Labuhan Cinta Sang Playboy

Labuhan Cinta Sang Playboy
Tak Bisa Menjauh


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Sania kembali ke rumah orang tuanya. Mamanya mengobati luka-luka yang di derita Sania akibat pukulan dari Yogi.


"Mama tidak menyangka jika Yogi bisa melakukan ini padamu," ucap Mama Sania dengan menahan tangisnya.


"Sudah berapa lama kejadian seperti ini berlangsung? Kenapa kau tidak memberitahu Papa dan Mama?" Kini Papa Sania bergabung dalam obrolan.


"Mas Yogi mengurungku di dalam kamar dan tidak memperbolehkan aku menghubungi siapapun," jawab Sania dengan menitikkan air mata.


"Kurang ajar! Papa akan memberinya pelajaran!" Tangan Papa mengepal kuat.


"Sayang, kau sudah mengalami hal buruk. Sebaiknya kalian berpisah saja," ujar Mama pada Sania.


"Tidak bisa, Ma! Sania sedang mengandung anak Yogi," jawab Papa.


"Apa? Apa semua itu benar, Nak?" Mama menyelidik kedalam mata Sania.


"Jawab Sania!" perintah Papa.


"Aku tidak mau mengandung anak Yogi!!! Aku akan menggugurkannya!!" pekik Sania.


"Astaga! Sania!! Membunuh bayi yang belum lahir kedunia itu adalah perbuatan dosa, Nak." nasihat Mama.


"Pa, Ma. Aku benar-benar tidak menginginkan anak ini! Aku tidak bisa menerimanya!!!" Sania memukul-mukul perutnya.


Sontak Mama Sania mencegahnya dan memeluk putrinya itu. Tangis Sania makin pecah di pelukan Mamanya.


Sementara sang Papa hanya mengusap wajahnya frustasi. Menantu idaman yang selalu dibanggakannya, kini menjadi petaka untuk putri semata wayangnya.


...***...


Berhari-hari Sania tidak mau memasukkan makanan apapun kedalam mulutnya. Mama dan Papanya sangat bersedih melihat kondisi putrinya yang kian terpuruk.


Mama bahkan menangisi kondisi Sania. Ia bingung harus bagaimana lagi menghadapi sikap Sania.


Tubuhnya kurus kering dengan mata sembab dan kantung mata kehitaman.


Hari itu, tiba-tiba Sania menatap dirinya di depan cermin. Sungguh menyedihkan, pikir Sania.


Ia ingin menghirup udara segar dengan berjalan keluar dari kamar. Ia menuju ke teras rumah dan menemui seorang supir dan minta diantar menuju ke panti asuhan.


Sania ingin melihat anak-anak panti yang selalu tersenyum ceria didepannya. Mama yang melihat Sania melangkah pergi, menganggukkan kepala pada pak supir dan memintanya untuk menjaga Sania.


Mungkin dengan pergi kesana Sania akan bisa lebih bahagia dan tidak lagi bersedih dengan kondisinya.


Sania tiba di panti asuhan dan melihat anak-anak sedang bermain bola seperti biasa.


Sania mengedarkan pandangan mencari keberadaan seseorang. Rocky. Namun Sania tak menemukan sosok itu.


Sania tahu biasanya di sore hari Rocky pasti datang ke panti.


"Mungkin dia belum datang," batin Sania.


Visha yang sedang ada di taman panti, melihat kedatangan Sania dan menghampirinya.


"Bu Sania!" sapa Visha.


"Hai, kau sedang bekerja?" tanya Sania.


"Iya. Bu Sania baik-baik saja? Wajah ibu nampak pucat."


"Benarkah? Mungkin aku hanya kelelahan saja."


"Kalau begitu sebaiknya ibu duduk di bangku taman saja." Visha memapah Sania melangkah ke bangku taman.


Belum sampai di bangku, tubuh Sania ambruk. Untung saja Visha segera menangkap tubuh Sania.


Visha membaringkan tubuh Sania dipangkuannya. Ia mencoba membangunkan Sania dengan menepuk pipinya pelan.


"Bu Sania!! Bangun, Bu! Bu Sania!"


Visha menatap sekeliling dan mencari pertolongan. "Tolong!!! Tolong!!!" teriak Visha.


Dari kejauhan Visha melihat seseorang menghampirinya.

__ADS_1


"Rocky!!! Tolong aku!!! Bu Sania pingsan!"


Rocky segera mengambil alih tubuh Sania dan menggendongnya menuju mobil. Pak Supir yang menunggu Sania ikut panik.


Rocky meminta Visha untuk ikut bersamanya. Visha segera masuk kedalam mobil Rocky.


.


.


.


Di rumah sakit, dokter segera memeriksa kondisi Sania. Rocky dan Visha menunggu dengan cemas di depan ruang IGD. Sementara supir Sania menghubungi pihak keluarga Sania.


Tak lama seorang dokter datang dan memberitahu jika Sania sudah dipindahkan ke ruang perawatan.


Dokter menjelaskan pada Rocky jika Sania kini tengah hamil muda. Rocky dan Visha cukup terkejut mendengarnya.


Rocky memutuskan menemui Sania di kamar rawatnya.


"Hai!" sapa Rocky ketika melihat Sania sudah siuman.


"Rocky? Bagaimana bisa kau ada disini?" tanya Sania bingung.


"Tidak perlu memikirkan bagaimana aku bisa ada disini. Yang penting sekarang adalah ... kau sedang mengandung. Kau pasti senang 'kan?" Rocky tahu jika Sania sangat mendambakan seorang anak.


Namun ucapan Rocky justru membuat Sania meneteskan air mata.


"Ada apa? Apa kau tidak senang?"


