Labuhan Cinta Sang Playboy

Labuhan Cinta Sang Playboy
S2 - Misteri Magnolia (2)


__ADS_3

...šŸšŸšŸ...


Bian kembali ke apartemennya dengan langkah gontai. Ia membuka pintu dan hanya sunyi yang terasa di dalam. Tak ada lagi senyum indah istrinya yang menyambutnya pulang kerja.


Bian tersenyum getir melihat ke arah dapur yang nampak kosong. Tak ada lagi sosok yang menawarkan makan malam padanya. Bian menghembuskan nafas kasar. Lalu ia menuju kamarnya yang terasa dingin.


Bian merebahkan tubuhnya ke tempat tidur setelah membersihkan diri. Ia sangat merindukan kehadiran Visha di tempat tidurnya.


Kau dimana, Visha? Kuharap kau baik-baik saja. Aku tidak akan memaafkan Kak Galang jika dia melakukan sesuatu padamu.


Bian pun terlelap karena lelah ditubuh dan hatinya yang tak bisa ia tepis.


Pagi harinya, Bian terbangun dan merasa dunianya sangat sepi tanpa kehadiran Visha. Ia menuju dapur karena perutnya meminta di isi. Ia membuka lemari pendingin dan tak ada apa-apa disana.


Bian menghela nafas kasar. Lalu tiba-tiba ingatannya tertuju pada Visha.


"Apa mungkin Visha keluar karena ingin berbelanja?" gumam Bian.


Ia segera meraih ponselnya dan menghubungi seseorang. Kemudian ia juga menghubungi Donny.


Bian membersihkan diri dan bersiap berangkat ke kantor. Ia mematut dirinya di depan cermin dan menatap tajam.


"Baiklah. Aku akan ikuti permainanmu, Kak Galang." ucap Bian sambil tersenyum tipis.


Bian berjalan keluar dari kamar apartemennya dan bersiap menuju tempat parkir dimana mobilnya terparkir.


Seseorang yang mengawasi gerak gerik Bian terlihat sedang menghubungi seseorang lewat ponselnya.


"Lapor bos, saya melihat Tuan Bian keluar dari apartemennya dan akan menuju kantor."


Bian tersenyum menyeringai seakan mendengar apa yang pria itu bicarakan lewat telepon.


.


.


.


Suara kicauan burung dan ayam yang berkokok membuat Visha mulai membuka matanya. Ia mengerjapkan matanya perlahan. Baru kali ini ia mendengar suara burung dan ayam, sementara ia tinggal di apartemen lantai 20.


Visha segera terbangun dan duduk lalu memandangi sekelilingnya.


"Hah? Dimana ini? Ini...seperti di rumah sakit? Aduuhh!!" Visha merintih kesakitan karena luka kecelakaan kemarin yang mulai lebam membiru.


"Pakaianku? Apa perawat yang mengganti bajuku dengan baju rumah sakit?" Visha terus bergumam.


Seorang perawat datang ke kamar Visha dengan membawa nampan berisi makanan.


"Nona sudah bangun? Bagaimana keadaan nona?" tanya si perawat.


"Suster, ini dimana?" tanya Visha.


"Nona ada di klinik Magnolia. Kemarin nona mengalami kecelakaan bukan? Ini sarapan nona. Sebaiknya segera dimakan. Saya permisi."


"Klinik Magnolia? Sepertinya tidak asing." Visha mencoba mengingat tentang kata Magnolia.


"Ah iya, benar. Itu adalah tempat yang dicari Mas Bian. Jadi, Papa Leonard ada di tempat ini?" gumam Visha.


Visha segera membuka jendela dan melihat suasana sekitar klinik.


"Ah, sial! Jendelanya berteralis."

__ADS_1


Visha berlari ke arah pintu kamarnya yang ternyata dikunci dari luar.


"Sial! Mas Galang pasti sudah menyiapkan semuanya. Aku harus mencari cara agar bisa keluar dari sini dan mencari Papa Leonard."


Visha kembali duduk di tepi ranjangnya. "Aku harus makan lebih dulu. Agar aku memiliki tenaga untuk keluar dari sini." Visha meraih nampan dan menyuapkan makanan kedalam mulutnya.


.


.


.


Bian yang hendak keluar apartemen kembali masuk ke dalam lobi dan menemui anak buah Galang yang sudah tertangkap oleh orang suruhan Donny. Orang itu dipegangi kedua lengannya oleh dua pria besar anak buah Donny.


"Wah, kau masih belum ahli dalam pekerjaan ini sepertinya." ucap Bian sambil melipat tangannya ke depan dada.


"Bos, hanya satu orang saja yang mengawasi disini." ujar Donny.


"Kau yakin?"


"Yakin, bos. Orang-orangku adalah yang terbaik."


"Baiklah. Bawa dia ke tempatku. Kita akan interogasi dia!" ucap Bian.


.


.


*Flashback*


Setelah Bian mencurigai jika Visha pergi keluar karena ingin berbelanja, saat itu juga ia merasa jika semua gerak geriknya dan Visha telah diawasi oleh seseorang.


