Labuhan Cinta Sang Playboy

Labuhan Cinta Sang Playboy
S2 - Kepingan Memori (2)


__ADS_3

...šŸšŸšŸ...


"Tidak, Zayn. Aku mendekatinya bukan karena aku ingin merebut Visha dari sisimu. Tapi... Aku merasa jika aku dan dia memang sudah terikat sesuatu yang tidak bisa terlepas... Suatu ikatan yang aku tidak tahu apa itu..."


Zayn hanya terdiam.


Kemudian berucap, "Aku tidak mau Visha tertekan karena harus menangani proyek dari Adiguna Grup. Aku datang kesini karena ingin membatalkan kontrak kerja kita."


"Apa? Jadi kau ingin membatalkan kerjasama kita? Dan ini karena Visha?"


"Visha tidak keberatan untuk melanjutkan kerjasama denganmu. Tapi aku... Aku merasa kasihan padanya karena yang sudah kau lakukan padanya adalah tindak pelecehan."


"Aku benar-benar menyesal, Zayn. Kau yakin ingin membatalkan semua ini?"


"Iya. Maaf jika aku harus melakukan ini, Bi. Lebih baik kau tidak bertemu dengan Visha lagi."


"Baiklah. Aku akan mengurus pembatalan kontraknya." Jawab Bian pasrah.


"Terima kasih. Kalau begitu, aku permisi dulu."


.


.


.


.


Sementara itu, Visha baru datang dari lokasi proyek dan menuju ke ruangan Zayn.


"Pak Zayn ada, La?" tanya Visha pada Lala.


Lala ragu apakah harus menjawab pertanyaan Visha dengan jujur atau tidak.


"La? Pak Zayn ada?" Visha mengulangi pertanyaannya.


"Sha, sebenarnya... Pak Zayn pergi ke Jakarta. Dia... ingin membatalkan kontrak dengan Adiguna Grup," ucap Lala lirih dan ragu.


"Apa? Membatalkan kontrak? Kok bisa?" Visha sangat terkejut mendengar ini dari Lala.


"Sebenarnya ada apa, Sha? Ini ada hubungannya denganmu 'kan?" selidik Lala.


Visha memijat kepalanya pelan.


"Sha, katakan dengan jujur apa yang terjadi diantara kalian?"


"Kau yakin ingin mendengarnya? Kau bisa menjaga rahasia 'kan?"


"Kau ini!!! Sudah berapa lama kau berteman denganku? Memangnya aku pernah mengumbar sesuatu tentangmu atau siapapun?"


Visha akhirnya menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Lala. Lala sudah Visha anggap seperti saudara perempuan baginya. Ia tak mungkin mengkhianati Visha jika ia berkata jujur.


"Ya ampun, Sha. Bisa-bisanya Pak Bian menciummu di depan Pak Zayn? Aku tidak habis pikir." Lala melongo tak percaya.


"Jika karena ini Zayn Building harus kehilangan kontrak ratusan milyar, aku tidak bisa tinggal diam, La. Aku harus menghentikan Pak Zayn. Ini adalah proyek besar."


"Kau benar, Sha. Sayang sekali jika kita harus kehilangan kontrak hanya karena masalah pribadi antara Pak Zayn dan Pak Bian. Terlebih ini terjadi karenamu! Kau mau seluruh karyawan menghujatmu karena kita kehilangan klien penting?"


"Makanya... aku harus menyusul Pak Zayn. Carikan aku tiket pesawat ke Jakarta, La. Aku akan kesana sekarang juga."


"Heh?"


"Cepat, La!"


"I-iya, Sha. Akan kucarikan sekarang juga!"


...~~~~...


Bian memandangi beberapa lembar perjanjian pembatalan kontrak kerja antara Adiguna Grup dan Zayn Building. Ada rasa sesak dalam hatinya.


Bian merutuki dirinya sendiri. Andai saja ia bisa menahan diri. Andai saja ia tak melakukan itu pada Visha. Semua ini tidak akan terjadi. Kekacauan ini tak pernah terjadi. Kini ia harus merelakan tak bisa menemui atau bertemu Visha lagi.


Zayn sangat membencinya sekarang. Sahabat baiknya kini membencinya. Bian berteriak kencang dan membuat Reza mendatangi ruangan Bian.

__ADS_1


"Pak, ada apa? Bapak baik-baik saja?"


"Iya, aku tidak apa-apa. Hanya..." Bian tak melanjutkan kalimatnya.


Reza melirik ke arah berkas-berkas yang menumpuk di atas meja Bian.


"Pak... Jadi, Zayn Building membatalkan kontrak dengan kita?"


Bian mengangguk pelan.


"Kenapa, pak?"


"Tidak apa. Hanya..." Lagi-lagi Bian tak bisa melanjutkan kalimatnya.


Pasti ada hubungannya dengan Visha. Batin Reza.


Sebenarnya Reza agak curiga karena setelah acara pesta Galang, wajah Bian bengkak dan memar. Pasti telah terjadi sesuatu dengannya. Namun Reza tak bertanya apapun.


.


.


.


Visha tiba di Jakarta dan langsung menghubungi ponsel Zayn. Panggilan darinya tak diangkat. Ia tak menyerah. Visha terus melakukan panggilan hingga Zayn mengangkatnya.


"Halo, pak. Bapak dimana?"


"Apa urusannya denganmu saya ada dimana..."


"Pak, saya ada di Jakarta. Saya harus bertemu dengan bapak."