"Aku tidak ingin hamil, Rocky."


"Apa yang kau bicarakan? Jadi kau berniat ingin membunuh bayimu?"


Sania terisak. Rocky hanya menatap wanita yang pernah dicintainya itu dengan iba.


"Apa Yogi sudah menyakitimu?"


Sania tidak menjawab dan tangisannya terdengar makin pilu.


"Dengar! Mulai sekarang, jangan berpikir untuk membunuh anak dalam kandunganmu ini. Setelah dia lahir, aku akan menjaganya seperti anakku sendiri."


"Jangan menangis lagi dan bersemangatlah. Hiduplah untuk anakmu mulai sekarang. Kau bisa 'kan berjanji padaku?"


Sania mengangguk. Rocky mencium puncak kepala Sania dengan dalam.


"Terima kasih, Rocky."


Rocky membalas dengan seulas senyum. Visha melihat pemandangan tak biasa dari luar kamar Sania.


Visha tahu jika hubungan mereka bukan hanya sekedar pertemanan.


Tak lama keluarga Sania datang dan bertemu dengan Rocky. Pak Hartawan menatap Rocky dengan tatapan tak suka.


Sejak dulu ia memang tak menyetujui hubungan Rocky dan Sania.


"Sebaiknya kau keluar! Urusanmu sudah selesai disini!" usir Pak Hartawan.


"Baik, Om. Kalau begitu saya permisi."


"Pa, jangan usir Rocky." pinta Sania.


"Papa dan Mama sudah datang. Jadi kau sudah tidak membutuhkan pria ini lagi. Lagipula kekasihnya sudah menunggu didepan kamar."


"Eh?" Rocky dan Sania bersamaan mengerutkan dahi.


"Terima kasih karena sudah menolong Sania."


"Sama-sama, Om. Sania, aku pergi dulu. Kau harus ingat janjimu." Ucap Rocky tersenyum sebelum ia keluar dari kamar itu.


Rocky menemui Visha yang menunggu didepan kamar.


"Bagaimana? Bu Sania baik-baik saja 'kan?"


"Iya. Sebaiknya kau pulang!"

__ADS_1


"Ah, iya." Visha berjalan lebih dulu diikuti Rocky dibelakangnya.


Sesampainya di lobi rumah sakit, Rocky dan Visha sama-sama diliputi kecanggungan.


Beberapa hari lalu Rocky berkata ingin menjauhi Visha, namun hari ini mereka bertemu kembali dan tak ada yang berusaha menjauh.


"Kau bisa pulang sendiri, 'kan?" Tanya Rocky memecahkan kebisuan.


"Iya. Aku akan memanggil ojek online saja." Visha memainkan ponselnya dan membuka aplikasi ojek online.


Tanpa kalimat perpisahan, Rocky melangkah pergi meninggalkan Visha yang masih mengutak-atik ponselnya.


Rocky menuju ke mobilnya dan mulai melajukan mobilnya meninggalkan pelataran rumah sakit.


Rocky melajukan mobilnya dengan cukup pelan sambil sesekali melihat ke arah kaca spion untuk mengecek apakah Visha sudah melaju dengan ojek onlinenya atau belum.


Rocky berjalan beberapa meter dan belum melihat ada pengendara ojek online yang masuk atau keluar dari dalam rumah sakit.


Pikiran Rocky mulai bimbang. Apakah ia harus kembali ke rumah sakit dan memastikan Visha sudah pergi atau belum, atau tetap membiarkannya.


Dengan sedikit kesal Rocky akhirnya memutar balik mobilnya dan kembali ke rumah sakit. Mobilnya berhenti tepat di depan Visha yang masih menunggu ojek onlinenya datang.


Rocky membuka kaca mobil. "Masuklah!" Teriak Rocky.


"Eh?" Visha bingung dengan ajakan Rocky.


"Cepatlah masuk!"


"Tapi ... ojeknya sedang menuju kemari."


"Batalkan saja!"


Tanpa bisa menolak, Visha masuk ke dalam mobil Rocky. Ia segera membatalkan pesanan ojek onlinenya.


Selama perjalanan, Visha sesekali melirik ke arah Rocky yang tetap fokus menatap jalanan didepannya.


Rocky merasa tidak nyaman dengan tatapan Visha padanya.


"Ada apa? Apa ada sesuatu di wajahku?"


"Ah, tidak."


"Apa aku terlalu tampan?"


"Heh?"


"Sudahlah. Tidak ada gunanya bicara denganmu!"


"Kenapa kau kembali ke rumah sakit? Bukankah kau bilang akan menjauhiku?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Visha.


Rocky menggenggam erat kemudi ditangannya.


Benar!!! Yang dikatakan Visha benar. Kenapa aku harus memutar balik mobilku?


"Jika kau tidak mau menjawab tidak apa-apa. Aku berterimakasih karena sudah bersedia mengantarku."


"Aku ... aku tidak bisa menjauh darimu." Kalimat itu meluncur dengan cepat dari mulut Rocky.


"Eh?"


"Aku tidak bisa menjauh darimu, Visha."


Rocky menurunkan kecepatan mobilnya dan menatap Visha yang ternyata juga sedang menatapnya.


"Kalau begitu jangan menjauh." Balas Visha dengan masih menatap Rocky.


...🍁🍁🍁...


--------tobe continued---------


*Aduh Rocky!!! Udah mulai jujur-jujuran nih. Lalu bagaimana dengan Galang???😩😡


ikuti terus kisahnya ya gaess.


Jangan lupa tinggalkan jejak untuk Rocky😘😘

__ADS_1


Terima kasih


Β©pinkanmiliar2021


__ADS_2