Bian sudah mengendus adanya orang suruhan Galang yang mengawasi tempat tinggalnya. Ia langsung menghubungi Donny dan memintanya mengerahkan anak buahnya untuk menangkap basah si mata-mata.


Sesaat setelah si mata-mata menghubungi bosnya, anak buah Donny yang sudah mengintainya langsung menghampirinya dan melumpuhkan orang itu dalam sekali bekap.


Bian yang akan berjalan keluar apartemen mengurungkan niatnya dan kembali masuk karena tahu jika si mata-mata sudah dilumpuhkan.


.


.


.


Usai menyantap sarapannya, Visha mencari celah untuk bisa keluar dari kamar itu. Namun rasanya usahanya sia-sia saja. Ruangan itu benar-benar tertutup rapat.


Sebenarnya tempat apa ini? Kenapa kamar ini mirip dengan penjara? Bagaimana mungkin seorang pasien biasa ditempatkan di tempat seperti ini? Ada yang aneh dengan tempat ini.


Saat sedang sibuk dengan pikirannya, pintu kamar Visha kembali di buka. Dan perawat yang tadi kembali lagi.


"Nona, keluarlah! Ada yang ingin bertemu dengan Anda." ucap si perawat.


"Siapa?"


"Nanti juga Anda tahu. Silahkan keluar."


Visha melangkah keluar. Dan terlihat beberapa penjaga berdiri di luar kamar Visha. Mereka mengikuti langkah si perawat.


Visha mengedarkan pandangannya mengamati setiap sudut yang ada di klinik itu. Ia ingin menghafalkan setiap detail yang ada disana agar saat ada kesempatan kabur, Visha akan tahu kemana jalan keluar.


"Jangan pernah berpikir untuk kabur dari sini, nona." ucap si perawat yang sejak awal tak pernah bicara ramah pada Visha.

__ADS_1


Sepertinya perawat itu tahu jika Visha merencanakan untuk pergi dari tempat aneh itu.


"Nona tidak akan bisa kabur dari sini. Pakaian yang nona kenakan sudah diberi chip khusus untuk melacak keberadaan nona." lanjut si perawat.


Visha menelan ludah mendengar penjelasan perawat itu. Ia terus melangkah mengikuti kemana perawat itu akan membawanya.


Visha tiba di sebuah ruangan, dan perawat memintanya masuk. Visha pun membuka pintu dan masuk kedalam ruangan itu.


Dilihatnya Galang sudah berada disana duduk di sofa. Visha sudah menduga jika Galang adalah dalang dari semua ini.


"Apa kabar, Visha? Lukamu sudah sembuh?" tanya Galang dengan senyum menyeringai yang mengerikan.


"Kenapa kau melakukan ini? Dimana Papa Leon dan Mama Elena? Kau yang sudah menyembunyikan mereka bukan?" tanya Visha tatapan sengit.


"Tenang saja, Visha! Kau pasti akan bertemu dengan mereka. Mari ikut denganku!"


Visha membulatkan mata. Galang keluar dari ruangan itu. Dan Visha juga ikut keluar mengikuti langkah Galang.


.


.


.


Si mata-mata sudah diikat dengan tali dan tangannya di borgol. Bian menatapnya lekat dan memintanya untuk menjawab jujur.


"Katakan kemana Galang membawa Visha?" tanya Bian dengan nada masih datar.


Si mata-mata itu tetap tak mau bicara. Bian memerintahkan anak buah Donny untuk memberinya sedikit pelajaran.


Si mata-mata itu mengaduh kesakitan. Sementara anak buah Donny yang lain sedang melacak ponsel si mata-mata untuk mengetahui posisi Galang saat tadi si mata-mata menelepon.


Bian yakin jika Galang bersama dengan Visha saat ini.


"Bagaimana? Apa kau sudah menemukan posisinya?" tanya Bian.


"Masih belum, sebentar lagi Pak."


"Sabarlah, bos. Aku yakin Visha baik-baik saja." Donny berusaha menenangkan Bian.


"Tapi tetap saja aku takut Kak Galang melakukan sesuatu pada Visha."


"Galang masih mencintai Visha. Dia tidak akan menyakiti Visha."


Bian menatap Donny tajam.


"Kenapa bos menatapku begitu?"


"Kau bilang Kak Galang tidak akan menyakitinya. Lalu bagaimana jika dia melakukan hal yang lain?"


"Heh?" Donny mengernyitkan keningnya.


Pikiran Bian telah di isi oleh berbagai spekulasi buruk yang bisa saja terjadi pada Visha.


Sementara itu, Visha masih mengikuti langkah Galang yang entah akan menuju kemana.


Setelah berjalan cukup jauh, tiba-tiba langkah Galang terhenti, dan membuat Visha juga ikut berhenti.


"Masuklah!" ucap Galang.


Galang menunjuk sebuah ruangan kamar tertutup yang tidak tahu apa yang ada didalamnya. Visha menatap Galang tajam sebelum akhirnya ia memegang knop pintu dan membukanya perlahan.

__ADS_1


...šŸšŸšŸ...


#bersambung,,,


__ADS_2