"Apa?! Kau ada di Jakarta?"


"Katakan bapak ada dimana? Saya akan kesana sekarang!"


"Saya menginap di Royale Hotel."


Panggilan berakhir. Visha memanggil taksi dan segera menuju ke Royale Hotel.


Sesampainya di depan kamar Zayn, Visha menekan bel. Ia mengatur nafasnya agar tak terlalu kentara jika ia sangat gugup. Semoga apa yang ia lakukan kali ini adalah hal yang tepat.


"Visha!" Zayn begitu gembira melihat sosok Visha.


Visha tersenyum. Zayn mempersilahkan Visha masuk ke kamarnya.


"Saya tidak menyangka jika kau sampai menyusul kemari." ucap Zayn.


"Maaf, Pak. Jika saya lancang, tapi... saya benar-benar tidak mau jika bapak membatalkan kerjasama dengan Adiguna Grup."


"Apa ini karena Bian?"


"Tidak. Ini untuk Zayn Building. Proyek dari mereka bernilai sangat besar, pak. Saya tidak mau jika bapak membatalkannya karena saya..."


"Ini bukan karena kamu..."


"Benarkah? Bapak yakin?"


Zayn melengos dan tak mau menatap Visha.


"Pak... Saya mohon... Ini demi semua karyawan. Saya akan melakukan apapun asal bapak jangan membatalkan kontrak ini..."


Zayn menghela nafas. Ia nampak berpikir sejenak.


"Apa kau memiliki perasaan terhadap Bian?"


"Eh?"


"Jawablah. Maka akan kuputuskan apa yang jadi keinginanmu."


"Saya... Saya tidak tahu, pak. Memang saya sempat merasa jika Pak Bian mirip dengan seseorang dari masa lalu saya. Tapi... saya segera menepisnya, karena itu tidak mungkin. Seseorang yang sudah meninggal tidak mungkin hidup kembali..." jawab Visha dengan menunduk.


"Lalu, perasaanmu terhadap Bian?"

__ADS_1


"Jujur saya sangat syok saat Pak Bian melakukan hal itu pada saya. Dia selalu bilang jika dia seperti sudah lama mengenal saya. Tapi saya baru pertama kali bertemu dengannya."


"Lalu, apa yang akan kau lakukan jika dia memang benar orang dari masa lalumu?"


"Rasanya tidak mungkin..." tak terasa air mata Visha telah terjatuh.


Zayn mendekati Visha. Ia meraih wajah Visha, dan menghapus air matanya.


"Terimalah perasaanku, Visha. Aku tidak akan membuatmu menangis dan bersedih lagi."


Visha menunduk dan kembali menangis.


"Aku akan tetap melanjutkan proyek ini jika kau mau menerima perasaanku..."


DEG!!


Visha membulatkan matanya. Ia tak percaya jika Zayn akan melakukan hal ini padanya.


Kenapa aku harus dihadapkan dengan pilihan sulit ini sekali lagi? batin Visha ingin sekali berteriak.


"Bagaimana? Kau bersedia atau tidak..."


Visha menatap Zayn dengan mata penuh air mata.


.


.


.


.


Bian mendapat panggilan dari dokter Fahri. Bian tidak memberitahu siapapun jika kini ia sedang menyelidiki masa lalunya dan juga kepingan memori yang terus hadir dalam mimpinya.


"Saya sudah memeriksa kandungan apa yang ada pada obat yang bapak berikan." tutur dokter Fahri.


Bian mendengarkan dengan seksama.


"Saya sangat terkejut jika selama ini bapak mengkonsumsi obat ini. Karena obat ini bukanlah obat untuk penguat daya ingat, melainkan untuk menurunkan daya ingat."


"Apa? Dokter serius?" Bian berusaha mengatur nafasnya.


"Iya. Hanya kemasan luarnya saja yang menjelaskan jika obat ini untuk penguat daya ingat. Tapi isinya bukan."


Jadi, selama ini Sania membohongiku... Tapi kenapa? Bukankah dia bilang jika dia ingin aku cepat kembali mengingat semuanya? Kenapa dia malah membuatku jadi makin melupakan semuanya?


"Pak? Bapak baik-baik saja?"


"I-iya, dok. Saya baik-baik saja."


"Ini saya resepkan obat yang asli. Bapak harus meminumnya jika ingin ingatan bapak segera pulih. Namun perlu di ingat, bapak jangan terlalu memaksakan diri untuk mengingat semuanya. Karena itu bisa menyakiti diri bapak."


"Terima kasih, dok. Kalau begitu saya permisi."


Bian keluar dari ruang praktek dokter Fahri dengan kaki yang lemas. Ia tak menyangka jika selama ini istrinya telah membohonginya.


Dan akhirnya ia menyadari satu hal.


Kenapa dari banyaknya kepingan memori yang terlintas di otakku, tak ada satupun memori tentang Sania... Apa memang dia bukanlah seseorang dari masa laluku? Apa benar Visha lah yang ada di masa laluku?


...šŸšŸšŸ...


...tobe continued,,,...


...*apakah Visha menerima perasaan Zayn?...


...*apa semua kepingan memori Bian adalah benar tentang dirinya dan Visha? Atau ini hanya seperti khayalan semata?...


...Jangan lupa tinggalkan jejak šŸ‘£...


...You are my spirit 😘😘😘...


^^^thank You šŸ’šŸ’šŸ’^^^

__ADS_1


__ADS_2