Aku tidak begitu suka rasa coklat. Rasa kopi sepertinya lebih baik."
__ADS_1
"Sudah kuduga."
Mereka menikmati es krim mereka sambil masih menunggu hujan reda.
"Apa saja yang bapak bicarakan dengan Pak Zayn?" tanya Visha memecah keheningan.
"Umm, apa ya? Tidak banyak. Dia bilang dia sudah mengikhlaskanmu. Dan memintaku untuk membahagiakanmu."
"Dia orang yang baik. Tapi sayang, aku tidak bisa jatuh hati padanya." Visha terdiam dan melanjutkan melahap es krim coklatnya.
Bian melihat es krim coklat Visha menempel di sekitaran bibirnya, ia tertawa kecil. "Kau sudah akan berusia 30 tahun dan masih belepotan saat memakan es krim, apa kau tidak malu dengan Ali?"
"Hah? Apa? Masa sih?" Visha segera meraih kertas tisu yang ada di dashboard mobil namun di cegah oleh Bian.
"Kenapa?" tanya Visha dan menoleh ke arah Bian yang menarik tangannya.
Tanpa persiapan apapun, Bian memajukan tubuhnya dan meraih bibir Visha. Bian menyesap manisnya es krim coklat yang tertinggal disana. Visha selalu dibuat tak berdaya dengan semua sentuhan Bian. Ia pun mengikuti ritme yang dilakukan Bian.
Rintik hujan diluar seakan menjadi saksi bahwa dua insan sedang menikmati kisah kasihnya dengan ditemani manisnya es krim yang hadir.
Bian menyudahi ciumannya dan berusaha menetralkan hatinya. "Visha... Maukah kau menikah denganku?" Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Bian.
"Heh?" Visha sangat terkejut dengan proposal Bian.
"Aku tahu, setiap wanita menginginkan lamaran romantis dengan bertabur bunga dan diiringi lagu romantis. Tapi aku... Aku seorang pria bodoh yang hanya melamarmu sambil menyantap es krim di temani suara rintik hujan. Tak ada candle light dinner, tak ada kata-kata romantis, tak ada bunga mawar. Aku bahkan belum menyiapkan cincin."
Visha sedikit terkekeh mendengar semua kalimat Bian sekaligus terharu.
"Aku... hanya pria bodoh yang mencintaimu, tapi tak bisa menunjukkan pada dunia jika aku mencintaimu. Aku bahkan harus menutupi hubungan kita karena yang orang tahu aku terikat pernikahan dengan wanita lain. Aku ingin melawan dunia dan memberitahukan jika aku..."
"Aku mau..." Belum sempat Bian melanjutkan kalimatnya, Visha langsung memotongnya.
"Apa?" Bian merasa tak percaya jika Visha akan secepat ini menjawab.
"Aku mau menikah denganmu, Biantara Adiguna alias Rocky Abraham, alias ayah dari anakku." jawab Visha panjang lebar.
Bian segera meraih tubuh Visha dan memeluknya erat. "Terima kasih, Visha. Terima kasih..."
Visha membalas pelukan Bian sama eratnya. "Terima kasih karena sudah mencintaiku."
Bian melepas pelukannya. "Tidak, aku lah yang harus berterimakasih."
"Setelah sepuluh tahun aku menunggu akhirnya..." Visha tak kuasa menahan air matanya.
"Jangan menangis..." Bian menghapus air mata Visha. "Maaf ya, jika lamaranku sangatlah tidak romantis."
"Tidak. Aku sangat suka lamaranmu. Dan bagiku... Ini sangatlah romantis."
"Tapi tidak ada cincin..."
Visha memukul pelan lengan Bian. Kemudian mereka tertawa bersama.
Entah rasa seperti apa yang bisa menggambarkan suasana hati mereka berdua saat ini. Yang pasti, hujan yang sedari tadi turun dengan deras, tiba-tiba berhenti dan berganti pelangi indah yang terlukis di langit.
...πππ...
bersambung,,,
.
.
*Jangan lupa tekan jempolnya gaessπππkarena itu semangat buatkuh πͺπͺ
*ketik komentar kalian juga bole buanget π
__ADS_1
...~thank you~...